NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Baru Sekarang Dimulai

“Sekarang baru waktunya benar-benar bekerja.”

Adrian melangkah menuju bangunan utama.

Di belakangnya, halaman markas Blood Viper masih dipenuhi asap dan suara orang-orang yang berteriak.

Namun, dia tidak menoleh lagi.

Gerbang sudah dilewati.

Garis pertahanan luar sudah ditembus.

Sekarang target sebenarnya berada tepat di depannya.

Pintu baja setinggi hampir tiga meter berdiri menghadang.

Dua penjaga yang berada di balik pintu saling berpandangan.

“Dia datang!”

“Jangan biarkan masuk!”

Salah satu dari mereka segera menarik tuas pengunci.

Pintu mulai tertutup.

Adrian berhenti.

Dia melihat celah pintu yang semakin mengecil.

Kemudian melihat jam di pergelangan tangannya.

00:23:41.

“Kalau ditutup, nanti harus buka lagi.”

Dia menghela napas.

“Ribet.”

Adrian mempercepat langkah.

Bukannya menunggu pintu terbuka atau mencari jalan lain, dia justru menghantam sisi pintu yang masih bergerak dengan bahunya.

BRAK!

Pintu baja itu bergetar.

Mekanismenya macet.

Kedua penjaga di baliknya langsung panik.

“Apa-apaan?!”

“Dorong kembali!”

Belum sempat mereka melakukan apa pun, Adrian menyelipkan tubuh melalui celah tersebut.

Dua orang langsung mengarahkan senjata.

Adrian bergerak lebih cepat.

Satu pukulan.

Satu tendangan.

Keduanya jatuh sebelum sempat menarik pelatuk.

Adrian merapikan kaosnya.

“Berisik.”

Dia memasuki lorong utama.

---

Alarm berbunyi tanpa henti.

Lampu merah berkedip di sepanjang langit-langit.

Suara langkah kaki terdengar dari berbagai arah.

Blood Viper akhirnya menyadari satu hal.

Musuh mereka tidak lagi berada di luar.

Dia sudah masuk.

“Blokir koridor!”

“Tim utara, turun!”

“Jangan biarkan dia mencapai pusat komando!”

Belasan anggota Blood Viper muncul dari ujung lorong.

Mereka tidak lagi menggunakan formasi terbuka.

Kali ini mereka memanfaatkan dinding, pintu, dan sudut sempit untuk menjadikan koridor sebagai perangkap.

Adrian berhenti di tengah lorong.

Dia melihat jumlah mereka.

“Banyak juga.”

Seseorang berteriak.

“Tembak!”

Rentetan peluru langsung memenuhi lorong.

Adrian menarik sebuah benda kecil dari sakunya.

Klik.

Seketika sebuah ledakan cahaya menyilaukan memenuhi koridor.

“AAARGH!”

Teriakan terdengar bersamaan.

Para penembak refleks menutup mata.

Adrian sudah bergerak.

Dia menerobos garis pertama sebelum mereka sempat pulih.

Satu senjata ditendang.

Satu orang dibanting ke dinding.

Orang berikutnya dihantam menggunakan gagang senjata.

Tidak ada gerakan berlebihan.

Adrian hanya membutuhkan beberapa detik.

Setelah itu, lorong kembali sunyi.

Dia berjalan melewati mereka.

“Jangan bikin saya telat.”

---

Di luar kompleks, Sienna Hartono masih berada di atas kendaraan yang digunakannya sebagai titik pengamatan.

Dia melihat pergerakan di jendela bangunan utama.

Beberapa lampu mati.

Kemudian menyala lagi.

Lalu mati lagi.

“Dia sudah masuk.”

Sienna menurunkan teropong.

Wajahnya berubah serius.

Sampai sekarang, Adrian masih terlihat seperti orang yang sedang bermain-main.

Namun Sienna tahu satu hal.

Semakin dekat Adrian dengan pusat markas, semakin berbahaya lawan yang akan dia hadapi.

“Semoga kamu tahu apa yang kamu lakukan.”

---

Di lantai dua, Blood Viper mulai mengubah strategi.

Mereka tidak lagi mengejar Adrian.

Mereka menunggunya.

Sebuah ruangan besar di ujung koridor sengaja dibiarkan terbuka.

Di dalamnya terdapat beberapa anggota bersenjata lengkap.

Di belakang mereka berdiri sebuah senapan mesin yang dipasang pada dudukan tetap.

Seorang pria memeriksa layar kecil di tangannya.

“Dia sudah masuk sektor dua.”

“Begitu dia melewati pintu, tutup semuanya.”

“Dimengerti.”

Pintu di belakang Adrian mendadak terkunci.

Pintu di depan terbuka.

Adrian berhenti.

Dia langsung memahami situasinya.

“Perangkap?”

Dia tersenyum.

“Lumayan.”

Dari dalam ruangan terdengar suara pengaman senjata dilepas.

Klik. Klik. Klik.

Adrian memasukkan tangan ke dalam tas.

Namun kali ini dia tidak mengambil senapan.

Dia mengeluarkan sebuah benda bundar.

Kemudian melemparkannya ke lantai.

Benda itu memantul sekali.

Dua kali.

Lalu berhenti tepat di tengah ruangan.

Para anggota Blood Viper saling pandang.

“Apa itu?”

Sebuah bunyi pendek terdengar.

Bip.

Lampu ruangan mendadak padam.

Kegelapan menyelimuti semuanya.

“Sekarang!”

Rentetan tembakan meledak.

Namun tidak ada sasaran.

Adrian sudah tidak berada di pintu.

Dia muncul dari sisi lain ruangan.

Salah satu penjaga baru menyadarinya ketika Adrian sudah berada tepat di sampingnya.

“Mana mungkin—”

Adrian menghantam pergelangan tangannya.

Senjata jatuh.

Kemudian satu pukulan menghantam rahang.

Tubuh pria itu terpelanting.

Adrian bergerak menuju dudukan senapan mesin.

Dia tidak mengambilnya.

Dia justru menarik kabel penghubungnya.

Krek!

Senjata berat itu mati.

“Kalau dipakai orang lain, malah bikin repot.”

Adrian meninggalkan ruangan.

---

Beberapa menit kemudian, alarm berubah menjadi suara yang jauh lebih keras.

PERINGATAN!

SEKTOR KOMANDO TERANCAM!

Wajah para anggota Blood Viper berubah pucat.

Mereka mulai memahami bahwa semua pertahanan yang telah mereka siapkan tidak mampu menghentikan satu orang.

Di ruang komando, pemimpin Blood Viper berdiri dari kursinya.

“Di mana dia sekarang?”

Operator menatap layar.

Kemudian wajahnya langsung kehilangan warna.

“Bos...”

“Apa?”

“Dia sudah di lantai tiga.”

“Mustahil!”

Operator menunjuk monitor.

Sosok Adrian terlihat berjalan di sebuah koridor.

Tidak berlari.

Tidak terburu-buru.

Bahkan masih sempat melihat jam tangannya.

00:17:26.

Adrian menghela napas.

“Waktu tinggal segini.”

Dia mengangkat kepala.

Di ujung lorong terdapat sebuah pintu besar dengan beberapa penjaga berdiri di depannya.

Adrian mengamati mereka.

Kemudian melihat papan kecil di samping pintu.

PUSAT KOMANDO.

“Ketemu.”

Dia meletakkan tasnya sebentar.

Para penjaga langsung mengangkat senjata.

Adrian menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan.

“Kalau kalian bisa menyerah sekarang, saya jadi lebih cepat.”

Tidak ada yang menjawab.

Salah seorang maju.

“Bunuh dia!”

Adrian menghela napas.

“Ya sudah.”

Dia meraih tasnya kembali.

Senyumnya menghilang.

Kemudian—

DOR!

Pintu pusat komando bergetar hebat.

Para penjaga di depannya tersentak.

Adrian berdiri di balik kepulan debu.

Dia menatap pintu yang mulai retak.

“Lima belas menit.”

Adrian melirik jamnya.

“Cukup.”

Dari dalam ruang komando terdengar suara panik.

“Jangan biarkan dia masuk!”

Adrian mengangkat tangannya.

“Sayangnya...”

Senyum tipis kembali muncul.

“Saya memang datang untuk masuk.”

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!