Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23. Emil Memberanikan Diri.
Para siswa kelas 4a kini sudah berada di depan tiang bendera. Mereka semua ditambah seorang siswa berbadan besar saat ini sedang menghormat kepada bendera Merah-Putih yang berkibar dengan gagahnya dIatas tiang tertinggi.
Beberapa saat sebelumnya...
Emil akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan Adun, siswa nakal berbadan besar itu.
"Ya sudah, baiklah. Kalian jangan bertengkar lagi. Aku yang akan menanyakan bang Adun." ungkap Emil dengan penuh perasaan campur aduk antara: berani, takut atau hanya berusaha agar Naina dan Souleh tidak bertengkar lagi dan juga agar bola kasti dapat segera ditemukan sehingga mereka dapat bermain kembali serta terhindar dari hukuman dari Pak Slamet guru olahraga mereka itu.
Naina masih saja mencoba mencegah Emil, namun Emil sudah berjalan menuju keberadaan Adun, sedangkan Souleh dan teman-teman yang bersama-sama dengannya di tempat itu berusaha menghalangi.
Naina tetap saja berusaha keras untuk mencegah atau setidak-setidaknya mendekati keberadaan Emil, namun tidak berhasil sehingga terjadi dorong mendorong. Sayangnya Emil sudah tiba di tempat tujuannya.
Emil di dalam hatinya, jujur sangat ketakutan sekali dan tentunya ragu untuk melakukannya, namun pertengkaran antar temannya memaksa dirinya harus segera bertindak.
Emil tidak ingin pertengkaran tadi semakin membesar, sehingga harus segera diselesaikan.
Emil melihat Adun sedang duduk santai sambil memegang kayu kecil seolah-olah sedang memainkan sesuatu. Emil terdiam sejenak memikirkan apa yang harus dikatakannya.
Adun yang semula berpura-pura memainkan sesuatu sambil bersiul-siul, sedikit menghiraukan keberadaan Emil. Dia tetap saja asik dengan kegiatannya.
Emil didalam hatinya saat ini dipenuhi berbagai pertanyaan yang menggerogoti pikirannya. Keraguan memenuhinya.
"Apa yang sedang aku lakukan?
Mengapa aku sampai senekad ini?
Oh Tuhan,, apa yang sebaiknya aku katakan?
Bantulah aku Tuhan!" Runtuk Emil dI dalam hati.
Emil yang sudah kepalang tanggung, walaupun di penuhi kebimbangan.
Hidupnya bagaikan memakan buah simalakama, maju akan di sakiti, mundur kehilangan harga dIri,
Sesaat Emil masih mendengarkan suara Naina samar-samar sebab Naina sedang berada ditempat yang tidak terlalu jauh dari dirinya,
Emil dipenuhi bayangan dan ucapan Souleh sesaat yang lalu dan juga bayangan pertengkaran Naina dan Souleh.
"Sudah tidak bIsa mundur lagi, aku harus segera menyelesaikan tugas ini, demi kalian teman-temanku!" seru Emil di dalam hati, berusaha menguatkan tekadnya.
Emil kembali melangkahkan kakinya, bak seorang pejuang menuju medan pertempuran, semakin mendekati keberadaan Adun.
Saat sudah berada di dekatnya, Emil menarik napas panjang berusaha menenangkan hatinya yang dI penuhi debaran genderang perang dipukul bertalu-talu dengan ritme kencang sekali.
"Maaf bang! Abang sedang berbuat apa di sini?" tanya Emil dengan sopan, membuka pembicaraan.
Adun tidak segera menjawab, dia hanya melirik sedikit lalu kembali berpura-pura sibuk dengan kegiatannya.
Setelah beberapa saat Adun tidak menjawab, Emil kembali menarik napas panjang dan mengumpulkan keberaniannya seperti baterai handphone awalnya lowbath dicolok charger, lalu bertanya
"Bo... boleh saya bertanya, Bang?" tanya Emil kembali terbata-bata. Emil khawatir kalau sampai Adun marah.
Adun semula berpura-pura tidak mempedulikan Emil, kini merasa sudah tidak dapat tidak mempedulikannya lagi.
Namun Adun hanya mengeluarkan suara, "Em..?" setingkat itu.
Emil semakin merasa gusar dan ragu, sebab detak jantungnya sudah semakin bertambah cepat. Ingin rasanya Emil segera pergi, berlari menjauh dari tempat itu, namun waktu berkata lain, waktu seolah-olah berjalan sangatlah lambat sekali.
Emil sudah tIdak dapat mundur lagi, dia merasa sudah kepalang tanggung untuk Mundur saat ini, dia merasa harus tetap maju seperti tujuannya semula.
"Ma.. Maaf Bang. Sekali lagi, ma... maaf..." Emil kembali berusaha keras mengucapkan apa tujuannya datang ke tempat itu, namun lidah terasa keluh, suaranya seolah-olah menghilang.
Adun yang sudah kembali sibuk memainkan kayu kecil ditangannya, menjadi semakin merasa terganggu.
"Iya, ada apa? Jangan hanya basa basi saja. Aku bosan mendengarkannya, cepat katakan tujuanmu!!!" cecar Adun, karena dirinya merasa terusik dengan tingkah Emil saat ini.
Emil sedikit tersentak, ntah karena apa? Mungkin dikarenakan suara Adun yang cukup keras atau hanya perasaan takutnya sendiri.
"Be... Begini Bang, bo.. bo," belum sempat Emil menyelesaikan perkataannya, Adun sudah menyela ucapan Emil yang masih dipenuhi rasa takut.
"Sudah aku katakan, kalau berbicara harus jelas, jangan terbata-bata begitu. Aku tidak dapat mengerti apa yang kamu ucapkan!" seru Adun secepat kIlat.
Sebenarnya Adun sedari tadi sudah mengerti ucapan dari Emil, oleh sebab itu dia segera memotong ucapan Emil.
Adun merasa tidak ingin mendengar ucapan Emil yang terbata-bata itu, dia berharap Emil berbicara dengan tegas dan jelas, sehingga Adun juga dapat mengutarakan maksud yang saat ini disimpannya baik-baik di dalam hatinya.
"Ba.. Baik bang." jawab Emil masih sedikit terbata-bata.
"Bola kasti yang Kami mainkan, saat ini sedang tidak dapat Kami temukan. Bola tersebut terlempar ke arah ini. Kalau boleh tahu, apakah abang, tadi melihatnya?" tanya Emil dengan lebih lengkap, walaupun susunan kata-katanya kurang teratur, namun Emil berharap Adun mengerti dan tidak tersinggung.
"Tidak, aku tidak melihatnya. Kalau bola tersebut terlempar ke tempat ini, tentu saja masih berada di tempat ini. Tidak mungkin kan ditelan bumi?" jawab Adun mencoba memberikan jawaban seadanya.
"Kalian coba saja mencari pelan-pelan, aku rasa bola itu pasti masih berada di sekitar sini. Kalian saja yang kurang teliti." kembali Adun meyakinkan Emil, untuk mencoba mencari lagi.
Naina, Souleh dan yang lain melihat Emil tidak di bully oleh Adun dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Souleh merasa Adun sudah bukan ancaman lagi. "Emil saja tidak di bully, sudah pasti dirinya juga pasti tidak akan di bully atau menjadi bulan-bulanan dari Adun anak yang populer karena kenakalannya itu." pikir Souleh di dalam hatinya.
Nania merasa lega namun tetap berusaha untuk lepas dari hadangan Souleh dan teman-temannya pun terlepas. Sebab konsentrasi mereka berfokus pada keadaan Emil yang berbincang-bincang bersama Adun.
Naina segera pergi mendekati keberadaan Emil dan Naina mendengar sekilas ucapan Adun.
"Benar, Bang. Bolanya belum ketemu dan tidak mungkin di telan bumi. Mustahil itu." jawab Naina segera setelah berada di samping Emil.
"Kami sudah berusaha dan bersusah payah mencarinya, namun bola tersebut tidak dapat kami temukan." tambah Naina lagi.
Adun memperhatikan ucapan dari Naina, namun tidak memberikan jawaban apa-apa.
Naina yang merasa ucapannya masih ada yang harus ditambahkan, kembali mengatakan, "Maukah, Abang membantu kami mencarinya?" tanya Naina kembali.
Tak berapa lama, Souleh dan rekan-rekannya juga tiba, awalnya mereka masih merasa enggan ataupun takut, namun karena melihat Emil dan Naina tidak di bully, maka mereka juga pun ikut datang ke tempat keberadaan Adun.
"Baliklah, aku akan membantu kalian." Adun pura-pura berfikir sebentar, lalu menambahkan.
"Dengan syarat, setelah bola diketemukan Aku boleh Ikut main bersama kalian! Bagaimana?" Jawab Adun, sambil melirik ke arah Emil dan NaIna beserta Souleh dan siswa lainnya.
Emil dan Naina merasa bingung, namun Souleh segera menjawab.
"Bagaimana mungkin bola bisa diketemukan, sedangkan kami seluruh siswa kelas 4a sebanyak ini sudah mencari, namun tidak dapat menemukannya? Hal yang mustahil dengan tambahan Bang Adun seorang kita dapat menemukan bola kasti itu. Atau... Jangan-jangan Bang Adun lah yang menyembunyikan bola itu, ntah dimana! Betul tidak?" ungkap Souleh penuh curiga, bergaya seperti orang paling benar dan berbicara dengan anak biasa-biasa saja. Souleh tidak ingat, dirinya sedang berhadapan langsung dengan Adun, siswa berbadan besar yang selalu saja melakukan tindakan nakal di sekolah itu.
Akankah Adun membully siswa kelas 4a akibat perkataan Souleh?
Apakah Adun menyembunyikan bola kasti tersebut?
Bagaimana dengan Pak Guru Slamet selanjutnya?
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru