NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Tak lama kemudian, Aldirc datang membawa sekeranjang air bersih dan alat penyiram sederhana. Ia terhenti sesaat matanya tak sengaja tertuju pada Daxon yang masih duduk tenang dengan senyum tipis yang belum hilang. Aldirc mengusap matanya sekilas, merasa belum terbiasa melihat perubahan itu, lalu segera berjalan mendekat.

Sementara itu, tangan kecil Azalea sudah sedikit kotor terkena tanah, namun ia sama sekali tidak peduli. Ia menanam satu per satu dengan sangat teliti, bahkan sesekali menyanyikan lagu kecil yang tak terdengar jelas. Ketika merasa sedikit lelah, ia menoleh ke belakang dan mendapati Daxon masih menatapnya—tatapan yang tidak lagi kaku atau menuntut, melainkan lembut dan penuh perhatian.

Azalea pun melambaikan tangan penuh semangat. "Daxon! Lihat, sudah banyak yang tertanam rapi!" serunya riang.

Daxon bangkit perlahan dan berjalan mendekati pinggir tanah itu. Ia menunduk sedikit menatap barisan bibit yang tersusun rapi, lalu mengangguk pelan.

"Kau mengerjakannya dengan baik," ucapnya tenang. "Nanti jika sudah tumbuh, kau yang pertama kali boleh memetik hasilnya." lanjutnya

Di belakang mereka, para penjaga dan Aldirc saling pandang diam‑diam. Mereka makin yakin satu hal, sejak kehadiran Azalea, udara dingin yang biasanya menyelimuti kediaman yang sangat besar perlahan‑lahan mulai mencair dan berubah menjadi hangat.

Aldirc mendekat sambil menaruh keranjang air, lalu membungkuk rendah hingga suaranya hanya sampai di telinga Daxon saja, wajahnya serius.

"Daxon... ada kabar penting," bisiknya pelan.

"Kelompok pria bertopeng itu berasal dari lingkaran mafia gelap tapi aku belum tahu siapa tuannya. Mereka bekerja sama dengan ibumu untuk menculik Nona Azalea."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih berat.

"Kemarin malam mereka sudah berusaha menyusup namun gagal menculik Azalea. Tapi saya menduga mereka tidak akan berhenti, kemungkinan besar mereka akan kembali lagi, mungkin malam ini atau kapan saja, karena perintah dari ibumu belum terpenuhi." ucap Aldric menjelaskan.

Senyum tipis di wajah Daxon lenyap seketika, berganti menjadi dingin dan mengerikan. Matanya tetap menatap punggung Azalea yang masih sibuk dan ceria, namun udara di sekelilingnya terasa makin berat dan menekan.

"Jadi dia yang bergerak di balik layar..." gumam Daxon dengan suara rendah yang penuh ancaman. Ia mengepalkan tangan erat. "Kemarin mereka gagal. Kali ini... biarkan mereka datang kembali. Aku akan memastikan bahwa kegagalan itu menjadi akhir dari segalanya bagi mereka semua."

Daxon menoleh sedikit ke arah Aldirc, tatapannya tajam seperti baja. "Perkuat penjagaan dua kali lipat di setiap sudut, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Biarkan mereka masuk jika berani—tapi pastikan tidak ada satu pun yang bisa melangkah keluar lagi, apalagi menyentuh ujung rambut Azalea." perintah Daxon.

Di dekat sana, Azalea sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengintai. Ia masih tertawa kecil saat menyiram bibit tanaman, hatinya penuh kedamaian, tanpa tahu bahwa Daxon kini telah menjadikan dirinya benteng paling kuat untuk melindunginya.

Ingatan kelam itu tiba‑tiba melintas tajam di benak Daxon, seolah kejadian itu baru saja berlangsung kemarin.

Ia masih ingat betul saat itu ia masih kecil. Ia bersembunyi tak jauh dari situ, sedang bermain sambil menunggu ayahnya yang ramah dan hangat memanggil‑memanggil namanya dengan nada lembut. Namun saat ayahnya lengah, ibunya datang diam‑diam dari belakang dengan pandangan yang kosong dan mengerikan, lalu melakukan hal yang tak terbayangkan—mengakhiri nyawa ayahnya sendiri begitu saja.

Di balik tempat persembunyiannya, dada kecil Daxon terasa sesak hebat. Matanya penuh air mata yang siap meluap, napasnya tertahan berat, namun ia menggigit bibirnya sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun—ia takut jika ketahuan, ia pun akan bernasib sama. Ia memaksakan diri untuk tidak menangis, meski hatinya terasa hancur berkeping‑keping.

Saat itu juga ia terpaku kaku, menyaksikan bagaimana ibunya dengan dingin dan tanpa rasa bersalah menyeret tubuh ayahnya yang sudah tak berdaya menjauh, menghilang dari pandangan. Sejak detik itulah, Daxon belajar untuk mengunci perasaannya rapat‑rapat, membiarkan rasa dingin dan ketakutan menjadi dinding pelindung yang tak tertembus sampai bertahun‑tahun lamanya.

Kini, saat ia menatap Azalea yang polos dan ceria, kenangan pahit itu justru membuat tekadnya makin keras—ia tidak akan membiarkan ada kejahatan, pengkhianatan, atau darah yang menimpa Azalea sama seperti yang pernah ia saksikan dan rasakan dulu.

Daxon mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku‑jarinya memutih, urat‑urat di lengannya menegang menahan amarah yang meluap. Di dalam hatinya, sumpah serapah dan tekad bulat menyatu menjadi satu.

"Dulu kau dengan dingin membunuh ayahku sendiri... dan sekarang? Kau berani bergerak lagi, bahkan mengincar sosok yang kelak akan menjadi ibu bagi anak‑anakku? Kau bermimpi saja jika mengira bisa mengulangi kekejaman itu. " batin Daxon.

Matanya yang tadi masih sedikit lembut, kini berubah tajam dan dingin tak bertepi—sama sekali tidak lagi seperti saat menatap Azalea. Ia bersumpah dalam hati, tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang, dan tidak akan membiarkan tangan yang sama yang pernah merenggut kebahagiaannya dulu, kini menyentuh sedikit pun kebahagiaan yang baru ia temukan.

...****************...

Siang pun tiba. Azalea berjalan menuju ruang kerja tempat Daxon. Ia sendiri tak mengerti, mengapa hatinya selalu ingin berada dekat dengan Daxon—namun setiap kali pandangan mereka bertemu terlalu lama, timbul rasa mual yang aneh di dalam dirinya.

Tok! Tok! Tok!

"Daxon, apakah kau sibuk?" tanya Azalea dari balik pintu.

"Masuklah," jawab suara Daxon dari dalam.

Pintu pun terbuka. Azalea melangkah masuk dan melihat Daxon sedang duduk di sofa, di depannya Aldric serta tiga pria berjas hitam yang berwibawa dan gagah. Ia berjalan mendekat lalu duduk tepat di sisi Daxon, sementara pria itu hanya bersikap tenang seolah kehadirannya sudah ia tunggu.

"Sayang..." bisik Azalea pelan.

Seketika wajah Daxon tertutup tangan, tersipu malu yang tak ia sangka akan dirasakannya. Hatinya berdebar kencang seolah hendak melompat keluar hanya mendengar satu kata itu. Aldric dan ketiga anak buahnya hanya terpaku diam, tak bergerak sedikit pun melihat tingkah laku Tuannya yang jarang terlihat.

"Kau diamlah sebentar, aku masih harus menyelesaikan urusan," ucap Daxon berusaha tegas, namun matanya tak lepas menatap Azalea.

"Baiklah, baiklah... aku diam saja," jawab Azalea sambil bergeser hendak menjauh dari Daxon.

Namun tangan Daxon segera menahan lengannya agar tak bergerak pergi. "Siapa yang mengizinkanmu menjauh dariku?" tanyanya, tatapan matanya kini tajam menembus manik mata gadis itu.

"Memang kenapa? Aku berhak menjauh kalau mau. Lagipula... aku lebih suka dengan dia," jawab Azalea sambil menunjuk salah satu anak buah yang bernama Zain.

Zain yang menjadi sasaran telunjuk itu langsung merasa nyawanya terancam. Saat ia menoleh sekilas, ia mendapati tatapan tajam Daxon tertuju penuh tekanan kepadanya. Ia menelan ludah dengan susah payah.

"Ya Tuhan... tolong selamatkan aku dari pandangan yang seakan membawa kematian ini, "jerit hatinya.

"Lagipula... dia jauh lebih tampan darimu," tambah Azalea sambil menoleh lagi ke arah Daxon.

Kalimat itu membuat darah Daxon mendidih seketika. Wajahnya memerah menahan amarah sekaligus rasa cemburu yang meluap, seolah perasaannya akan meledak kapan saja.

"Ya Tuhan... tamatlah riwayatku, batin Zain yang kini ingin menangis. " dalam diam.

Tanpa kata lain, Daxon langsung menarik tubuh Azalea makin erat ke dalam pelukannya di atas sofa, lalu mencium bibir gadis itu dalam dan penuh rasa memiliki. Ia melumatnya seolah ingin menghapus setiap kata yang baru saja terucap. Aldric dan ketiga anak buahnya terkejut luar biasa, serentak memejamkan mata rapat‑rapat karena tak berani menyaksikan pemandangan yang begitu pribadi dan berapi‑api itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!