NovelToon NovelToon
Putri Titipan Mantan

Putri Titipan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Karita Ta

"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.

Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.

"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.

Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.

Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM | BAB 19

“Aku lagi gendong bayi.”

Kalimat sederhana itu sukses membuat Ervin terdiam cukup lama di seberang telepon.

Sedangkan Dinda masih menatap Glenka yang tertidur nyaman di pangkuannya. Jemari kecil bayi itu bahkan masih menggenggam ujung cardigan miliknya erat, seolah takut terlepas.

“Bayi?” ulang Ervin pelan.

“Iya.”

“Anak siapa?” Ervin semakin mendesaknya.

Pertanyaan itu membuat Dinda sedikit menoleh ke arah Raka yang duduk tak jauh darinya. Pria itu sedang berbicara dengan dokter, membahas beberapa administrasi rumah sakit dengan wajah lelah.

“Anaknya teman,” jawab Dinda singkat.

Untuk beberapa detik, sambungan telepon kembali hening. Sampai akhirnya Ervin menghela napas pelan.

“Kamu belum pulang dari butik?”

“Nanti pulang.”

“Dinda...” suara pria itu berubah jauh lebih lembut dari sebelumnya. “Aku boleh ketemu kamu malam ini?”

Dinda langsung memejamkan mata sesaat. Sungguh, ia lelah menghadapi hubungan mereka yang terus terasa menggantung seperti ini.

“Aku capek, Mas.”

“Aku cuma pengen lihat kamu.”

“Aku belum siap ketemu.” Dan lagi-lagi, penolakan halus dari Dinda membuat dada Ervin terasa sesak.

Beberapa minggu terakhir, ia mulai menyadari satu hal—istrinya perlahan menjauh darinya.

Bukan dengan amarah besar, bukan dengan teriakan. Melainkan dengan ketenangan yang perlahan membunuh.

“Aku kangen kamu...” lirih Ervin dengan suara serak.

Kalimat itu sukses membuat Dinda membeku. Karena dulu—ia selalu menunggu kalimat seperti itu keluar dari mulut suaminya.

Namun sekarang, semuanya terasa terlambat.

“Mas...” panggilnya pelan.

“Aku nyesel.”

Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, Dinda mendengar suara Ervin terdengar benar-benar rapuh.

Bukan pria arogan, bukan suami yang penuh pembelaan. Melainkan laki-laki yang perlahan hancur oleh kesalahannya sendiri.

Namun sebelum Dinda sempat menjawab, suara tangisan kecil mendadak terdengar dari pangkuannya.

“Huaaaa...”

Glenka terbangun. Bayi kecil itu langsung merengek sambil mengucek matanya pelan.

Seketika perhatian Dinda buyar.

“Iya sayang... iya...” gumamnya refleks sembari mengusap punggung mungil Glenka perlahan.

Dan tanpa sadar—Ervin mendengar semuanya dari seberang sana.

Deg.

Dada pria itu terasa aneh. Karena selama empat tahun menikah, ia belum pernah mendengar suara Dinda selembut itu kepada seorang anak.

“Din?” panggilnya pelan.

Namun Dinda justru fokus menenangkan Glenka yang mulai merengek kecil di pelukannya.

“Aku tutup dulu ya.” Sambungan telepon terputus sepihak.

Sedangkan Ervin hanya bisa menatap layar ponselnya dengan dada yang terasa kosong. Entah kenapa—bayangan Dinda yang sedang menggendong bayi tadi terus berputar di kepalanya.

Dan itu membuatnya sesak.

*****

“Mau susu dulu mungkin?” tanya Dinda pelan pada suster si bayi.

“Biasanya iya, Bu. Dia kalau bangun tidur langsung nyari susu.” Paparnya yang membuat Dinda mengangguk kecil.

Sedangkan Glenka masih merengek kecil, sambil memeluk dadanya. Mata bulat bayi itu tampak sembab dan basah karena habis menangis.

Lucu sekali. Dinda bahkan tidak sadar sejak tadi dirinya terus menatap wajah kecil itu.

“Dia takut sama orang asing nggak?” tanyanya pada Raka.

Pria itu menggeleng pelan. “Dia gampang nempel kalau nyaman.”

“Pantes langsung anteng.”

Mendengar ucapan itu, Raka justru tersenyum tipis untuk pertama kalinya hari itu. “Gue juga heran.”

Tak lama kemudian, seorang perawat datang membawa botol susu hangat. Begitu Dinda mencoba memberikannya, Glenka langsung meminum susu tersebut dengan lahap sambil tetap bersandar di dadanya.

Dan entah kenapa—pemandangan itu membuat hati Raka terasa hangat sekaligus nyeri. Karena sudah lama sekali ia tidak melihat putrinya setenang ini.

“Lo cocok jadi ibu,” celetuk pria itu tiba-tiba.

Deg.

Dinda langsung menoleh cepat. Sedangkan Raka terlihat tersadar atas ucapannya sendiri.

“Maksud gue...” pria itu berdehem pelan. “Glenka nyaman sama lo.”

Namun Dinda justru terdiam. Karena kalimat sederhana tadi sukses menusuk bagian paling rapuh dalam dirinya.

Ibu? Satu kata yang selama ini sangat ingin ia dengar. Empat tahun menikah, Dinda terus menunggu kesempatan menjadi seorang ibu.

Namun yang datang justru pengkhianatan. Dan ironisnya—hari ini, di tengah kehancuran rumah tangganya, seorang bayi kecil justru tertidur nyaman di pelukannya.

“Dia lucu banget...” lirih Dinda sembari memperhatikan Glenka yang mulai setengah mengantuk.

“Bandel juga,” sahut Raka pelan. “Kalau malam suka susah tidur.”

Dinda terkekeh kecil. “Sebelas bulan udah aktif banget ya?” Jemari lentik wanita itu kembali mengelus kepala si bayi.

“Merangkaknya cepet. Gue aja sering ngos-ngosan ngejar.”

Percakapan ringan itu perlahan membuat suasana mencair.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dinda merasa sedikit tenang. Tidak memikirkan Ervin, tidak memikirkan Jenita, dan tidak memikirkan rumah tangganya yang berantakan.

Hanya ada dirinya... dan bayi kecil yang kini sibuk memainkan jemarinya.

*****

Hari sudah mulai malam, ketika semuanya selesai.

Jenazah mantan istri Raka sudah dibawa pihak keluarga untuk dimakamkan. Sedangkan pria itu masih harus mengurus banyak hal administratif lainnya.

“Aku bisa pulang sendiri nanti,” ujar Dinda pelan.

Namun Raka langsung menggeleng. “Nggak mungkin gue biarin lo pulang sendirian malam-malam.”

“Tapi kamu masih banyak urusan.” Dinda berusaha untuk tidak merepotkan pria itu.

Pria itu menatap Glenka yang kini tertidur di stroller kecil rumah sakit. “Dia juga harus dibawa pulang.”

Dinda ikut menatap bayi kecil itu. Pipinya bulat, bibir mungilnya sedikit terbuka saat tidur. Dan entah kenapa, Dinda ingin terus memperhatikannya.

“Ayahnya Glenka kuat juga ya,” celetuknya pelan. Raka langsung tertawa hambar mendengarnya.

“Enggak juga.” Raka mengelak.

“Kelihatannya kuat, kok. Iya kan, Glen?" Dinda menyentuh ujung jari si bayi, seolah mengajaknya berbincang kecil.

“Kalau gue kuat, gue nggak bakal bingung setengah mati hari ini.” Kalimat itu terdengar sangat jujur. Dan Dinda bisa melihatnya.

Raka memang terlihat kacau. Terlihat sangat lelah. Bahkan matanya merah sejak tadi.

“Lo tahu hal paling nyebelin?” gumam pria itu tiba-tiba.

“Hm?”

“Gue takut pulang.”

Dinda mengernyit kecil. “Kenapa?”

Raka terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab pelan—“Rumah gue kosong.”

Deg.

Entah kenapa dada Dinda ikut terasa sesak. Karena ia memahami perasaan itu. Rumah yang kehilangan kehangatan memang terasa mengerikan.

“Sekarang ada Glenka,” ujar Dinda lembut.

Pria itu tersenyum kecil. “Iya.”

“Tanggung jawab kamu sekarang besar.”

“Makanya gue takut, Din.."

Kalimat itu membuat Dinda menatap pria tersebut cukup lama. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh Raka yang selama ini selalu tertutup oleh sikap santainya.

Dan anehnya—ia tidak merasa asing.

*****

Sementara itu, di apartemen mewah milik Jenita, Ervin duduk sendirian di sofa ruang tamu dengan tatapan kosong.

Sedangkan dari arah kamar bayi, terdengar suara tangisan kecil putrinya bersama Jenita. Namun pria itu sama sekali tidak bergerak.

Pikirannya masih tertinggal pada satu kalimat Dinda tadi. Aku lagi gendong bayi.

Entah kenapa—bayangan itu terus menghantuinya. Dinda menggendong anak kecil, Dinda menenangkan bayi, Dinda memanggil seorang anak dengan suara lembut.

Dan semakin ia membayangkannya... semakin dadanya terasa sakit. Karena tiba-tiba ia sadar—Dinda memang pantas menjadi seorang ibu. Sangat pantas.

Namun dirinya justru menghancurkan perempuan itu sebelum sempat memberikannya kebahagiaan tersebut.

“Vin.”

Suara Jenita membuat lamunannya buyar.

Wanita itu berjalan mendekat sambil menggendong bayi kecil mereka yang masih terus menangis.

“Aku capek...” keluh Jenita pelan. “Dia nangis terus dari tadi.”

Namun Ervin hanya diam. Tatapannya justru tertuju pada bayi kecil di pelukan wanita itu.

Dan untuk pertama kalinya—ia merasa sangat bersalah. Karena anak ini lahir dari kesalahan terbesar dalam hidupnya.

“Vin?” panggil Jenita lagi.

Pria itu akhirnya mengusap wajahnya kasar sebelum berdiri pelan. “Kasih sini. Jangan berisik terus-terusan."

Meski hatinya sakit, Jenita terlihat sedikit lega saat Ervin mau menerima saat ia menyodorkan bayi mereka.

Namun sesaat setelah bayi kecil itu berpindah ke pelukan Ervin—yang muncul di kepala pria itu justru bukan Jenita.

Melainkan Dinda.

Dan entah kenapa—malam itu, Ervin menangis diam-diam sambil menggendong putrinya sendiri.

1
vita
jd penasaran apa yg d lakukan raka, apa berobat ya.
Happy Kids
pertanyaan macam apa ini
Happy Kids
inget bukkk.. yg bikin dinda gini ya anakmuuu.. gila ibuknya bener bener
Happy Kids
pret
Happy Kids
asli ni perempuan muna bgt. gatau malu.
Happy Kids
krn dirimu dah nemu yg baru wkwkkw jenita ups
Happy Kids
caper. aslinya bersorak soraii. orang kl emng nyesel nyakitin rumah tangga org lain hrs nya sadar diri. bukan malah living together 🤣 inimah nikmati aja dia alurnya 😅
Happy Kids
kasih tau tu anaknya. jgn kumpul kebo mulu
Happy Kids
apasiiii kepoo. bukan istri tp kaya nuntut laporan mulu. sbnernya dah niat bgt tu jenita ngerebut. tp sok sok an aku gamau nyakitin orang. hilih
Happy Kids
kan uda ada jenita yg masih kinyis kinyis trs kasih anak ke dia..
Happy Kids
kalau kaya gtu, dirimu yg semena mena dong wkwk slalu anggap bakal dimaafin mulu
Happy Kids
mreka tinggal bareng? kumpul kebo?
Happy Kids
munak aja ni anak org 🤣
Happy Kids
pulang? wajib bgt gtu? lagian ibu nya jenita katanya kecewa, tp dianya sendiri ngebiarin anaknya sering2 interaksi sama bojo orang 😅 pada ga punya pendirian dan prinsip. hrsnya dg gt dia ajak anaknya pulang dan awasi biar gausa aneh aneh. kl ngebiarin gini ya sama aja dia ga didik. pake sok sok an bilang gagal didik anak.
Happy Kids
anak org caper bgt
Happy Kids
nah mulai dia ga bisa lepas dr jenita. itulah. dahlah sama jenita aja
Happy Kids
katanya lelah nyakitin org. tp dianya nempelin ervin mulu dan berharap dicintai ervin. muna bgt dah
Happy Kids
punya otak? menurutmu?
vita
hanya bs kasih secangkir kopi n seiket bunga buat nemenin nulis ceritanya 💪💪💪💪
Karita Ta: Hai kaak vitaa, salam kenal dari karitaa yaa. Terimakasih sudah menyempatkan mampir dan tinggalkan jejaknya. Semoga hari-harimu menyenangkan yaa 😍🫰
total 1 replies
vita
sll suka sama ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!