Volume 1- End
Seorang anak perempuan mencoba mewujudkan cita-citanya untuk menjadi agen rahasia. Sifatnya yang sedikit dingin menjadi daya tarik tersendiri untuk orang lain.
kebiasaannya yang lebih menyukai kesendirian dan tak suka suara bising bertentangan dengan resiko menjadi agen rahasia yang mana hari-harinya akan di penuhi serencengan peluru yang memekakkan telinga.
Pertemuan secara tak sengaja dengan agen CIA yang melihat kemampuannya dalam menganalisa sesuatu mampu menarik perhatian salah satu agensi paling terkemuka di dunia.
Pelatihan keras dengan gaya militer yang ia jalani berhasil membuatnya menjadi wanita tangguh dan kuat. Berbagai latihan baik fisik maupun mental terus ia tekuni untuk menggapai apa yang ingin ia penuhi.
Berbagai pertarungan hidup dan mati harus di hadapinya setiap kali menjalankan misi. Menemukan banyak misteri dan teka-teki dengan berbagai petualangan terus membuka matanya agar lebih mengenal dunia.
Warning!!!!
Di beberapa chapter akan ada adegan kekerasan. Mohon tanggapi ini dengan bijak.
Note:
Bukan novel terjemahan. Di larang menjiplak.
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EijEnEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Training
Setelah pelajaran di universitas CIA selesai, sesuai dengan yang di katakan Myra, Chelsea akan pergi berlatih ke Federal Law Enforcement Training Center (FLETC) di Glynco, Georgia yang merupakan latihan paling umum untuk agent CIA. Jarak yang di tempuh dari Langley, Virginia adalah ±9 jam 15 menit lewat jalan tol untuk menempuh perjalan sejauh 645 mil. Di sana Chelsea akan belajar investigasi, kualifikasi senjata api, kebugaran fisik, dan lainnya.
Saat dia sampai di sana, Chelsea langsung menuju meja resepsionis lalu menunjukkan kartu yang di berikan Myra sebagai tanda bahwa dia calon agen CIA yang akan di latih disini. Resepsionis itu lalu menyuruh seseorang untuk mengantarkan Chelsea ke sebuah kamar untuk beristirahat.
Di hari pertamanya dia akan di latih untuk kebugaran fisik mulai dari latihan dasar seperti berlari mengelilingi lapangan, push up, sit up, dan lainnya. Saat sudah di lapangan, seorang komandan lelaki yang sudah selesai melatih, menghampirinya.
"Siapa namamu?" suara tegas itu terdengar jelas oleh telinga Chelsea.
"Chelsea." ucapnya sambil menatap lelaki itu.
"Umur?"
"19 tahun."
Lelaki itu tersentak kaget saat mendengar ucapan Chelsea, dia memandangnya tajam.
"Siapa orang yang mengirimmu untuk berlatih kemari?" tanya nya untuk kesekian kali.
"Nyonya Myra." lelaki itu menaikkan alisnya sambil menatap Chelsea dari atas sampai bawah.
"Kau yakin ingin menjadi seorang agent? Dengan parasmu itu kau cocok untuk menjadi model." ucapnya saat menyadari bahwa paras Chelsea di atas rata-rata.
"I am sure of my decision." Chelsea berkata dengan sorot mata tajam yang menandakan dia serius dengan ucapannya.
"Baiklah lanjutkan latihanmu." ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkan Chelsea yang terlihat mengangguk dan mulai bergabung dengan yang lainnya.
Lelaki itu lalu pergi ke suatu tempat yang lebih sepi. Saat sudah lebih jauh dari arah latihan, dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Myra apa kau tak salah memilih orang?" ucapnya saat sudah tersambung dengan Myra.
"Memangnya kenapa?"
"Umurnya masih di bawah persyaratan. Bagaimana kau bisa langsung menerimanya? Dia bahkan lebih cocok menjadi seorang model."
"Kau salah Duke, parasnya itu bisa menipu siapapun, dia adalah orang yang selalu ku ceritakan padamu, analisis dan pengamatannya luar biasa." ucap Myra.
"Jadi dia yang selalu kau ceritakan itu? Baiklah aku akan melatihnya sendiri, namun jika dia tak seperti apa yang kau ucapkan, maka jangan salahkan aku jika dia keluar dari sini." ucapnya tegas.
"Silahkan saja namun aku yakin bahwa dia bisa menjalani latihannya dengan baik."
Sambungan telepon pun terputus, dia kembali melihat Chelsea dari jauh dengan sorot mata tajam. Lelaki itu bernama Duke Hagley, suami dari Myra Delvina yang merupakan salah satu komandan FLETC. Pria yang sekarang berumur 47 tahun itu bertugas melatih siapa saja yang ingin berlatih di Federal Law Enforcement Training Center.
Saat esok hari Duke tampak datang ke meja resepsionis untuk mengatakan pada Chelsea agar menemuinya di ruangannya. Dia benar-benar penasaran dengan kemampuan Chelsea yang selalu di katakan oleh istrinya itu. Tak lama pintu ruangannya di ketuk lalu munculah Chelsea yang memasuki ruangannya. Dia memberi tanda agar Chelsea duduk.
"Sekali lagi aku tanya padamu, kau yakin ingin menjadi agen?" tanyanya.
"Yes sir." jawab Chelsea
"Kau bicara dengan begitu yakin, aku cukup kagum dengan tekadmu itu. Perlu kau tahu menjadi agen rahasia bukan pekerjaan mudah bahkan itu bisa membahayakan nyawamu. Hari-harimu akan di penuhi dengan suara rencengan peluru yang memekakan telinga." ucap Duke sambil mengetuk-ngetukkan tangannya pada pegangan kursi.
"Aku yang akan melatihmu langsung, jadi mulai sekarang kau akan berlatih di bawah komandoku." ucapnya lagi dan Chelsea mengangguk mengerti.
"Yes sir, i understand." ucap Chelsea sopan.
"Sekarang pergi ke lapangan." sahut Duke dan Chelsea pun berdiri lalu melangkah pergi.
2 bulan Chelsea disana, hari-harinya terus di habiskan untuk melatih fisik. Dia juga di ajarkan beladiri dan di latih layaknya di studio muay thai. Latihan berikutnya yang ia jalani adalah belajar menembak tepat sasaran setelah di perkenalkan dengan beberapa jenis senjata dan fungsinya barulah mulai belajar menembak.
"Saat kalian menembak percayalah pada kemampuan kalian sendiri. Yakini apa yang kalian anggap benar. Bukan jenis ataupun tipe senjata yang menentukan tembakan tapi diri kalian sendiri. sebagus dan seberbahaya senjata apapun, akan lebih mematikan jika di pakai oleh seorang yang bisa menyesuaikan dengan senjata itu sendiri. Jadi belajarlah menyesuaikan senjata dengan diri kalian masing-masing." ucapan seorang mentor yang melatihnya dalam bidang senjata terus terngiang-ngiang di kepalanya saat Chelsea berada di ruang latihan tembak.
"Ambil pistol-pistol itu dan masukkan peluru ke dalamnya lalu tembak pada papan sasaran!" teriak Duke pada Chelsea dan lainnya yang terlihat berjumlah sekitar 8 orang itu dan praktis membuat gadis itu beranjak dari dudukannya.
Merekapun mulai mengambil pistol kosong itu lalu memasukkan peluru di dalamnya, semua orang terlihat gugup saat harus memikirkan bagaimana caranya mengisi peluru pada pistol namun tidak dengan Chelsea, dia yang sudah banyak belajar bisa menghadapi ini dengan tenang.
Perlahan, diambilnya pistol itu lalu diisinya dengan peluru dan mulai memposisikan diri sesuai dengan jarak-jarak yang sudah di tandai. Dia menghela nafas pelan dan mulai membidik sasarannya.
Ketenangan yang Chelsea perlihatkan menarik perhatian yang lainnya termasuk Duke. Dia memang sudah melatih Chelsea selama satu bulan dan gadis itu tak pernah mengeluh sama sekali. Chelsea selalu menghadapi situasi dengan tenang, daya tangkapnya yang kuat membuat dia selalu mengingat semua perkataan pelatih yang melatihnya.
Dor....dor...dorr
Terdengar suara tembakan yang ritmenya cukup teratur, semua orang lalu mulai melihat sasaran pada papan tembak. Duke menaikkan alisnya saat melihat nilai yang Chelsea peroleh dari jarak sekitar 5 meter itu. Hasilnya cukup mengejutkan, walau belum benar-benar tepat, namun setidaknya nilainya itu tak kurang dari angka 7.
"Dia selalu menyikapi apapun dengan tenang, sepertinya benar apa kata Myra." batin Duke sambil melihat Chelsea yang melanjutkan membidik sasarannya. Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ya hallo." ucap Duke
"Bagaimana hasil latihannya? ini sudah satu bulan lebih." sahut Myra dari telepon.
"Hmm perlu ku akui kemampuannya di atas rata-rata, dia sudah mulai bisa menembak meskipun sasarannya belum tepat. Jika dia sudah benar-benar terbiasa dengan senjata-senjata itu, aku tinggal membawanya ke TKP untuk melatih anlisisnya." ucapnya menjelaskan. Terdengar suara kekehan kecil dari Myra.
"Ini baru 2 bulan lebih 17 hari dan dia sudah mulai bergulat dengan papan tembak, kini kau pasti menyadari kemampuannya." ucap Myra sambil memutuskan sambungan teleponnya. Duke lalu menghampiri Chelsea dan menepuk pundak gadis itu.
"Kau membuatku kagum, beristirahatlah sebentar lalu lanjutkan lagi kau sudah cukup lumayan dalam hal menembak." ucapnya dan Chelsea pun mengiyakan lalu pergi dari ruang latihan.
"Yang lain silahkan lanjutkan, jika kalian sudah bisa mencapai sasaran di atas angka 6 kalian boleh istirahat!" teriak Duke pada ke 7 orang itu.
▄︻̷̿┻̿═━一
The Federal Law Enforcement Training Center ( FLETC ) berfungsi sebagai antar penegak hukum tubuh pelatihan untuk 105 pemerintah Amerika Serikat badan-badan penegak hukum federal. Misi FLETC adalah untuk melatih mereka yang melindungi Amerika Serikat, juga memberikan pelatihan kepada lembaga penegak hukum negara bagian, lokal, kampus, suku, dan internasional. Melalui Lembaga Perpolisian Pedesaan (RPI) dan Kantor Pelatihan Lokal dan Negara Bagian, ia memberikan pelatihan gratis dan berbiaya rendah untuk lembaga penegak hukum negara bagian, lokal, kampus, dan suku.