NovelToon NovelToon
OBSESSION SANG TUAN MUDA

OBSESSION SANG TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nurfazilah Cell

Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap

Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun

"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession

Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Obsesif

Pagi berikutnya, matahari baru saja merayap naik melewati ujung tembok tinggi yang mengelilingi seluruh bagian belakang rumah. Aiden sudah datang lebih awal, membongkar gorden tebal agar cahaya masuk perlahan, lalu dengan gerakan terlatih mengangkat tubuh Alesha dari tempat tidur ke atas kursi roda. Tidak ada tanya jawab, seolah itu adalah tugas yang sudah menjadi hak mutlaknya.

Saat mulai mendorong keluar menuju taman, Alesha menunduk, suaranya parau dan hampir tak terdengar.

 “Kenapa harus dibawa ke sana? Di kamar saja sudah cukup, ujar Alesha lesu

Aiden melambatkan langkahnya, lalu berhenti sejenak dan berlutut lagi di sampingnya, memegang kedua sisi sandaran kursi roda sehingga wajahnya berada tepat di hadapan pandangan gadis itu.

“Cukup? Kamar itu terlalu sempit untuk gadis seindah ini. Aku buatkan tempat yang lebih luas, lebih segar, dan yang paling penting tidak ada mata asing yang bisa melihat, tidak ada suara dari luar yang bisa mengganggu kita. Dengarkan, Alesha…” ucapnya lembut, tapi matanya menyala terang penuh hasrat memiliki.

“Segala sesuatu yang ada di sini bunga mawar putih yang kakak tanam sendiri, air mancur kecil yang mengalir tenang, bahkan udara yang kau hirup ini — semuanya dipilih dan diatur oleh Aku, Tidak ada hal tak terduga, tidak ada bahaya tersembunyi. Ini adalah dunia yang sempurna, karena hanya ada aturan satu orang saja, Aku, ujar Aiden

Begitu masuk ke dalam taman, Alesha tertegun sesaat. Tempat itu memang indah — tertata rapi, berwarna-warni, tertutup tembok setinggi lebih dari empat meter dengan ujung berduri yang tak mungkin didaki. Seketika hatinya terasa makin dingin: ini bukan tempat rekreasi, tapi kandang yang dihias sangat cantik.

“Lihatlah betapa indahnya, bukan?” Aiden mendorongnya mendekati hamparan bunga, lalu berjongkok dan mengambil satu kuntum mawar putih yang masih basah embun, menempelkannya perlahan di balik telinga Alesha. “Mawar ini cantik, tapi lihat durinya… kalau kau memegangnya sembarangan, ia akan melukaimu. Dunia luar persis seperti itu — indah dilihat, tapi penuh duri yang siap merobek kulit hatimu. Hanya Aku yang tahu cara memegangnya tanpa terluka, dan hanya Aku yang akan memastikan kau tak pernah tersentuh duri apa pun lagi.”

Alesha menoleh, matanya berkaca-kaca.

 “Tapi kalau Alesha tak pernah memegangnya, bagaimana Alesha tahu rasanya? Bagaimana Alesha bisa tumbuh tanpa pernah merasakan apa-apa selain apa yang Kak Aiden izinkan?”

Pertanyaan itu membuat senyum Aiden makin melebar — senyum yang bangga karena melihat gadis manis nya itu masih punya semangat bertanya, tapi ia tahu semangat itu akan segera ia tekuk pelan-pelan.

“Kenapa perlu merasakan sendiri kalau Aku bisa merasakannya untukmu? Kenapa perlu berpikir sendiri kalau Aku sudah memikirkan segala risiko dan kebutuhanmu? Dengarkan penjelasan Aku ini baik-baik ya, sayang…” ucapnya sambil memegang dagu Alesha agar tak bisa memalingkan pandangan.

“Dulu saat kau masih punya kaki yang kuat, kau pikir kau bisa memilih jalan sendiri. Kau pikir kau bisa menentukan dengan siapa berteman, apa yang dipelajari, ke mana melangkah. Dan buktinya? Kau terjatuh, kakimu hancur, dan kau menangis kesakitan sampai tak sanggup bicara. Itu cara alam memberitahu: kau tidak diciptakan untuk berdiri sendiri. Kau diciptakan untuk menjadi milikku, untuk bergantung pada kekuatan Aku yang tak akan pernah goyah.”

“Ini salahmu, Kak Aiden … Kak Aiden takut Alesha akan melupakanmu kalau Alesha bebas,” bentak Alesha, mencoba mengangkat suara meski tubuhnya gemetar hebat.

“Kak Aiden bukan melindungi Alesha, Kak Aiden sedang meracuni pikiranku sendiri!”

“Meracuni?” Aiden tertawa pelan, suara itu bergema lembut di antara dinding tembok tinggi, namun terasa seperti suara guntur di telinga Alesha.

 “Kalau ini racun, maka biarlah kau minum setiap tetesnya sampai jadi bagian darahmu. Karena lebih baik kau mabuk karenaku selamanya, daripada sadar dan berjalan menuju kematian sendirian.”

Ia mendekatkan wajahnya lagi, napasnya membelai leher gadis kecil nya yang terasa dingin ketakutan.

“Kau bilang aku takut kau lupa? Benar sekali! Aku takut setengah mati, Alesha! Bayangkan rasanya — sejak kau masih kecil, aku sudah menatapmu, menunggu saat kau tumbuh jadi gadis manis yang hanya bisa kulihat. Aku menahan keinginan ini bertahun-tahun, berpikir kalau aku memberi ruang, kau akan datang sendiri ke pelukanku. Tapi apa yang kau lakukan? Kau mulai melirik lelaki lain , melirik teman, melirik jalan keluar dan dengan mudah nya kau ceritakan pada Dedy dan Mami mu pria lain memberikan bunga kepada gadis manis ku ini hmm,seolah bisa membawamu ke tempat yang lebih baik! Itu menyiksa Aku jauh lebih sakit daripada luka pisau!”

“Karena itu… kejadian itu menjadi jawaban terbaik,” lanjutnya dengan nada yang makin tenang dan yakin, seolah sedang menjelaskan hukum alam.

“Sekarang kau tak bisa melarikan diri secara fisik. Selanjutnya, Aku pastikan kau tak punya alasan untuk melarikan diri secara pikiran dan hati. Setiap hari, Aku akan mengajari satu hal baru: mengapa dunia luar jahat, mengapa hanya Aku yang tulus, mengapa keinginanmu yang dulu hanyalah ilusi yang membahayakan.”

.................

Beberapa hari kemudian, saat Aiden sedang membantu melakukan latihan ringan menggerakkan sendi kaki sesuai panduan dokter, suasana menjadi lebih tegang lagi. Alesha merasakan sedikit rasa geli dan pergerakan yang sangat kecil di ujung jari kakinya — seulas harapan yang sekecil biji jagung muncul di hatinya.

Wajahnya sedikit berubah, matanya berbinar samar tanpa sadar.

Aiden yang mengamati setiap ekspresi sekecil apa pun segera menangkap perubahan itu. Gerakan tangannya berhenti mendadak, dan tatapannya langsung berubah menjadi dingin dan tajam.

“Apa yang kau rasakan?” tanyanya lambat, nada bicaranya datar tapi penuh peringatan.

Alesha menelan ludah, berusaha menyembunyikan kegembiraannya.

 “Tidak… tidak apa-apa.Alesha Cuma terasa sedikit geli saja.”

“Jangan bohong padaku, sayang Setiap detak jantungmu saja bisa Aku dengar. Kau berharap kakimu akan pulih sempurna, kan? Kau sudah mulai membayangkan melangkah lagi, lari lagi, dan pergi meninggalkan Aku …” suaranya perlahan meninggi, lalu turun lagi menjadi bisikan yang menusuk tulang.

Ia menekan telapak tangannya sedikit lebih kuat di atas tulang kaki yang masih rapuh itu — cukup untuk menimbulkan rasa ngilu yang langsung terasa, tapi tidak sampai melukai lebih parah. Alesha meringis kesakitan.

“Lihat… masih terasa sakit, kan? Itu tanda tubuhmu sendiri mengingatkan kau untuk tetap diam, tetap menerima keadaan. Dan biar kakak katakan sekali lagi dengan sangat jelas, supaya tidak ada lagi ruang harapan bodoh itu di kepalamu…”

Aiden mendekatkan mulutnya tepat di telinga Alesha, suaranya terasa berat dan gelap:

“Jika suatu hari nanti ada keajaiban yang datang dan tulang ini bisa menyambung kembali, jika saraf ini bisa berfungsi lagi dan gadis manis ku ini bisa melangkah setapak saja… maka Aku akan memastikan bahwa hal lain yang jauh lebih berharga bagimu akan tergantung sepenuhnya padaku. Bisa jadi penglihatanmu, bisa jadi pendengaranmu, atau bahkan ketenangan akal sehatmu. Pilihannya tetap satu: bergantung padaku dengan tubuh utuh tapi tak bisa berjalan, atau bisa berjalan tapi tak bisa hidup tenang tanpa kehadiranku. Mengerti intinya, sayang?”

Alesha tertegun, rasa sakit bercampur rasa takut membuat seluruh tubuhnya lemas seketika.

 “Kenapa kak Aiden harus menjadi begini kejam? Kita masih bisa hidup baik-baik saja tanpa mengancam satu sama lain…” ujar Alesha menangis

“Kejam?” Aiden mengangkat wajahnya, lalu mencium keningnya dengan lembut yang kontras dengan kata-katanya.

“Ini bukan kejam — ini bentuk cinta yang sempurna dan tak mengenal batas. Cinta biasa membiarkan kekasihnya pergi jika itu membuatnya bahagia. Tapi cinta ku lebih kuat dari itu. Cinta ini lebih memilih membuatmu tetap hidup dan aman di sisiku, meski kau marah atau menangis hari ini, daripada membiarkan kau pergi dan mungkin terluka atau melupakan aku besok.”

Ia duduk di samping kursi roda itu, memeluk bahu Alesha erat sekali seolah menyatukan tubuh mereka menjadi satu.

“Mulai hari ini, Aku akan mengganti segala hal yang dulu kau pikir berharga. Buku pelajaran akan diganti dengan catatan yang Aku tulis sendiri — hanya tentang bagaimana merawat tubuh, bagaimana menjaga hati tetap tenang, dan mengapa kesendirian bersama kita lebih baik daripada keramaian dunia luar. Setiap kali kau bertanya soal masa lalu, Aku akan menjawab dengan alasan yang membuatmu sadar: masa lalu itu sudah mati, dan kehidupan baru yang lebih baik ini baru saja dimulai.”

“Dan ingat janji suci kita ini,” lanjut Aiden sambil menggenggam tangan Alesha dan menempelkannya di atas jantungnya yang berdegup kencang tak teratur,

“Selama detak ini ada, kau tidak akan pernah punya keinginan lain selain mengikuti keinginanku. Selama kau masih bernapas, satu-satunya tujuan hidupmu adalah menjadi milikku secara utuh — tubuh, pikiran, perasaan, sampai jiwa yang paling dalam sekalipun.”

...................

Hari demi hari berlalu, dan percakapan seperti itu menjadi makanan sehari-hari bagi Alesha. Setiap kali ia berusaha melontarkan bantahan, Aiden akan menjawabnya dengan logika yang diputar sedemikian rupa sehingga lama-kelamaan Alesha mulai bingung membedakan mana kenyataan dan mana cerita yang dibentuk untuknya.

Suatu malam, saat Aiden sedang menyisir rambut panjangnya dengan gerakan sangat lembut, Alesha bertanya dengan suara lemas dan tak punya semangat lagi:

“Kalau begini terus… apa yang tersisa dari Alesha? Alesha bukan lagi diriku sendiri, kan?”

Aiden berhenti menyisir, lalu memutar tubuh Alesha hingga menghadap ke arahnya. Matanya basah sedikit, tapi tatapannya tetap penuh kepemilikan mutlak.

“Tersisa bagian yang paling indah, sayang — bagian yang menjadi milikku selamanya. Kau tidak perlu lagi menjadi ‘Alesha yang mandiri’, ‘Alesha yang bersekolah’, atau ‘Alesha yang punya mimpi sendiri’. Sekarang identitasmu sederhana dan sempurna: kau adalah milik seorang Aiden. Itu saja sudah cukup untuk membuat seluruh hidupmu punya arti yang jauh lebih tinggi daripada apa pun yang pernah kau bayangkan.”

Ia menariknya masuk ke dalam pelukan erat, menutup seluruh pandangan dan ruang gerak gadis itu hanya dengan tubuhnya sendiri.

“Tidurlah sekarang. Besok Aku akan ajarkan cara berbicara yang baik, cara berpikir yang benar, dan cara mencintaiku sebagaimana mestinya — dengan patuh, dengan setia, dan tanpa keraguan sedikit pun. Kita akan membangun dunia ini sedemikian rupa sampai kau tak bisa lagi membayangkan hidup tanpa suaraku, tanpa sentuhanku, dan tanpa kehadiranku yang menguasai segalanya.”

Di luar tembok tinggi itu, dunia terus berputar, orang-orang berjalan bebas, dan mimpi-mimpi baru terus lahir. Namun di dalam sana, satu gadis bernama Alesha perlahan mulai menyadari kenyataan pahitnya: ia tidak hanya terikat oleh kaki yang rusak — ia sedang perlahan diubah menjadi cerminan dari obsesi Aiden itu sendiri, sampai tidak ada lagi garis batas yang bisa memisahkan keduanya, selamanya.

Bersambung

Thank you yang sudah baca cerita oyen😊

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Gue jadi keingat dulu pas gue kecil dulu ayahku pasti jarang pulang gimana mau pulang eh jauh sekali tempat kerjanya yah maklumlah namanya juga cari nafkah ayah ku 😅 sorry yah gue nggak tahu mau komen apa nih
Nurfazilah Cell: iya gak papa kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!