Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi itu, langit Jakarta masih diselimuti semburat jingga yang lembut.
Arka memutuskan untuk meliburkan diri dari rutinitasnya berjualan kue subuh di pasar.
Hari ini adalah hari yang teramat penting dalam hidupnya—hari di mana ia akan memulai langkah nyata untuk meresmikan hubungannya dengan Sari.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian terbaiknya yang rapi dan wangi, Arka segera mengeluarkan sepeda motor bebek bututnya dari pekarangan kontrakan.
Suara mesin motor yang sedikit berisik itu membelah jalanan pagi yang masih lengang.
Dengan hati yang berbunga-bunga, Arka melajukan kendaraannya membelah ibu kota menuju kediaman megah keluarga Maheswara.
Begitu sampai di depan rumah mewah itu, Arka memarkirkan motornya dengan rapi di sudut halaman.
Ia berjalan mantap ke arah pintu utama lalu mengetuknya perlahan.
Tok! Tok! Tok!
Pintu besar itu terbuka, menampilkan sosok Nanda yang tampak rapi dengan seragam rumahnya.
Nanda tersenyum ramah saat mengenali siapa yang bertamu sepagi ini.
"Oh, Pak Arka. Selamat pagi," sapa Nanda sopan.
"Ibu Sari sepertinya masih tidur di kamarnya, Mas. Efek kelelahan perjalanan kemarin mungkin. Sebentar ya, saya bangunkan dulu."
Arka tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya dengan lembut.
"Tidak usah, Nanda. Biar saya saja yang ke atas dan mengetuk pintu kamar Mbak Sari. Kebetulan saya juga membawakan klepon hangat yang kemarin saya janjikan."
Nanda sempat tertegun, namun kemudian ia mengangguk paham dan memberikan jalan dengan sopan.
"Baik, Pak Arka. Silakan masuk, kamar Ibu ada di lantai dua di ujung koridor sebelah kanan."
Arka melangkah perlahan menaiki tangga marmer menuju lantai dua.
Setibanya di depan pintu kayu jati yang kokoh milik kamar Sari, ia mendapati pintu tersebut sedikit renggang karena Nanda baru saja hendak membukanya untuk mengecek.
Dari celah pintu yang terbuka sedikit, tampak Sari masih bergelung di balik selimut tebalnya.
Matanya masih terpejam rapat, menikmati embusan pendingin ruangan yang sejuk.
Nanda yang berjalan di belakang Arka segera melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
"Bu... Ibu... Bangun, Bu. Ada Pak Arka sudah menunggu di depan pintu," panggil Nanda setengah berbisik namun cukup jelas.
Mendengar nama "Arka" disebut, kelopak mata Sari yang tadinya terasa sangat berat langsung terbuka lebar. Kesadarannya terkumpul dalam sekejap.
Dengan gerakan cepat, ia menyibak selimut, meraih sebuah cardigan rajut hangat di gantungan dekat ranjang untuk menutupi piyama tidurnya, lalu segera duduk tegak.
Saat ia menoleh ke arah pintu, jantungnya berdegup kencang.
Di sana, berdiri tegak sosok calon suaminya, Arka, yang sedang menatapnya dengan senyuman paling manis dan teduh yang pernah ia lihat.
Di tangan Arka, ada sebuah kotak anyaman bambu kecil yang masih mengeluarkan uap hangat beraroma pandan dan kelapa parut.
Arka melangkah satu kali mendekat ke ambang pintu kamar, menatap wajah polos Sari yang baru bangun tidur tanpa riasan sedikit pun—yang menurutnya justru terlihat berkali-kali lipat lebih cantik.
"Ayo, Dek... lekas mandi dan bersiap-siap," ucap Arka lembut, menyisipkan panggilan baru yang membuat pipi Sari mendadak bersemu merah.
"Setelah sarapan klepon ini, kita langsung berangkat untuk mengurus berkas pernikahan kita ke KUA."
Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, Sari duduk di ruang makan bersama Arka untuk menikmati klepon buatan calon suaminya.
Gula merah yang meleleh di dalam mulut dipadukan dengan gurihnya kelapa parut membuat senyum Sari tidak luntur sejak tadi.
Baginya, ini adalah sarapan termewah yang pernah ia rasakan.
Setelah menghabiskan beberapa butir klepon, keduanya berjalan ke ruang tengah untuk berpamitan kepada Nenek Maheswara yang sedang membaca koran pagi.
Nenek menurunkan kacamata bacanya, menatap kunci motor bebek yang berada di genggaman Arka.
"Kalian tidak naik mobil saja? Jakarta sedang terik," tanya Nenek heran.
Sari langsung bergelayut manja di lengan Arka sambil menyengir lebar.
"Nggak, Nek. Sari mau berduaan saja sama Mas Arka naik motor."
"Dasar kamu ini, ya! Sudah besar masih saja manja," sahut Nenek sambil gemas mencubit ujung hidung cucunya itu.
Nenek menggeleng-gelengkan kepala namun tak mampu menahan senyum restunya.
"Ya sudah, hati-hati di jalan, Arka. Jaga cucu Nenek."
"Baik, Nenek. Kami pamit," ucap Arka takzim.
Arka segera menuntun motor bebek bututnya keluar pagar.
Setelah Sari naik dan duduk dengan nyaman di jok belakang sambil memeluk pinggangnya erat, Arka menghidukan mesin motor dan melajukannya membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai.
Di sepanjang jalan, angin pagi menerpa wajah mereka. Sari mengeratkan pelukannya pada pinggang Arka, lalu sedikit berteriak agar suaranya terdengar di balik deru mesin motor.
"Mas sudah sarapan belum?" tanya Sari.
Arka sedikit menoleh ke belakang sambil tersenyum.
"Sudah, Sayang. Tadi di rumah mas sudah makan sisa kue klepon saat mas membuatnya khusus untuk calon istri mas ini."
Sari terkekeh geli mendengar ucapan Arka. Namun, ia teringat sesuatu.
"Ayo Mas, kita cari sarapan yang lebih kenyang dulu untukmu. KUA kan baru buka jam delapan pagi, ini masih ada waktu."
"Baiklah, Tuan Putri. Ayo kita cari warung nasi pecel terdekat," sahut Arka jenaka, membuat Sari mencubit pinggangnya pelan karena gemas.
Namun, kebahagiaan yang sedang melambung tinggi itu tidak bertahan lama.
Dari arah belakang, sebuah mobil minibus hitam melaju dengan kecepatan tinggi yang tidak wajar.
Di dalam mobil tersebut, dua orang preman suruhan Marta dan Diana menatap tajam ke arah motor butut Arka.
Sesuai perintah bos mereka, pernikahan ini harus digagalkan dengan cara apa pun.
Mobil itu sengaja mengambil lajur kiri, melaju sekencang mungkin tanpa mengerem sedikit pun.
BRAKKKK!!!
Benturan keras tak terhindarkan. Bagian belakang motor Arka dihantam dengan telak hingga hancur.
Tubuh Arka terpental tinggi ke udara sebelum akhirnya jatuh terhempas keras ke atas aspal jalanan.
Sementara itu, Sari terlempar ke arah kanan jalan, berguling beberapa kali di atas pembatas jalan.
Melihat targetnya sudah terkapar, pengemudi mobil hitam itu langsung menginjak gas dalam-dalam, melarikan diri dari tempat kejadian perkara, meninggalkan kepulan asap dan jeritan histeris warga sekitar.
Dengan sisa tenaga dan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, Sari berusaha merangkak bangun.
Dahinya bercucuran darah, namun matanya hanya mencari satu sosok.
"MAS ARKA!!" jerit Sari histeris.
Beberapa meter di depannya, Arka terbaring lemah di tengah jalan.
Darah segar mengalir dari kepala dan pelipisnya, membasahi aspal yang panas.
Sari merangkak mendekat, meraih kepala Arka dan meletakkannya di pangkuannya yang bergetar.
"Mas... Mas Arka, bangun Mas! Jangan bercanda, Mas!" tangis Sari pecah seketika.
Arka perlahan membuka matanya yang kian meredup.
Tatapannya sayu, menatap wajah Sari yang dipenuhi air mata dan darah.
Bibirnya yang pucat bergerak sangat lambat, menyuarakan satu nama terakhir.
"S-Sari..." bisik Arka terputus-putus.
Tepat setelah memanggil nama wanita yang dicintainya, kelopak mata Arka perlahan menutup rapat.
Tangannya yang sempat ingin meraih pipi Sari mendadak terkulai lemas di atas aspal. Arka kehilangan kesadarannya sepenuhnya.
"MAS!! JANGAN TUTUP MATAMU, MAS! AKU MOHON!!" teriak Sari histeris, memeluk tubuh Arka yang tak bergerak.
Suasana jalanan langsung berubah menjadi riuh. Warga sekitar dan pengendara lain yang melihat kejadian tragis itu langsung berlarian mendekat.
Sebagian berusaha menenangkan Sari yang histeris, sementara yang lain segera mengangkat tubuh Arka dan Sari untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan mereka kini berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎