Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik.
“Sshhtt… sh*t! kepalaku…” Sena mengerjap matanya beberapa kali, sambil memijat pelipisnya. Kepalanya terasa sangat berat dan terus berputar-putar –pusing sekali.
“Sudah bangun, tukan tidur?!”
Sena tersentak kaget, matanya langsung terbuka dan melirik ke arah temannya yang duduk di sebrangnya sambil mengangkat kedua kaki ke atas meja.
“Dit? Lo kok, di sini? ngapain?” kagetnya. Perlahan Sena bangun dan mendudukkan dirinya di sofa.
Aditya menghela panjang, lalu bangun dari duduknya. Dia berjalan ke dapur dan mengambil segelar air putih dan menyerahkannya pada Sena.
“Minum dulu, biar hilang mabukmu!”
Sena menurut, dia menenggak habis air yang diberikan Aidtya.
“Sorry, gue tidur di sini tanpa ijin Lo. Awalnya gue mau langsung pulang. Tapi Aruni kayaknya…kurang sehat. Gue khawatir ada apa-apa nanti, saat lo masih mabuk. Makanya gue standby di sini. Gue nggak ada maksud apa-apa, Cuma khawatir aja sama kalian berdua. Sumpah!” ucap Aditya meyakinkan.
Sena mengerutkan alis. Masih sedikit bingung dan belum bisa mencerna maksud ucapan Aditya.
“Apa tadi maksudmu…?” tanyanya dengan suara lemah.
Aditya duduk tepat di depan Sena, mencondongkan tubuhnya, “Aruni…” bisiknya sambil melirik ke lantai dua.
“Dia kayak kena serangan panik semalam… sewaktu kita pulang…”
Sena terdiam.
“Waktu gue tanya ada apa, dia nggak mau jawab dan mengunci dirinya di dalam kamar, sampai sekarang.”
Sena mengerutkan dahinya dan mendesah panjang\, “Sh*t! Sh*t! gobl*k banget gue!” Sena menjambaki rambutnya sendiri.
“Kenapa?” Aditya bingung.
Sena tak menjawab, dia bangun dari duduknya dan berjalan cepat menaiki tangga untuk menemui Aruni. Kepalanya masih berputar-putar –sebenarnya. Tapi tak dia pedulikan. Sena bahkan berpegangan pada pegangan tangga atau dinding-dinding kamarnya agar bisa tetap berdiri tegak dan berjalan cepat.
Dari belakang Aditya mengikuti –perlahan, hanya merasa khawatir saja dan akan memperhatikan pasangan pengantin baru ini dari jauh.
.
Tok. Tok. Tok.
“Aruni.. Ar… kamu di dalam?” tanya Sena sambil mengetuk pintu beberapa kali, namun hening, tak ada jawaban apapun dari dalam.
“Aruni… tolong buka pintu sebentar saja. Aku Cuma mau lihat keadaanmu..”
Masih hening.
Sena menoleh ke arah Aditya dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.
“Gimana? Mau gue bantu dobrak pintunya?” tawar Aditya sambil mendekat.
Sena tak menjawab. Dia masih berusaha membuka pintu yang terkunci dari dalam itu. Hendel pintu sudah dia putar bolak balik tapi tetap tak terbuka. Pintu pun sudah dia dorong beberapa kali tapi tetap tertutup rapat.
“CK! Ayo dobrak aja! Gemes gua!” kesal Adit sambl berusaha mnedorong bahunya untuk mendobrak pintu. Namun pintu itu tetap tertutup rapat.
“Lu bantu, monyet! Ngapain malah bengong!” kesal Adit.
Sena yang masih terlihat gugup, segera membantu Adit. Dua bahu kekar pria kepala tiga yang rajin nge-gym, tentu saja langsung mengalahkan pintu kayu yang tertuitup rapat itu.
Sena langsung berlari masuk, matanya memindai seluruh ruangan tapi tak melihat Aruni di sana. Ranjang masih rapih seperti tak tersentuh semalaman. “Di mana dia?” gumamnya mulai resah.
“Di mana Aruni?” tanya Adit yang ikut bingung karena tak menemukan istri sahabatnya itu.
Sena menelan saliva, matanya menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tiba-tiba dia teringat sesuatu..
"Ayahku... pecandu alkohol. Setiap malam dia pulang mabuk, kadang bawa teman-temannya yang juga mabuk. Rumahku kecil, Mas. Hanya dua kamar. Jadi aku dan Mama tidak punya tempat bersembunyi. Kadang kami tidur di kamar mandi kalau ayah sedang sangat marah."
“Astaga…” gumam Sena sambil melangkah cepat menuju kamar mandi.
Dengan perlahan dia membuka pintu yang sudah pasti terkunci dari dalam.
Sena mencoba mengetuk pelan, “Aruni.. kamu di dalam? Ini aku… maaf tentang semalam ya…”
Hening. Tak ada balasan dari dalam kamar mandi.
“Aruni?” panggil Sena –lagi. Dia juga mengetuk beberapa kali –pelan.
“Sht! Hah! Lu tuh! Kenapa jadi bego begini sih, Sena!” kesal Aditya. Dia berlari dan mendobrak pintu kamar mandi dengan kakinya. Pintu kecil berbahan PVC itu tentu saja langsung pecah dan berongga saat Aditya menendangnya dengan sekuat tenaga.
"Cepat Sena! Jangan kebanyakan bengong! Bego!” kesal Aditya yang lama-lama ikut panik. Dia jadi merasa bersalah karena mendiamkan saja kepanikan Aruni semalam.
Aditya benar-benar serba salah. Semalam dia tak berani mencecar Aruni bahkan bertanya lebih lanjut, dia takut dianggap kurang ajar karena bagaimanapun Aruni itu kan istri Sena.
Sena –yang sejak tadi dimaki-maki oleh aditya –menurut. Otaknya seperti membeku, tak bisa berpikir jika tak di arahkan oleh temannya ini. Entah ini karena efek alkohol atau karena Sena terlalu bingung sampai otaknya ikut nge-lag!
Sena masuk, dan tersentak kaget saat melihat Aruni tak sadarkan diri di dalam bathub yang kering. “Aruni!” pekiknya kaget.
“Sen! Aruni kenapa?”
“Badannya panas banget, Dit!” Sena menoleh pada temannya, tangannya menyentuh dahi Aruni yang terasa sangat panas. Bahkan wajah Aruni pun tampak kemerahan.
“Buruan bawa ke Rumah Skait! Gua antar! Cepat!” Adit segera berlari keluar kamar, menuju mobilnya dan mulai memanasi sang mobil yang semalaman nongkrong di halaman rumah Sena. Di belakangnya, Sena mberlari kecil mengikuti sambil membopong Aruni yang masih tak sadarkan diri.
Sena melirik wajah Aruni yang pucat, tubuhnya terasa sangat panas hingga Sena merasa seperti sedang membawa bara api bukan tubuh manusia lagi.
“Aruni… sayang… bertahan sebentar… pliss…” desisnya. Lalu buru-buru dia masuk ke mobil.
Mobil Aditya melaju cepat ke rumah sakit. Sena duduk di kursi belakang dengan Aruni terbaring di pangkuannya. Tubuh Aruni panas sekali, napasnya pendek-pendek, membuat Sena panik bukan main.
"Na, udah sampai!" seru Aditya.
Sena langsung menggendong Aruni dan berlari ke pintu IGD.
"Dokter! Tolong Istri saya!" teriak Sena.
Perawat dan dokter segera menyambut. Aruni dibaringkan di brankar dan dibawa ke ruang pemeriksaan. Sena mau mengikuti, tapi perawat menghalangi.
"Pak, tunggu di ruang tunggu. Kami akan tangani."
.
Beberapa menit kemudian, dokter keluar. Wajahnya serius.
"Bapak suami pasien?"
Sena berdiri cepat. "Iya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?"
Dokter membuka catatan. "Pasien mengalami demam sangat tinggi -40,2°C -yang menyebabkan kejang demam dan penurunan kesadaran. Kami menduga infeksi virus akut ditambah dehidrasi berat. Tekanan darahnya sangat rendah, dan detak jantungnya tidak stabil."
Sena merasakan dadanya sesak. "Apakah dia... apakah dia akan-"
"Tenang, Pak." Dokter menenangkannya. "Kami sudah mulai penanganan darurat. Kami berikan oksigen, infus cairan, obat penurun demam melalui IV, dan kami akan melakukan pemeriksaan darah serta EKG untuk memastikan tidak ada komplikasi lebih lanjut."
"EKG?"
"Pemeriksaan jantung, Pak. Hanya untuk jaga-jaga. Untuk sekarang, kami akan pindahkan pasien ke ruang observasi IGD agar bisa dipantau terus."
"Boleh saya melihatnya?"
"Untuk sementara, belum, Pak. Kami masih memasang monitor dan memberikan obat." Dokter tersenyum menenangkan. "Kami akan panggil Bapak begitu pasien stabil. Bersabarlah."
Sena menghela panjang, duduk di kursi besi yang ada di depan pintu ruang IGD. Tangannya saling meremas gugup.
“Aruni sudah ditangani dokter, tenang saja Bro!" Aditya menepuk pundak Sena beberapa kali mencoba menenangkannya.
Sena mengangguk, menunduk, dan menyangga kepalanya dengan tangan.
Seketika dia merasa menyesal. Menyesal karena tidak bisa menjaga Aruni dengan baik. Seharusnya dulu dia menolak pernikahan ini. Dari awal seharusnya Sena menolak Aruni. Karena dekat dengannya hanya membuat dirinya sendiri tersiksa.
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭