Antara mencintai atau obsesi itu beda tipis nggak sih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan
“Ini Arina Masayu, anak terpintar yang satu angkatan dengan anak Pak Wijaya,” ucap Kepala sekolah dengan wajah bangganya, sambil memperkenalkan Arina ke hadapan Wijaya dan Jagat.
“Senang bisa bertemu dengan Anda Pak Wijaya, saya Arina,” ucap Arina dengan senyuman lembutnya dia memperkenalkan diri di hadapan Jagat dan Papanya.
Wijaya hanya mengangguk sambil mengamati Arina, “ Saya mau dia yang jadi teman belajar anak saya, nanti ada bonus uang saku untuk dia jika Jagat bisa lulus dengan nilai terbaik,” ucap Wijaya kepada Kepala sekolah dan Arina.
Wajah tercengang Arina tercetak jelas saat itu, dia ingin menolak tapi tidak punya kuasa apapun, sedangkan di sisi lain banyak cewek yang iri dengan kedudukannya saat ini.
“Oh iya, akhiri saja acara penyambutan nya, saya masih ada urusan lain,” pamit Wijaya dengan aura kepemimpinan yang sangat kuat.
“Baik Pak Wijaya, terimakasih untuk waktunya,” ucap kepala Sekolah.
Setelah upacara di bubarkan, kepala sekolah langsung menghampiri Arina bersama Jagat, “Arina, kamu bisa tolong bapak kan, soal Jagat, kamu yang handle,” pesan Kepala sekolah dengan wajah tegasnya.
“Tapi pak,” protes Arina yang menguap begitu saja.
“Ini perintah langsung dari Pak Wijaya, nggak bisa di bantah,” sela kepala sekolah dengan tatapan tajam.
“Ba-ik pak,” jawab Arina.
“Lu kalau nggak mau tolak aja, sebelum ada perjanjian yang setiap perintah nggak bisa Lu tolak,” ucapan Jagat yang berupa peringatan.
“Maksudnya?” Kali ini Arina mengernyitkan keningnya sambil menatap wajah Jagat, yang saat ini benar-benar dari dekat dan ketampanannya nyaris sempurna.
Jagat hanya mengangkat bahunya dengan acuh lalu melangkah mendahului Arina, dengan senyuman yang nyaris tak terlihat.
“Kenapa tatapan matanya seperti psikopat sih,” batin Arina sambil bergidik ngeri.
“Ambil surat perjanjiannya di rumah gue nanti sore,” ucap Jagat yang tiba-tiba berhenti dari langkahnya.
“Gue nggak tau rumah Lu dimana, Jagat,” teriak Arina saat Jagat mulai menjauh darinya.
Arina berjalan cepat mencoba mesejajarkan langkahnya dengan langkah Jagat, yang membuatnya lumayan kualahan karena langkah lebar yang mampu di gapai oleh kaki Jagat.
“Cari tau sendiri,” jawab Jagat dengan acuh.
Arina hanya mendengus kesal, alisnya sedikit tertaut. “Kelakuan anak orang kaya,” gumamnya.
“Dimana kelas kita?” Saat ini Jagat membalikan badan secara tiba-tiba di hadapan Raina.
Duukkk… “Awwhh…!!” Ringis Arina yang tanpa sengaja menabrak dada bidang milik Jagat. “Sorry… Sorry… gue nggak sengaja,” ucapnya panik saat melihat tatapan tajam milik Jagat.
“Jalan pake mata,” ketusnya.
Arina hanya mendengus, “Ayo…” ajaknya mendahului Jagat.
Jagat berjalan santai di belakang Arina yang terlihat terburu-buru dalam langkah kecilnya, tanpa Jagat sadari bibirnya menciptakan tarikan garis samar yang sangat mempesona.
“Bohay…” gumamnya sambil tersenyum smirk.
“Ini kelas kamu,” ucap Arina yang tiba-tiba berhenti dan menatap Jagat, dan saat itu juga membuat Jagat gelagapan.
“Heemmbb…” saut nya menggunakan ekspresi sedatar mungkin.
“Ya udah, Lu masuk sana!” Perintah Arina yang melihat Jagat masih berdiri mematung di depan pintu.
“Lu nggak masuk?” Tanya Jagat dengan ekspresi yang terlihat polos.
“Kelas gue di sampingnya, oke bye..!” ucap Arina lalu berjalan cepat meninggalkan Jagat, Arina terus terusan mengatur nafasnya untuk menenangkan dadanya yang sejak tadi bergemuruh saat bersama Jagat.
“Huuuhhhh….!!!” Dia buang nafasnya secara perlahan sambil mengelus dadanya agar lebih tenang.
...----------------...
...“Hai, semoga suka ya, bantu Like, koment dan Vote.”...