Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Mobil SUV mewah itu pun melaju mulus di atas jalan aspal, membaur bersama beberapa pengendara roda dua yang juga terlihat berbondong-bondong ingin pergi ke pasar malam. Tak lama setelah mobil melewati tikungan terakhir, pemandangan di depan kami langsung berubah ramai. Lampu-lampu hias aneka warna tampak berkelap-kelip menyala dengan terangnya.
"Ramenya di'... Eh Yas, Mama mau beli baju serba tiga puluh lima ribu di sana, pasti banyak toh pilihan yang bagus?" ucap Mama heboh menunjuk deretan stan dari balik kaca mobil.
"Apa itu baju serba tiga puluh lima ribu, Ma?" tanya Jalal dari kursi kemudi, terdengar asing dengan istilah itu.
"Anu, Pak... Baju untuk rakyat jelata seperti kita-kita ini," celetuk Bapak bercanda dari kursi tengah, menyahuti pertanyaan menantunya.
Seketika tawa kami bersama pecah di dalam kabin mobil. Saat Jalal mulai membelokkan setir untuk mencari tempat parkir yang pas, Jayan langsung bersorak girang sambil menunjuk-nunjuk ke luar.
"Horeee! Mama, sudah sampai...!" ucapnya riang. Aku mengangguk senang, lalu bersiap menurunkan Jayan dari pangkuanku.
Namun, baru saja aku hendak membuka pintu mobil, jemari tangan Jalal tiba-tiba menahan pergelangan tanganku. Aku menoleh heran, mendapati pria itu sedang menatapku dengan pandangan mata yang teramat dalam.
Jalal kemudian sedikit menurunkan kaca mobilnya, berbicara pada Mama yang rupanya sudah turun duluan ke tanah. "Ma! Bisa bawa Jayan duluan masuk ke dalam? Saya mau ajak Yasita beli barang sebentar," ucap Jalal beralasan.
Mama mengangguk paham lalu membuka pintu tengah untuk mengambil Jayan dari dekapanku.
"Mama kenapa tidak turun? Aku mau sama Mama dengan Bapak..." rengek Jayan pelan, menatapku dengan bibir cemberut.
Jalal langsung mencondongkan tubuhnya ke belakang, menatap putra kecilnya dengan lembut. "Abang... Abang pergi duluan sama Nenek dengan Kakek, ya? Bapak mau bicara berdua dulu sama Mama sebentar," ucap Jalal membujuk.
Bersamaan dengan itu, tangan kanan Jalal merogoh saku, mengambil dompet kulitnya, lalu mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna biru pecahan lima puluh ribu rupiah. Beliau langsung menyodorkan uang tersebut ke tangan Mama melalui jendela mobil.
"Eh? Apa ini, Bapanya Jayan?" tanya Mama kebingungan melihat segepok uang yang disodorkan menantunya.
"Ambil, Ma... Untuk pegangan beli makanan atau borong baju serba tiga puluh lima ribu di dalam nanti," ucap Jalal tersenyum ramah.
Mama sempat menggeleng sungkan hendak menolak, tapi Jalal terus memaksa dengan halus. Sampai akhirnya Mama menatapku seolah meminta pertimbangan, yang langsung kubalas dengan anggukan kepala pelan. Setelah Mama menerima uang itu, kedua orang tuaku pun melangkah masuk terlebih dahulu ke area pasar malam sembari menggandeng Jayan.
Setelah mobil kembali sunyi, Jalal menatapku lekat.
"Mau ajak saya ke mana, Pak?" tanyaku lirih penuh tanya.
"Saya mau ajak kamu jalan berdua saja, Yas. Kalau masih bawa Jayan sama Mama dan Bapak, kita tidak bisa bermesraan," ucap Jalal terlampau jujur tanpa tedeng aling-aling.
Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar pengakuannya. 'Orang tua ini, kok bisa tambah manis begini, ya?' batinku bersorak senang.
Mobil kembali melaju membelah jalan raya. Alih-alih menuju area pasar malam, Jalal memilih membelokkan kendaraannya masuk ke dalam sebuah lorong yang mengarah langsung ke Derlap alias Dermaga Lapuko. Senyumku langsung mengembang begitu melihat suasana sekitar dermaga yang tampak begitu tenang dan syahdu di bawah langit malam.
Saat mobil akhirnya berhenti tepat di pinggir pantai, aku menahan napas sesaat. Jalal perlahan melepaskan sabuk pengamannya, lalu mencondongkan tubuh tegapnya mendekati wajahku. Merasa atmosfer mendadak berubah intim, aku refleks memejamkan kedua mataku, bersiap menyambut apa yang akan terjadi.
Namun, setelah beberapa detik berlalu, tidak kurasakan sentuhan apa-apa di bibirku.
Begitu aku membuka mata dengan perlahan, aku mendapati wajah Jalal berada tepat beberapa senti di depan wajahku, menatapku sambil tertawa geli menahan tawa lucunya.
"Nungguin, ya?" ucapnya dengan nada super tengil.
Karena terlanjur merasa terlalu percaya diri dan malu setengah mati, aku langsung melayangkan cubitan gemas di lengan kokohnya. "Ih, apa-an sih Bapak ini! Godain saya terus dari tadi!" ucapku jengkel dengan wajah memerah.
"Au, auw... Maaf, Sayang, maaf. Aku cuma bercanda..." rintihnya manja sembari terkekeh.
Mendengar rintihannya, aku secepat kilat melepaskan cubitanku. Aku membuang muka dengan ketus, melempar pandangan ke arah luar kaca jendela mobil untuk menyembunyikan rasa salah tingkah.
"Yas!" panggilnya lembut. Namun, aku masih bergeming.
Sampai beberapa kali dia memanggil namaku dan aku tetap mendiamkannya, Jalal akhirnya menyerah.
"Sayang... Maaf ya," ucapnya dengan nada suara yang teramat lembut.
Kedua telapak tangannya yang besar kini bergerak membingkai wajahku, memaksaku dengan lembut untuk menoleh kembali ke arahnya. Begitu sepasang netra kami saling mengunci, Jalal dengan cepat memajukan wajahnya dan langsung membungkam bibirku.
Pria itu menciumku. Sebuah ciuman hangat yang begitu dalam, tanpa ada paksaan ataupun tekanan. Aku yang awalnya berniat merajuk, seketika meleleh dan perlahan mulai membalas lumatan manisnya. Cukup lama kami saling bertukar kerinduan di dalam keheningan mobil, sebelum akhirnya kami perlahan melepaskan pagutan itu dengan napas yang sedikit memburu.
"Maaf ya, Sayang," ucapnya lagi dengan dahi yang saling menempel pada dahiku. Aku hanya bisa mengangguk pelan dengan sisa debaran di dada. "Yuk, kita keluar berjalan-jalan."
Aku mengangguk setuju. Kami berdua melangkah keluar dari mobil. Di sepanjang pinggiran dermaga, terlihat ada beberapa pasangan muda-mudi yang juga sedang asyik berdiri menikmati suasana malam. Jalal meraih jemari tanganku, menuntunku berjalan pelan menuju ke ujung dermaga.
Saat hembusan angin laut yang cukup kencang mulai menerpa permukaan kulit tubuhku, Jalal dengan posesif semakin mempererat genggaman tangannya di jemariku, seolah menyalurkan kehangatan tubuhnya.
Sesampainya kami tepat di ujung dermaga yang menghadap langsung ke hamparan laut gelap, Jalal tiba-tiba membalikkan tubuhnya menghadapku. Detik berikutnya, dia perlahan berlutut dengan satu kaki di depanku.
"Pak, ngapain?!" ucapku kaget bukan main, refleks mundur selangkah karena terkejut dengan aksinya yang mendadak.
Jalal hanya melemparkan senyuman manis. Tangannya bergerak merogoh kantong kemeja bagian depan, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah merona. Beliau membukanya tepat di hadapanku, menampakkan seulas cincin berkilau di dalamnya.
"Yasita Humairah... Apa kamu mau menerima kembali cintaku? Menerimaku untuk menjadi suamimu, dan menjadi teman hidupmu selamanya?" tanya Jalal dengan suara rendah yang bergetar penuh kesungguhan. Sepasang mata biru lautnya menatap langsung ke dalam manik mataku dengan sangat dalam.
Air mata haru seketika menggenang di pelupuk mataku. Aku tersenyum sangat lebar di tengah rona bahagia, lalu menganggukkan kepala dengan mantap. "Iya, Pak... Saya mau."
Senyum kebahagiaan seketika merekah di wajah matang Jalal. Dengan jemari yang sedikit gemetar, dia mengambil cincin emas itu lalu memasangkannya dengan teramat pas di jari manis tangan kananku.
Setelah cincin itu terpasang sempurna, Jalal langsung bangkit berdiri dan mendekap seluruh tubuhku ke dalam pelukan eratnya. Sebuah pelukan penuh rasa lega dan bahagia yang teramat sangat. Di dalam dekapannya, samar-samar aku bisa mendengar suara gemuruh dari dalam dadanya; jantungnya berdetak dengan sangat keras dan cepat.
"Yas... Saya tidak punya riwayat sakit jantung. Dan amit-amit, jangan pernah sampai punya. Jantung saya berdetak sekeras ini... murni karena kamu. Saya sangat mencintaimu, Yasita," bisik Jalal dengan suara rendah tepat di samping telingaku, sebelum akhirnya mendaratkan satu kecupan takzim di pucuk kepalaku.
Aku semakin menenggelamkan wajahku di dada bidangnya yang hangat. "Terima kasih, Pak, sudah mau datang menjemput dan menerima saya kembali apa adanya..." ucapku lirih dari dalam pelukan hangatnya, yang seketika mampu mengalahkan dinginnya hembusan angin laut malam ini.