Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Plak!
Suara tamparan keras membelah keheningan kamar. Wajah Alessio terlempar ke samping saat telapak tangan Vanessa mendarat telak di pipinya.
Vanessa buru-buru mendorong dada tegap pria itu dengan seluruh sisa tenaganya kemudian membangkitkan tubuhnya dari ranjang.
Dadanya naik-turun, napasnya tersengal oleh gelombang amarah dan rasa terhina yang membakar hebat. Matanya membelalak menatap Alessio dengan kilatan benci yang amat pekat.
"Kau gila, Alessio!" desis Vanessa dengan suara bergetar menahan kemarahan. "Jangan pernah menyamakanku dengan wanita-wanita murahan yang biasa kau temui! Aku datang ke sini untuk menawarkan aliansi terhormat, bukan untuk menjual tubuhku demi selembar kesepakatan!"
Tanpa menunggu balasan, Vanessa membalikkan badan dan melangkah lebar meninggalkan kamar itu. Pintu berdentum keras saat ia menggesernya kembali hingga tertutup rapat.
Di dalam kamar yang kembali redup, Alessio masih mematung. Pria itu perlahan mengusap rahang kirinya yang terasa panas akibat tamparan keras Vanessa.
Namun, bukannya marah, sudut bibirnya justru terangkat perlahan. Sebuah senyuman tipis yang berbahaya terukir di wajah tampannya.
Alessio menatap pintu yang baru saja tertutup dengan iris mata hitamnya yang menyipit sarat akan kepuasan licik.
"Menarik..." gumam Alessio pelan, suara seraknya bergema dingin di dinding kamar. "Kita lihat saja, Vanessa... sampai kapan kau sanggup bertahan dan menjauh dariku."
Keesokan harinya, pendar matahari pagi menembus jendela kaca tinggi di ruang makan utama Kediaman Carlton. Meja makan mahoni berukuran besar itu sudah terisi oleh jajaran hidangan sarapan yang mewah.
Saat Vanessa melangkah masuk dengan gaun pastel yang anggun, pemandangan yang tak biasa langsung menyambutnya. Jordan sudah duduk di sana. Begitu melihat kehadiran Vanessa, pria itu seketika bangkit dari kursinya dengan senyum manis yang dipaksakan sempurna.
"Selamat pagi, Sayang. Mari, duduk di sini," ujar Jordan dengan suara yang dibuat sangat ramah.
Pria itu bahkan melangkah maju, secara pribadi menarikkan kursi untuk Vanessa dan menuangkan jus jeruk segar ke dalam gelas wanita itu.
"Kau harus makan yang banyak pagi ini. Wajahmu masih sedikit pucat pasca keluar dari rumah sakit."
Jordan melayani Vanessa seolah-olah ia adalah sosok tunangan paling penuh perhatian dan amat mencintai pasangannya.
Namun, di seberang meja makan, Yessika yang duduk di atas kursi roda menatap pemandangan itu dengan rahang menegang.
Jemarinya meremas kain serbet di pangkuannya hingga kusut. Rasa cemburu dan kekesalan yang luar biasa membakar dadanya melihat perhatian manis Jordan yang dilimpahkan pada Vanessa.
"Paman Arthur, aku merasa kurang enak badan. Selera makanku hilang... aku permisi ke kamar dulu," potong Yessika tiba-tiba dengan nada ketus, pura-pura sudah kenyang padahal piringnya sama sekali belum tersentuh.
Tanpa menunggu jawaban, Yessika memutar roda kursinya sendiri secara kasar dan berlalu meninggalkan ruang makan.
Jordan sempat melirik panik ke arah Yessika yang pergi, namun ia menahannya mati-matian demi sandiwara di depan ayahnya.
Arthur Carlton yang duduk di kepala meja menyunggingkan senyum lebar. Raut wajah sang kepala keluarga yang biasanya keras kini melunak. Ia menatap perubahan sikap Jordan pada Vanessa dengan penuh rasa bangga.
"Bagus, Jordan. Seperti inilah seharusnya calon pemimpin Keluarga Carlton memperlakukan calon istrinya," puji Arthur hangat seraya menyesap kopi hitamnya. "Teruskan sikap baikmu ini pada Vanessa."
Jordan membungkuk sopan, menangkap momentum itu dengan sangat cerdik.
"Tentu, Ayah. Aku berjanji akan terus memperlakukan Vanessa dengan sangat baik. Tapi... Ayah..." Jordan memasang raut wajah serba salah yang lihai. "...bagaimana aku bisa memanjakan Vanessa dan memberikannya hadiah-hadiah indah jika seluruh akses kartu kreditku masih dibekukan? Aku merasa sangat tidak berguna sebagai pria jika tak punya uang sama sekali untuk membahagiakannya."
Arthur tertawa terkekeh, menggelengkan kepalanya.
"Benar juga ucapanmu. Baiklah. Pak Ben, aktifkan kembali seluruh kartu kredit Jordan hari ini juga."
"Baik, Tuan Besar," sahut Pak Ben di sudut ruangan.
Vanessa yang duduk di samping Jordan membeku seketika. Jemarinya yang memegang sendok menegang.
Ia tak menyangka keputusan Arthur bisa berubah begitu cepat hanya karena sandiwara murahan dan perhatian manipulatif yang ditunjukkan Jordan pagi ini.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang santai terdengar mendekat. Alessio melangkah masuk ke ruang makan dengan kemeja putih kasual yang rapi. Pria itu memandang sekeliling meja dengan raut wajah tanpa emosi.
"Selamat pagi," sapa Alessio datar, lalu melirik kursi kosong di seberang. "Di mana Yessika?"
"Dia kurang enak badan dan sudah kenyang, Alessio. Duduklah," jawab Arthur tenang.
Alessio mengangguk pelan tanpa bertanya lebih lanjut. Ia menarik kursi di sisi lain meja dan mulai menikmati sarapannya.
Selama sarapan berlangsung, Vanessa dan Alessio sama sekali tidak saling bersapa atau bertukar tatap. Seolah-olah peristiwa panas dan ancaman gila yang terjadi di antara mereka semalam tidak pernah ada.
Seusai sarapan dan ketika Arthur telah berangkat ke kantor pusat, Jordan langsung mengubah raut wajahnya. Topeng pria manis yang ia kenakan di meja makan tadi mengelupas seketika, berganti dengan seringai licik dan angkuh.
"Vanessa, ikut aku ke taman belakang. Ada yang ingin kubicarakan," bisik Jordan dingin.
Vanessa mengikutinya dengan langkah tenang menuju area taman belakang yang sepi, jauh dari jangkauan para pelayan.
Begitu sampai di dekat kolam ikan, Jordan membalikkan badan dan bersedekap dada, menatap Vanessa dengan pandangan meremehkan yang sarat akan kelicikan.
"Kau lihat tadi, Vanessa?" cemooh Jordan dengan tawa sinis. "Kau pikir dengan membawa bukti transaksi rahasia itu kemarin, kau bisa menjatuhkanku di depan Ayah? Kau mimpi! Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa menang dariku di rumah ini. Selamanya... kau hanya akan jadi alat dan batu pijakan untuk posisiku!"
Vanessa mengepalkan kedua tangannya erat-erat di balik gaunnya. Ia menggeram marah dalam hati, namun rahangnya terkatup rapat karena menyadari posisinya saat ini memang terkunci oleh rasa sayang Arthur yang buta pada Jordan.
Dia sadar, Arthur tak pernah benar-benar berpihak padanya. Selamanya, pria tua itu hanya memihak putra kesayangannya.
"Aku pergi dulu," pamit Jordan dengan nada menyindir yang luar biasa menyebalkan. Ia merapikan kerah jasnya sambil terkekeh pelan.
"Aku harus segera membujuk Yessika. Kasihan dia. Dia pasti salah paham melihat kelakuanku padamu di meja makan tadi. Dan ah... terima kasih banyak, Vanessa. Berkat perlakuan manisku padamu tadi, Ayah mengembalikan seluruh kartu kreditku. Aku bisa menggunakan uang itu untuk membelikan Yessika banyak hadiah mahal hari ini. "
Jordan menepuk bahu Vanessa secara provokatif, lalu melangkah pergi dengan tawa puas yang bergema di sepanjang koridor taman.
Vanessa berdiri sendirian di bawah bayangan pepohonan taman, menatap punggung Jordan yang menjauh dengan tatapan membunuh.
Di dalam dadanya, kesadaran itu kini terpahat makin dalam. Tak ada harapan di rumah ini jika ia berjuang sendiri.
Jika ia ingin menghancurkan Jordan sampai ke akar-akarnya, ia benar-benar harus menyeret iblis bernama Alessio Carlton ke dalam permainannya. Tapi, apakah pria itu benar-benar bisa diandalkan?
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏