Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Kedatangan Pengunjung
Tangan Doni yang sudah diborgol tetap berusaha mengepal. Otot-otot di lengannya menegang hingga uratnya tampak menonjol. Kalau bukan karena enam sipir yang menahannya, mungkin saat itu juga dia sudah menerjang Faris.
Faris menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Doni kembali meraung. "Kalau kau tidak memadamkan api itu... kami sudah keluar dari tempat sialan ini!"
Seorang sipir langsung mendorong bahunya. "Jalan!"
Namun Doni masih sempat menoleh. "Ini belum selesai, Faris!"
Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Tatapan Doni penuh kebencian.
Sedangkan Faris hanya menghela napas pelan. "Aku hanya mencegah keadaan menjadi lebih buruk."
"Diam!" Doni kembali meronta. "Kau akan menyesal!"
Para sipir akhirnya menyeret Doni menuju blok isolasi. Belasan narapidana lain yang ikut mencoba melarikan diri juga dibawa ke arah yang sama. Sebagian masih mengumpat, sebagian lagi menatap Faris dengan kebencian yang tidak kalah besar.
"Pengkhianat...."
"Sok jadi pahlawan."
"Kalau bukan karena dia...."
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas di telinga Faris. Ia tidak membalas.
Di dalam kepalanya, sistem berbicara pelan.
DING!
[Peringatan.]
[Aktivitas permusuhan terhadap pengguna meningkat.]
Faris mendesah. "Aku juga bisa melihatnya."
[Tingkat ancaman naik menjadi sedang.]
"Terima kasih sudah membuatku semakin tenang."
[Sistem hanya menyampaikan fakta.]
"Aku tahu."
Menjelang sore, keadaan lapas perlahan kembali normal. Api telah benar-benar padam, para narapidana dihitung ulang, sementara petugas sibuk membuat laporan mengenai percobaan pelarian tersebut.
Faris sedang membersihkan sisa-sisa jelaga di sekitar dapur ketika seseorang mendekatinya. Pria itu bernama Wawan, narapidana berusia sekitar lima puluh tahun yang sudah cukup lama menghuni lapas.
"Faris..."
Faris menoleh. "Eh, Pak Wawan."
Pria tua itu melihat ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang mendengar. "Kamu hati-hati."
Faris sedikit heran. "Kenapa memangnya?"
Wawan menurunkan suaranya. "Doni tidak akan melupakan kejadian ini."
Faris terdiam.
"Tadi sebelum dibawa ke sel isolasi... dia sempat bilang sesuatu."
"Apa?"
"Kalau aku keluar, anak itu yang pertama, katanya."
Kalimat itu membuat Faris ikut terdiam.
Wawan melanjutkan, "Bukan cuma Doni. Anak buahnya juga sama. Mereka yakin rencana kabur gagal karena kamu."
Faris mengusap tengkuknya pelan. "Padahal aku cuma memadamkan api."
"Itu justru masalahnya." Wawan menghela napas. "Kalau api terus membesar, semua sipir pasti fokus ke sana. Kesempatan kabur mereka jauh lebih besar."
Faris mengangguk pelan. "Jadi sekarang..."
"Mereka menganggapmu musuh."
Suasana menjadi hening. Beberapa detik kemudian Faris tersenyum tipis. "Untuk sementara mereka masih di sel isolasi, kan?"
"Iya."
"Berarti aku masih aman."
Wawan mengangguk. "Tapi sel isolasi tidak selamanya. Suatu hari mereka akan keluar lagi."
Faris kembali memandang halaman lapas. "Saat hari itu datang..." Ia menarik napas panjang. "...aku akan menghadapinya."
Wawan tersenyum kecil. "Kamu memang berbeda. Tapi jangan terlalu percaya diri."
"Aku hanya tidak ingin hidup dalam ketakutan."
Pria tua itu menepuk bahunya pelan. "Semoga Tuhan menjagamu."
Malam itu, Faris kembali ke sel. Anehnya, kali ini ia bisa tidur jauh lebih cepat dibanding malam sebelumnya. Mungkin karena tubuhnya benar-benar kelelahan. Atau mungkin karena dia merasa telah melakukan hal yang benar.
Keesokan paginya, seorang sipir membuka pintu blok tahanan.
"Faris!"
Faris segera berdiri. "Iya, Pak."
"Ada pengunjung."
Mata Faris langsung membesar. "Pengunjung?"
Sudah cukup lama tidak ada seorang pun yang datang menjenguknya. Jantungnya berdegup semakin cepat ketika dibawa menuju ruang kunjungan.
Begitu memasuki ruangan, langkahnya langsung terhenti. Di balik kaca pembatas duduk dua orang wanita.
Yang pertama adalah Bu Nuri. Di sampingnya seorang wanita paruh baya dengan wajah yang mulai dipenuhi kerutan. Tubuhnya tampak lebih kurus dibanding terakhir kali Faris melihatnya. Namun senyumnya masih sama.
"Ibu..."
Suara Faris langsung bergetar.
Wanita itu pun tersenyum sambil menahan air mata. "Faris...."
Faris segera duduk di depan kaca pembatas. Tangannya perlahan menempel pada kaca.
Di sisi lain, sang ibu melakukan hal yang sama. Mereka tidak bisa saling memeluk. Tidak bisa saling menggenggam tangan. Hanya selembar kaca tebal yang memisahkan mereka. Namun justru itulah yang membuat hati Faris terasa semakin sesak.
"Ibu kurus sekali."
Siti menggeleng sambil tersenyum. "Ibu tidak apa-apa."
"Kamu sendiri bagaimana?"
Faris memaksakan senyum. "Aku baik-baik saja."
Padahal keduanya sama-sama tahu bahwa itu bukan jawaban yang sebenarnya.
Bu Nuri yang duduk di samping Siti ikut tersenyum hangat. "Maaf baru sekarang bisa datang. Saya yang menemani Ibu Siti selama ini."
Faris mengangguk penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Bu."
Siti menatap putranya tanpa berkedip. "Kamu makan teratur kan?"
"Iya."
"Tidak ada yang menyakitimu?"
Faris menggeleng. "Tidak ada."
Ia sengaja tidak menceritakan tentang Doni. Dia tidak ingin membuat ibunya semakin khawatir.
Siti mengusap air mata yang mulai jatuh. "Ibu selalu percaya sama kamu."
Kalimat sederhana itu membuat dada Faris terasa hangat. "Ibu tahu... Anak ibu tidak mungkin melakukan hal seperti itu."
Faris menundukkan kepala. Air matanya hampir jatuh. "Aku benar-benar tidak melakukannya, Bu."
"Ibu tahu."
"Tapi semua orang...."
"Ibu tidak peduli kata orang."
Siti tersenyum lembut. "Ibu percaya sama anak ibu."
Ruangan kembali sunyi. Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang.
Bu Nuri akhirnya angkat bicara. "Faris."
"Iya, Bu."
"Saya sudah bertemu Pak Adi."
Mata Faris langsung berbinar. "Benarkah?"
"Iya."
"Beliau sedang berusaha mencari bukti."
"Dibantu Pak Bandi juga."
Faris perlahan mengepalkan tangan. "Syukurlah...."
Siti ikut mengangguk. "Makanya kamu jangan menyerah. Kalau memang kamu tidak bersalah, kebenaran pasti akan keluar."
Faris tersenyum. "Iya, Bu."
"Aku janji."
"Aku akan bertahan."
Di sudut ruang kunjungan, seorang sipir perempuan berdiri sambil memperhatikan percakapan itu. Namanya Lea. Usianya sepantaran dengan Faris.
Sejak Faris memasuki ruangan tadi, matanya tidak pernah lepas dari wajah pemuda itu.
"Aneh...." gumamnya pelan. "Aku seperti pernah melihatnya."
Ia terus mencoba mengingat. Wajah itu terasa sangat familiar. Bukan karena kasus narkoba yang ramai diberitakan. Melainkan dari sesuatu yang jauh lebih lama.
Lea memejamkan mata beberapa detik. Tiba-tiba sebuah kenangan lama muncul. Seorang anak lelaki yang pernah duduk sebangku dengannya waktu SMP.
"Itu Faris teman sebangkuku?" Lea tak menduga.