Kevin adalah pengembara yang tersesat di padang pasir. Sementara itu Sofi adalah gerimis yang turun dengan anggun ke bumi. Kevin tak pernah membayangkan akan dipertemukan dengan gadis itu. Dia juga tak pernah membayangkan akan jatuh cinta setengah gila pada si pemilik senyum indah tersebut. Tetapi takdir berkata lain. Persingunggan-persinggungan yang tak sengaja terjadi membuat dia terjerat semakin dalam akan keteduhan Sofi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Giza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Kevin sedang berjalan menuju tempat parkir mobil dan masih berada di koridor deretan kelas sepuluh ketika dia merasakan ada kepalan tangan mendarat dengan keras di punggungnya. Dia tersenyum sinis karena sudah bisa menebak siapa pelakunya. Maka sambil berbalik, dia melayangkan kakinya untuk menendang orang yang memukulnya itu. Akibatnya, Edo—yang masih berada tepat di belakang Kevin—otomatis terjatuh karena tendangan cowok itu tepat mengenai lututnya.
“BANGUN!” kata Kevin sambil menarik kerah baju Edo.
Ada pancaran ketakutan di wajah Edo ketika dia melihat tatapan murka Kevin. Namun dia sudah terlanjur memulai semuanya. Maka dengan segala keberanian yang dipaksakan untuk muncul, Edo melayangkan tinjunya ke perut Kevin. Pukulan Edo tak sampai mengenai perut Kevin karena cowok itu telah lebih dulu menangkis dengan sigap. Sebagai balasan, Kevin menebas bagian samping leher Edo hingga cowok itu mengerang kesakitan. Rasa ngilu dan sakit berdenyut-denyut Edo rasakan akibat serangan Kevin itu. Dia sempat mundur beberapa langkah sebelum akhirnya maju lagi dan mencoba menendang Kevin. Namun usahanya itu gagal juga karena Kevin berhasil menghindar. Serangan balik dilakukan Kevin dengan menghantam rahang bawah Edo. Rasa sakit luar biasa dirasakan Edo dari hasil serangan Kevin itu. Namun, rupanya Edo tak ingin menyerah. Dia berusaha memukul bagian wajah Kevin, tapi lagi-lagi usahanya gagal. Belum sempat pukulan Edo mengenai sasaran, Kevin sudah lebih dulu menyerang dagu dan ulu hatinya secara beruntun dengan tangan kanan dan kiri.
Edo sudah terlihat lemas. Namun, Kevin belum mau mengalah. Rasa kesal yang selama ini tertahan dia lampiaskan sekarang. Diseretnya Edo masuk ke dalam sebuah ruangan kelas sepuluh yang sudah tak berpenghuni kemudian dihempaskannya tubuh Edo ke deretan bangku yang tertata rapi hingga deretan bangku itu berantakan.
“BANGUN! INI, KAN, YANG LO CARI SELAMA INI, HAH?!” teriak Kevin sambil menendang sebuah meja di samping Edo yang sedang berusaha bangkit.
Ketika Edo baru saja bangkit, Kevin menyerang cowok itu secara bertubi-tubi. Seperti kesetanan, dia hantam bagian ulu hati Edo sambil berteriak. Tak sanggup menahan pukulan Kevin, tubuh Edo terhuyung ke belakang, mengenai tembok. Seolah tak puas, Kevin terus melancarkan serangan. Dia hantam telinga kiri Edo dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menghantam telinga kiri cowok itu. Terakhir, Kevin menyerang tengkuk Edo dengan hantaman keras dari sikunya. Beberapa detik kemudian Edo kehilangan kesadarannya. Sebelum Kevin meninggalkan ruangan, terdengar langkah kaki orang berlari mendekat. Ketika menoleh, dia mendapati Pak Dahlan sedang menatapnya dengan raut murka. Di sekitar Pak Dahlan ada beberapa murid laki-laki—campuran kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas. Mereka menatap Kevin dan Edo dengan tatapan penuh tanya.
“Kevin! Apa-apaan kamu ini?!” kata Pak Dahlan ketika melihat kondisi Edo yang sudah tak sadarkan diri. Kevin hanya membeku mendapati kemurkaan guru BP-nya itu.
“Kalian bawa Edo ke rumah sakit terdekat, cepat! Nanti bapak menyusul,” kata Pak Dahlan pada beberapa murid yang berkerumun. Pandangan beliau lantas tertuju pada Kevin lagi. “Kamu mau jadi sok jagoan, iya?!” bentaknya.
“Edo yang mulai duluan, Pak! Selama ini selalu dia yang mulai duluan!” kata Kevin. Dia mencoba menahan segenap kesal yang mengumpul di dadanya. Betapa tidak, dia dan Edo memang sering ribut. Namun tak sedikit yang tahu bahwa Edo-lah yang selalu memancing perkelahian. Dan sekarang ketika Kevin berusaha melampiaskan sakit hati dan amarahnya, justru dia yang disalahkan.
“Iya, tapi bukan seperti ini caranya, Vin! Lagi pula kalian itu masih saudara, tidak malu apa ribut-ribut terus begitu?” Pak Dahlan menghela napasnya berat. Beliau tak habis pikir mengapa mereka bisa berkelahi sampai seperti ini. Sebelumnya mereka sudah dua kali dipanggil ke ruang BP karena perkelahian yang sama dan setiap ditanyai tentang penyebab pertengkaran, keduanya selalu diam.
“Bapak tunggu kamu di ruang BP besok,” kata Pak Dahlan lagi sebelum beliau meninggalkan Kevin.
Di rumah, Kevin disambut dengan raut dingin Mona. Wanita itu duduk di salah satu kursi ruang tamu sambil menatapnya tajam. Ibunya seolah telah menunggu kedatangannya. Tantenya pasti sudah memberi tahu keadaan Edo pada ibunya tersebut.
“Edo kamu apain sampai masuk rumah sakit?” tanya Mona.
Kevin tak segera menjawab. Dia berjalan gontai menuju sofa di samping Mona. Setelah tubuhnya terhempas ke Sofa, dia masih tak juga menjawab. Cowok itu malah menundukkan kepalanya. Dia bingung harus menjawab apa. Selama ini dia terlanjur merahasiakan semuanya. Dia bersikap seolah hubungannya dengan Edo baik-baik saja, padahal mereka sudah bermusuhan sejak lama. Hampir dua tahun lebih. “Ceritanya panjang, Ma,” jawabnya dengan suara lirih. Penyesalan merambat di hatinya. Seharusnya dia tak menghajar Edo sampai lepas kendali.
“Panjang gimana?” tanya Mona tak sabar. “Edo itu sepupu kamu sendiri, Kak, dan dari kecil kalian dekat. Kenapa bisa sampai tawuran di sekolah begitu? Malu-maluin aja!”
Kevin mengangkat kepalanya. Dia ceritakan dari awal permusuhan mereka. Tanpa ragu dia membeberkan bahwa Edo-lah yang selalu mulai memancing perkelahian. Dia juga bercerita bahwa sebenarnya permusuhannya dengan Edo sudah lama. Sudah sangat sering berkelahi, bahkan hingga dua kali dipanggil ke ruang BP untuk diberi peringatan secara lisan.
“Mama nggak percaya! Selama ini Edo itu sopan banget sama Mama, Kak, mana mungkin dia nyerang kamu tanpa alasan?” bantah Mona. Selama ini Edo memang selalu menunjukkan sikap baik di hadapannya. Kalau bertemu, keponakannya itu pasti menyapanya dengan penuh hormat.
“Itu kan ke Mama. Mungkin dia respect aja kali sama Mama,” bantah Kevin pelan. Di satu sisi dia tak mau dianggap berbohong. Namun, di sisi lain dia tak ingin mengurangi rasa hormatnya dengan membantah Mona menggunakan nada tinggi.
“Nggak, Kak! Oh, atau jangan-jangan kamu sudah dipengaruhi dua teman kamu itu! Pasti mereka yang bawa pengaruh buruk buat kamu, iya, kan?!” tuduh Mona. Dia tak percaya anak laki-lakinya yang selama ini dididik dengan baik tega menghajar sepupunya sendiri. Pasti ada pengaruh dari orang lain.
“Mama kok jadi bawa-bawa Dion dan Ferro, sih? Ini nggak ada kaitannya sama mereka, Ma,” balas Kevin. Sekuat hati dia menahan rasa kesalnya agar tidak meluap. Bagaimanapun juga dia tetap harus bersikap sopan ketika berbicara pada ibunya.
“Mama nggak mau tahu, ya, mulai sekarang kamu nggak boleh main sama mereka lagi!”
Hati Kevin tak setuju dengan larangan Mona. Namun dia tak punya pilihan lain selain menurut. Ibunya itu sudah terlalu terbebani dengan kelakuan buruk ayahnya dan juga keadaan Alice. Dia tak mungkin membuat Mona lebih pusing lagi dengan membantah. “Iya, Ma.” Jawabnya lemah. Cowok itu lantas beranjak dari duduknya. “Kevin ke kamar dulu, Ma, capek mau istirahat.”
Hingga malam menjelang Kevin hanya mengurung diri di kamar. Dia menghindari untuk bertatap muka dengan Mona. Selain tak ingin mendengarkan ceramah panjang-lebar wanita itu lagi, dia juga tak ingin terjadi perdebatan antara dirinya dan ibunya tersebut. Bahkan ketika mengambil makan dan minum ke dapur pun dia berjalan dengan mengendap-endap, waspada supaya tidak ketahuan Mona.
Keesokan harinya di jam istirahat Kevin memenuhi permintaan Pak Dahlan. Dia meninggalkan kelas dengan terburu-buru tepat setelah guru pengajar keluar dari ruangan tanpa diiringi Dion dan Ferro. Ya, sebelumnya dia sudah menceritakan semua kepada dua sahabatnya itu. Tentang perkelahiannya dengan Edo, kemarahan ibunya, termasuk tuduhan ibunya kepada kedua temannya tersebut. Kevin berpesan pada kedua temannya itu agar mereka bisa mengerti kalau suatu ketika pertemanan mereka harus merenggang.
Ketika mencapai koridor deretan kelas sebelas langkah Kevin terhenti karena melihat Sofi berjalan terburu-buru ke arahnya. Gadis itu berjalan mendekatinya dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Tatapan yang mengisyaratkan kemarahan bercampur kekecewaan. Kevin yakin Sofi pasti sudah mendengar semuanya. Dan sekarang gadis itu pasti tengah kecewa padanya karena dia telah melanggar janji. Maka Kevin menyiapkan mentalnya untuk menerima segala kemarahan Sofi ketika gadis itu telah berdiri tepat di hadapannya.
“Kamu lupa sama janji yang kamu ucapin waktu kita jadian?” kata Sofi. Alih-alih marah, gadis itu justru mengutarakan sebuah pertanyaan. Dia memang tak pernah bisa mengungkapkan kemarahan dengan bentakan atau kata-kata kasar seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Kevin nyaris tertawa kalau dia tidak ingat bahwa Sofi mendatanginya dalam kedaan kesal dan kecewa. Ekspresi marah Sofi itu tidak begitu dingin dan mengerikan. Hanya, senyum yang biasanya muncul tak ada dan wajah cerianya tampak memudar.
“Sof, dengerin penjelasan aku dulu,” kata Kevin lirih, nyaris berbisik. Kedua tangannya menyentuh pundak Sofi lembut.
“Penjelasan apa lagi?” sanggah Sofi. Dia singkirkan tangan Kevin. “Kamu udah bikin aku kecewa! Kamu udah ngelanggar janji! Dan tadi Jessie tuh sampe nangis-nangis pas cerita kalo Edo masuk rumah sakit!” air mata Sofi terkumpul di kelopak mata. “Aku nggak tahu sekarang harus gimana ke dia. Dia itu sahabat aku dan pacarnya sudah dibikin bonyok sama pacar aku ...,” lanjutnya. Tangisnya pecah akhirnya.
Kevin mencoba menenangkan Sofi. Dia hapus air mata di pipi gadis itu dengan jemarinya. “Aku minta maaf Sof, Edo yang mulai duluan,” balas Kevin, masih dengan lirih.
Tadi di kelas sikap Jessie ke Sofi jadi agak aneh. Gadis itu lebih banyak diam. Sofi yang selalu memulai pembicaraan lebih dulu. Padahal jessie itu tipe-tipe ramai dan usil. Selain karena tak ingin Kevin terluka dan tersakiti karena melakukan hal yang sia-sia, hal inilah yang menjadi alasan Sofi melarang Kevin berkelahi dengan Edo. Dengan Kevin menyakiti Edo, secara otomatis Jessie akan tersakiti juga.
“Iya, tapi ngak seharusnya kamu sampe kalap gitu, kan? Sekarang gimana aku ke Jessie coba?” kata Sofi. Air matanya masih belum berhenti. Perasaan gadis itu campur aduk. Antara marah, kesal, sedih, dan khawatir. Marah dan kesal karena ulah brutal Kevin, serta sedih dan khawatir karena tak tahu bagaimana harus menghadapi Jessie sahabatnya.
“Ssst! Jangan nangis terus, Sof. Biar aku yang ngomong sama Jessie kalau dia marah sama kamu, oke,” kata Kevin dengan nada suara sangat rendah sambil menyibakkan pini miring Sofi yang menutupi wajah.
Sofi masih menangis. Air matanya tak semudah itu surut. Jessie bisa mendukung hubungannya dengan Kevin padahal gadis itu tahu tentang permusuhan cowok itu dengan Edo saja sudah merupakan hal luar biasa bagi Sofi. Di saat dia berusaha menjaga hubungannya dengan Jessie agar tetap baik-baik saja, Kevin justru berulah seperti ini. Dia merasa sangat tak enak hati pada Jessie.
“Sof, kamu diem atau aku cium di sini sekarang,” ancam Kevin. Terpaksa dia berkata seperti itu agar Sofi mau menghentikan tangisnya.
Perlahan Sofi menghentikan tangisnya. Karena kalau tidak, dia akan punya masalah yang lebih rumit lagi. Kalau Kevin benar-benar melakukan apa yang diucapkannya, dia pasti akan menjadi bahan perbincangan seluruh murid, bahkan para guru juga. Bagaimanapun sekarang adalah jam istirahat dan banyak murid yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Dari tadi pun sebenarnya mereka sudah mencuri perhatian beberapa pasang mata.
“Sekarang kamu ikut aku ke ruang BP, yuk!” kata Kevin sambil meraih pergelangan tangan Sofi.
Sesampainya di ruang BP Sofi meminta untuk ikut masuk ke dalam, tapi Kevin melarang. Ini urusan pribadinya dengan Pak Dahlan. Akhirnya Sofi menunggu di luar. Atau bisa dibilang menguping karena dia berdiri di samping pintu sambil mendekatkan telinganya ke tembok yang memisahkan ruang pertama dan kedua. Ya, ruang BP terdiri dari dua ruangan yang dipisahkan oleh tembok. Ruang persidangan adalah ruang kedua yang tidak menyambung langsung dengan pintu utama ruang BP. Jadi, orang yang ada di ruang kedua tak akan melihat Sofi menguping.
Di dalam ruang BP Kevin disambut dua guru. Dua guru itu adalah Pak Dahlan dan Pak Sanjaya. Yang memepersilahkan Kevin duduk adalah Pak Sanjaya. Kevin lantas duduk di kursi panjang yang sama dengan beliau. Sementara itu Pak Dahlan duduk di kursi lain yang ada di hadapan Kevin.
“Sebenarnya apa permasalahan kalian? Bapak itu tidak habis pikir, Vin, kalian itu saudara, tapi ribut terus kerjaannya!” Pak Dahlan memulai pembicaraan.
“Bapak tanya saja sama Edo sendiri?” jawab Kevin. Bukannya dia bermaksud tak sopan, dia memang tak pernah tahu apa lasan Edo menyerangnya selama ini.
“Maksud kamu apa?! Kamu mau mempermainkan Bapak, iya?!” kata Pak Dahlan sambil memukul meja. Laki-laki berkumis tebal itu tak menyangka kalau Kevin bukannya merasa menyesal dan bersalah, tapi malah melemparkan semua pada Edo yang jelas-jelas sekarang sedang terbaring di rumah sakit.
“Tenang, Pak!” Kata Pak Sanjaya sambil mengangkat salah satu tangannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Kevin. “Maksud kamu apa, Vin? Kalian berkelahi itu bukan cuma sekali, dua kali, masak berkelahi tanpa alasan? Aneh kamu ini?”
“Edo tidak pernah mau menjelaskan alasannya pada saya setiap kali dia memulai perkelahian, Pak,” jawab Kevin.
“Alah! Sudah ... sudah! Bapak makin pusing mendengarkan alasan kamu!” kata Pak Dahlan sambil mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan Kevin untuk berhenti berbicara. “Begini saja, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kamu itu, kamu bapak skors selama lima hari terhitung mulai hari ini. Sekarang kamu kembali sana ke kelas dan kemasi tas kamu!”
Tanpa berkata apa-apa lagi Kevin segera melangkahkan kakinya keluar ruang BP. Baginya hukuman seperti ini sudah biasa. Dia melihat Sofi mundur seperti orang kaget ketika langkahnya mencapai pintu ruang BP. Gadis itu seolah sedang mengantisipasi kalau yang keluar bukanlah dirinya.
“Diskors lima hari, ya?” tanya Sofi.
“Dasar tukang nguping!” kata Kevin sambil menarik tali rambut Sofi hingga rambut gadis itu terurai. Dia kemudian berlari menjauhi ruang BP.
Sofi mengejar Kevin sambil tertawa-tawa. Ketika jarak mereka sudah dekat, Gadis itu menarik bagian belakang kemeja Kevin hingga keluar dari celana.
“Lepasin atau aku cium!” ancam Kevin tanpa menolehkan kepala.
“Nggak mau, kasih dulu ikat rambut aku!” bantah Sofi.
Kevin mundur ke belakang beberapa langkah. Ketika menoleh, wajahnya sudah begitu dekat dengan wajah Sofi. Jaraknya mungkin sekitar lima senti. Selama beberapa detik mata mereka saling beradu. Wajah Sofi memanas ketika Kevin mulai tersenyum jahil lalu berkata, “Nantangin, nih?”
Sebelum jantungnya bergemuruh semakin kencang dan kakinya menjadi lebih lemas lagi, Sofi melepaskan tangannya. Masih dengan wajah yang bersemu merah dia berkata, “Nggak, ka ... kamu ambil aja ikat rambutnya.”
Kevin tersenyum geli ketika melihat Sofi berjalan cepat meninggalkannya. Tingkah kekasihnya itu begitu menggemaskan baginya. Betapa tidak, di saat semua gadis menginginkan untuk bisa dekat dengannya dan menggodanya tanpa rasa sungkan, Sofi yang sudah menjadi kekasihnya justru malu-malu seperti itu kalau digoda.
Ruby - Willy ke laut.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Next, ditunggu kelanjutannya.