NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Dirut Tampil

Pintu lift eksklusif terbuka di lantai dasar, dan kedua pria itu melangkah mantap membelah kerumunan lobi yang masih riuh. Rangga berjalan ke arah Arumi dengan senyuman lebar yang dipaksakan se-natural mungkin, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

“Sayang? Kok kamu datang nggak bilang-bilang, sih?”

Tanpa menunggu jawaban, Rangga langsung menarik tubuh ramping Arumi dan memeluknya dengan sangat erat di depan ratusan pasang mata.

Semua terdiam

Semua kaget

Semua ternganga

Termasuk Arumi yang langsung sekaku kayu

Wanita cantik ini hanya bisa mematung di dalam dekapan itu. Tidak tahu harus berbuat apa dengan kondisi yang tiba-tiba terjadi.

Yang jadi masalah adalah timbulnya suatu keanehan yang seketika datang menerpa sanubarinya. Tubuhnya menolak keras dan ia merasa sangat risih, namun indra penciumannya tidak bisa berbohong saat menyesap keharuman parfum mahal maskulin milik Rangga. Arumi mendadak berdebar aneh saat menyadari tubuh pria muda di depannya ini terasa begitu atletis, otot dadanya keras menekan bodi rampingnya, namun terasa sangat hangat.

Rangga melepas pelukannya perlahan, namun jemarinya tetap mengunci pinggang Arumi secara posesif. “Aku kan sudah bilang kemarin, kalau datang langsung naik lift langsung ke ruanganku, nggak perlu lapor ke operator lobi depan. Kamu sekarang sudah punya akses unlimited di gedung ini, Sayang. Perjanjian Nikah kita sudah dikirim ke ruanganku.”

JEDARRR!

“Perjanjian nikah?!?” koor teriakan heboh langsung meledak serempak dari mulut para karyawan di lobi.

Wajah Bintang mendadak melongo, matanya melotot menatap jemari Arumi yang dilingkari berlian raksasa. Namun sebagai manipulator ulung, ia dengan cepat memosisikan kembali raut wajahnya ke dalam sales mode yang ramah dan penuh senyuman palsu.

“Wah... P-p-Pak Rangga mau menikah? Dengan Arumi yang ini?” Bintang melangkah maju, suaranya dibuat sehalus mungkin. Tapi tentu saja, getaran kikuk tetap terasa sengau didengar.“Wah, selamat ya, Pak. Arumi memang cantik sekali, cocok untuk mendampingi Bapak. Saya ikut senang mendengar Bapak yang sudah lama tidak memiliki pasangan—bahkan cenderung anti-wanita—bisa-bisanya dengan sangat cepat memutuskan untuk menghibur hati Arumi yang sedang sedih karena baru ditinggal suaminya. Mudah-mudahan tidak muncul konspirasi atau desas-desus buruk di luar sana ya, Pak. Kan sayang sekali kalau usaha yang sudah Bapak bangun susah payah ini harus hancur karena skandal rumah tangga.”

Rangga langsung membalas tatapan Bintang dengan wajah yang masih mengulas senyuman tipis yang mematikan.

“Skandal? Skandal apa, Bintang?” suara bariton Rangga menggema tenang namun sarat intimidasi. “Maksud kamu, konspirasi kalau saya ini sebenarnya gay, lalu pura-pura menikah hanya untuk menutupi dugaan hubungan pacaran saya dengan Tony dan Denny? Terus kebetulan ada seorang janda yang suaminya baru saja saya tabrak, jadi saya nikahi sekalian biar status saya bersih di mata dewan komisaris? Begitu maksud kamu, Bintang? Aduh... makanya, jangan kebanyakan nonton drama pendek komersial dong! Otak kamu jadi isinya fiksi murahan semua.”

Tawa tertahan langsung berdesir riuh di antara barisan karyawan operasional. Bintang mematung dengan wajah pias pucat pasi, tertembak telak oleh mulut tajam bosnya sendiri tepat di depan massa yang baru saja ia provokasi dengan narasi palsu.

“Bintang, tim kami saat ini sedang mencari dalang yang sengaja mengubah daftar tamu di Oscar Club malam itu. Kamu siap-siap saja dipanggil untuk agenda penyelidikan kepolisian karena berkas aduan dari tim legal kami sudah masuk,” ketus Rangga sembari perlahan mengelus-elus lengan Arumi yang terbalut sutra hitam yang lembut.

Gerakan itu sengaja ia lakukan dengan tenang untuk mengukuhkan status ‘kepemilikannya’ atas diri Arumi di depan publik, sekaligus mematahkan dugaan miring kalau ia adalah pria anti-wanita.

“Saya... saya tidak tahu apa-apa soal itu,” Bintang mundur selangkah. Sekarang, di dalam nada suaranya ada tensi gemetar yang sangat aneh, seakan ia mendadak kehilangan keberanian dan ingin menyudahi konfrontasi ini begitu saja. “Kan sekarang semua jadwal pribadi Bapak dipegang penuh oleh Tony. Saya mana tahu Bapak akan pergi ke kelab malam atau bertemu dengan klien yang mana? Sekarang tugas saya kan murni hanya mengurusi masalah administrasi korporat perusahaan.”

Arumi melangkah maju, memangkas jarak pembatas dan menantang Bintang langsung di tengah lobi.

“Lalu kalau kamu memang tidak tahu apa-apa, kenapa sekarang kamu berdiri di sini dan mengonfrontasiku di depan semua orang? Sampai tega menuduhku menjual nyawa suami sendiri demi harta?” suara Arumi mengalun tenang namun sarat intimidasi. “Sebenarnya detail kasus kecelakaan ini sengaja disembunyikan oleh pihak direksi, Bintang. Tujuannya baik, untuk melindungi teman-teman kantormu dari fitnah publik yang tak berujung. Tapi dari mana kamu bisa tahu semua detailnya? Bukankah itu tandanya kamu sengaja menggunakan hak akses informasi internal secara ilegal? Kamu mengetahuinya, mengemasnya jadi gosip, dan malah menyebarkannya untuk memprovokasi orang. Kamu sudah melanggar hak privasiku secara hukum.”

“Aku tahu dari bawahanku lah, Rum! Mereka kan akrab denganku, aku punya banyak pendukung dan banyak teman di gedung ini! Memangnya kamu yang kuper dan nggak punya teman?” Bintang mendelik, lagi-lagi berusaha menyerang area pribadi Arumi saat posisinya tersudut. “Kami semua di sini sudah muak padamu yang berlagak suci. Dasar pelakor! Tega-teganya merebut Pak Ary saat mendiang istrinya sedang berjuang sekarat terkena kanker!”

BLAAMMM!

Arumi melempar tas brandednya ke lantai karena emosi.

"Video mengenai Ibu Rani yang meminta dan memohon agar aku bersedia menikahi Mas Ary sudah dari dulu terekam jelas, Bintang! Dan fail digitalnya tersimpan rapi di brankas pengacaraku!" seru Arumi emosi, suaranya yang melengking tinggi kini menggelegar hebat memutus bacot Bintang, menggema ke seantero ruangan lobi hingga membuat beberapa karyawan yang berdemo terjingkat kaget.

"Kami menikah sah secara agama dan hukum negara di bawah persetujuan tertulis dari Istri Pertama!" lanjut Arumi dengan napas memburu, menatap Bintang dengan kilat kemarahan yang membakar. "Dan Rangga menikahiku hari ini juga atas dasar persetujuan dan wasiat lisan dari Mas Ary yang saat itu sedang sakratul maut di kolong truk! Semua rekaman video itu tersimpan aman di dalam brankas. Fail itu hanya akan ditampilkan resmi di hadapan majelis hakim saat aku memutuskan untuk menyeret semua pihak yang memfitnahku ke meja hijau! Tidak untuk disebar secara murahan di media sosial! Jadi, jika kamu sampai memaksaku untuk mengumbar video penderitaan Mas Ary saat sedang sekarat ke publik... kuanggap siang ini aku sedang bertindak di bawah tekanan intimidasi kamu, Bintang Dirgahayu!"

Lobby sekali lagi hening karena teriakan tegas Arumi yang membahana. Bintang tidak menyangka, orang yang selama ini ia kenal kalem dan tidak berani membela diri, justru akan menjatuhkan bom paling besar tepat di atas kepalanya.

Melihat hal ini, Rangga menyunggingkan senyum sinis. Strateginya untuk menempatkan Arumi di garis depan untuk menjatuhkan Bintang ternyata melebihi ekspektasinya. Walau pun tubuh mungil Arumi bergetar hebat, tapi Rangga bisa melihat ada kilatan kepuasan di binar matanya.

Akhirnya Arumi bisa mengeluarkan semua yang terpendam di benaknya terhadap Bintang.

Direktur Utama sekaligus Pemegang Saham Mayoritas Red Desmont Investment ini semakin yakin kalau Arumi memang adalah pendamping yang pas di hidupnya. Tugas Mas Ary di dunia selesai saat Rangga muncul. Karena Tugas Arumi sebagai istri yang baik untuk Mas Ary sudah selesai juga, kini Arumi mendapatkan misi baru yang lebih menantang, yaitu sebagai partner hidup Rangga yang memang membutuhkannya.

Kini, sudah saatnya ia selesaikan perdebatan di Lobby.

Pria itu berdehem pendek, memulai pidato penutupnya yang mematikan.

“Kalian yang sudah bosan bekerja di gedung ini, dan anehnya lebih memilih tunduk pada provokasi Kepala Corsec dibandingkan patuh pada saya... silakan angkat kaki,” suara bariton Rangga menggema tenang, menekan mental siapa pun di lobi. “Saya sudah memenuhi semua kewajiban perusahaan di atas standar aturan resmi Kemenaker. Gaji ke-17 saya bayar lancar, tunjangan anak dipenuhi, bahkan cuti melahirkan enam bulan penuh sesuai undang-undang terbaru sudah saya sahkan. Saya masih berbaik hati memberikan toleransi ruang laktasi premium di kantor, bahkan membolehkan kalian membawa bayi bagi yang tidak punya babysitter.”

Rangga melangkah satu senti ke depan, melipat tangan di dada. “Jadi secara finansial, saya tidak akan rugi sepeser pun kalau siang ini kalian semua memutuskan untuk pindah kerja ke perusahaan lain. Bagi yang merasa masih ingin bekerja dengan saya... tentu saja saya sudah tidak ridho melihat wajah kalian berkeliaran di gedung pusat ini lagi. Tapi tenang, kita memiliki kantor anak cabang di Kalimantan, Sulawesi, dan NTT. Pilih saja salah satunya hari ini, tim Tony akan mengatur biaya sewa kontrakan untuk kalian di sana. Kan enak kerja di sana, nggak perlu ketemu saya yang ‘baperan’ ini.”

DEGG.

Mendengar nama Kalimantan, Sulawesi, dan NTT disebut, barisan karyawan toxic itu langsung pucat pasi. Dimutasi massal ke luar pulau tanpa kepastian karier yang jelas adalah mimpi buruk terbesar bagi anak kantoran Jakarta. Taktik Rangga berhasil mengunci pergerakan mereka tanpa melanggar jalur hukum sepihak.

“Tapi Pak! Kami semua cuma termakan berita hoaks! Bapak tidak bisa begitu saja memberi kami pilihan dengan cara menekan seperti ini dong! Kami semua dilindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan!” seru salah satu karyawan senior, mencoba membela diri dengan membawa-bawa nama hukum.

Rangga menyeringai tipis, sepasang matanya menatap tajam tanpa riak emosi. “Saat mendengar berita itu, kalian lebih memilih untuk percaya pada omongan orang lain dibanding percaya pada pihak yang memberikan upah ke kalian setiap bulan. Seharusnya, sejak detik itu kalian sudah paham apa risikonya. Di gedung ini, karyawan yang tidak termakan hoaks jauh lebih banyak. Tidak seluruh staf di perusahaan saya sebodoh kalian.”

“Ini namanya bentuk solidaritas, Pak!” bantah yang lain, masih mencoba bertahan di balik tameng ego kelompok.

“Kalian itu bukan buruh pabrik, dan di perusahaan investasi ini kita tidak memiliki serikat pekerja,” skakmat Rangga, suaranya beralih merendah namun sarat akan penekanan yang mematikan. “Jadi, seluruh risiko atas kegaduhan siang ini wajib kalian tanggung sebagai individu. Solidaritas kalian itu seharusnya dialirkan ke kondisi yang lebih membawa kebaikan bersama. Dan dengan tidak bijaknya, kalian malah memilih alasan konyol itu untuk membela diri di depan saya? Hebat sekali. Training di mana kalian selama ini? Bintang Dirgahayu Corp?”

Rangga melirik Bintang dengan sangat sinis, membuat Kepala Corsec itu langsung membuang muka dengan rahang mengeras.

Rangga kemudian mengedarkan pandangannya ke arah kerumunan lobi yang kini mendadak senyap seperti kuburan. “Pilihannya sekarang bukan lagi mutasi luar pulau atau resign. Pilihan mutlaknya adalah: kalian tanda tangan surat pengunduran diri sukarela detik ini juga, atau Denny akan meneruskan laporan fitnah pencemaran nama baik ini ke Polres sore ini. Rekaman CCTV lobi dan bukti ucapan kalian sudah dipegang Tony.”

Rangga menjeda, menatap satu per satu wajah pias di depannya. “Jika kalian resmi menolak dan berakhir jadi tersangka pidana fitnah, saya punya dasar hukum mutlak berdasarkan klausul 'Kesalahan Mendesak' untuk memecat kalian secara tidak hormat dengan pesangon nol rupiah. Silakan pilih sekarang; mau keluar dari gedung ini baik-baik dengan nama bersih, atau keluar pakai baju tahanan oranye?”

Arumi menatap ke arah Rangga dari samping. Ia membeku.

Pria berusia 26 tahun itu berdiri tegap, menantang dan membungkam puluhan mulut berisik karyawannya dengan ketegasan yang mutlak. Di mata Arumi, ia baru saja berhadapan langsung dengan sosok Serigala Alpha yang sanggup membuat semua orang tunduk hanya dengan kata-kata.

Beginikah wajah sebenarnya dari calon suaminya? Apakah almarhum Mas Ary dulu memilih pria ini untuk menjadi pendampingnya karena memang Rangga jauh lebih tangguh untuk melindunginya?

Bukan... bukan Mas Ary. Tapi Tuhan. Tuhan yang sedang memberikan pertanda ini lewat takdir yang berkelakar.

Di bawah balutan gaun sutra hitam nya, dada Arumi mendadak bergemuruh hebat. Apakah... ia harus mulai mengikhlas kan perasaannya dan membuka hati? Karena terus terang, ketegasan brutal Rangga dalam menghadapi para pembangkang kantor siang ini entah mengapa membuat hati Arumi mendadak berdebar kencang karena rasa kagum yang luar biasa besar.

“Tony, urus berkas mutasi mereka yang masih keras kepala tidak mau resign siang ini,” perintah Rangga dingin, memutus keheningan lobi.

Tanpa menunggu jawaban Bintang yang masih berdiri lemas, Rangga langsung menarik pergelangan tangan Arumi secara posesif, menggiring sang Ibu Ratu memasuki lift pribadi eksekutif untuk menuju ke lantai HRD di atas.

**

Begitu pintu lift kaca tebal itu tertutup rapat dan bergerak naik secara otomatis, aura kemesraan palsu yang dipamerkan di lobi langsung menguap dalam sedetik.

Keheningan absurd timbul.

Sepasang manusia yang kini terengah-engah berusaha menguasai dirinya kembali ke jati diri awal, dan membuang segala emosi yang tersisa.

Dan di saat masing-masing sudah mulai bisa menguasai keadaan kembali, Arumi dengan cepat menarik lengannya, berbalik menghadap Rangga, dan…

PLAKK!!

Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi mulus Rangga.

“Duh, Mbak?!” desis Rangga sambil memegangi pipinya yang terasa panas, nampak mengaduh kaget menatap calon istrinya sambil mundur. Reflek merapat ke dinding lift karena shock.

Ini tamparan yang ia terima untuk kedua kalinya dari seorang wanita yang belum jadi siapa-siapanya. Dan ia masih belum bisa terbiasa.

“Lain kali kalau mau peluk-peluk dan rangkul pinggang di depan umum, konfirmasi dulu!!” seru Arumi dengan napas memburu karena jengkel dijadikan alat sandiwara. Belum puas dengan tamparan, emosinya yang memuncak membuat wanita itu nekat melepas salah satu sepatu hak tinggi Louboutin mahalnya, lalu menimpukkannya tepat ke arah dada Rangga.

“Oke, oke! Maaf, Mbak, maaf! Jangan marah, okee... saya salah. Lain kali saya janji akan konfirmasi dulu lewat WA!” ujar Rangga panik.

Arumi kesal karena dadanya berdebar-debar. Ia merasa sedang menyelingkuhi Mas Ary-nya. Mendadak Rangga terlihat sangat tampan kalau sedang marah-marah seperti tadi. Karena sebal dengan keadaan dirinya, Arumi hanya bisa menimpuk Rangga dengan sepatu hak tajamnya.

“Ambilkan sepatu saya!” dengus Arumi berlagak ngambek.

Sang Direktur muda yang biasanya ditakuti para komisaris itu langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, lalu berlutut di atas lantai lift untuk mengambil sepatu Arumi yang sempat mental membentur dinding kaca. Dengan sikap yang sangat gentleman, Rangga perlahan mengaitkan kembali sepatu sol merah itu ke kaki ramping Arumi.

Tepat di detik itu, lift berdenting nyaring dan pintu otomatisnya terbuka di lantai HRD. Sialnya, puluhan karyawan divisi HRD dan manajemen atas sedang berdiri berkerumun di koridor, langsung disuguhi pemandangan gila di siang bolong: Bos besar mereka yang terkenal kejam dan anti-perempuan sedang berlutut pasrah ala pangeran, memakaikan sepatu ke kaki seorang wanita cantik bak Cinderella modern yang wajahnya nampak ketus.

Rangga mendongak, menyadari atmosfer koridor yang mendadak senyap membeku. Ia segera berdiri tegak, merapikan kembali jas navy-nya seolah tidak terjadi apa-apa untuk memulihkan wibawanya dalam sekejap.

“Apa lihat-lihat? Kerja sana, nggak usah gosip. Ini calon istri saya, hapalin mukanya baik-baik biar kalian tahu siapa yang punya takhta tertinggi di kantor ini,” sahut Rangga dengan nada suara yang lembut namun terasa sangat menusuk dan menuntut kepatuhan.

Rangga kembali melangkah keluar lift sambil merangkul pinggang Arumi secara posesif demi melanjutkan sandiwara di depan pintu ruang interogasi HRD.

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!