NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

...~Ajudan Naira. Letda Arka~...

"Harus?" Arka mengerjap polos.

Gadis itu mengernyit lembut. Ia lalu menoleh pada pramusaji toko. "Mbak, coba carikan yang modelnya serasi sama cincin ini untuk prianya, ya."

Ketika jajaran cincin polos untuk pria sudah tersaji di hadapan Arka, Naira hampir saja meledakkan tawanya saat itu juga. Ia melihat bagaimana sepasang mata pria itu turun dengan tatapan yang luar biasa tajam. Alisnya mengernyit dalam, bahkan dengan samar Naira dapat melihat sudut bibir pria itu sedikit tertekuk ke bawah.

Naira akhirnya ikut mengamati deretan logam tersebut. Semua cincin pria di sana berbentuk polos. Hampir semua modelnya sama, hanya ada sedikit perbedaan pada ukiran atau polesan di bagian pinggir. Sama sekali tanpa ada hiasan permata berkilau seperti milik perempuan. Namun, Mas Arka—calon suaminya itu—malah sedang melihatnya dengan sangat serius, seolah-olah sedang meneliti koordinat peta taktis di tengah medan gerilya.

"Mas..." Naira memanggilnya lembut, mencoba memecah konsentrasi berat pria di sebelahnya.

Arka tampak tertegun sesaat. Jakunnya bergerak naik-turun dengan ritme pelan sebelum akhirnya menyahut kaku, "Ya?"

"Mas mau coba?" tanya Naira hati-hati.

Arka menoleh ke arahnya selama beberapa saat. Ketika netra gelap itu menatapnya, pandangannya mendadak melunak jauh—berbeda seratus delapan puluh derajat dibanding saat melihat barisan cincin tadi. Naira terkekeh pelan dalam hati. Gadis itu segera mengalihkan perhatiannya kembali ke deretan cincin polos khusus pria. Hingga akhirnya, pandangannya jatuh pada salah satu cincin dengan polesan matte polos—model yang menurutnya sangat cocok untuk Arka.

"Mbak, coba yang ini," tunjuk Naira. Pramusaji toko dengan sigap segera mengambilkan cincin yang dimaksud.

Gadis itu tertegun sesaat ketika menerima logam kecil tersebut di telapak tangannya. Mengumpulkan sedikit keberanian yang tersisa di dadanya, Naira mengulurkan tangan lalu meraih jemari kanan Arka yang besar. Detik itu juga, Naira dapat merasakan getaran halus dari tangan pria itu.

Sebersit senyum gemas langsung terbit di bibir Naira.

Ia perlahan memandu cincin itu masuk, meluncur dengan sempurna di jari manis sang calon suami. "Bagus deh," puji Naira spontan pada pilihannya sendiri.

"Iya," sahut Arka pelan. Namun, perhatian pria itu justru jatuh sepenuhnya pada tangan mungil Naira yang masih memegang jemarinya, memutar lingkaran logam itu beberapa kali untuk memastikan ukurannya benar-benar pas.

Arka lalu mengalihkan pandangan pada pramusaji kaku di depan mereka. "Mbak, yang ini juga."

"Sekalian wadah beludrunya, ya."

Naira mendongak, menoleh ke arah Arka yang ternyata belum juga melepaskan pandangan dari tangannya. Merasa ritme jantungnya mulai menggila akibat tatapan intens itu, Naira terkekeh pelan untuk menetralisir suasana.

"Cincinnya bagus, Mas," bisiknya pelan, menyembunyikan rona merah yang perlahan merayap di pipinya.

Naira buru-buru melepaskan tangannya begitu pramusaji siap melakukan transaksi. Sebuah kotak beludru merah dan sepasang cincin yang telah mereka berdua pilih.

"Mas?" tanya Naira dengan suara pelan.

"Ada apa?" Pria itu baru saja menyelesaikan pembayaran kontan ke pramusaji yang memberikan nota.

"Habis ini masih ada agenda?"

Arka mengambil kantong yang diberikan. Mereka segera keluar dari ruang dingin dengan AC dan pencahayaan rendah.

Pasar masih agak pengap dan ramai ketika mereka baru saja sampai depan toko.

"Ada. Tadi ada titipan bapak."

"Apa?"

Pria itu merogoh kantong celananya. Mengeluarkan satu lembar kertas yang telah dilipat rapi. "Ini." Sambil menyodorkan pada Naira.

Gadis itu buru-buru mengambilnya lalu membuka. Perhatiannya tertuju pada judul yang tertera dengan huruf kapital hitam.

*TANYA NAIRA TEMPATNY**A*

Naira mulai membaca barisan di bawahnya; Jadah, Wajik, Jenang dan kue basah.

Bahkan ada catatan kecil di bawahnya.

Minta tolong cariin yang bisa ngantar ke rumah biar gak repot.

Naira tertawa geli sesaat. Pesan ini seperti surat komando untuk Arka agar segera meluncur ke medan pertempuran.

"Ada apa, Nai?"

"Om Seno lucu sekali." Tawanya kian tak tertahan.

Pria itu melirik sekilas ke arah kertas. Pesan dan baris yang tak sempat ia baca di rumah.

"Ohh..." Arka menyahut lempeng, wajahnya tetap datar tanpa dosa. "Kata Bapak, saya cuma perlu tanya kamu kalau sudah sampai di pasar."

Naira menggelengkan kepalanya beberapa kali demi menghalau sisa tawa gelinya. Gadis itu kembali melipat kertas tersebut dengan rapi, lalu menyelipkannya ke dalam tas selempang.

"Ya, sudah." Naira memasang senyum lebar, mendongak menatap calon suaminya. "Ajudan Naira siap mengantar Mas Perwira ke tempat tujuan sesuai komando dari Komandan Seno."

Untuk beberapa saat, Naira dapat melihat bagaimana tubuh Arka sempat membeku mendengar julukan spontan itu. Detik berikutnya, sebuah tawa kecil—yang terdengar sangat langka namun renyah—akhirnya lolos dari bibir pria itu.

"Baik, Ajudan. Kita jalan sekarang," balas Arka. Suaranya terdengar tegas, postur tubuhnya pun otomatis kembali tegak sempurna seolah siap maju ke daerah operasi.

Mereka berjalan beriringan memasuki los pasar sisi timur. Area ini terhitung agak sepi dibanding bagian depan tadi, namun udaranya terasa sedikit pengap dengan lebar jalan yang pas-pasan—hanya muat untuk dua orang berjalan berdampingan. Di sepanjang lorong, aroma wangi makanan tradisional mulai tercium samar. Perpaduan antara aroma manis, gurih, dan sesekali kepulan uap berbau pedas dari warung makan darurat.

Secara alami, Arka mengambil posisi berjalan di sisi luar yang agak ramai, menjauhkan bahu Naira agar tidak bergesekan dengan dinding los atau pengunjung pasar lainnya.

"Itu, Mas," tunjuk Naira pada salah satu los yang terletak di pojok sendiri. Langkah mereka berhenti di depan meja kayu besar yang dipenuhi tampah-tampah bambu berisi aneka kue basah yang tertutup plastik bening rapat.

"Permisi, Mbah," sapa Naira sopan.

Seorang perempuan tua yang mengenakan kebaya hitam sederhana dan kain jarik cokelat gelap segera mendongakkan kepalanya dari balik meja. Begitu netranya menangkap sosok yang datang, wajah senjanya langsung berbinar.

"Nduk Naira!"

Naira memasang senyumnya lebih lebar. "Iya, Mbah. Sehat, Mbah?"

"Alhamdulillah, seneng rasanya kamu mampir, Nduk," sahut wanita tua itu dengan logat Jawa yang kental. Namun, sedetik kemudian pandangannya langsung beralih, meneliti sosok pria berbadan tegap dan berambut cepak yang berdiri di sebelah Naira.

Mbah penjual itu mengerjap, tersenyum penuh arti. "Wah... bawa siapa ini, Nduk? Gagah tenan."

Naira merasakan wajahnya mendadak memanas. "Iya, Mbah," ucapnya pelan, agak malu-malu.

"Ganteng. Gagah juga," puji Mbah penjual tulus.

"Mbah, saya mau pesan beberapa barang buat besok. Tapi kalau diantar ke rumah, bisa?"

"Ke rumahmu, Nduk?"

"Iya, Mbah."

"Mau pesan apa? Buat acara arisan?"

Naira menggeleng pelan, senyumnya menyungging canggung. "Bukan, Mbah. Buat hantaran lamaran."

Perempuan tua itu mangut-mangut paham, senyumnya melebar. "Oalah, lamaran. Apa saja pesenannya, Nduk?"

"Jadah satu kilo, wajik satu kilo, jenang satu kilo, sama satu tampah kecil kue basah, ya."

Arka yang sejak tadi menyimak, kini menundukkan sedikit punggungnya dengan sopan. "Total semuanya berapa, Mbah?"

"Sebentar, Mas. Mau ditaruh di nampan bambu atau baskom plastik?" tanya Mbah penjual menawarkan opsi wadah.

Naira kali ini menoleh ke arah Arka. Selama beberapa saat mereka saling pandang, mencoba melempar keputusan. "Bagaimana, Mas?" tanya Naira lebih dulu.

"Wadah bambu saja," jawab Arka lugas.

"Nampan bambu saja, Mbah," ulang Naira pada si Mbah.

"Kalau mau diantar sampai rumah, nambah biaya ongkos ya, Nduk. Sekarang bensin lagi naik, jadi ongkos antarnya lima ribu "

Naira tampak menegang sesaat. Dahinya mengernyit tipis. Ongkos lima ribu di era ini jelas naik cukup tinggi dibanding terakhir kali ia memesan sesuatu di pasar. Baru saja Naira membuka mulut, bersiap mengeluarkan jurus negosiasi ala ibu-ibu pasar demi membela dompet calon suaminya, ia dibuat melongo saat menoleh.

Arka ternyata sudah lebih dulu merogoh saku, mengeluarkan dompet kulitnya yang tebal, dan menghitung beberapa lembar uang kertas dengan cepat.

"Jadi semuanya total berapa bersama ongkosnya, Mbah?" tanya Arka datar, siap mengeksekusi pembayaran.

Melihat interaksi kilat antara calon suaminya dengan penjual di los pojok itu, seulas senyum kecut sekaligus geli akhirnya lolos dari bibir Naira. Arka sama sekali tidak menawar. Pria itu langsung menyerahkan uang pas sesuai nominal yang disebutkan si Mbah tanpa babibu.

Naira hanya bisa membatin pasrah seraya menggelengkan kepala. Mas perwiranya ini benar-benar tipikal orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!