Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : JANJI YANG TAK BISA DIPISAHKAN
...BAB 19...
...JANJI YANG TIDAK BISA DIPISAHKAN...
Malam itu sunyi sekali. Hanya suara jangkrik dari halaman dan desiran angin pelan. Alina duduk di teras memeluk lutut, layar ponselnya menyala terang. Farhan baru saja melangkah masuk membawa map tebal berkas pembelaan, langsung duduk tepat di hadapannya.
“Baru saja masuk lagi tiga pesan nomor asing, Han,” buka Alina pelan, suaranya lemas. “Isinya sama saja. Bilang kamu diam‑diam sudah minta undur diri dari keluarga. Bilang orang tuamu sudah marah besar dan melarang kamu dekat‑dekat aku lagi. Bilang kamu cuma bertahan sampai sekarang cuma karena gengsi, takut dibilang orang pengecut.”
Farhan mendengus kesal, langsung merogoh ponselnya sendiri dan menyodorkannya ke depan.
“Lihat ini. Aku juga dapat yang persis sama. Malah lebih parah. Isinya bilang kamu sengaja biarkan kasus mu membesar, supaya nanti kamu punya alasan melepaskan aku dengan halus. Bilang dari awal kamu sebenarnya tidak pernah serius, cuma manfaatkan nama keluargaku buat menutupi perbuatanmu.”
“Apa maksud semua ini, Han? Dari mana asalnya semua omongan aneh ini?”
“Jelas‑jelas ada yang sengaja mengadu domba kita dari belakang, Lin. Yang tahu betul titik lemah kita, yang tahu betul apa saja yang paling bikin kita ragu. Yang inginnya satu hal saja, hubungan kita berantakan, saling curiga, lalu berpisah dengan sendirinya.”
Alina menunduk, jari‑jarinya saling memilin kuat. Suaranya makin pelan, hampir hilang tertelan angin. Hanya isakan lirih.
“Tapi… kadang apa yang mereka omongkan itu ada benarnya juga, Han. Lihat aku sekarang. Tersangka pidana! Izin advokat sebentar lagi dicabut selamanya! Nama baikku diinjak‑injak semua orang. Tetanggaku sendiri sudah tidak mau menyapa. Dan Papa di dalam sana makin hari makin lemah, dia bahkan belum tahu anak satu‑satunya sekarang jadi bahan omongan sekampung. Ibu pun sampai sekarang masih sering memandangku dengan tatapan ragu. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Han... Apa tidak lebih baik kalau memang kita akhiri saja hubungan kita di sini? Kamu masih punya masa depan yang cerah, nama baik keluarga yang masih bersih. Jangan sampai aku yang menghancurkan semuanya juga buat kamu.”
Farhan langsung memegang kedua bahu Alina erat‑erat, menatap lurus tajam ke manik matanya, tidak ada sedikit pun celah keraguan di sana.
“Dengar aku baik‑baik, Alina. Ulangi lagi kalimat terakhir itu, dan aku akan marah besar padamu. Apa gunanya aku ada di sini dari awal sampai sekarang, kalau cuma mau pergi saat kamu membutuhkanku? Apa arti janji yang pernah kita ucapkan berdua di depan masjid dulu, kalau cuma bertahan saat hari cerah saja?”
“Tapi beban ini terlalu berat, Han. Semua bukti seolah memastikan aku bersalah. Bahkan orang yang mengaku sahabat saja sekarang sudah membelakangiku...”
“Aku TIDAK PEDULI dengan bukti apa pun yang mereka susun serapi apa pun. Aku TIDAK PEDULI omongan seribu dua ribu orang di luar sana yang sama sekali tidak tahu apa‑apa. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu kamu bangun pagi‑buta setiap hari cuma supaya bisa merawat Papamu sebelum berangkat kerja. Aku tahu kamu menahan lapar dan lelah bertahun‑tahun sekolah sampai jadi advokat, satu‑satunya tujuan cuma mau memulihkan kembali nama baik Pak Aditya yang hancur dulu karena ulah orang lain. Aku tahu betapa ketatnya kamu menjaga agama, menjaga diri, menjaga hati, sampai‑sampai hal sekecil berbohong saja kamu tidak sanggup lakukan. Orang sepertimu? Mustahil berbuat semua hal keji yang mereka tuduhkan itu.”
“Keluargamu, Han… Apa kata mereka nanti?”
“Aku sudah bicara panjang lebar pada Ayah Ibuku kemarin malam. Mereka tahu ada yang tidak beres di balik semua ini. Mereka bilang: Farhan, kalau kamu yakin dia tidak bersalah, maka tugasmu sekarang bukan pergi, tapi berdiri makin kokoh di sampingnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyuruhku berhenti. Yang menyuruh itu cuma orang‑orang asing di balik nomor‑nomor gelap itu.”
Pintu teras terbuka pelan. Bu Kirana keluar berdiri di ambang pintu, wajahnya murung bercampur bingung. Di tangannya ada selembar kertas terlipat.
“Maafkan Ibu dengar sebagian pembicaraan kalian,” ucapnya pelan. “Tadi sore ada orang selipkan kertas ini di pagar rumah. Isinya bilang Farhan sudah sepakat diam‑diam akan melepaskan Alina begitu sidang etik selesai nanti. Bilang dia cuma menunggu waktu yang tepat saja supaya tidak terlihat buruk di mata orang. Ibu… Ibu jadi bingung sekali, Nak. Banyak sekali omongan yang bertebaran akhir‑akhir ini, sampai Ibu sendiri kadang tidak tahu mana yang benar mana yang bohong.”
Farhan melepaskan pegangannya sebentar, lalu bangkit berdiri menghadap Bu Kirana dengan sikap paling hormat namun tegas.
“Ibu, dengarkan baik‑baik ya apa yang akan saya ucapkan sekarang, dan tolong tanamkan kuat‑kuat ini di hati Ibu. Sampai kapan pun, dalam keadaan apa pun, saya tidak akan pernah melepaskan Alina. Bukan karena paksa, bukan karena gengsi, bukan karena apa pun selain satu hal. Saya mencintainya, dan saya percaya seratus persen dia tidak bersalah. Semua surat, semua pesan, semua bisikan‑bisikan yang beredar itu murni rekayasa orang yang tidak senang melihat kami bersatu. Orang itu berharap dengan adu domba begini, kami akan saling curiga, lalu berantakan dengan sendirinya tanpa dia perlu angkat tangan lagi.”
“Kamu yakin sekali begitu, Nak?”
“Sangat yakin, Bu. Lebih yakin dari apa pun dalam hidup saya. Kalau sampai nanti seluruh dunia berpaling memunggungkan badan darinya, biar saya saja satu‑satunya orang yang masih tetap berdiri menghadap ke arahnya.”
Alina sudah terisak pelan menahan tangis, air matanya kini jatuh bukan karena sedih, tapi karena lega yang luar biasa. Farhan kembali duduk di sampingnya, merangkul bahunya erat.
“Kamu dengar itu, Lin? Tidak ada yang bisa memisahkan. Bukan bukti‑bukti palsu, bukan omongan orang, bukan ancaman apa pun. Orang itu boleh hancurkan nama baikmu, boleh cabut izinmu, boleh bikin semua orang menjauh. Tapi satu hal yang tidak akan pernah bisa dia ambil atau rusak, janji kita berdua.”
Alina mengangguk kuat‑kuat sambil mengusap air matanya, tangannya kini mengepal erat membalas genggaman tangan Farhan.
“Aku minta maaf tadi sempat lemah, sempat ragu, sempat berniat melepaskan mu. Mulai detik ini juga tidak akan lagi. Siapa pun dia yang ada di balik semua pesan ini, semua kebohongan ini… dia salah besar mengira bisa memisahkan kita cuma dengan omongan kosong.”
“Justru karena dia berusaha sekuat tenaga memisahkan, makanya kita harus makin rapat, makin kuat, makin pegang erat satu sama lain. Itu satu‑satunya cara kita melawan.”
Bu Kirana menghela napas panjang, kali ini terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Ia mengangguk pelan sambil merobek kertas isian kebohongan itu menjadi dua bagian.
“Baiklah. Kalian berdua sudah bicara sejujur itu. Ibu tidak mau lagi dengar omongan siapa pun dari luar. Ibu percaya sama kalian.”
Setelah Bu Kirana kembali masuk ke dalam, mereka berdua masih duduk diam berpegangan tangan lama sekali. Tidak banyak kata lagi yang perlu diucapkan. Yang tadinya hanya keyakinan biasa, kini berubah menjadi ikatan yang jauh lebih kokoh, ditempa langsung oleh ujian seberat itu.
Di balik pagar rumah yang gelap, Arka berdiri sendirian tertutup bayangan pohon besar. Di telapak tangannya tergenggam rapat alat penerima sinyal usang yang sudah lima tahun tak pernah lepas dibawa. Ia mendengar SETIAP KATA, setiap janji, setiap ketegasan itu utuh sampai akhir.
Giginya mengatup kuat menahan emosi. Dialah yang mengirim semua pesan itu, dialah yang menyelipkan kertas itu, dialah yang menyebar bisikan ke mana‑mana, berharap cukup membuat mereka saling curiga lalu berpisah. Rencananya gagal total. Bahkan lebih buruk dari gagal, ujian itu malah membuat cinta mereka mengeras sekeras baja.
Namun di tengah rasa kesal dan kecewa yang membara di dadanya, ada perasaan lain yang justru makin menjalar dalam, rasa kagum, rasa sakit, dan rasa cinta yang makin menjadi‑jadi melihat betapa tulus dan tak tergoyahkan nya wanita itu, serta lelaki yang mendampinginya.
Kalian pikir ini sudah selesai… batinnya bergumam dingin sambil berbalik perlahan pergi dalam gelap. Tapi kalian tidak tahu. Semakin erat kalian berpegangan satu sama lain… semakin keras pula yang harus aku lakukan selanjutnya.
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏