NovelToon NovelToon
Kapten Basket Itu Suamiku

Kapten Basket Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Perjodohan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilazahra

Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅

Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!


Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.

Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.

Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.

Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal total

"Ellea, Albiru ... apa kalian mau berjanji sama Bunda?" tanya Mahira lagi, memecah keheningan dengan suara yang sengaja dilemahkan hingga menyerupai bisikan angin lalu. Sepasang matanya yang sayu menatap lurus ke arah menantu dan putranya, memohon sebuah kepastian yang mampu mengunci status pernikahan mereka.

Ellea terdiam, jemarinya yang anggun masih setia mengusap punggung tangan ibu mertuanya. Rasa hangat menjalar di hatinya. Meski baru dua hari menginjakkan kaki dan tinggal di rumah ini, Mahira selalu memperlakukannya dengan begitu mulia, bak putri kandung sendiri sangat kontras dengan sikap abai yang ia terima dari Albiru selama satu tahun pernikahan rahasia mereka.

"Bunda," bisik Ellea dengan nada yang teramat lembut, mencoba menyusun kalimat tanpa harus memberikan janji palsu yang mengikat nuraninya. "Doakan saja yang terbaik ya, Bun? Jika memang kami berjodoh, Allah pasti tidak akan mempersulit jalan pernikahan Ellea dan Kak Al ke depannya. Tapi ... jika pada akhirnya kami memang tidak berjodoh, El harap Bunda bisa ikhlas menerima ketetapan-Nya."

Deg.

Albiru yang sedang berlutut di samping ranjang seketika menegakkan punggungnya. Jantungnya berdenyut kencang, dihantam oleh rasa terkejut yang tidak terkira setelah mendengar untaian kata yang keluar dari balik cadar hitam istrinya.

"Apa? Dia bilang kalau nggak berjodoh? Jadi ... dia beneran nggak mau lagi nikah sama gue? Dia bener-bener berniat mau lepas dari gue?" batin Albiru berkecamuk, mendadak ada rasa tidak rela yang mencubit ulu hatinya dengan begitu perih.

Namun, di tengah kemelut rasa cemburu dan keterkejutannya, ketajaman mata elang Albiru tidak sengaja menangkap sesuatu yang ganjil. Saat Ellea sedang menunduk dalam sela bicaranya, Albiru melihat sudut bibir ibunya sempat berkedut tipis, hampir membentuk sebuah senyuman. Ditambah lagi, sapuan bedak di leher ibunya tidak merata, menyisakan batas warna kulit asli yang tampak segar bugar, sangat kontras dengan wajahnya yang dibuat putih pucat.

Albiru menyipitkan matanya penuh selidik. Sudut pandangnya beralih ke arah pintu kamar, di mana Alisha masih sibuk menahan tawa di balik telapak tangannya hingga bahunya naik turun. Sontak, seulas senyum miring nan usil terbit di wajah tampan cowok itu. Ia tahu betul sekarang bahwa dirinya sedang dikerjai oleh dua wanita kesayangan di rumah ini.

"Baiklah, bundaku sayang ... kalau itu mau Bunda, mari kita lanjutkan drama ini," gumam Albiru jahil di dalam hatinya, tertantang untuk membalikkan keadaan.

Tanpa mengubah ekspresi paniknya, Albiru merogoh saku celana abu-abunya. Ia mengetik sebuah pesan singkat dengan gerakan secepat kilat, lalu mengirimkannya kepada sang ayah yang saat ini pasti sedang sibuk memimpin rapat di kantor pusat perusahaan Samudra.

“Pah, gawat! Bunda tiba-tiba pingsan di kamar. Wajahnya pucat kayak mayat dan napasnya sesak banget. Bunda terus ngigau manggil nama Papa. Buruan pulang, Pa! Al takut Bunda kenapa-napa.”

Setelah menekan tombol kirim, Albiru memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan senyum kemenangan yang tertahan rapi. Ia ingin melihat, sampai di mana kekuatan akting ibunya saat sang kepala keluarga pulang dengan kepanikan tingkat dewa.

Waktu berjalan sekitar tiga puluh menit penuh ketegangan palsu. Di dalam kamar, Mahira masih terus mendesah lemah, sementara Ellea dengan telaten mengompres kening ibu mertuanya menggunakan kain hangat yang baru ia ambil dari dapur. Albiru sendiri hanya duduk diam di tepi kasur sambil berpura-pura memasang wajah muram, menikmati setiap detik pertunjukan gratis di depannya.

“Bun, Bunda?” panggil suara di lantai bawah dengan panik.

Brak!

Suara pintu utama di lantai bawah yang dihantam keras seketika menggema hingga ke atas, disusul oleh suara langkah kaki yang bergedup kencang menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa.

"Mahira?! Bunda! Kamu kenapa, Bun?!" teriak Rendra, ayah Albiru, yang muncul di ambang pintu dengan napas memburu tidak beraturan.

Jas kerjanya sudah terlepas entah ke mana, dasinya longgar berantakan, dan peluh membasahi pelipisnya. Pria paruh baya itu benar-benar panik setengah mati setelah membaca pesan darurat dari putranya. Tanpa memedulikan keberadaan anak-anaknya, Rendra langsung menerobos masuk dan menjatuhkan lututnya di sisi ranjang, meraih kedua bahu istrinya dengan tangan yang bergetar.

“Duh, kenapa papah pulang sih? Bisa ketahuan rencana kali ini,” batin Mahira panik.

"Sayang! Tatap wajah Papa, Bun! Bagian mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang, papa sudah panggil ambulans!" seru Dominic dengan suara menggelegar dipenuhi rasa khawatir yang murni.

“Ya ampun, kok pakai ambulance segala,” batin Mahira semakin panik.

Begitu juga dengan Alisa, ia hampir saja ingin melarikan diri dari ruangan ini. “Duh, gawat, gimana kalau papah tahu kalau bunda sedang akting?”

Melihat kedatangan suaminya yang luar biasa panik dan beringas karena mengira ajalnya sudah dekat, pertahanan akting Mahira runtuh seketika. Rasa bersalah dan takut kualat langsung menyerang benak wanita paruh baya itu. Saking terkejutnya, Mahira mendadak bangkit dan duduk tegak di atas kasur dengan gerakan yang sangat lincah, sama sekali tidak mencerminkan sosok orang yang baru saja lemas dan pingsan.

"Eh, Papa?! Kok ... kok Papa sudah pulang jam segini?" tanya Mahira dengan suara yang kembali nyaring dan jernih, matanya mengerjap polos menatap suaminya.

Rendra tertegun. Ia memandangi wajah istrinya dari dekat, memperhatikan bedak putih tebal yang mulai luntur terkena keringat, serta lipstik pucat yang berantakan. Pria itu menoleh ke arah Alisa yang sudah pucat pasi di dekat pintu, lalu beralih ke arah Albiru yang kini sedang menahan tawa mati-matian sambil bersedekap dada.

"Kamu ... kamu pura-pura sakit, Bunda?" tanya Rendra dengan nada suara yang perlahan merendah, sarat akan ketegasan yang mengintimidasi.

Mahira menelan ludahnya dengan susah payah, langsung melirik tajam ke arah Albiru dengan pandangan ingin membunuh. "Albiru! Kamu yang chat Papa kamu, kan?!" tuding Mahira, suaranya naik satu oktav, membongkar habis seluruh sandiwara pucatnya dalam sekejap.

“Loh, Bunda udah sembuh? Wah, Papah hebat sekali bisa langsung membuat Bunda sembuh,” goda Albiru dengan kerlingan nakalnya.

“ALBIRU?!” teriak Mahira kesal.

**

Sepuluh menit kemudian, ruang tengah kediaman Samudra berubah menjadi ruang sidang yang teramat mencekam. Rendra duduk tegak di sofa tunggal dengan wajah terlipat keras, memancarkan aura wibawa seorang kepala keluarga yang tidak bisa dibantah. Di sofa panjang seberangnya, Mahira duduk menunduk sambil mengusap sisa-sisa bedak tebal di wajahnya menggunakan tisu, didampingi oleh Alisa yang terus meremas ujung bajunya ketakutan.

Sementara itu, Albiru dan Ellea duduk berdampingan di sofa sebelah kanan, membatasi jarak beberapa jengkal di antara mereka.

"Sekarang, jelaskan pada papa, apa-apaan dengan sandiwara konyol ini?" tanya Rendra dingin, menatap lurus ke arah istri dan putri bungsunya. "Papa sedang memimpin rapat penting dengan investor asing, dan harus membatalkannya begitu saja karena mengira ibu dari anak-anak papa sedang kritis!"

Mahira mengembuskan napas panjang, meletakkan tisunya ke atas meja dengan sisa-sisa keberaniannya. Ia menatap suaminya, lalu mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Albiru yang masih memasang tampang tak berdosa.

"Semua ini gara-gara anak laki-laki Papa yang bodoh ini!" seru Mahira berapi-api, tidak ingin menanggung kesalahan seorang diri. "Bunda terpaksa melakukan ini semua karena sore tadi bunda dengar sendiri mereka bertengkar hebat di dalam kamar! Albiru mengatai Ellea dengan kalimat-kalimat kasar yang tidak pantas, hingga Ellea menangis dan meminta cerai!"

Deg.

Rendra seketika menoleh, mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke arah Albiru. "Benar apa yang dikatakan bundamu, Albiru?" tanyanya dengan suara berat yang menekan.

Albiru bungkam, senyum jahil di wajahnya lenyap seketika digantikan oleh rasa bersalah yang kembali mencuat. Ia melirik Ellea dari sudut matanya, melihat gadis itu hanya menunduk dalam, menyembunyikan luka hatinya di balik helai kain cadar hitamnya.

"Bunda tahu Albiru salah, Pa," lanjut Mahira dengan nada yang melunak namun tetap tegas. "Dia sengaja bermesraan dengan gadis lain di sekolah, menghina fisik Ellea, bahkan menantang balik saat Ellea minta pisah. Bunda cuma tidak mau kehilangan Ellea sebagai menantu di rumah ini hanya karena keegoisan anak Papa yang belum dewasa itu!"

Kata-kata telak dari Mahira kembali menguliti kesalahan Albiru di depan sang ayah, menyisakan keheningan malam yang kian mencekam di dalam ruang tengah Rumah keluarganya.

1
Iped Suhendi
sangat bagus cerita nya.
Iped Suhendi
semangat ya nulis nya.Bagus banget cerita nya.Saya suka 😍
Aqilazahra: terima kasih Kak, sudah mampir. semoga suka ya
total 1 replies
Muharlita Muharlita
saya suka
Devan Davin
bgus skli
Aqilazahra: terima akak sudah mampir
total 1 replies
rattna
bagus
Aqilazahra: terima kasih kakak, sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!