NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

​"Ayo, duduklah dulu, Non," suara Amar seketika memutus tatapan Nadya pada Rexsaka.

​Gadis itu mengangguk samar, lalu menduduki kursi kosong di samping brankar, kursi yang entah mengapa masih menyisakan kehangatan tubuh Rexsaka di sana.

​"Paman... bagaimana keadaan Paman sekarang?" tanya Nadya, kini sepenuhnya memusatkan perhatian pada ayah dari pria yang teramat dicintainya itu.

​"Alhamdulillah, Bapak sudah mendingan, Non. Tapi, Nona lebih baik kembali ke kamar saja. Ingat kondisi tubuh Non yang belum stabil," ucap Amar cemas, matanya menatap khawatir pada paras pucat Nadya yang baru saja melewati masa kritis.

​"Nadya tidak apa-apa, Paman." Seulas senyum tulus diukir Nadya, berusaha sekuat tenaga mengikis gumpalan rasa khawatir yang membayang di wajah tua Amar.

​Keheningan sempat merayap sesaat sebelum Amar kembali membuka suara, menanyakan teka-teki yang sejak kemarin mengusik benaknya. "Non... kenapa Non sampai nekat menyelamatkan Bapak kemarin? Bukankah bertindak sejauh itu sama saja dengan Nona tidak menyayangi nyawa Nona sendiri?"

Di mata Amar, sebaik apa pun watak Nadya selama ini, rasanya tetap mustahil jika sang nona muda rela bertaruh nyawa demi seorang sopir pribadi seperti dirinya. Memang benar, ia telah mengabdi pada keluarga Sismoko bahkan sejak sebelum gadis itu melahirkan tangis pertamanya di dunia. Namun tetap saja, di antara mereka tidak ada untaian darah, tidak pula ada ikatan batin khusus yang mengharuskan putri tunggal majikannya itu nekat menyerahkan dada sebagai tameng tajamnya pisau.

​Namun, yang tidak Amar ketahui adalah bahwa bagi Nadya, ikatan di antara mereka jauh lebih besar dari sekadar untaian darah. Paman Amar begitu berarti, karena pria tua ini adalah poros hidup bagi seorang Rexsaka Pramuja. Amar adalah satu-satunya pelabuhan pulang yang Rexsaka miliki, ayah dari pria yang jiwanya telah lama Nadya kunci. Nadya hanya ingin menjaga apa yang paling berharga di hidup pria itu, karena ia tak akan sanggup melihat Rexsaka didera duka kehilangan.

​Nadya perlahan mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan. Tepat di sana, pusat dari seluruh dunianya tengah duduk tenang, tampak sama sekali tidak terusik oleh percakapan mereka. Pria itu tetap fokus pada benda pipih di tangannya, menutup rapat diri dari presensi Nadya yang berada di ruangan yang sama.

​"Paman... Nadya sudah menganggap Paman seperti keluarga Nadya sendiri," ucapnya lembut, berusaha menahan getar di suaranya. "Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Paman, itu akan membuat Nadya sangat sedih dan terluka. Lagipula... Nadya juga tidak ingin melihat seseorang harus merasakan kepedihan yang sama..."

​Nadya menggantung kalimatnya. Ia mengalihkan pandangan, menatap nanar ke sudut ruangan, tepat pada sosok yang ia maksud dalam hatinya.

​Tanpa diduga, pada detik yang sama, Rexsaka ternyata juga tengah melayangkan pandangan ke arahnya. Netra kelam pria itu menatapnya tajam dan menghujam dalam, seolah sedang menilai setiap jengkal kejujuran dari kalimat Nadya, atau barangkali... memang menyiratkan rasa tidak suka yang teramat nyata atas apa yang baru saja didengarnya.

​"Ekhem..."

​Deheman pelan dari Amar seketika memutus tautan netra di antara kedua anak manusia itu, sebuah kontak mata intens yang Amar tahu pasti, tak akan ada satu pun dari mereka yang rela mengalah untuk memutuskannya terlebih dahulu.

​Suasana canggung yang sempat membeku itu perlahan mencair saat Amar kembali bersuara, mengalihkan perhatian sang nona muda.

​"Nona, tadi Bapak sudah menghubungi orang tua Non Nadya. Pesawat mereka sudah berangkat, Kalau tidak ada halangan, kemungkinan besar nanti malam mereka sudah sampai di sini."

Nadya mengembuskan napas berat. Di dalam benaknya, ia mulai menata hati dan bersiap diri, menerka-nerka badai reaksi seperti apa yang akan ia hadapi dari kedua orang tuanya nanti malam.

​Mencoba mengusir kecemasan itu sejenak, ia memaksakan senyum tipis pada Amar. "Iya, Paman, terima kasih informasinya. Kalau begitu, Nadya pamit kembali ke kamar dulu, ya," ujar Nadya seraya perlahan bergerak bangkit dari duduknya.

Namun, baru setengah badan ia bangkit, Nadya mendadak tersentak dan meringis tertahan. Rasa nyeri yang teramat sangat menyengat hebat, seolah mengoyak kembali bekas luka operasi di perutnya. Tampaknya, ini adalah konsekuensi dari langkah nekatnya berjalan ke mari tadi, mengabaikan begitu saja titah perawat administrasi yang sempat menyuruhnya diam menunggu sementara mereka mencarikannya sebuah kursi roda.

Enggan membuat suasana panik, Nadya mencoba sekuat tenaga menahan ringisannya. Sayang, usahanya terlambat. Netra tua Amar justru menangkap sesuatu yang mengerikan, sebuah noda merah segar perlahan merembes, menembus kain putih pakaian pasien yang dikenakan Nadya.

​"Nona! Luka Anda berdarah! Saka!" pekik Amar panik.

​"Saka panggilkan dokter," sahut Rexsaka cepat. Pria itu ternyata sudah refleks berdiri dari sofanya begitu mendengar pekikan sang ayah.

​Namun, langkah lebarnya terhenti saat suara Amar kembali menginterupsi. "Ka, bawa Nona Nadya kembali ke kamarnya sekarang! Biar dokternya dipanggil ke sana saja!"

​Rexsaka mengangguk patuh. Ia melangkah mendekat, lalu mencengkeram tiang infus beroda milik gadis itu.

​"Anda masih bisa berjalan?" tanya Rexsaka. Kali ini, ada nada lembut yang terselip dalam suaranya, sebuah intonasi langka yang belum pernah sekalipun mampir di telinga Nadya, sukses membuatnya terpana sesaat.

​"Ka, gendong saja! Sepertinya jahitan lukanya terbuka. Kamu tega membiarkannya berjalan dalam kondisi seperti itu?" cecar Amar lagi.

​"Tapi, Yah..." Rexsaka mencoba memprotes.

​"Cepat, Nak! Nona Nadya harus segera diperiksa!" desak sang ayah, mengabaikan raut enggan di wajah putranya demi keselamatan sang nona muda.

​"Tidak apa-apa, Kak... Nadya masih kuat berjal..."

​Belum sempat Nadya menuntaskan kalimatnya, bumi seolah berputar. Tubuh ringkihnya mendadak melayang, terangkat sempurna dalam gendongan kokoh Rexsaka.

​Seketika itu juga, dada Nadya bergemuruh hebat. Rasa nyeri yang semula menyiksa di perutnya menguap begitu saja, kalah telak oleh debaran jantung yang menggila saat mendapati paras tampan yang teramat dirindukannya kini berada begitu dekat dari jangkauan pandangan.

​"Ambil infusnya."

​Suara Rexsaka ketus, mendadak kembali ke setelan dinginnya yang semula. Dengan tatapan lurus ke depan, ia mengedikkan dagu ke arah botol infus yang masih tergantung di tiangnya, mengisyaratkan agar gadis dalam dekapannya itu segera meraih benda tersebut.

​Nadya mendongak, lalu menyambar botol infus itu dengan bibir yang sedikit mengerucut cemberut, kesal karena kehangatan pria itu menguap secepat kilat.

Namun, Rexsaka sama sekali tidak menanggapi protes bisu itu. Begitu memastikan botol infus sudah aman di dalam genggaman Nadya, Rexsaka langsung memutar tubuh dan melangkah lebar keluar dari ruangan.

​Di atas brankar, Amar hanya bisa menatap nanar punggung putranya yang tengah mendekap erat sang nona muda, hingga bayangan keduanya benar-benar lenyap di balik pintu yang tertutup rapat.

​Amar menyandarkan punggungnya perlahan, lalu bergumam lirih pada kesunyian kamar, "Semoga... keputusan yang kuambil ini tepat."

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!