RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Raven segara bangun dengan senyum tipis masih menghiasi bibirnya. Ia segera meraih selimut tebal yang tergeletak di atas sofa dan membawanya ke kamar.
Sampai di kamar ia kembali merebahkan diri di atas kasur empuknya, karena hari ini hari libur, ia tak perlu terburu-buru untuk bersiap-siap untuk ke sekolah.
Baru saja hendak memejamkan mata, bel pintu berbunyi nyaring bertubi‑tubi. Raven mendengus kesal. “Siapa sih! Pagi-pagi sudah mengganggu!” gumamnya dengan nada kesal, namun tetap dengan cepat melompat dari kasur dan bergegas membuka pintu.
Seketika darahnya terasa berdesir hebat saat melihat sosok yang berdiri di luar dengan senyum hangat khasnya.
"Mommy?!" serunya pelan, matanya membulat sempurna.
"Gawat! Mommy pasti datang ingin mencari Sara! Kalau dia tahu Sara gak ada di sini, aku akan kena omel panjang lebar nih!" jeritnya panik dalam hati.
“Mom! Kok pagi‑pagi sudah ada di sini? Kenapa tidak memberi kabar dulu kalau mau datang?” tanyanya buru‑buru sambil mencoba menghalangi pandangan ke dalam.
Maria mendengus pelan dengan tatapan menyindir. “Haruskah Mommy buat laporan dulu jika ingin mengunjungi apartemen anak sendiri?”
“Bukan begitu maksud Raven, Mom! Siapa tahu kami sedang pergi ke luar saat Mommy datang,” kilahnya dengan tergesa-gesa, sementara pikirannya sibuk menyusun alasan darurat untuk menjawab jika Maria bertanya tentang Sara.
“Ya sudah, lain kali Mommy kabari. Lagian ini hari Minggu, Mommy yakin kalian pasti ada di apartemen,” sahut Maria santai, lalu maju selangkah lebih dekat dengan Raven.
“Nih, sampai kapan Mommy harus berdiri di luar ya? Tidak ada niat suruh masuk kah?”
“Ah! Iya, Raven lupa! Masuk, Mom!” Raven segera menyingkir memberi jalan untuk Mommy-nya masuk.
Maria melangkah masuk dengan langkah santai, sambil menatap sekeliling ruangan dengan pandangan penuh selidik. “Kok sepi sekali? Di mana menantu kesayangan Mommy? Jangan bilang kamu belum menjemputnya ke sini?” tanya maria tiba-tiba dengan nada yang mulai menunjukkan rasa curiga sambil membalikkan badannya menghadap Raven.
Langkah Raven terhenti seketika. Ia menelan ludah susah payah. “Sara… Sara sedang lari pagi, Mom! Sekalian mencari sarapan. Kemarin kami belum sempat belanja kebutuhan,” jawabnya dengan cepat, mencoba membuat alasan yang bisa terdengar seakurat mungkin.
Maria mengangguk paham. “Oh begitu ya. Kalau begitu. Nanti kalian bisa pergi belanja bersama buat mengisi kulkas dan juga membeli keperluan kalian berdua."
“Hah? Ah… iya, Mom! Nanti kami akan pergi belanja setelah ini,” jawab Raven terbata-bata, tak berani membantahnya.
"Mommy istirahat dulu saja! Raven mau mandi dulu!" pamit Raven cepat.
“Hmm! Mommy tunggu disini. Cepat sana mandi!” perintahnya santai.
Begitu pintu kamar tertutup, Raven langsung merogoh ponselnya dengan tergesa. Ia mencari kontak yang ia save dengan nama Savira 🤍 lalu segera menekan tombol panggil. Namun tak ada jawaban hanya nada dering yang terdengar panjang, ia akhirnya mencoba mengirim pesan singkat. Tapi juga tak kunjung dibalas.
“Aduh! Kemana sih itu anak! Sara cepat angkat dong… atau setidaknya baca pesanku!” gumamnya dengan sangat cemas, sambil berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.
*
*
Di sisi Sara tepatnya di koridor luar. Sara baru saja melangkah keluar dari apartemen berniat untuk kembali ke apartemen mereka berdua. Namun langkahnya terhenti mendadak saat melihat sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri di ambang pintu memunggungi dirinya. Wajahnya seketika memucat panik. "Ya ampun! Itu kan Mommy-nya Raven alias ibu mertuaku! Kenapa bisa di sini sepagi ini?!"
Pikirannya berputar cepat mencari jalan keluar. Di saat Sara sedang berpikir keras tiba-tiba Leon muncul dari arah lift sambil menenteng dua bungkus sarapan di tangannya.
Ya Leon setiap pagi memang terbiasa lari pagi sebentar sebelum beraktivitas sekalian beli sarapan pagi untuk Sara.
Sara yang melihat itu tanpa berpikir dua kali, Sara segera melesat menghampiri pengawalnya itu. Dengan gerakan kilat ia menyambar semua bungkusan makanan dari tangan Leon.
“Kak, aku pinjam ini dulu ya!” serunya berbisik cepat, lalu berbalik badan secepat kilat masuk ke apartemennya sendiri tanpa memberi kesempatan Leon untuk bertanya.
Leon hanya bisa terpaku di tempat, menatap punggung Sara yang menghilang di balik pintu. Kenapa Nona terlihat begitu panik? Apa terjadi sesuatu ya?" batinnya bingung namun tak berani bersuara.
Tak lama kemudian, pintu apartemen Sara terbuka kembali. Kini ia sudah mengenakan pakaian olahraga lengkap, handuk kecil melingkar rapi di leher, dan wajahnya sengaja dibuat tampak berkeringat seolah baru saja siap olahraga.
Leon yang melihat Sara melangkah cepat ke arah pintu unit sebelah, barulah Leon menyadari apa yang sedang terjadi. Ia tersenyum tipis sambil menggeleng pelan, ia tahu betul jika Nona Mudanya pasti sedang membuat drama dadakan. "Dasar Nona ada aja tingkahnya!" gumamnya pelan lalu segera berbalik menuju lift untuk membeli sarapan lain untuk dirinya sendiri.
*
*
Sementara itu di dalam kamar, Raven sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian santai yang rapi. Sebelum keluar, ia kembali memeriksa ponselnya dengan harapan besar bahwa Sara sudah membaca pesannya atau bahkan sudah membalasnya.
Namun harapannya sirna begitu melihat layar ponselnya tidak ada satu pun balasan dari Sara, bahkan pesan yang dikirimkan masih menunjukkan centang dua abu-abu yang berarti belum pernah dibuka sama sekali.
Raven menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia tahu tidak bisa berlama-lama di kamar, bisa-bisa Mommy-nya semakin curiga dan memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ia akhirnya keluar kamar dan berniat menemani sang Mommy di ruang tamu, sambil terus berdoa agar Sara segera datang sebelum situasi menjadi semakin tambah rumit.
Belum sempat Raven duduk di sebelah Maria, pintu depan apartemen tiba-tiba terbuka perlahan.
Raven dan Maria serentak menoleh. Di sana berdiri Sara, persis seperti yang Raven harapkan, Sara muncul dengan stelan pakaian olahraganya, napas sedikit terengah dan tangan menenteng dua pasti berisi makanan.
Raven langsung tersenyum tipis dan menghela nafas lega yang tidak bisa ia disembunyikan.
Sara melangkah masuk dengan ekspresi yang dibuat sangat terkejut. “Mommy?!” serunya dengan nada riang, seolah benar-benar tidak menyangka ibu mertuanya berkunjung.
Maria langsung tersenyum lebar dan segera berdiri dari duduknya. “Kamu habis lari pagi ya, Sayang?" tanyanya lembut lalu menarik menantunya kedalam pelukannya dengan penuh kasih sayang.
“Iya, Mom! Aku kalau hari libur suka lari pagi biar sehat dan awet muda kayak mommy!" jawab Sara dengan senyum polosnya.
"Ah! Kamu bisa aja mujinya! Tapi kamu memang benar, kita sebagai wanita memang harus pandai merawat diri dengan baik biar suami gak tergoda dengan yang lain!" kekeh Maria sambil melirik sekilas kearah Raven.
"Benar tuh Mom!" tambah Sara tak mau kalah.
Raven hanya bisa memutar mata dengan ekspresi sedikit jengkel namun juga tidak bisa menahan senyum puas. Ia sangat kagum dengan bakat akting Sara yang luar biasa, seolah-olah ini bukan adegan yang dibuat-buat, melainkan hal yang benar-benar terjadi.
"Kenapa gak jadi aktris saja!" gumam Raven dalam hati.
Bersambung...