Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
duh adub
Suasana kamar utama mansion Alister terasa begitu tenang, hangat, dan menyejukkan hati. Sinar matahari siang itu menembus lembut tirai putih transparan yang tersingkap sebagian, membiarkan angin sepoi-sepoi hangat masuk membawa aroma harum bunga dan rerumputan hijau di luar.
Di atas ranjang besar yang empuk, Nadia bersandar pelan. Rasa lelah di tubuhnya perlahan meluruh, digantikan kedamaian yang sudah lama tak ia rasakan.
Tok, tok, tok!
Ketukan di pintu memecah keheningan. Pintu berukir mahal itu terdorong pelan, menampilkan sosok Bi Minah yang muncul dengan senyum menggoda yang mengembang lebar. Di tangannya, sebuah nampan perak berisi semangkuk bubur ayam hangat yang asapnya masih mengepul halus, segelas air putih, dan beberapa butir vitamin.
"Permisi, nyonya muda yang paling cantik... Ini sarapan sama vitamin sakti dari tuan muda udah Bibi bawa" celoteh Bi Minah sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu masuk dengan sopan
Nadia seketika tertawa pelan, membetulkan posisi duduknya di kepala ranjang. "Bi Minah apa-apaan sih, bikin aku malu aja"
"Loh, kok malah malu sih!" Bi Minah menaruh nampan di atas meja nakas di samping tempat tidur, lalu melanjutkan celotehannya dengan wajah berseri-seri. "Tau nggak tadi di bawah kelakuan tuan muda kaya gimana! Mulutnya cerewet banget pesan ini itu buat nyonya muda. makan bubur lah, jangan sampe turun ke bawah lah, kasih vitamin ini itu bla bla bla. Perhatian banget sama istrinya padahal cuman pegel pegel bukan lagi sakit keras" kata Bi Minah terkekeh geli sekaligus menggoda. "Pokoknya teh, Bibi yang dengerin aja sampe pusing sendiri"
Nadia tak sanggup menahan tawa membayangkannya. Dada Nadia berdesir hangat. Pipinya merona merah membayangkan Devan—pria yang dikenal cuek dan ditakuti banyak orang—berpesan dengan raut muka dingin namun penuh kekhawatiran protektif di hadapan para pelayan dan Bi Minah.
"Padahal biasanya nggak kaya gitu. Tapi demi nyonya muda loh yah sampe segini banget" kata Bi Minah lanjut menggoda, membuat Nadia tersenyum malu.
Tiba tiba tepat saat Bi Minah selesai mengoceh, ponsel pintar Nadia di atas bantal bergetar pelan.
Ting!
Nadia meraih ponselnya, menggeser layar. Nama Devan terpampang di sana bersama sebuah pesan singkat yang baru saja masuk.
Devan:
Obatnya sudah diminum belum? Dokternya sudah sampai rumah?
Nadia membaca pesan itu dan seketika terkekeh geli. Senyum manis terukir lebar di bibirnya, sementara matanya tak lepas memandangi barisan kata di layar.
Gaya mengetik Devan kaku sekali—persis seperti sedang mengirimkan surat dinas atau instruksi kerja kepada bawahannya di Alister Grup. sangat rapi dan terkesan agak formal, tanpa emoticon, dan terkesan irit kata.
Namun di balik ketikannya yang terkesan sangat kaku, Nadia bisa merasakan rasa khawatir suaminya yang luar biasa besar. Pria itu memang tidak pandai merangkai kata-kata manis di pesan singkat, tapi perhatian terselubungnya justru membuat dada Nadia berdesir hangat.
Jemari lentur Nadia lincah bergerak mengetik balasan.
Nadia:
Sudah diminum obatnya, Pak bos. Ini Bi Minah lagi di kamar nge godain aku terus dari tadi. Devan sendiri jangan lupa makan siang di kantor, jangan pacaran sama kertas terus sampe lupa makan!←_←
Setelah menekan tombol kirim, Nadia mendekapkan ponselnya di dada sambil tersenyum-senyum sendiri.
Sepuluh menit kemudian, usai Nadia menghabiskan buburnya sembari mendengarkan celotehan Bi Minah, pintu kamar kembali diketuk. Bi Minah membukakan pintu dengan wajah cerah, menyambut seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun dengan jas dokter putih dan tas medis di tangannya.
"Nah, ini dia Dokter Rina udah dateng!" kata Bi Minah menyambut sang dokter.
Dokter Rina terkekeh pelan melangkah masuk. "Selamat siang, Bu Nadia. Pak Devan tadi menelepon saya tiga kali menyuruh saya datang ke sini agar tidak terlambat memeriksa anda dan kandungan anda, buk" jelas Dokter Rina sembari menatap Nadia.
Nadia menggaruk tengkuknya yang tiba tiba gatal. "Selamat siang juga Dok... Maaf ya, Devan memang suka berlebihan orangnya" balas Nadia tersipu malu.
"Tidak apa-apa, Bu. Justru perhatian seperti itu sangat dibutuhkan," balas Dokter Rina ramah.
Dokter Rina mendudukkan diri di kursi samping ranjang, menyiapkan peralatan medis dan alat pemeriksa tensi darah.
Dokter Rina menyiapkan alat USG portabel canggih yang sudah modern. Ia tersenyum menenangkan seraya mengoleskan gel transparan yang dingin di perut bagian bawah Nadia, lalu menempelkan transducer perlahan.
Layar monitor kecil di samping ranjang seketika menyala, menampilkan visual bayangan hitam-putih yang samar. Dokter Rina menggeser alat itu perlahan, mencari posisi yang tepat.
Tak lama kemudian, keheningan kamar utama yang tadinya tenang mendadak pecah oleh sebuah irama yang teratur, cepat, dan begitu menggema.
Dub-dub-dub-dub-dub-dub-dub...
Nadia seketika menahan napas. Tubuhnya membeku. Matanya mulai berkaca-kaca berair menatap lurus ke arah layar monitor tanpa berkedip sedikit pun.
Suara detak jantung mungil itu... terdengar begitu murni, begitu jelas, dan begitu ajaib di dalam ruangan. Suara itu berpacu cepat, seolah memberi tahu dunia bahwa ada kehidupan baru yang sedang berjuang dan tumbuh dengan sangat kuat di dalam rahimnya.
Dada Nadia bergemuruh hebat. Seluruh kepedihan, penderitaan, dan ketakutan atas pengkhianatan Arkan serta masa lalu yang kelam mendadak melayang sirna seolah tanpa sisa. Di gantikan oleh gelombang rasa haru dan rasa syukur yang begitu membuncah sampai menyesakkan dada.
Air mata haru yang hangat menetes perlahan menelusuri pipinya, jatuh melintasi sudut bibirnya.
"Bisa dengar detak jantungnya, Bu Nadia?" tanya Dokter Rina dengan senyum hangat dan mata berbinar lembut. "Kondisi janinnya sangat kuat dan berkembang dengan baik. Usia kandungannya tepat masuk delapan minggu." jelas Dokter Rina.
Nadia mengerjap kan matanya. "Se-sehat kan, Dok anak saya?" bisik Nadia dengan suara bergetar menahan isak bahagia seraya mengusap air matanya.
Dokter Rina tersenyum tulus. "Sangat sehat, Bu. Suara detak jantungnya teratur dan nyaring sekali. Tapi ingat, Bu Nadia harus benar-benar menjaga emosi dan stamina. Perbanyak istirahat dan jangan stres."
Nadia mengangguk mantap dalam tangis bahagianya. Tangannya terulur meraba perutnya sendiri yang masih rata. Di sana, di balik detak jantung mungil yang berpacu hangat itu, ada masa depan baru, dan ada harapan indah yang akhirnya tumbuh dalam hidupnya.
"Pokoknya Bu Nadia harus makan yang bergizi, jangan stres dan terlalu banyak overthinking biar bayinya sehat dan kuat" jelas Dokter Rina lembut seraya mengusap pelan sisa gel transparan di perut Nadia yang terjatuh.
Nadia mengangguk dengan air mata haru yang menetes perlahan. Matanya kembali menatap layar monitor portabel di samping tempat tidur, memandangi wujud mungil buah hatinya yang masih sangat kecil—tampak seperti kecebong kecil yang sedang berjuang untuk hidup.
Dokter Rina tersenyum memaklumi rasa haru pasiennya, lalu perlahan merapikan peralatan medis ke dalam tas.
"Oiya Bu Nadia... untuk kontrol bulan depan, kalau kondisi Bu Nadia sudah makin pulih dan stabil, kita jadwalkan pemeriksaan langsung di rumah sakit saja, ya" ujar Dokter Rina ramah.
Nadia menoleh. "Di rumah sakit, Dok?"
"Iya. Supaya Pak Devan bisa ikut mendampingi langsung di dalam ruang periksa" terang Dokter Rina dengan senyum hangat. "Sayang kalau Pak Devan cuma dapat laporan lewat telepon atau lihat foto USG saja. Momen melihat perkembangan janin dan mendengar detak jantungnya secara langsung itu sangat berharga buat seorang calon ayah. Biar beliau juga makin paham dan siap mendampingi Bu Nadia selama masa kehamilan."
Pipi Nadia seketika memerah menahan malu. Bayangan Devan yang berdiri tegak di samping ranjang periksa rumah sakit, menatap layar monitor besar sambil menggenggam tangannya, seketika berputar manis di kepalanya.
"Iya, Dok... Nanti saya sampaikan ke Devan" sahut Nadia pelan seraya tersenyum malu-malu.
.
.
.
.
.
★★★