Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Ini Juga!
"Nak Arsen, mohon maaf sebelumnya," ujar Pak De Karwo, nadanya terdengar sok berwibawa.
"Aira ini anak perempuan pertama di keluarga kami. Biarpun kondisinya sekarang... yah, seperti yang Nak Arsen lihat sendiri, dia hanya bekerja serabutan membantu di ladang setelah lama tidak mendapat panggilan kerja. Tapi, dia ini sarjana. Kami tentu tidak ingin keponakan kami ini dinikahi hanya dengan modal janji manis, kami juga perlu tahu bagaimana latar belakang keluarga Nak Arsen, agar di kemudian hari tidak ada masalah maslahat," ucap Pak De Karwo.
"Pak De..." bisik Aira, wajahnya memerah menahan malu. Ia tahu tabiat Pak De Karwo yang selalu blak-blakan dan sering kali terlalu mencampuri urusan materi, Aira khawatir ucapan pamannya itu akan menyinggung perasaan keluarga Arsen.
Namun, Pak Aldi justru terkekeh pelan, sebuah tawa hangat yang seketika mencairkan ketegangan.
"Pertanyaan yang sangat wajar dari seorang wali, Pak Karwo," sahut Pak Aldi dengan senyum bijaknya.
"Perkenalkan, saya Aldi, dan ini istri saya, Mutia. Kami menetap di Jakarta. Untuk latar belakang, kebetulan keluarga kami mengelola beberapa usaha di bidang manufaktur dan properti di Jakarta dan Surabaya. Sedangkan Arsen sendiri, setelah menyelesaikan master bisnisnya di London, saat ini memegang kendali untuk operasional perusahaan kami, sekaligus mengelola bisnis furnitur ekspornya sendiri," jawab Pak Aldi.
Mendengar kata London, manufaktur dan ekspor, mata Pak De Karwo seketika berkejaran, sementara Bapak Hilman tampak menelan ludah dengan susah payah. Mereka tidak menyangka bahwa pria yang datang ke rumah sederhana ini bukan sekadar orang kota biasa, melainkan kalangan konglomerat yang namanya mungkin sering muncul di berita-berita ekonomi.
"Jadi, Pak Hilman, Pak Karwo. Mengenai maslahat dan masa depan Aira, kami jamin Arsen mampu bertanggung jawab penuh, lahir dan batin. Kami tidak mencari menantu berdasarkan hitungan harta atau kedudukan, karena bagi kami, siapa pilihan Arsen itulah yang terbaik," lanjut Pak Aldi.
Bu Mutia kembali meremas lembut jemari Aira, seolah memberikan kekuatan di tengah tatapan takjub keluarga besarnya.
Bapak Hilman berdeham, mencoba menguasai suaranya yang mendadak serak. Ia menatap Arsen yang menatapnya dengan pandangan penuh hormat, lalu beralih menatap putri sulungnya.
"Aira... Bapak menyerahkan semua keputusan kepadamu, Nduk. Kamu yang menjalani, kamu yang paling tahu. Bagaimana? Apakah kamu bersedia menerima lamaran dari Nak Arsen?" tanya Bapak Hilman.
Ruangan itu mendadak senyap, bahkan suara detak jam dinding kuno di sudut ruangan pun terdengar begitu jelas. Di luar rumah, desas-desus para tetangga yang mengintip seolah tertahan oleh ketegangan yang memuncak.
Aira menatap ibunya yang mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca, menyiratkan restu yang teramat dalam. Ia kemudian beralih menatap Arsen, pria kulkas dari Fakultas Teknik yang dulu begitu jauh, kini berdiri di depannya dengan kemeja batik berwarna maroon, warna yang sama dengan baju yang ia kenakan atas dasar gurauan garing di telepon. Pria yang tidak peduli pada bau lumpur ladang di tubuhnya, pria yang keluarganya justru memeluk erat tangan kasarnya dengan penuh kelembutan.
Aira menarik napas dalam-dalam, meredakan gemuruh di dadanya, lalu mengulas senyum tertulus yang ia miliki setelah tiga tahun dilingkupi mendung kegagalan.
"Bismillah... Bapak, Ibu... Aira menerima lamaran dari Arsen," ucap Aira mantap, suaranya terdengar jernih tanpa ada keraguan lagi.
Mendengar jawaban itu, Arsen mengembuskan napas lega yang panjang, seulas senyum kemenangan yang sangat jarang ia perlihatkan akhirnya terukir jelas di wajah tampannya. Bu Mutia langsung memeluk Aira dengan penuh kasih sayang, sementara Pak Aldi dan Bapak Hilman saling menjabat tangan dengan erat, menandai awal mula dari ikatan suci dua keluarga yang akan segera terjalin.
Keheningan yang baru saja mencair setelah ucapan penerimaan Aira mendadak membeku kembali, udara di dalam ruang tamu beralas tikar itu terasa seolah tersedot habis ketika Pak De Karwo tiba-tiba mencondongkan badannya ke depan dan menepuk lututnya sendiri dengan keras.
"Lha, kalau Aira sudah bilang mau dan Nak Arsen juga sudah siap, menurut saya... tidak usah pakai tunggu-tunggu minggu depan atau bulan depan. Bagaimana kalau dinikahkan sekarang saja? Hari ini juga!" ucapan Pak De Karwo meluncur tanpa saringan, laksana batu besar yang dilemparkan ke dalam kolam tenang.
Sontak saja, pernyataan itu membuat semua orang di dalam ruangan terkejut setengah mati.
Aira sampai ternganga, matanya membelalak menatap pamannya dengan rasa malu yang menjalar hingga ke ubun-ubun. Ibu Astri langsung beristighfar pelan sambil mengelus dadanya yang sesak, sementara Bapak Hilman tampak kikuk dan serba salah di sebelah kakaknya. Bahkan Pak Aldi dan Bu Mutia, yang biasanya selalu tenang dan elegan, sempat saling lempar pandang dengan alis bertaut heran.
"Pak De! Apa-apaan sih? Nikah itu perlu persiapan, tidak bisa asal secepat itu," bisik Aira setengah memprotes, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.
Namun, Pak De Karwo sama sekali tidak merasa bersalah. Dengan wajah tanpa dosa, ia justru melambaikan tangan, mengabaikan protes keponakannya.
"Lho, Pak De ini realistis, Aira! Nak Arsen ini orang sibuk, keluarganya juga repot di Jakarta. Daripada nunggu lama-lama malah jadi fitnah tetangga, apalagi kamu tahu sendiri kan mulutnya Bu Romlah dan kawan-kawan di luar seperti apa? Lagipula, alasan utamanya ya supaya kamu segera ada yang menafkahi sah lahir batin. Biar kamu tidak perlu lagi panas-panasan, hujan-hujanan jadi buruh cabut sawi di ladangnya Pak Iqbal!" cerocos Pak De Karwo dengan nada sok tahu yang amat kental.
Kata-kata Pak De Karwo yang blak-blakan itu kembali menguliti status ekonomi Aira di depan calon mertuanya. Aira menunduk dalam-dalam, meremas ujung tunik merah maroon-nya. Air matanya hampir saja menetes karena merasa harga dirinya runtuh total akibat ucapan pamannya sendiri yang seolah-olah ingin menjualnya dengan cepat agar terlepas dari kemiskinan.
Di tengah situasi yang memalukan bagi keluarga Aira tersebut, Arsen yang sejak tadi diam memperhatikan tiba-tiba berdeham. Suara baritonnya yang jernih seketika memotong perdebatan. Arsen membetulkan posisi duduknya, lalu menatap Pak De Karwo dengan tatapan mata yang tenang namun tajam menghanyutkan.
"Pak De," panggil Arsen lembut, namun entah mengapa aura kepemimpinannya langsung membuat Pak De Karwo bungkam dan mendengarkan.
"Saya sangat menghargai perhatian dan kepedulian Bapak terhadap masa depan dan kehormatan Aira. Mengenai nafkah, sejak detik Aira menerima lamaran saya tadi, saya sudah berkomitmen untuk bertanggung jawab penuh atas kehidupan Aira dan Ibu Astri, bahkan sebelum akad nikah kami gaungkan," ucap Arsen mantap.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal