kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Kemanakah Jaka Srenggi di bawa lelaki tua itu?
Tak berapa jauh dari kota Bangau di sebuah bukit ada gua yang cukup tersembunyi, itu tersembunyi karena akar belukar menutupi mulut gua dari pandangan mata orang.
Lelaki itu mendudukkan Jaka Srenggi begitu sampai di dalam gua, dia membuka baju Jaka.
Kepalanya geleng-geleng saat melihat cap lima jari berwarna merah menghitam di punggung pemuda gagah itu.
"Kau belum memiliki pengalaman tapi sudah menantang lawan yang kuat, kau ceroboh atau memang sombong??"
Lelaki itu mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Jaka Srenggi melalui punggung, setelah itu dia menotok bagian tubuh yang terkena pukulan tangan setan milik sepasang gila.
"Jurus mereka memang tak terlalu membahayakan nyawa, tapi jika di biarkan kau akan tetap tewas juga. Kombinasi mereka yang membuat mereka berbahaya, jika satu lawan satu aku yakin anak muda ini mampu melawan mereka meskipun dia belum berpengalaman!" ucap lelaki itu.
Lelaki itu berbicara sendiri tapi tangannya terus bergerak untuk mengobati luka yang cukup parah yang di alami oleh Jaka Srenggi.
"Aku kagum dengan kekuatan tubuhmu bocah. Aku tak tahu bagaimana kau memiliki kekuatan tubuh seperti ini? Tapi kau cukup luar biasa menurutku," gumam lelaki tua itu.
Huakkk!!
Jaka Srenggi mengeluarkan muntah berwarna hitam legam.
"Baguslah, kau sudah melewati masa kritis mu, tak berapa lagi kau akan sadar. Aku akan menunggu dan akan menanyakan apa hubunganmu dengan Bargola?" ucap lelaki tua itu lagi.
Senyum tipis terlihat di mulut lelaki itu, tak ada yang tahu makna dari senyum itu selain dirinya sendiri.
Wajah lelaki itu putih pucat bagaikan mayat, matanya memancarkan sorot yang tajam. Jika manusia biasa maka akan berlari ketakutan karena merasa bertemu dengan mayat hidup.
Sambil menunggu Jaka Srenggi sadar lelaki itu bersemedi memulihkan kondisi tubuhnya yang sedikit capek setelah membopong tubuh Jaka Srenggi.
"Tubuh tua ku ternyata sudah mulai capek, hanya membawa bocah kecil ini saja aku sudah kepayahan," gumam lelaki berwajah mayat itu.
Akhhh!'
Erangan terdengar dari mulut Jaka Srenggi. lelaki tua itu membuka matanya dan menatap ke arah Jaka Srenggi.
"Kau sudah sadar anak muda??"
Jaka Srenggi melirik ke arah suara dan wajah nya kaget saat melihat seseorang yang berwajah pucat bagaikan mayat.
"Apa kau manusia??" tanya Jaka Srenggi lirih.
"Hhuhhh, kembali pertanyaan yang sama aku dengar dari orang yang bertemu dengan ku. Apa begitu sikap mu kepada orang yang telah menyelamatkan nyawamu??"
"Maaf!' ucap Jaka Srenggi pelan dan hampir tak terdengar.
"Sebaiknya kau pulihkan tenaga dalam mu anak muda, aku yakin kau tahu cara nya bukan??"
Jaka Srenggi diam tak menjawab tapi dia mencoba untuk duduk.
"Jangan memaksakan dirimu, jika butuh bantuan katakan saja!"
Lelaki tua itu mendekati Jaka Srenggi dan membantunya untuk duduk.
Jaka Srenggi mengambil posisi bersila dan mengeluarkan pernapasan langit yang di barengi dengan semedi untuk mengembalikan kondisi tubuh dan menyembuhkan luka nya.
"Ini pernapasan langit? Bagaimana mungkin bocah ini memiliki tehnik legendaris itu?'
Wajah putih dari lelaki itu sedikit heran bercampur takjub.
"Siapa sebenarnya bocah ini? Aku semakin penasaran dengan identitas yang dia miliki??"
Lelaki tua itu terus memperhatikan Jaka Srenggi yang masih bersemedi dengan menggunakan pernapasan langit. Napasnya hampir berhenti melihat Jaka Srenggi menguasai sepenuhnya tehnik tinggi itu.
"Pemuda yang luar biasa," desis lelaki itu memuji Jaka Srenggi.
Dari jauh lelaki itu merasakan pancaran energi yang cukup di kenalnya.
"Heheheh, setan bungkuk ya, aku tak percaya topeng hitam memberi perintah begitu cepat untuk mencari pemuda ini! Tapi kalian tak akan menemukan kami," ucap lelaki itu.
Lelaki itu mengerahkan tenaga dalamnya, dan menyamarkan keberadaannya berserta keberadaan gua tempat mereka berlindung.
"Carilah sampai ke ujung dunia, jika bukan topeng hitam yang kemari, maka kalian tak akan menemukan kami," ucap lelaki itu.
Sementara itu di luar gua.
"Bagaimana mungkin? Aku tadi merasakan pancaran energi di sini. Tapi sekarang menghilang secara tiba-tiba," ucap setan bungkuk.
Setan bungkuk setelah menerima perintah dari topeng hitam, bukannya langsung kembali ke kota Bangau, tapi mengajak sepasang gila untuk mencari keberadaan Jaka Srenggi di sekitar wilayah kota Bangau.
"Apa kau yakin setan bungkuk? Kenapa aku tak merasakan dari tadi??" tanya Birawa.
"kalian itu masih jauh tingkatannya di bawah ku, jadi wajar kalau kalian tak merasakannya," jawab setan bungkuk sombong.
Sepasang gila rasanya ingin menyerang setan bungkuk karena merasa di rendahkan, tapi mereka tak ingin terlibat dalam pertarungan dengan salah satu orang yang di percaya oleh topeng hitam.
"Sepertinya dia memiliki kemampuan menyamarkan keberadaan nya, atau mungkin dia merasakan kehadiran kita dan pergi meninggalkan tempat ini! Mari kita kembali saja dan menuju kota Bangau, aku ingin bersenang-senang, sudah lama aku tak keluar dari kota bunga! Aku ingin menikmati gadis-gadis kota bangau! Hahahaha!'
Setan bungkuk tertawa riang karena mendapat kesempatan untuk lepas dari kungkungan topeng hitam.
Setan bungkuk awalnya sangat bangga menjadi salah satu orang kepercayaan topeng hitam, tapi itu membuat ruang geraknya menjadi sedikit, tak sebebas sebelum dia bergabung dan menjadi salah satu tangan kanan topeng hitam.
Dan saat topeng hitam memberinya perintah untuk ke kota Bangau, tanpa banyak berpikir setan bungkuk langsung menerimanya.
Ketiganya kembali mengerahkan tenaga dalam dan pergi meninggalkan hutan itu, padahal mereka sudah ada di mulut gua, tapi karena keberadaan gua sudah di samarkan mereka tak melihat apa pun selain semak belukar.
Saat mereka terbang terlihat lah perbedaan kekuatan ilmu meringankan tubuh di antara mereka bertiga, setan bungkuk jauh unggul dari sepasang gila.
"Hey, kalian mau sampai kapan bersantai santai? Kapan kita akan sampai di kota Bangau??" ejek setan bungkuk yang semakin jauh meninggalkan sepasang gila.
"Sialan, mari kita hajar dia Birawa," kata bariwa yang memang sangat mudah emosi.
"Tahan diri mu, tak ada gunanya bertarung dengannya, selain akan membahayakan kita, kita juga akan jadi musuh dari topeng hitam. Apa kau mau itu??" ucap Birawa.
Bariwa akhirnya memilih diam dan menatap setan bungkuk dengan tatapan dendam.
Beberapa jam telah berlalu dan akhirnya Jaka Srenggi membuka matanya, yang pertama di lihatnya dia berada dalam gua batu. Saat dia mengalihkan pandangan nya dia melihat seorang lelaki yang juga menatapnya.
Wajah Jaka Srenggi masih kaget meskipun sudah dua kali melihat wajah lelaki itu.
"Apa hubungan mu dengan Petapa muka dua??" tanya lelaki itu tanpa menunggu Jaka Srenggi untuk mengendalikan rasa kagetnya.
Jaka Srenggi tak menyangka jika lelaki itu akan menanyakan gurunya.
"Siapa kau? Apa kau mengenal guru??"