Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Perhatian Terselubung
Aira memapah tubuh tegap Teddy yang masih gemetaran melewati pintu utama. Meskipun lemas dan kepalanya pusing, pria dari ibu kota itu masih sempat-sempatnya menyandarkan sebagian berat badannya ke bahu Aira, memandangi wajah cemas gadis itu dari jarak beberapa senti saja.
"Jangan berat-berat, Om! Badan Om itu kayak beruang, tau gak?!" gerutu Aira sembari membimbing Teddy masuk ke kamar tamu lantai dasar yang sudah disiapkan ibunya.
"Lemas, Ra ... Beneran," bisik Teddy dengan suara serak yang seksi di telinga Aira, menyembunyikan senyum puasnya karena berhasil menginjakkan kaki di dalam istana milik calon mertua.
Aira mendudukkan Teddy di pinggir ranjang l yang empuk. Tanpa banyak bicara, Aira bergegas mengambil kotak P3K, baskom berisi air hangat, handuk kecil, dan botol minyak kayu putih ukuran besar khas rumahan.
"Lepas baju kemejanya," perintah Aira galak sembari menyiapkan kapas dan salep anti-gatal.
Teddy mengangkat sebelah alisnya, sudut bibirnya terangkat tipis memancing. "Godaannya berat banget ya, pagi-pagi sudah disuruh buka baju aja."
"Om! Bisa gak sih otaknya jangan mesum?!" semprot Aira dengan wajah mendadak merona merah.
"Kemeja Om itu basah kena embun malam! Kalau gak diganti, makin parah demamnya! Lagian siapa juga yang mau lihat badan bentol-bentol kayak kue bolu begitu!"
Teddy terkekeh pelan. Dengan perlahan, ia membuka kancing kemejanya satu per satu. Aira sempat memalingkan wajah beberapa detik saat dada bidang dan perut tegap Teddy terekspos, sebelum akhirnya profesionalitasnya sebagai perawat mengambil alih.
Dengan telaten, jari-jari lentur Aira mengusapkan kapas hangat ke wajah, leher, dan dada Teddy yang dipenuhi bintik merah gigitan nyamuk.
"Awh ... pelan-pelan, Suster," ringis Teddy saat jemari Aira menyentuh bentol besar di dekat lehernya.
"Tahan sikit! Lagian nekat betul tidur di luar. Merasa jagoan?" gerutu Aira, meski gerakannya mendadak berubah jadi sangat halus dan penuh kehati-hatian.
Mata Teddy tak pernah lepas menatap lekat wajah Aira dari dekat. Binar cemas dan perhatian tulus gadis itu tidak bisa dibohongi.
"Aira ..." Teddy memanggilnya dengan lembut.
"Apa?" sahut Aira ketus tanpa mendongak, sibuk mengoleskan salep.
"Saya tahu di pikiran kamu, kamu masih menganggap saya cuma menjadikan kamu bayangan masa lalu. Kamu selalu saja menjauhiku. Apa kamu pikir aku belum move on dari Lova?"
Gerakan tangan Aira seketika terhenti. Jantungnya mencelos. Ia tidak menyangka Teddy akan membedah isi kepalanya dengan begitu lugas. Aira perlahan mendongak, menatap manik mata cokelat gelap milik Teddy.
"Kalau tahu, kenapa masih ke sini? Kontrak pura-pura jadi pasangn kita kan udah lama habis, Om. Saya bukan lah Bu Lova. Yang masih menghuni hati dan isi kepalamu," bisik Aira, ada nada getir yang terucap samar dari bibirnya.
Teddy mengulurkan tangannya yang hangat, menggenggam jemari Aira yang memegang botol salep. Tatapannya begitu dalam dan mengunci gadis itu hingga dibuat tak berkutik.
"Lova itu masa lalu yang memang tak pernah dimulai. Dan di saat kamu benar-benar pergi, aku baru sadar atas kebodohanku selama ini. Dan kini, Kamu ... adalah masa depan yang sengaja aku kejar hingga sampai ke tempat sini," tegas Teddy tanpa ragu sedikit pun.
"Aku ke sini untukmu Aira Permata Salmi. Gadis gesrek, galak, dan tukang protes yang bikin hidup saya penuh warna, keluar dari suramnya masa lalu."
Aira terpaku. Lidahnya mendadak kelu, matanya membelalak menatap kepastian di mata pria di hadapannya.
Tiba-tiba ...
KLEK!
Pintu kamar tamu terbuka lebar. Junet berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang, membawa sebuah mangkuk seng berisi bubur panas.
"Ekhem! Obati bentol saja pakai pegang-pegang tangan segala! Ingat ya, di rumah ini kalian itu belum sah!" gertak Junet keras, sukses membuat Aira refleks menarik tangannya dengan panik sampai botol salep hampir jatuh!
*Bersambung*
ini demi masa depan kita bersama
modus si dikit,tapi kan biar dia mau pak 🤭
biar bebas bisa pegang2 tangannya,,
siapa tau bisa pegang yg lain,,kan mantap
nanti pak junet cepet dapat cucu loh dari Aira..
ke gap camer
apa rasa tu🤭🤣🤣
tinggal dikit lagi aku padamu
sekali nya jatuh cinta lagi
begini ni🤭🤣
disini malah jadi begini
hajaar pak🤣🤣
saya yg tanggung jawab Bu
lahir bathin juga boleh 🤣🤣
dih,ngarep🤭