NovelToon NovelToon
MENGHILANG

MENGHILANG

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Lukis Senja

Bagaimana rasanya jika kau menyukai sahabatmu sendiri, namun saat sahabatmu tahu, dia malah pergi menjauh? Apa yang akan kau lakukan?

Itu yang terjadi pada Veli. Gadis remaja yang baru mengenal cinta dan menyukai sahabatnya sendiri, yaitu Fikri.

Mereka bersahabat sejak kecil sampai mereka beranjak dewasa. Sebagai gadis normal lainnya, Veli mulai mengenal kata cinta dan orang yang pertama kali dia sukai adalah Fikri.

Disaat yang sama, Fikri juga mengenal jatuh cinta. Tapi orang yang dia cintai bukanlah Veli, melainkan Mia.

Bagaimana kelanjutan kisah cinta segitiga antara ketiga remaja tersebut?

Saksikan ceritanya di sini..

Menghilang.

❗Akan segera dirilis, ayo buruan BACA sebelum diHAPUS❗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 19

"Fikrii!!" teriak gadis itu dari kejauhan.

Di sebut namanya, sang pemilik langsung menoleh kearahnya. "Eh beb," ucapnya seraya tersenyum.

"Bii, huhu~" Mia langsung memeluk Fikri sambil menangis.

"E-eh? Kenapa?" tanya cowok itu khawatir.

"Nih liat, tangan aku kecakar Emma gara-gara Veli, huhu~"

Fikri terbelalak. "Ha?"

"Iya bii. Tadi juga di kelas aku di buat malu sama Farid gara-gara Veli juga, terus tadi aku di panggil ke ruang guru. Padahal Veli yang nyelengkat aku~" jelas Mia sambil merengek lalu ia memeluk pacarnya itu, sedangkan Fikri masih tidak percaya.

Fikri menyernyit. "Gara-gara Veli?" sedangkan Mia hanya mengangguk di pelukannya.

Veli? Gak mungkin, gue gak percaya semua gara-gara dia. Tapi gue juga gak percaya kalo Mia bohong.

Farid juga, ngapain dia bikin pacar gue nangis, tapi apa bener gara-gara Veli juga?

Mia tersenyum puas di pelukan pacarnya itu. Suatu yang menyenangkan akan terjadi gak lama lagi. Hehe, rasain lo Vel!

"Beb, aku ke Farid bentar ya. Kamu sama temen temen kamu dulu ya," ucap Fikri sambil memegang tengkuk Mia dengan perhatian. Mia hanya mengangguk tersenyum sendu.

Fikri pun pergi dengan berlari menuju kelas Farid, sedangkan Mia tersenyum puas dan melenggang pergi menuju kelas temannya.

...'''...

Fikri berjalan kasar memasuki kelas itu, dan matanya langsung mencari keberadaan Farid. Sial! Dia tidak menemukannya, ia lalu mendengus kasar, lalu ia berlari kearah lapangan basket yang biasanya tempat Farid bermain bersama kawan basketnya.

Ia terus mencari Farid sambil menahan emosi, enak saja membuat pacarnya menangis karena di permalukan.

Fikri akhirnya melihat Farid di lapangan, ia langsung berlari dan menarik kerah Farid. "Heh maksud lo apaan buat Mia nangis!? Lo malu maluin dia di kelasnya ha!?" bentaknya.

Farid langsung mencekal tangan Fikri yang menarik kerahnya. "Apaan maksud lo! Lepas! Punya attitude gak kalo ngomong!?"

Fikri langsung melepas cengkramannya.

"Apa maksud lo ngomong gitu?" tanya Farid dengan tenang.

Emma dan Veli yang melihat itu langsung saling tatap tatapan. "Buat ulah apa lagi sih tuh mak lampir! Udah gak waras kali!" pekik Emma sambil membanting bola basket itu sampai melayang.

Veli langsung menangkap bola itu. "Ayo kita ke sana, gara-gara dia pasti semua salah paham." Veli bergegas mendekati kedua cowok itu.

"Ya karena emang Veli gak nyelengkat dia, gue liat sendiri dengan mata gue, Fik!" pekik Farid geram.

"Apa buktinya hah!? Dia sampe nangis nangis gitu tuh! Apa gak kasian sama dia!?" bentak Fikri tak kalah marah.

"Heh, Fik! Lo apa apaan sih!" desis Emma sambil mendorong Fikri.

"Stop dong! Cuma gara-gara itu kalian ribut," bentak Veli seraya menyernyit heran.

"Cuma? Kata lo cuma!? Liat Mia, dia sampe malu gitu gara-gara lo berdua!" pekik Fikri. Farid sudah tidak tahan lagi.

"Dia emang enggak nyelengkat Mia, gue saksinya. Sekelas juga pada tau kali kalo pacar lo tuh bejat! Dia yang salah dia juga yang sok lemah! Jangan sekali kali lo bentak Veli tau gak!" Farid marah besar, bola basket di tangannya langsung di banting ke sembarang arah.

"Gue gak nyelengkat dia Fik," ucap Veli lirih. Tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Fikri.

"Lo tuh buka mata lo Fikriii, apa lo gak liat tadi pagi Mia ngelakuin apa sama Veli? Dia ngeroyokin Veli, sampe Veli di jambak jambak. Apa lo gak liat!? Untung gue ngebantu dia, liat...kancing bajunya aja lepas, ya karena ulah cewek lo itu!" jelas Emma membara bara, sampai kapan Fikri membuka matanya? Apa karena Mia cantik saja?

Fikri tidak percaya. "Apa buktinya kalo Mia ngelakuin semua itu ha!?"

Farid mendengus kesal. "Semua orang juga tau Fik, di kelas juga tau kalo Mia bohong. Di lapangan juga pada ngeliatin pas Mia ngeroyok Veli. Lo kemana aja emang, makanya buka mata lo!" pekik Farid geram.

"Gini deh, sekarang gue tanya. Lo punya bukti gak kalo Mia gak salah?" Fikri hanya terdiam, memikirkan semuanya.

"Ada gak, gua tanya?!" tanya Emma lagi berusaha tenang. Fikri hanya diam saja, dengan napas gusarnya.

Sesaat semuanya terdiam mendengar ucapan Emma. Mereka berempat terdiam di tengah lapangan di sertai daun kering yang berguguran. Setetes air mata jatuh dari ujung mata Veli, akankah Fikri percaya lagi padanya. Fikri pun pergi tanpa menjawab. "Lo percaya gue kan Fik?" tanya Veli menahan tangis, ia berhenti sesaat lalu lanjut berjalan meninggalkan. Daun daun berjatuhan seakan melambangkan persahabatannya yang terancam gugur.

...'''...

Fikri duduk dibangku di samping dinding kelas, sambil memandangi pohon-pohon dengan daun yang kering sehingga warnanya orange.

Gue bingung, harus percaya siapa.

"Lo percaya gue kan Fik?"

Gue percaya Veli, tapi Mia? Gue bingung.

Veli diam diam memandangi Fikri, air matanya berlinang dan jatuh begitu saja. Dadanya sesak, kenangan yang dulu terputar di kepalanya, di mana semuanya baik baik saja, di mana semuanya hanya penuh tawa.

Bermain bersamanya, bermain gitar dan bernyanyi bersama semua sahabatnya, menaiki gunung, membuat api unggun, dan juga.., sebelum penyakit ini datang. Semuanya sangat terasa indah sebelum semuanya berubah.

Akhirnya Veli menumpahkan air matanya, menangis diam diam tanpa suara, tapi di samping itu dia harus tersenyum, membuat kenangan indah lagi sebelum dia pergi, mungkin untuk selama lamanya. Dengan cepat ia menghapus air matanya, dan pelan pelan mendekati Fikri, si sahabat kecilnya itu. Ia duduk di sebelahnya, masih saja Fikri tidak menyadarinya.

"Gue pengen kita kayak dulu Fik," ucap Veli sambil tetap menatap ke depan.

Fikri mendongak dan menoleh ke arahnya, begitu pun juga Veli yang tersenyum miris. Tetap saja tidak bisa di tahan air matanya, sungguh tidak bisa tertahan rasa sesaknya.

"Gue pengen...kita kayak dulu." ucapnya lagi. Lalu Fikri menatap lagi ke arah pohon yang gugur itu.

"Pas lo ngepangin rambut gue, lo yang lari duluan di depan gue, lo yang suka curang kalo main, haha~" di saat yang bersamaan Veli menangis namun tertawa.

"Pas lo beliin gue tahu bulat, pas lo suka ngeledekin gue, buat gue sering nangis gara gara lo ngambil kue gue. Gue dulu suka di buat nangis sama lo," Fikri menatapnya sekarang. Masih sama Veli menceritakan semuanya sambil menangis dan tersenyum secara bersamaan.

"Dan juga tentang persahabatan kita yang seru, ketawa bareng, bercanda, naik gunung sama-sama. Haha, lucu hiks~. Apalagi pas Jen nyanyi, suaranya jelek banget, tapi dulu gue tetep seneng Fik. Karena ada lo, karena ada mereka, buat api unggun. Gue pas itu bahagia banget Fik. Dan lucunya gue jatuh cinta sama lo, diem diem natap lo, setiap hari rasanya pengen ketemu." Veli tersenyum miris, Fikri hanya diam bergeming mendengarkan semuanya sambil menatap Veli.

"Tapi, sejak semuanya berubah, gue jadi merasa...perasaan gue ini salah, gak seharusnya gue jatuh cinta sama lo, hiks~ saat lo nembak Mia, perasaan gue hancur Fik sampe sekarang. Tapi gue berusaha diem, gue berusaha buang perasaan ini demi persahabatan kita. Tapi gak bisa. Gue sakit Fik, gue merasa hampa pas itu, persahabatan kita juga perlahan kerasa menghilang. Dan gue rasa...gue harus ngasih tau semuanya ke lo, sebelum semuanya hilang, tapi ternyata salah, gue salah, hiks. Ternyata dengan gue ngungkapin semuanya, gue merusak persahatan ini. Gue...merasa semua perasaan yang gue rasain salah, gue takut kehilangan lo tapi gue-" Veli tidak kuat dan menangis tersendu sendu sambil tersenyum sesaat.

"persahabatan kita kerasa rusak, Fik. Semua gara-gara gue~ hiks. Gue pengen kita kayak dulu lagi Fik, saling percaya, ketawa bareng. Tolong, bantu gue ngembaliin semuanya Fik!" Veli menutup wajahnya dan menumpahkan air matanya yang tumpah tidak terbendung.

"Bantu gue Fik~" Veli menarik sedikit lengan jaket Fikri. Fikri menatapnya sendu, merasa semuanya benar. Inilah sahabatnya.

Veli mengusap air matanya yang membasahi pipi. Ia menarik napas, air matanya berlinang lagi di bawah mata. "Atau...gue janji Fik, gue bakal berusaha gak jatuh cinta sama lo. G-gue berusaha-" ucapannya tertahan. Menahan semua air mata dengan senyuman.

"Gue berusaha ngilangin semua perasaan ini buat lo, rasa suka ini, rasa kagum ini, semuanya. Gue berusaha ngilangin semuany-hiks t-tapi janji-" Veli menunjukan jari kelingkingnya.

"Lo, gue. Kita, sahabatan lagi. Kayak dulu, dan gak ada rasa cinta di antara-hiks kita~a huhuhu~" Veli menangis sejadinya karena ucapannya itu, dia tahu dia tidak mampu. Fikri tanpa sadar membendung kesedihan setelah mendengar ucapan Veli.

Ia memeluk Veli yang menangis, suara tangisan itu membuat hati Fikri hancur. Terdengar sangat menyakitkan di hatinya, sahabatnya menangis karena perasaan untuknya.

Rasa bersalah, sedih, semuanya menjadi satu. "Hiks, l-lo janji kan~" ucap Veli di pelukan Fikri.

"Gue janji Vel. Maaf selama ini gue udah nyakitin lo, gue gak tau perasaan lo. Maaf~" Fikri mendekapnya, Veli hanya terus menangis saja. Selama ini ia butuh dada untuk bersandar dan menceritakan semua ceritanya. Fikri mengelus kepala dan punggungnya, ia harap menghilangkan rasa sakit yang ada karenanya.

"Maaf Vel,"

.

.

.

.

.

To be continue

1
Nani Desmiwati
Sedih
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
elf
kirain beli bakal mnghilang lama bwt berobat... smpe mmbuat hati Fikri hampa... trnyata menghilang mati... sesek banget hatiku... bnr² g rela.... jahat kamu Thor... 😭😭😭😭
elf
emang di komik ini semua karakter di bikin bego kali ya???? d rekam kek... gimana kek... begonya kelewatan!!!!
FUZEIN
Kan dah kena tampar..sibuk lagi hal orang
Humanoid
Seruu..
Desy YucheNeisya Ndun
nyesekkk bangettt
Desy YucheNeisya Ndun
tenang d sana Veli😭😭😭😭
Yohana Putri
trimakasih..
karyax bagus...
walaupun sad ending, bikin nangis bombai tp puas ma endingx...
g nggantung, smua clear...
smangat selalu buat othor...
Forta Wahyuni
ini x crita asli author yg merasa menyesal, sbenarnya Mia itu author sendiri n jd dibuat peran veli bego pake kebangetan.
Forta Wahyuni
Thor, loe buat peran cew-nya terlalu bego dan GK pnya harga diri. gunakan akal jgn oon x, pnya hp GK digunakan n yg nulis crita bego jg.
Forta Wahyuni
maaf Thor, jalan critanya bertele2, ntah alurnya kemana n padahal ada hp koq GK digunakan cari bukti. memang susah buat ngarang crita, tapi GK sep ini jg n lebay banget pemerannya bin oon.
Gahara Rara
eh busettt... puasa niihhh ..nangis dah ihhh
Gahara Rara
your superman 😢😢😢😢
Iis Anisa Wati
iyah jadi ingat masa2 sekolah dulu....
Fa Rel
karakter veli oon ampun gua kesel baca novel lu thorr
Fa Rel
fely oon
BINTANG PENGHACUR
mia
Mery Kate
fix veli oon ga ketulungan dah
Mery Kate
bego amat s veli and lebay sok ngurusin fikri yg gazevo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!