NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 19. Tanda Merah

Awan duduk di kursi kebesarannya sembari termenung. Tatapan lelaki itu nampak kosong dengan tatapan yang menerawang. Entah apa yang sedang menjadi beban pikirannya. Namun sepertinya tidak jauh dari apa yang terjadi pada Wulan.

Dahi Mega mengernyit dengan mata menyipit kala melihat sikap Awan yang terlihat berbeda. Sudah beberapa minggu terakhir kekasihnya ini seperti memiliki beban pikiran yang dipikul sendiri.

"Mas, ada apa denganmu? Mengapa aku lihat beberapa minggu terakhir ini kamu sering melamun sendiri? Apa ada hal yang mengganjal di hatimu?"

Mega berjalan pelan mendekat ke arah Awan. Ia daratkan bokongnya di pangkuan Awan dan mengalungkan lengan tangannya di leher sang kekasih. Tak lupa, ia letakkan kepalanya di ceruk leher Awan.

"Aku hanya heran dengan perubahan sikap Wulan, Sayang. Aku merasa dia bukan lagi seperti Wulan yang pernah aku kenal. Aku merasa dia adalah orang yang berbeda."

"Memang sikap Wulan berubah seperti apa Mas?"

"Aku merasa sekarang dia jauh lebih berani melawanku. Dia secara terang-terangan sudah tidak mau mengurus ibuku dan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, aku terpaksa harus menggunakan jasa perawat dan pembantu rumah tangga."

"Oh.. Hanya perkara itu? Aku kira ada hal yang jauh lebih penting yang kamu pikirkan Mas. Ternyata hanya hal receh begitu."

"Tapi aku benar-benar tidak habis pikir Wulan bisa berubah drastis seperti itu, Sayang. Saat ini ia seperti menunjukkan sisi lain dirinya yang selama ini tidak aku ketahui."

"Ya sudah sih Mas, tidak perlu kamu pikirkan lagi. Toh sekarang sudah ada perawat dan pembantu kan? Lebih baik sekarang kita pikirkan hal-hal yang membuat kita senang saja."

Mega semakin mengeratkan pelukannya. Ia cium leher Awan dengan intens. Memberikan ciuman-ciuman sensual yang membuat bulu kuduk Awan meremang. Ia yang dari tadi sibuk memikirkan perubahan sikap Wulan, kini seakan terlupakan karena sentuhan yang diberikan oleh Mega. Mata lelaki itu terpejam, menikmati semua yang dilakukan oleh Mega.

"Emmmhhh Sayang... Apakah kita akan melakukannya lagi?" tanya Awan dengan suara yang sedikit parau.

Awan semakin menikmati permainan Mega. Tangannya bergeser, membuka kancing blouse yang dikenakan oleh Mega dan ia mainkan dua benda sintal yang nampak begitu menggoda itu.

"Boleh Mas. Aku merindukan belaianmu." Mega berbisik manja sembari mengecup leher Awan dengan kuat. Hingga membuat jejak merah di sana.

"Aaahhhh... Kamu nakal, Sayang!"

Dua manusia itu semakin larut dalam hasrat. Saling bercumbu, melumat, menggigit, menjilat sampai lupa jika saat ini mereka berada di ruang kerja yang tidak sepantasnya digunakan sebagai tempat untuk saling bertukar keringat. Hingga...

Tok... Tok.. Tok..

Suara ketukan pintu yang tiba-tiba terdengar membuat aktivitas Mega dan Awan seketika buyar. Mereka yang sebelumnya larut dalam lautan hasrat kini seolah ditarik paksa untuk segera menepi. Mega bergegas turun dari pangkuan Awan dan segera merapikan kancing blouse yang sudah berantakan.

"Masuk!" seru Awan dengan sedikit gugup. Jantungnya berdegup kencang, khawatir jika sampai apa yang ia lakukan bersama Mega ketahuan orang lain.

Toni berjalan santai masuk ke ruangan direktur. Lelaki itu menatap intens dua manusia yang terlihat begitu tegang itu. Ia pun terkekeh pelan melihat kancing blouse yang dikenakan oleh Mega tidak sesuai dengan tempatnya.

"Kalian habis ngapain sih kok terlihat tegang seperti itu?" tanya Toni dengan senyum licik. Ia sangat yakin jika dua manusia ini baru saja melakukan sesuatu yang tidak senonoh.

"Ah.. Enggak ngapa-ngapain. Kami hanya sedang ngecek data-data dari pusat," ucap Awan kikuk.

"Oh seperti itu ya?" Toni semakin intens menatap Mega juga Awan. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tanda merah yang tertinggal di leher lelaki itu. "Itu kancing blouse Anda memang seperti itu ya Bu?"

Mega terkesiap. Ia melihat ke arah kancing blouse yang ia kenakan dan betapa terkejutnya ia karena kancing itu tidak beraturan.

"Eh, tadi ketika berangkat ke kantor aku terlalu terburu-buru sampai tidak sadar jika seperti ini." Buru-buru Mega membenahi kancing blouse yang ia kenakan. Sekuat tenaga wanita itu menutupi rasa gugup yang menguasai raga.

"Buru-buru amat Bu, padahal sampai di sini kantor juga masih sepi kan?" ujar Toni yang semakin membuat Awan juga Mega salah tingkah.

Awan dan Mega sama-sama kesulitan menelan salivanya. Mereka sama-sama gugup mendapatkan pertanyaan dari Toni yang seakan memojokkan. Hingga Awan pun berdehem untuk menetralisir suasana.

"Ehemmm.... Ada keperluan apa kamu kemari Ton?" tanya Awan yang tidak ingin berbasa-basi lagi.

"Aku hanya ingin ngasih informasi, kemarin ada salah satu pemilik pabrik garmen yang datang kemari. Mereka ingin memesan banyak unit untuk dijadikan motor operasional sekaligus inventaris perusahaan. Mereka ingin bertemu dengan kalian secara langsung untuk membuat harga kesepakatan."

Toni mengeluarkan satu kartu nama dari dalam saku kemeja yang ia kenakan kemudian ia serahkan kepada Awan.

"Kamu bisa menghubungi nomor ini, Wan. Siapa tahu bisa deal."

Awan menerima kartu nama yang diberikan oleh Toni sembari tersenyum tipis. "Terima kasih Ton. Besok ketika gajian, akan ada bonus untukmu karena secara tidak langsung kamu yang membukakan jalan untuk bekerja sama dengan pemilik garmen itu."

"Ya, ya, ya... Silakan kamu atur saja Wan. Aku permisi."

Toni mengayunkan tungkai kakinya. Namun ketika tangannya akan menarik tuas pintu tiba-tiba...

"Ton!" seru Awan yang seketika membuat Toni berbalik punggung.

"Ada apa?"

"Kamu mau imbalan berapa?"

"Imbalan untuk apa?" tanya Toni yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Awan.

"Tentang apa yang kamu lihat saat ini sehingga kamu tidak membocorkannya kepada orang lain."

Toni menatap wajah Awan dengan penuh tanda tanya namun seketika ia paham dengan apa yang menjadi maksud wakil direktur ini.

"Aku rasa kamu tidak perlu memberikan imbalan karena aku tidak melihat apapun. Aku sama sekali tidak melihat apa yang kalian lakukan di ruangan ini. Tapi...."

Toni sengaja menggantung ucapannya untuk membuat Awan dan Mega semakin penasaran. Toni bahkan menahan tawa melihat dua manusia yang ada di hadapannya ini seperti ketakutan jika sampai apa yang mereka lakukan tersebar di lingkungan kantor.

"Tapi apa Ton?"

"Tapi Tuhan melihat apa yang kalian lakukan dan aku rasa tidak perlu sebuah bangkai itu disembunyikan karena lama kelamaan pasti akan tercium juga baunya."

Toni keluar dari ruangan ini tanpa basa-basi. Meninggalkan Awan dan Mega yang sama-sama terhenyak sembari mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Toni. Membuat lidah mereka kelu tak bisa berkata-kata lagi.

***

Wulan duduk santai di ruang tamu sembari menggendong Bagas menjelang maghrib. Beberapa hari ini waktunya untuk bersantai jauh lebih banyak, mengingat saat ini sudah ada perawat dan asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Awan. Sejak keberadaan perawat dan asisten rumah tangga itu, tidur Wulan jauh lebih berkualitas, waktu istirahat juga cukup dan jam makannya pun selalu teratur. Wanita itu pelan-pelan bisa peduli pada dirinya sendiri. Bahkan Bagas juga tidak sering rewel seperti biasanya. Memang benar kata orang, jika psikis seorang ibu itu berdampak pada sang anak.

"Lan!" sapa Marta yang berada di atas kursi roda dan didorong oleh Mira, sang perawat.

"Ya Bu, ada apa?"

"Mengapa kamu sudah tidak mau merawat Ibu? Apakah kamu capek ketika mengurus Ibu?" tanya Marta yang langsung pada pokok pembicaraan. Sejatinya, sudah sejak lama ia ingin menanyakan hal ini namun baru sempat sekarang.

Wulan tersenyum simpul. Ada satu alasan yang sampai saat ini masih ia pendam sendiri. Ia hanya ingin perlahan terlepas dari jerat yang berhubungan dengan keluarga sang suami. Sebelum akhirnya ia akan pergi.

"Aku hanya ingin menghormati posisi mas Awan, Bu."

"Maksud kamu bagaimana Lan? Ibu sungguh tidak paham."

"Begini Bu, saat ini jabatan mas Awan sudah tinggi di kantor dan bisa dikatakan mas Awan adalah orang penting. Masa orang penting tidak bisa membayar jasa perawat dan ART? Akan mencoreng wajah mas Awan jika sampai hal itu terjadi. Maka dari itu aku meminta mas Awan memakai jasa perawat dan ART."

"Tapi Ibu merasa lebih nyaman jika diurus sama kamu, Lan."

"Ibu harus mulai terbiasa tanpa aku. Karena aku..."

Ucapan Wulan terjeda ketika mobil milik Awan berhenti di depan kontrakan. Tak berselang lama lelaki itu keluar dari mobil dan segera masuk ke ruang tamu.

"Lagi pada ngumpul?" tanya Awan sedikit berbasa-basi.

"Iya Mas. Lagi ngobrol ringan saja."

"Oh iya Lan, besok aku akan berangkat ke luar kota selama tiga hari, tolong siapkan pakaianku."

Wulan beranjak dari posisi duduknya. Ia mendekat ke arah Awan dan menatap lekat tubuh suaminya ini. "Baik Mas, akan aku siapkan."

"Baiklah kalau begitu, aku mau bersih-bersih dulu."

Tungkai kaki Awan terayun. Namun baru dua langkah ia menjauh dari Wulan tiba-tiba...

"Mas tunggu sebentar!"

Awan berbalik punggung. "Ada apa Lan?"

Wulan mendekati Awan. Ia tatap lekat-lekat tanda merah yang membekas di ceruk leher sang suami.

"Kok lehermu merah seperti ini Mas? Digigit apa?"

Awan terperanjat dengan mata yang membulat sempurna. Ia baru ingat jika pagi tadi Mega memberikan ciuman yang cukup dalam di lehernya. Ia sampai tidak sadar jika ciuman itu meninggalkan jejak merah di sana.

"Oh, eh, anu... Ini tadi digigit serangga Lan. Rasanya perih sekali. Ini baru mau aku oles minyak."

"Oh serangga?" tanya Wulan berlagak polos.

"Kalau gitu aku mandi dulu Lan."

Awan bergegas mengambil langkah seribu. Lelaki itu tidak mau jika sang istri terlalu banyak tanya perihal tanda merah di lehernya. Sedangkan Wulan, hanya tersenyum tipis melihat Awan yang tergagap.

Sepertinya besok adalah waktu yang tepat untukku mencari bukti-bukti perselingkuhan itu. Akan aku pastikan melalui Toni lebih dulu apakah mas Awan benar-benar ke luar kota atau hanya sekedar tipu daya agar ia bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Mega dengan tidak pulang ke rumah.

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!