DILARANG PROMOSI DI KOLOM KOMENTAR!!
Ana, gadis yang baru berusia 18 tahun harus tinggal bersama pria asing yang telah menggelontorkan banyak uang demi biaya operasi sang adik yang terluka cukup parah karena penyerangan sedang kedua orang tuanya telah tiada.
Judul lama "Penjara Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis_Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konferensi Pers
Beberapa hari berlalu namun berita tentang Ana dan Samuel masih menjadi sensasi yang luar biasa. Pemikiran yang sama, mereka masih menganggap bahwa Ana adalah orang yang membuat Samuel dan Martha berpisah. Ketika kabar perusahan milik Samuel akan mengadakan konferensi pers, banyak orang yang berkomentar miring.
Mereka memiliki firasat buruk dan pasti mereka tak sabar menunggu konferensi pers. Di kediaman Samuel, Ana menunggu dengan cemas. Tinggal dua jam lagi, konferensi diadakan dan dia ditunjuk juga menjadi pembicara.
Gugup? Sudah pasti. Berita terhadap dirinya dan Samuel telah menarik banyak perhatian orang-orang. Tentunya para wartawan akan banyak yang datang. "Kenapa kau terlihat cemas seperti itu?" Ana mendongak.
Dia mendapati sosok Samuel dengan pakaian santainya berdiri di depannya. Ana memberikan Samuel senyum getir lalu berkata. "Tentu saja aku gugup. Tinggal beberapa jam lagi aku akan berbicara di depan umum. Suatu hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya, Tuan."
Samuel lalu duduk di samping Ana kemudian memandang gadis itu. "Jangan demam panggung begitu, aku juga nantinya akan berbicara santailah."
"Tuan Samuel. Apa Tuan Samuel tak gugup?" Dalam hati Ana merutuk kesal. Itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah dilontarkan oleh Ana. Pastinya Samuel itu sudah berpengalaman jadi mana mungkin dia gugup.
"Jika tentang berbicara di depan umum? Ya, aku sering gugup bahkan sampai sekarang." Mata Ana membulat.
"Tu-Tuan Samuel gugup?" Samuel mengangguk.
"Tapi aku lihat Tuan Samuel tidak gugup seperti aku." kata Ana dengan nada pelan. Takut jika membuat Samuel tersinggung.
Samuel tersenyum. "Aku sering gugup kok. Hanya saja aku sudah bisa membawa diri jadi orang-orang tak tahu kalau aku gugup. Tenanglah, aku akan berada di sampingmu jadi kau tak perlu khawatir."
Ana menatap sebentar pada tangan Samuel yang kini menggenggam tangan Ana. Begitu besar dan hangat memberikan kenyamanan tersendiri bagi Ana. Dia memandang lagi Samuel dan memberikan senyuman pada pria yang sudah membiayai operasi sang adik tanda bahwa dia sudah baik-baik saja.
*****
Konferensi sebentar lagi akan dimulai. Ana telah siap dengan memakai baju formal dan dandanan yang terbilang natural. Bukan tanpa sebab, Samuel menginginkan Ana tampil dengan baik maka dia menyewa jasa make up yang terbaik di kota.
"Nona riasannya sudah selesai. Anda terlihat sangat cantik." Ana mengerjapkan matanya melihat pantulan di cermin. Penampilannya sederhana namun memiliki kesan yang anggun.
"Terima kasih." Datanglah Samuel dengan mengenakan jas. Dia terlihat lebih tampan dan membuat Ana terpaku sesaat.
Samuel mengisyaratkan agar si perias pergi untuk memberikan waktu pada mereka berdua. Samuel lalu mendekat, menatap intens pada Ana yang sekarang tertunduk malu. "Kau cantik."
"Terima kasih. Tuan Samuel juga terlihat sangat tampan." ucap Ana pelan.
"Terima kasih. Bagaimana apa kau sudah tak gugup lagi?"
"Sedikit."
Tok tok
Muncullah sekretaris Samuel. Dirinya menunduk sebentar kemudian berujar. "Tuan, semuanya sudah siap. Anda dan Nona Ana diperkenankan untuk datang ke konferensi."
Samuel hanya mengangguk singkat dan sekretaris Samuel pergi meninggalkan mereka. Keduanya lalu keluar dari ruangan menuju tempat konferensi yang mana banyak sekali wartawan yang datang.
Begitu mereka menampakkan diri, sama halnya dengan kejadian di kampus. Wartawan tak berhenti mengambil gambar. Cahaya kamera sangatlah mengganggu namun Ana mulai terbiasa. Tangannya yang digandeng oleh Samuel ditarik agar Ana tak bengong.
Mereka lalu duduk di depan menghadap banyak sekali wartwawan sedang di meja ada tisu, air minum lalu ada beberapa microfon yang berada di atas meja. "Pertama-tama terima kasih atas kedatangan kalian semua yang mau datang ke konferensi. Seperti yang kalian tahu sediri jika konferensi ini dibuat sebab ada berita-berita miring tentang saya dan juga gadis ini."
"Jadi tanpa membuang waktu saya persilakan pada Nona Ana agar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan hubungan saya dengan dia. Setelah ini akan ada sesi tanya jawab maka saya mengharapkan anda bisa bersabar." Samuel lantas berbalik pada Ana yang sedang mengatur napas kemudian mulai berbicara.
"Perkenalkan nama saya Ana Erickson. Umur saya 18 tahun dan saya seorang mahasiswi. Hubungan saya dan Tuan Samuel bukanlah seperti yang dikatakan di semua media. Tuan Samuel adalah orang yang baik karena mau membayar semua biaya operasi adik saya yang terluka cukup parah dan sebagai gantinya saya harus tinggal bersama dia jadi saya pikir hubungan kami hanya sebatas majikan dan pelayan."
"Soal kejadian di restoran, Tuan Samuel mengajak saya makan di restoran dan seorang pelayan tanpa sengaja menuangkan sup panas pada saya dan apa yang dilakukan oleh Tuan Samuel hanya semata-mata untuk menolong saya. Terima kasih." Tanpa Samuel memberitahu, seorang wartawan mengancungkan tangan.
"Silakan,"
"Sudah berapa lama anda kenal dengan Tuan Samuel?"
"Belum lama."
"Jadi anda tak tahu kalau Tuan Samuel dan Nona Martha bertunangan kemudian Tuan Samuel membatalkan pertunangan?"
"Tidak." jawab Ana singkat.
"Apa anda mengenal Nona Martha?"
"Hanya berkenalan sejenak karena pernah bertemu di rumah Samuel."
"Apa kejadian itu sebelum batalnya pertunangan?"
"Tidak. Baru beberapa minggu yang lalu kami bertemu."
"Tuan Samuel lalu bagaimana dengan kehamilan Nona Martha. Selama ini anda selalu menampik bahwa bayi yang sedang dikandung oleh Nona Martha? Apa anda mempunyai bukti bahwa bayi itu bukan milik anda?" Samuel mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Kalau begitu jawab pertanyaanku. Kenapa kalian semua percaya pada Martha yang langsung mengklaim bahwa itu adalah anakku.