NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjodohan

Alden baru keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi malam itu. Sebelumnya, setelah memastikan Nara sampai di rumah dengan selamat, ia langsung melajukan motornya kembali sampai ke pekarangan rumah. Sesampainya di rumah, Alden tidak banyak membuang waktu. Ia langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri.

Setelah selesai, Alden meletakkan handuk rambutnya di atas gantungan yang ada di walk-in closet. Rambutnya masih sedikit lembap saat ia berjalan menuju meja belajar. Matanya sempat menatap buku pelajaran yang sudah terbuka di atas meja, mengingat besok ia masih harus menghadapi kuis. Namun, belum sempat ia benar-benar fokus, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.

"Boy, Daddy boleh masuk?" panggil daddy-nya dari luar.

"Masuk aja, Dad. Pintunya enggak dikunci," balas Alden dari dalam.

Pintu kamar itu pun terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di ambang pintu. Arka, daddy Alden, masuk perlahan ke dalam kamar anak bujangnya. Pandangannya sempat menyapu meja belajar Alden yang penuh dengan buku.

"Kamu lagi belajar, kah?" tanyanya, seperti sedang mencari pembuka obrolan.

"Iya, besok aku ada kuis," jawab Alden dengan santai.

"Oh, jadi Daddy ganggu, ya? Ya sudah, nanti aja Daddy ke sini," ucap Arka sambil hendak berbalik keluar.

Alden yang melihat gerak-gerik daddy-nya langsung menahan dengan suara tenang. "Daddy mau ngomong apa?"

Langkah Arka berhenti. Ia menoleh pelan ke arah Alden.

"Ngomong aja, Dad," lanjut Alden, membuat daddy-nya tersenyum kecil.

"Sini duduk dulu, yuk, di sofa," ajak Arka.

Alden menghela napas pelan, lalu bangkit dari kursi belajarnya. Mereka berdua pun berpindah ke sofa yang ada di sudut kamar. Alden duduk dengan ekspresi datar, sementara Arka terlihat seperti sedang menyiapkan kalimat yang tepat.

"Ehem, jadi gini," ucap Arka setelah merasa siap. Alden hanya menatap daddy-nya tanpa banyak reaksi.

"Tentang perjodohan kamu sama Naya, Daddy mau bahas itu," lanjut Arka dengan nada yang mulai terdengar serius.

Alden diam saja. Ia memilih mendengarkan, meskipun sebenarnya nama Naya sudah cukup membuat pikirannya kembali penuh.

"Om Ronald tadi bilang sama Daddy. Ternyata, Naya punya kakak kembaran. Dan kakak kembarannya itu yang akan dijodohkan sama kamu," ucap Arka.

Ucapan itu sukses membuat Alden menatap daddy-nya dengan kaget. "Maksud Daddy?"

"Iya. Om Ronald punya anak kembar, Elnara dan Elnaya. Dan Nara-lah yang nantinya akan dijodohkan sama kamu," jelas Arka. Ia menatap Alden sebentar, lalu melanjutkan dengan hati-hati, "Kamu bersedia, kan?"

Alden masih terdiam. Nama Nara masih terlalu baru untuknya, tapi entah kenapa nama itu langsung membuat pikirannya kembali pada gadis yang tadi ia ikuti sampai rumah.

"Daddy sudah lihat foto mereka berdua tadi. Sama-sama cantik, tapi yang membedakan itu Naya punya tanda lahir kecil berwarna cokelat di dekat matanya, sedangkan Nara tidak," tambah Arka.

Alden masih mencoba mencerna semuanya. Ia lalu bertanya pelan, "Jadi keputusan Daddy setelah ini gimana?"

"Daddy serahkan sama kamu. Kamu bersedia dijodohkan sama Nara?" tanya Arka.

Alden terdiam beberapa detik. Sebenarnya, ingin sekali rasanya ia menolak. Ia tidak suka hidupnya diatur, apalagi soal hubungan seperti ini. Namun, di sisi lain, ia juga memikirkan daddy-nya. Pembicaraan antara daddy-nya dan Om Ronald sepertinya sudah terlalu jauh. Ia takut kalau penolakannya justru membuat daddy-nya merasa malu atau tidak enak kepada temannya sendiri. Apalagi yang Alden tahu, daddy-nya dan Om Ronald memang sudah berteman dekat sejak lama.

"Aku ngikut Daddy aja," jawab Alden akhirnya dengan nada pasrah. "Percuma aku tolak kalau Daddy enggak setuju."

Arka menatap anaknya dengan perasaan tidak enak. "Maafin Daddy, ya, Bang. Daddy lakuin ini semua juga demi masa depan kamu."

"It's okay, Dad," jawab Alden singkat. Lalu, setelah beberapa saat, ia kembali bertanya, "By the way, kalau memang anak Om Ronald selama ini kembar, di mana kembarannya?"

"Ada. Sebelum ini katanya dia sekolah di luar negeri, tapi sekarang sudah pindah ke Indonesia," jawab Arka, menyampaikan sedikit informasi yang ia dapatkan dari temannya itu.

Alden mengernyit pelan. "Kenapa selama ini kita enggak tahu? Waktu Naya dipublikasikan identitasnya, kenapa dia enggak ikut dipublikasikan juga?"

Arka menggeleng kecil. "Enggak tahu juga, Daddy enggak dikasih tahu soal itu."

Jawaban itu membuat Alden kembali terdiam. Semakin dipikirkan, semakin banyak hal yang terasa aneh. Tentang Nara, tentang Naya, dan tentang kenapa selama ini keberadaan salah satu dari mereka seperti disembunyikan.

"Ya sudah, kamu lanjutin aja belajarnya. Daddy mau keluar dulu," ucap Arka sambil bangkit dari sofa.

Alden hanya mengangguk kecil. Tidak lama setelah itu, Arka pun keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan.

Sepeninggal daddy-nya, Alden masih duduk diam di sofa. Pikirannya terus berputar pada ucapan yang baru saja ia dengar. Elnara dan Elnaya. Anak kembar Om Ronald. Salah satunya memiliki tanda lahir di dekat mata, sedangkan yang lain tidak.

"Atau jangan-jangan yang di sekolah itu Nara?" gumam Alden pelan.

Namun, ia tidak mau terlalu larut dalam pikirannya sendiri. Besok ia masih punya kuis, dan mau tidak mau ia harus tetap belajar. Alden akhirnya bangkit dari sofa, kembali ke meja belajarnya, lalu mencoba memusatkan pikirannya pada buku yang sejak tadi menunggunya.

Sementara itu, Nara yang baru sampai di rumah sore itu langsung melangkah masuk dengan kaki jenjangnya. Ia berjalan santai melewati ruang utama, lalu hendak menuju lift untuk naik ke lantai atas. Namun, belum sempat langkahnya sampai di sana, tiba-tiba seseorang memanggil namanya dan membuat Nara menoleh.

"Halo, Mont," panggil orang itu.

Saat menyadari siapa yang berdiri tidak jauh darinya, mata Nara langsung melebar karena kaget. "Kak Ar!" serunya excited.

Tanpa berpikir panjang, Nara langsung berlari kecil dan memeluk laki-laki itu. Arvard, laki-laki yang sejak tadi berdiri di sana, hanya terkekeh pelan saat tubuh mungil Nara menabrak pelukannya. "Do you miss me?" ucap Arvard sambil mengusap pelan kepala gadis itu. Aroma rose dari rambut Nara langsung tercium samar, membuat rasa rindu yang sejak tadi ia tahan perlahan semakin terasa.

"Yeah, I miss you," jawab Nara dengan lembut.

Tidak lama setelah itu, Nara melepas pelukannya. Ia menatap Arvard dengan wajah masih terlihat tidak percaya. "Kok lo enggak ngomong, sih, Kak, kalau ada di rumah gue?"

"Surprise. Lo juga pulang ke Indonesia enggak ngomong sama gue," protes Arvard balik.

"Hehehe, mendadak soalnya," jawab Nara sambil tersenyum kecil.

"Ya sudah, ayo," ucap Arvard tiba-tiba.

Nara mengernyit bingung. "Ayo apa?"

"Gue mau ngomongin soal yang lo minta bantuan itu. Retas CCTV tempat sekolah lo," ucap Arvard dengan suara lebih pelan.

Ucapan itu seketika membuat tubuh Nara menegang. Senyum kecil di wajahnya perlahan hilang. Ia menatap Arvard sejenak, lalu bertanya dengan hati-hati, "Di sini?"

"Di luar aja. Ayo," jawab Arvard singkat.

Nara sempat diam beberapa detik, lalu akhirnya mengangguk. Setelah itu, keduanya pun berjalan keluar bersama, meninggalkan suasana rumah yang tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya.

1
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!