NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.

Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Bawa Niat Jahat

"Akan aku bakar sampai rata. Biar janda dan anak buangan itu ikut merasakan pahitnya gagal panen."

Suara serak itu keluar pelan dari sela-sela gigi Pak Kasman. Pria paruh baya itu mengendap melewati semak di pinggir Hutan Jati, tengah malam. Tangan kanannya menggenggam botol kaca bekas sirup berisi minyak tanah. Cairan di dalamnya bergoyang pelan, menyebarkan bau yang menusuk. Udara malam terasa dingin, tapi tak mampu meredakan dengki di dadanya. Ladang jagungnya habis dimakan wereng hingga membusuk. Sementara itu, tomat di pekarangan Seroja justru tumbuh subur, siap dipanen.

Di dalam gubuk yang gelap, Seroja tidur di atas tikar pandan tipis di samping ibunya. Angin malam menyusup lewat celah-celah dinding bambu.

Tiba-tiba layar biru bening menyala di depan wajahnya. Kelopak matanya langsung terbuka. Antarmuka sistem berkedip merah.

PERINGATAN KEAMANAN: Deteksi Zat Kimia Berbahaya.

Status: Minyak tanah terdeteksi dalam radius lima meter dari Bedeng Tomat.

Seroja langsung bangkit. Jantungnya berdegup kencang. Peringatan itu hanya butuh beberapa detik untuk ia pahami. Ada seseorang yang hendak membakar ladang tomat, satu-satunya sumber penghidupan keluarganya, malam ini. Ia memang tak punya kesaktian untuk mendatangkan hujan atau membuat pelindung. Tapi ia masih punya orang-orang yang bisa diandalkan.

Pelan-pelan Seroja menyingkap selimutnya agar tak menimbulkan suara. Ia berjinjit melewati Siti dan Nenek Warni yang masih terlelap, lalu membuka pintu menuju ruang depan.

Danu dan Bagas tertidur di atas balai-balai bambu. Napas mereka terdengar berat setelah seharian mengangkut air dari sumur.

Seroja menyentuh bahu Danu, lalu mengguncangnya pelan.

"Mas Danu, bangun," bisiknya di dekat telinga sepupunya.

Danu langsung membuka mata. Kebiasaan bekerja di ladang membuat tidurnya ringan. Ia segera duduk dan menyapu ruangan yang gelap dengan pandangan waspada. Di sebelahnya, Bagas ikut terbangun karena mendengar bisikan itu. Pemuda itu mengucek matanya yang masih berat.

"Ada orang masuk ke kebun tomat bawa minyak tanah," lapor Seroja singkat.

Rahang Danu langsung mengeras. Ia meraih sabit baja yang biasa diselipkan di bawah balai-balai bambu.

"Malam ini kupotong kakinya."

"Jangan pakai senjata tajam, Mas." Seroja menahan tangan Danu sebelum sabit itu terangkat. "Jangan sampai orang picik begitu malah bikin Mas masuk penjara. Kita pakai cara yang lebih cerdik. Lubang jebakan babi hutan di sudut timur bedeng yang Mas gali kemarin sore sudah jadi, kan?"

Danu mengangguk. "Sudah. Mas tutupi pakai ranting sama daun jati kering. Sekilas kelihatan seperti tanah biasa."

Senyum tipis terbit di bibir Seroja, tapi sorot matanya tetap dingin.

"Bagus. Kita giring babi hutan berkaki dua itu masuk ke sana."

Mereka bertiga mengendap keluar lewat pintu dapur. Halaman belakang hanya diterangi cahaya bulan separuh. Suara jangkrik bersahutan, menutupi langkah kaki mereka di atas tanah.

Di ujung bedeng tomat, Pak Kasman berjongkok di antara tanaman yang tumbuh subur. Tangannya sedikit gemetar, entah karena marah atau gugup. Matanya menyapu daun-daun tomat yang hijau segar dan bunga-bunga kuning yang sebentar lagi akan menjadi buah. Pemandangan itu justru membuat dadanya semakin panas.

Ia mencabut sumbat botol kaca di tangannya. Bau tajam minyak tanah langsung menyebar, mengalahkan harum daun tomat yang segar.

Kasman mengangkat botol itu, siap menyiramkan minyak tanah ke pangkal tanaman tomat.

Trak!

Sebuah batu sebesar kepalan tangan melayang dari arah gubuk dan menghantam batang pohon jati di sampingnya.

Kasman tersentak. Jantungnya berdebar keras. Ia buru-buru menoleh, matanya liar mencari asal suara di tengah gelap.

"Maling! Ada maling di kebun!" teriak Bagas, memecah sunyinya malam. Suaranya sengaja dibuat lantang dan berat.

Tubuh Kasman langsung gemetar. Rencananya ketahuan sebelum sempat dijalankan. Ia teringat Danu, pemuda bertubuh kekar yang tak akan segan menghajarnya kalau sampai tertangkap.

Tanpa pikir panjang, Kasman menyumbat kembali botol di tangannya asal-asalan, lalu berbalik dan berlari sekencang-kencangnya menembus gelap malam.

Kasman tak berani lari ke jalan desa yang lebih terbuka. Ia membelok ke timur, menuju Hutan Jati yang gelap. Di bawah rimbunnya pepohonan, ia yakin bisa menghilangkan jejak.

Dari balik dinding dapur, Seroja, Danu, dan Bagas hanya mengawasi. Tak seorang pun mengejar. Seroja terus menghitung langkah Kasman dalam hati. Arah larinya tepat menuju batas timur kebun mereka.

Kasman berlari terburu-buru menerobos semak. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak. Ia sempat menoleh ke belakang. Tak ada seorang pun yang mengejar.

Rasa leganya hanya bertahan sesaat.

Kakinya menginjak hamparan daun jati kering yang menutupi tanah.

Brak!

Tanah di bawahnya mendadak amblas. Tubuh Kasman langsung terperosok ke dalam lubang.

"Tolong!" jeritnya panik.

Tubuh Kasman menghantam dasar lubang. Bukannya jatuh di tanah keras, ia justru terbenam dalam lumpur liat yang kental dan berbau busuk. Lumpur itu merendam tubuhnya sampai pinggang. Kakinya seolah terkunci, sulit digerakkan. Botol minyak tanah terlepas dari tangannya lalu tenggelam ke dalam lumpur.

Kasman meronta. Tangannya mencengkeram dinding tanah yang licin, berusaha memanjat keluar. Tapi setiap kali ia mengangkat kaki, lumpur itu kembali menariknya ke bawah. Tak lama kemudian tenaganya habis. Ia hanya bisa terengah-engah di dasar lubang.

Tak lama, terdengar langkah kaki mendekat. Sandal karet menginjak daun-daun jati kering di tepi lubang.

Kasman mendongak. Tubuhnya menggigil kedinginan. Bau minyak tanah yang tumpah bercampur dengan bau lumpur yang menyengat.

Sret...

Suara korek api terdengar di tengah gelap. Sesaat kemudian, ujung kain yang melilit sebatang bambu menyala menjadi obor.

Bagas mengangkat obor itu ke bibir lubang. Cahaya apinya menerangi wajah Kasman yang penuh lumpur dan ketakutan.

Di samping Bagas, Danu berdiri dengan tangan bersedekap. Tatapannya tajam, tak lepas dari wajah Kasman. Beberapa langkah di belakang mereka, Seroja ikut mendekat. Wajahnya tenang, nyaris tanpa emosi.

"Pak Kasman."

Suara Seroja pelan, tapi membuat bulu kuduk berdiri.

"Malam begini dingin. Rasanya aneh melihat Bapak membawa sebotol minyak tanah ke kebun orang."

Wajah Kasman makin pucat. Senyum tipis di bibir Bagas membuat dadanya semakin ciut.

Saat itulah ia sadar.

Sejak tadi, ketiga anak muda itu tidak pernah panik.

Mereka memang sengaja menggiringnya masuk ke lubang jebakan, seperti menggiring babi hutan yang merusak ladang.

"Tolong... angkat aku keluar," erang Kasman. Giginya bergemeletuk menahan dingin lumpur yang meresap sampai ke badan. "Aku khilaf. Jangan bunuh aku di sini."

Danu berjongkok di bibir lubang. Ia menatap lurus wajah tetangganya itu.

"Masuk ke kebun orang malam-malam sambil bawa niat jahat bukan perkara kecil, Pak Kasman," katanya pelan. "Kalau babi hutan masuk lubang ini, biasanya kami biarkan semalaman sebelum ditangkap. Bapak temani saja dulu."

Kasman menelan ludah. "Kalian tidak punya belas kasihan."

"Belas kasihan kami masih ada," sahut Seroja dingin. "Tapi bukan untuk orang yang mau membakar sumber makan keluarga kami hanya karena iri. Kebun Bapak gagal bukan salah kami."

Seroja memberi anggukan kecil kepada Bagas.

Bagas menjauhkan obornya dari bibir lubang. Seketika cahaya menghilang, menyisakan gelap yang menelan sosok Kasman.

"Berteriak saja sepuasnya, Pak Kasman," kata Seroja sambil berbalik. "Besok pagi, biar orang sekampung yang memutuskan. Menolong Bapak keluar... atau mendengar kenapa Bapak bisa ada di dalam lubang itu."

1
watno antonio
yang banyak punya thor
Miaaaoowww😸
tumben kk ceritanya update 1 biasanya banyak😘😘😘, sehat2 y kk authorrrr
vania larasati
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
hadir thor
INeeTha: Makasih kaka🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!