NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: RAJUTAN CAHAYA DAN PENUMPAHAN HASRAT YANG TERTAHAN

Malam semakin larut di dalam kamar sederhana milik Mayang, namun suasana di dalamnya terasa begitu hangat dan terisolasi dari kejamnya badai kabut hitam di luar sana. Setelah penduduk desa bergotong-royong memapah tubuh kekar Dion yang bersimbah darah masuk ke dalam rumah, Mayang meminta privasi mutlak. Ia mengunci pintu kamar rapat-rapat, tidak membiarkan siapa pun mengganggu proses sakral yang akan menentukan hidup mati pria yang terlanjur menjerat seluruh jiwanya tersebut.

Dion terbaring lemah di atas ranjang kayu, napasnya terdengar sangat pendek dan tersedat-sedat. Pakaian kulitnya telah ditanggalkan sepenuhnya oleh Mayang, menyisakan tubuh tingginya yang proporsional namun dipenuhi oleh luka-luka yang mengerikan. Dada bidangnya yang tegap tampak hancur kebiruan akibat hantaman besi Gorgan, dan lengan kanannya yang dipenuhi tato ular masih menyisakan sisa-sisa luka bakar magis yang melepuh hitam.

Mayang duduk di tepi ranjang, menatap raga telanjang dada Dion dengan air mata yang menetes tanpa suara. Rasa bersalah karena sempat mengutuk pria ini sepanjang malam membuat dadanya terasa sesak. Dengan jemari yang bergetar halus karena luapan cinta yang membara, Mayang perlahan meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada bidang Dion yang dingin sedingin es.

Mengingat perkataan Aki Sarman tentang kekuatan purba Aethelgard di dalam darahnya, Mayang memejamkan mata jernihnya, membuang jauh-jauh rasa benci, dan memfokuskan seluruh sisa jiwanya pada satu tujuan: menyelamatkan Dion.

WUUUUUSSSSHHH!

Seketika itu juga, sebuah pendaran cahaya keemasan yang luar biasa murni dan tebal meledak dari dalam telapak tangan Mayang. Cahaya itu begitu hangat, berputar-putar melingkari raga mereka berdua bagai selimut sutra gaib. Mayang harus mengerahkan seluruh fokus batinnya; ia bisa merasakan energi Aethelgard itu menguras tenaganya dengan sangat cepat, membuat keringat dingin mulai bercucuran di pelipis dan leher jenjangnya yang seputih susu. Namun, perhatiannya yang tulus mengalahkan rasa lelahnya sendiri.

Perlahan-lahan, keajaiban cahaya Mayang mulai merajut kembali jaringan daging Dion yang hancur. Tulang dada yang patah menyatu kembali, dan kulit lengan Dion yang melepuh hitam perlahan memudar, digantikan oleh tekstur kulit aslinya yang kecokelatan dan maskulin. Napas Dion yang semula pendek kini mulai teratur, dan suhu tubuhnya kembali menghangat di bawah sentuhan Mayang.

...Ugh...

Sebuah lenguhan rendah dan bariton keluar dari sela-sela bibir tegas Dion. Sepasang mata abu-abu badainya perlahan terbuka, berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan pendaran cahaya emas yang memenuhi kamar. Begitu pandangannya memfokus, wajah pertama yang ia lihat adalah Mayang—gadis cahaya yang tengah terengah-engah dengan wajah pucat, namun menatapnya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh cinta yang teramat dalam.

Dion tersentak kecil, mencoba menggerakkan tubuh kekarnya untuk duduk, namun Mayang dengan lembut menahan bahu kokoh pria itu. "Jangan banyak bergerak dulu, Dion. Tubuhmu baru saja pulih," bisik Mayang, suaranya terdengar begitu lembut dan bergetar emosional.

Dion menatap kedua tangan Mayang yang masih menempel di dadanya, lalu beralih menatap wajah gadis itu dengan kerutan bingung yang amat dalam di dahinya. "Mayang... mengapa?" tanya Dion, suaranya terdengar parau dan serak. "Mengapa kau menyelamatkanku? Aku... aku pergi meninggalkanmu kemarin tanpa sepatah kata pun. Aku membiarkanmu berpikir bahwa aku adalah pengkhianat klan yang meruntuhkan segel desamu. Aku sudah menyakitimu dan seluruh penduduk desa ini... Seharusnya kau membiarkanku membusuk di dasar jurang itu."

Mayang menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya menetes jatuh tepat di atas dada telanjang Dion. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memotong jarak di antara wajah mereka hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Tio sudah menceritakan semuanya, Dion. Anak kecil yang kauselamatkan dua tahun lalu itu... dia berdiri di depanku saat warga desa ingin membakarku."

Dion membelalakkan matanya mendengar nama Tio disebut.

"Dia menceritakan bagaimana adiknya, Rhea, ditangkap oleh Penguasa Gorgan karena menolong anak desa ini," lanjut Mayang, suaranya kini bergetar hebat menahan haru. "Dan bagaimana kau terpaksa diam kemarin demi melindungi nyawa adiknya yang disandera. Maafkan aku, Dion... Maafkan aku karena sempat meragukanmu. Aku tidak tahu bahwa kau menderita sendirian menahan kutukan itu hanya untuk memastikan kami semua tetap hidup."

Mendengar penjelasan itu, seluruh beban berat yang selama ini mengunci batin Dion runtuh seketika. Kesalahpahaman yang sempat memisahkan mereka dengan kejam kini menguap, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa masif. Dion menatap Mayang dengan tatapan yang mendadak menggelap, dipenuhi oleh dahaga dewasa dan hasrat protektif yang meledak berkali-kali lipat dari sebelumnya.

"Mayang..." bisik Dion, suaranya bergetar rendah dan sangat seksi.

Tanpa memedulikan sisa rasa perih di tubuhnya, tangan kanan Dion yang besar dan kasar melesat maju, mencengkeram tengkuk Mayang dengan dominasi mutlak, lalu menarik kepala gadis itu ke bawah. Bibir tegasnya langsung mengunci bibir manis Mayang dalam sebuah ciuman yang luar biasa panas, dalam, dan penuh dengan luapan emosi yang tertahan.

Ini bukan lagi sekadar ciuman perpisahan atau penahan rasa sakit. Ini adalah penumpahan hasrat dari dua jiwa yang menyadari bahwa mereka nyaris kehilangan satu sama lain selamanya. Lidah Dion menjelajah dengan liar, menuntut balasan yang sama dari Mayang. Mayang melenguh rendah di dalam pagutan mereka, menyerahkan seluruh kendali dirinya, membiarkan kedua lengan lentiknya mengalung erat di leher kekar Dion, sementara tubuh mungilnya ditarik hingga menempel sempurna di atas dada telanjang pria itu.

Dion memutar posisi tubuh mereka dengan satu gerakan tangkas, membalikkan keadaan hingga kini tubuh mungil Mayang berada di bawah kungkungan tubuh besarnya yang kokoh. Sepasang mata abu-abu badai Dion menatap lekat-lekat wajah Mayang yang memerah padam dengan napas yang memburu cepat.

Tangan Dion bergerak dengan terampil menanggalkan jubah beludru merah Mayang yang kotor, menyisakan gaun putih tipis yang langsung menyembul memperlihatkan lekuk tubuh Mayang yang sensual di bawah remang cahaya kamar. Jemari kasar Dion merayap turun ke leher jenjang Mayang, menelusuri tulang selangka, lalu turun meremas lembut pinggang ramping gadis itu, menciptakan sengatan listrik dewasa yang membuat tubuh Mayang melengkung sensitif di atas ranjang.

"Kau tidak tahu seberapa besar aku menginginkanmu saat berada di dasar jurang maut itu, Cantik," bisik Dion dengan nada suara yang sangat dalam dan serak tepat di telinga Mayang, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat. "Jiwaku menolak mati hanya karena ingatan tentang kehangatan tubuhmu ini."

Mayang memejamkan matanya, sepenuhnya mabuk oleh aroma maskulin kayu pinus bercampur hawa hangat sihir Dion yang kembali membakar gairahnya. "Ambil aku, Dion... malam ini, buat aku melupakan seluruh ketakutan itu," rintih Mayang dengan suara yang terengah-engah, jemarinya meremas erat otot punggung tegap Dion yang kini mulai bergerak semakin berani menanggalkan sisa kain yang membatasi kulit mereka.

Penyatuan raga mereka malam itu terasa jauh lebih intens, liar, dan penuh gairah yang menuntut dibandingkan fajar kemarin. Setiap sentuhan dan pergerakan Dion di atas tubuh Mayang dilakukan dengan ritme yang lambat namun menghujam dalam, seolah ingin menyegel kembali ikatan jiwa mereka yang sempat terkoyak oleh takdir. Desahan demi desahan sensual saling bersahutan memenuhi sudut kamar yang hangat, menembus pekatnya malam lembah yang penuh konspirasi.

Namun, tepat di tengah-tengah puncak pergolakan hasrat mereka yang kian memanas, sebuah getaran magis aneh mendadak muncul dari luar jendela kamar. Tato ular di lengan kanan Dion tiba-tiba memancarkan kilatan pendaran warna ungu gelap yang tidak biasa, beresonansi dengan detak jantung Mayang yang tengah dilingkupi cahaya emas. Ada sebuah rahasia baru dari kutukan darah klan kabut yang mendadak bereaksi negatif terhadap penyatuan intim mereka malam ini—sebuah reaksi yang berpotensi memicu bahaya yang jauh lebih mengerikan bagi raga Mayang jika mereka terus melanjutkan penyatuan tanpa batas ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!