NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Air Mata Yang Luruh Sebelum Salam Akhir

Air mata yang luruh sebelum salam akhir menggenang di pelupuk mata Sarah sewaktu wanita itu bersimpuh pasrah di hadapan Umi Kalsum yang sedang memegangi dadanya. Suara tangis yang semula terdengar lirih mendadak berubah menjadi ratapan keputusasaan yang sengaja dikeraskan agar memenuhi seisi ruangan tengah bangunan utama pesantren. Di sudut lain dekat jendela kayu, ibu Sarah berdiri dengan wajah tegang sambil menggenggam selembar kertas robek yang berisi penolakan tegas dari pihak perbankan syariah daerah. Kehadiran Azzam yang tiba secara mendadak membuat sandiwara kesedihan di dalam rumah tua itu terhenti seketika, menyisakan keheningan yang mencekam kalbu.

"Azzam, lihatlah bagaimana hancurnya perasaan calon istri pilihan ibumu ini akibat ketegasan sikapmu yang keterlaluan di kota," tuduh ibu Sarah sembari menunjuk putrinya yang masih tergugu.

Azzam melangkah masuk tanpa melepas jaket tebalnya, memandangi ketiga wanita di depannya dengan tatapan mata yang terasa sangat hampa sekaligus dingin. "Umi, kedatangan saya kembali ke rumah ini bukan untuk mendengarkan ratapan ketidakpastian, melainkan untuk mengambil seluruh sisa barang milik Hana."

"Apakah kamu sudah benar benar buta sejarah hingga tega mengorbankan air mata wanita saleh demi membela menantu pembangkang itu?" bisik Umi Kalsum dengan suara yang terengah emosional.

Lelaki muda yang mengenakan jubah abu tua itu tidak bergeming sedikit pun mendengarkan runtunan kalimat penghakiman yang keluar dari bibir ibu kandungnya sendiri. Otoritas mutlak yang selama puluhan tahun diagungkan oleh sang ibunda kini terasa laksana sekat pembatas yang merusak hubungan suci antara anak dan orang tua. Azzam menyadari bahwa setiap tetes air mata yang keluar di ruangan ini adalah bagian dari rencana besar untuk mengunci kebebasan dirinya dalam menentukan arah masa depan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata bantahan, ia membalikkan tubuh menuju kamar pribadinya guna menuntaskan niat memindahkan seluruh memori kehidupan bersama sang istri tercinta.

Sementara itu, suasana di kediaman orang tua Hana di pusat kota justru diselimuti oleh ketenangan pagi yang sangat menyejukkan jiwa setelah badai malam berlalu. Hana duduk tenang di atas kursi rotan teras belakang, menikmati kehangatan segelas susu jahe hangat yang disiapkan oleh ibunda tercinta dengan penuh kasih sayang. Gawai miliknya sengaja dinonaktifkan total agar tidak ada satu pun pesan teror dari pengurus asrama putri yang bisa menembus ruang privasi ketenangannya. Keputusan hukum untuk mendaftarkan berkas gugatan ke pengadilan agama sudah bulat, melahirkan kebebasan baru yang selama ini terkunci rapat di balik jeruji tradisi surau.

"Ibu bangga melihat caramu berdiri mempertahankan kehormatan diri tanpa harus merendahkan silsilah keluarga mereka," puji ibu Hana sembari mengusap lembut pundak putrinya.

Hana tersenyum tipis, memandangi dedaunan hijau pohon mangga yang bergoyang perlahan ditiup angin sepoi kota yang membawa kesegaran. "Luka batin ini sudah cukup menjadi guru terbaik, Ibu, kini saatnya aku menata kembali impian usaha kecil yang sempat tertunda beberapa tahun lalu."

"Fokuslah pada kesembuhan hatimu dahulu, urusan legalitas biar ayahmu yang mengawal bersama pengacara keluarga sampai tuntas," sambung sang ibunda dengan nada penuh ketegasan pelindung.

Dukungan moral yang mengalir deras dari kedua orang tuanya membuat kepercayaan diri Hana yang sempat runtuh kini kembali berdiri tegak laksana karang laut. Wanita muda itu merasa bahwa udara kota jauh lebih ramah ketimbang aroma masakan dapur umum pesantren yang selalu dibumbui oleh sindiran tajam sang mertua. Pikirannya kini bersih dari bayang kesuraman masa lalu, beralih sepenuhnya pada penyusunan strategi hidup mandiri yang mandiri tanpa ketergantungan nafkah lelaki. Ia tahu bahwa status baru yang akan disandangnya nanti akan memicu cemoohan sosial, namun hal itu jauh lebih baik daripada hidup sebagai menantu terusir.

Kembali ke lingkungan dalam kamar tidur Azzam di kompleks bangunan utama, proses pengemasan pakaian berlangsung dengan sangat cepat disertai keheningan yang menyiksa batin. Azzam memasukkan beberapa helai kain jilbab baru milik Hana yang belum sempat dipakai ke dalam tas ransel hitam besar miliknya dengan jemari bergetar. Selembar kertas catatan kecil berisi jadwal hafalan santri yang ditulis tangan oleh Hana terjatuh dari sela pakaian, memicu rasa perih yang teramat dalam di hulu hati sang ustaz. Penyesalan demi penyesalan kembali datang menghunjam, mengingatkan dirinya pada momen di mana ia memilih bungkam saat sang istri dituduh melakukan kelalaian besar.

"Ustaz Azzam, tolong jangan tinggalkan pesantren ini dalam keadaan kacau seperti sekarang," mohon Sarah yang tiba tiba muncul di ambang pintu kamar yang terbuka.

Azzam menghentikan aktivitasnya sejenak tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita yang menjadi sumber kegaduhan domestiknya selama ini. "Pergilah dari hadapanku, Sarah, sebelum aku mengeluarkan kalimat tegas yang akan menghancurkan seluruh harga diri keluargamu di depan para santri."

"Aku melakukan semua ini hanya karena ingin mengabdi pada Umi serta menyelamatkan manajemen yayasan yang mulai rapuh," kilih Sarah dengan suara bergetar menahan malu.

Keangkuhan yang dibungkus dengan alasan pengabdian suci itu justru membuat Azzam merasa semakin muak berada di dalam lingkungan yang penuh dengan kepalsuan moral. Ia menyandang tas ransel besarnya, melangkah keluar kamar melewati posisi Sarah yang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi laksana kehilangan pasokan udara. Di ruang tengah, Umi Kalsum masih terduduk lemas di atas kursi jati sambil memandangi putranya dengan tatapan mata yang bercampur antara amarah dan ketakutan mendalam. Kepergian Azzam kali ini dirasakan sebagai sebuah kehilangan besar yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh ratusan santri patuh mana pun.

Langkah kaki Azzam yang mantap terdengar bergaung di sepanjang selasar koridor luar, mengundang perhatian puluhan pasang mata santriwati yang sedang bersiap mengikuti kelas tafsir pagi. Tanpa mempedulikan bisikan tetangga serta kasak kusuk pengajar senior, sang ustaz muda terus berjalan menuju area parkir kendaraan roda dua di dekat gerbang utama. Tekadnya sudah mengkristal mutlak untuk melepaskan segala atribut kehormatan daerah demi mengejar pengampunan sejati dari wanita yang telah ia telantarkan dalam sepi. Dunianya kini bukan lagi tentang kekuasaan yayasan asrama, melainkan tentang bagaimana menyembuhkan luka batin seorang istri yang teraniaya oleh keangkuhan silsilah ibundanya.

Deru mesin kendaraan roda dua milik Azzam memecah kesunyian siang kompleks bangunan tua itu, membawa pergi separuh napas kehidupan spiritual yang selama ini bernaung di sana. Umi Kalsum yang menyaksikan kepergian putranya dari balik jendela kaca hanya bisa menggenggam tasbih kayunya dengan sangat kencang hingga jemarinya memutih. Air mata penyesalan yang terlambat mulai menetes membasahi pipi keriput sang penguasa yayasan, menyadari bahwa kemenangan semu yang ia raih justru melahirkan kehancuran hakiki. Panggung sandiwara yang ia susun bersama keluarga Sarah kini berbalik menjadi jebakan batin yang mengunci dirinya dalam kesendirian masa tua yang dingin.

Perjalanan jauh menuju pusat kota ditempuh Azzam dengan pikiran yang berkecamuk hebat, membayangkan skenario terburuk jika pihak pengadilan agama menolak mediasi pernikahan mereka. Ia memacu kendaraannya membelah kemacetan jalur lintas provinsi tanpa memedulikan rasa lelah yang mulai menggerogoti ketahanan fisik tubuh mudanya sejak fajar tadi. Setiap jengkal aspal yang dilewati terasa laksana jembatan penebusan dosa atas segala sikap abai yang telah ia lakukan selama berbulan bulan membina rumah tangga. Fokus utamanya hanya satu, tiba di teras rumah mertua sebelum matahari tenggelam dan bersiap menerima segala bentuk konsekuensi hukum yang akan dijatuhkan.

Sesampainya di depan pintu pagar besi bercat putih rumah orang tua Hana, Azzam mendapati sebuah pemandangan mengejutkan yang membuat langkah kakinya mendadak terkunci rapat. Beberapa orang pria berseragam dinas hukum tampak baru saja keluar dari dalam ruangan tamu sambil membawa map dokumen resmi yang sangat ia kenal bentuknya. Jantung sang ustaz muda berdegup sangat kencang, menyadari bahwa waktu yang diberikan oleh Hana untuk berpikir ternyata telah dipangkas secara sepihak oleh ketegasan sikap mertuanya. Dari balik kaca jendela yang transparan, ia bisa melihat sosok Hana sedang berdiri tegak memandangi kepergian para petugas hukum tersebut dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!