WARNING!! Novel ini mengandung Emosi Jiwa😎Jadi Komenlah sesuka hati kalian, jika itu pada pemeran😁
Maya harus menikah dengan pria dingin dan kejam bernama Carlen. Mereka terpaksa menikah karena permintaan sang kakek, dari Carlen.
Namun, siapa yang menyangka. Jika pernikahan Maya harus melalui banyak cobaan dan terjangan badai. Bukan hanya dari suami dan mertuanya saja, tapi dari pihak ketiga juga.
"Aku tidak akan pernah, mencintaimu! Dasar kau wanita rendah!" geram Carlen sambil mendorong tubuh Maya hingga jatuh dan mengenai pecahan beling.
Apakah rumah tangga mereka akan langgeng? Apakah cinta akan tumbuh di hati Carlen untuk Maya? Dan apakah, Maya bisa bertahan demi cintanya?
Simak hanya di Novel ini yuk!! JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN BESTIE🙏🏻😘DAN KOMENLAH YG BIJAK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisyah az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Kakek Albert
Happy reading......
Setelah ketiganya siap, mereka pun turun ke meja makan untuk sarapan. Dan di sana Maya masih berkutat di dapur untuk menyiapkan segalanya. Rania yang melihat itu pun mengajak Maya untuk duduk di meja makan bareng bersama-sama.
Akan tetapi, Carlen menghentikan ulah Rania..Dia tidak ingin duduk bersama dengan Maya, karena selera makannya tiba-tiba saja hilang.
"Kakak malah membiarkan wanita yang bukan istri Kakak, makan semeja, tetapi istri sah sendiri malah dilarang, aneh?" sindir Rania.
"Diamlah Rania! Kakak, sedang tidak ingin berdebat dengan kamu," ucapkan lain dengan nada yang dingin.
"Sudah, tidak apa-apa. Lagi pula Mbak masih banyak kerjaan. Kalau begitu, Mbak permisi dulu ya, mau bersihin kolam renang," ucap Maya. Setelah itu dia pergi meninggalkan meja makan.
Freya pikir, Maya itu cemburu, karena melihat dirinya sedang menyuapi Carlen, tapi nyatanya bukan itu yang membuat Maya pergi meninggalkan meja makan. Dia hanya tidak mau hatinya menjadi kotor, karena sudah membenci seseorang.
Bagi Maya, menghindari itu lebih baik, daripada dia harus berurusan dengan wanita seperti Freya. Maya juga tidak peduli jika Freya dan juga suaminya akan menikah. Karena baginya percuma saja, melarang mereka untuk berpisah. Jika memang hati keduanya sudah berpaut, maka sulit untuk dipisahkan.
Maya sekarang mencoba untuk menguatkan hatinya, walaupun itu sulit. Dia mungkin bisa saja ditindas oleh Carlen, tetapi wanita itu ingin membentengi dirinya sendiri, agar tidak terlalu dalam mencintai. Karena saat mereka berpisah nanti, rasa sakit itu mungkin tidak begitu menyakitkan.
.
.
Rania saat ini baru saja sampai di kampus. Dia lupa mengabari kakeknya tentang apa yang terjadi tadi pagi. Kemudian gadis itu pun mengirimkan pesan kepada sang kakek tentang kejadian, di mana Freya tertumpah oleh telur, dan di mana dia dan juga Carlen berdebat satu sama lain.
"Aku heran sama kakek? Kenapa dia tidak bertindak secara langsung sih untuk menyingkirkan wanita ular itu? Geram sekali aku melihat wajahnya. Ingin muntah!" kesal Rania sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Kakek Albert memang sudah mengetahui tentang kedatangan Freya. Dia mungkin terlihat diam, tetapi sebenarnya dia mengetahui segalanya. Kakek Albert dan juga Rania bekerja sama untuk membuat pelajaran kepada Freya.
Akan tetapi, kakek Albert tidak memisahkan Freya dan juga Carlen. smSebab baginya percuma saja, jika Carlen masih tergila-gila kepada Freya. Cucunya itu harus melihat secara langsung, bagaimana sifat asli kekasihnya, dan bagaimana kebusukan wanita itu. Baru Carlen akan menyadarinya.
Satu buah pesan masuk dari kakek Albert ,yang mengatakan jika mereka harus terus menjalankan rencana untuk membuat pelajaran kepada Freya.
Namun lagi-lagi Rania protes, sebab yang dia takutkan nanti adalah, saat Carlen menyadari semuanya. Maya mungkin saja sudah pergi, dan semua tentu sudah terlambat.
.
.
Sedangkan di tempat lain, Maya sudah siap dengan kerjaannya. Dan dia berencana akan keluar. Wanita itu juga sudah memakai gamis dan hijab syar'i nya, membuatnya benar-benar sangat anggun, walaupun menutup seluruh aurat, hanya menampakan telapak tangan dan wajah saja sesuai dengan Syariat agama.
"Waah, lihatlah wanita udik ini! Mau ke mana? Dengar ya! Kau itu tetap jelek, mau berpakaian seepik apapun, nggak akan pernah menarik perhatian Carlen. Karena tipe-tipe cewek seperti kau ini, nggak masuk dalam kriterianya?" ledek Freya saat Maya melewati ruang tamu.
"Lalu, apa maksud kamu tipenya mas Carlen itu seperti kamu? Wanita yang membuka auratnya untuk semua orang? Tidakkah kamu sadar, kodratnya seorang wanita itu adalah menutup aurat. Tidak memperlihatkan kepada yang bukan muhrimnya," jawab Maya dengan tenang.
"Halah! Jangan sok alim deh lo. Wanita kayak lo itu, cuma mengandalkan hijab hanya untuk menutupi kebusukan lo aja. Sok-sokan menceramahi gue. Kalau mau ceramah tuh di masjid!" ketus Freya yang mulai emosi karena dia tidak terima dinasehati oleh Maya.
"Saya hanya mengingatkan saja sebagai sesama umat muslim, dan wanita muslima, tapi jika memang Anda tidak ingin, ya sudah. Saya juga tidak punya waktu, kalau begitu saya duluan."
Maya berjalan mendahului Freya, tetapi dia melihat dari pantulan cermin lemari jika Freya hendak menjambak jilbabnya. Kemudian wanita itu pura-pura membenarkan tali sepatunya, dan itu membuat Freya tersungkur ke lantai.
"Aawh!" ringis Freya.
"Lantainya sudah dipel, tidak usah dicium seperti itu? Sudah wangi kok," ledek Maya, kemudian dia pergi meninggalkan Freya.
"Hei, wanita udik, tunggu kau! Jangan pergi! Lihat saja,naku akan membalasmu. Aku akan membalasnya lebih kejam!" geram Freya sambil mengepalkan tangannya dan menatap penuh kubencian ke arah Maya.
Wanita itu sampai di sebuah Cafe yang tidak terlalu besar, namun sangat ramai. Karena makanan di sana begitu enak, ditambah suasananya juga terlihat nyaman
"Selamat siang Bu Maya," sapa salah satu pelayan yang ada di cafe tersebut.
"Siang," jawab Maya sambil mencoba mengelilingi cafe. Namun tatapannya terhenti pada seorang pria bule yang tengah duduk sendirian sambil meminum kopinya.
'Looh, dia 'kan yang pernah menolongku waktu di Jerman?' batin Maya.
BERSAMBUNG......
memaafkan boleh tp klo kembali lebih baik sendiri atau cari yg laen krn cam gak ada pembalasan buat suami yg zalim dan tega...
keledai aja nggak mau jatuh dua kali kedalam lbang yg sama
nggak usah pinter pinter
ogaahhh
nggak sudi.. najiiis" kalau jd rania aku jawab gitu