Terlambat Mengerti 1
Arini gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 sebuah perguruan tinggi negeri. Diusianya yang sangat belia dia harus menyandang status ibu dari seoarang bayi perempuan hasil pengkhianatan sahabat dengan tunanganya. Keputusan apa yang akan diambil Arini selanjutnya, apa dia akan membuang bayi itu atau menitipkanya di panti asuhan ataukah merawatnya sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Penasaran ceritanya ? yuk ikuti kelanjutanya..
Terlambat Mengerti season 2
Bagaimana nasib cinta Cila dan Agam ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan mereka terhalang tembok kebencian yang tertanam kokoh dihati Agam karena kisah masa lalunya. Akankan Cinta mampu mengalahkan kebencian tersebut, ataukan justru Cinta baru yang akan hadir menghapus luka...
____________________________________
Cover by pexels
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Arini segera ke resto setelah pekerjaannya selesai berharap segera bertemu Doni dan menjelaskan semuanya. Kebetulan hari ini resto lebih ramai dari biasanya membuat Arini sibuk melayani pelanggan yang terus datang silih berganti, tanpa menyadari bosnya itu tidak berada di tempat.
Setelah resto mulai sepi, Arini celingukan ke kanan kiri mencari keberadaan Doni. Karena biasanya saat resto mau tutup Doni selalu ada membantu pekerjaan pegawainya.
"Kamu cari siapa?" seseorang mengagetkan Arini.
"Oh, nggak kok." Jawab Arini terkejut segera melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya kembali.
Saat Arini beranjak pulang, tanpa sengaja Arini mendengar percakapan pegawai lain yang mengatakan bahwa bosnya sedang berada di luar kota selama kurang lebih lima hari. Arini pun mengambil ponselnya, lalu diusapnya layar ponsel tersebut berharap Doni mengabarinya. Tapi kenyataannya sama sekali tidak ada jejak kabar dari Doni.
"Bagaimana mungkin lelaki seperti dia memiliki perasaan lebih terhadapku, Arini kamu terlalu percaya diri." Arini membatin sambil menghela nafasnya.
Sementara di tempat lain Doni menyendiri di tengah keramaian pesta resepsi pernikahan saudara sepupunya. Doni mengetik pesan untuk Arini lalu menghapusnya, hal itu dilakukannya berulang-ulang sampai akhirnya dia batal
mengirimkan pesan tersebut.
"Bagaimana aku bisa masuk ke dalam hatimu jika di hatimu hanya terisi oleh dia, dia yang juga tersiksa karena meninggalkanmu. Arini..., haruskah aku menyerah?" Doni membatin dalam kebimbangannya.
Sesuai rencana Doni kembali setelah lima hari kepergiannya, dia sampai di Jogja sekitar jam 09.00 pagi. Tempat yang pertama dia tuju adalah sekolahan Cila yang baru. Seminggu ini dia sangat merindukan bocah kecil itu.
"Om Doni...?" Cila langsung berlari memeluk Doni.
"Apa kabar sayang, Om kangen banget sama Cila." Doni mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Cila lalu memeluk dan mengusap pucuk kepalanya.
"Cila juga kangen banget sama Om, seminggu ini ibu nggak pernah ngajak Cila ke resto jadi nggak bisa ketemu Om." Cila mengadu dengan lancarnya.
"Om baru dari luar kota, ini Om bawakan hadiah buat Cila." Doni menyodorkan sebuah boneka kucing kesayangan Cila.
"Makasih om, Oya apa Om mau ketemu Ibu? Tapi Ibu masih kerja, Om susul aja ya." Ucapan Cila yang polos membuat Doni terkejut.
"Nanti juga Om ketemu Ibu kamu di resto. Sekarang Om pulang dulu ya, tuh lihat jam istirahat Cila sudah habis," ucap Doni sambil menunjuk teman-teman Cila yang masuk kelas.
"Baik Om, Om hati-hati ya. Jangan lupa nanti antar Ibu pulang ya." Cila menyalami Doni dengan mencium punggung tangannya, lalu berlarian masuk ke kelas.
"Maaf, Bapak siapa?" tanya Bi Inah setelah Cila masuk.
"Aku Doni, temannya Arini. Apa Ibu yang jagain Cila sekarang?"
"Iya pak, sekarang saya yang jagain Cila."
"Kalau begitu saya titip Cila, dan juga tolong sampaikan salam saya buat Bu Mira. Saya pamit dulu."
"Baik pak, nanti akan saya sampaikan."
Doni pun berlalu meninggalkan sekolah Cila. Dia pulang ke rumahnya, mengistirahatkan tubuh yang lelah karena perjalanan semalaman.
Bi Inah langsung menceritakan kedatangan Doni pada Bu Mira setibanya di rumah. Bi Inah mengira bahwa Doni itu adalah ayah kandung Cila, akhirnya Bu Mira menceritakan semua tentang kisah Arini.
"Oalah..., Mbak Arini kok bisa begitu lapang menerima Cila ya Bu. Semoga Gusti Alloh membalas kebaikannya." Ucap Bi Inah merasa salut dengan kebaikan Arini.
"Awalnya aku juga sangat menentang keputusannya, tapi aku kalah setelah melihat ketulusannya pada Cila."
Percakapan mereka tiba-tiba terhenti ketika Cila datang. Khawatir Cila mendengar percakapan mereka, bocah sekecil itu belum saatnya mengetahui kenyataan yang akan melukainya.
Dalam kegundahan hatinya, Doni akhirnya memutuskan untuk pergi ke restonya. Terlihat dari luar, Arini sedang membawa nampan mengantarkan pesanan pada pelanggan.
"Apa bisa aku menepikanmu Arini ?" Doni terhenti sambil menatap Arini dari kejauhan.
Arini tiba-tiba menengok ke arah Doni, yang akhirnya mereka saling bertatapan.
"Mas Doni ?" ucap Arini kaget melihat keberadaan Doni.
Sementara Doni yang melihat Arini sedang menatapnya segera berpaling lalu menghindar.
Doni segera masuk ke ruangannya, mengecek laporan harian yang selama hampir seminggu ini dia tinggal. Tiba-tiba perutnya terasa sangat lapar, Doni menelepon Chefnya untuk mengantarkan makanan.
Chef menyuruh Arini mengantarkan makanan pada Doni karena kebetulan Arini berada di sebelahnya ketika Doni meneleponnya. Arini mengantarkan makanan itu dengan ragu.
Arini segera masuk ketika ketokan pintunya disahut dari dalam. Betapa kagetnya Doni saat melihat orang yang mengantarkan makananya adalah Arini.
"Maaf, ini makanan Bapak." Ucap Arini lembut.
Doni hanya diam, tidak bergeming sama sekali mendengar ucapan Arini. Sementara Arini yang merasa tidak diharapkan oleh bosnya itu segera keluar dari ruangan itu.
Namun belum sempat pintu terbuka, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
"Aku merindukanmu Arini," Ucap Doni memeluk Arini dengan erat.
Arini berusaha melepaskan pelukan Doni.
"Tetaplah seperti ini, sebentar saja." Pinta Doni pada Arini, Arini hanya menurut dengan perasaan yang dia tidak bisa menjelaskannya.
"Pernahkah sekilas saja, aku ada di hatimu?" Tanya Doni masih memeluknya dengan erat.
Arini hanya diam, dia tidak pernah menyangka akan berada dalam situasi seperti ini.
"Aku mencintaimu Arini." Akhirnya kalimat itu terlontar dengan lancarnya.
Perasaan Arini semakin tidak menentu, jantungnya berdetak tak beraturan.
"Maaf, aku susah bernafas." Ucap Arini yang memang kesulitan bernafas karena pelukan Doni.
Perlahan Doni melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku, maukah kamu mencoba membuka hatimu untukku?" Doni bertanya dengan memegang kedua bahu Arini.
Arini yang bingung harus menjawab apa, akhirnya menganggukan kepalanya tanda setuju.
Melihat jawaban Arini, Doni kembali memeluk Arini dan mengecup keningnya.
"Maaf Mas, aku harus keluar. Aku mau pulang, Cila sudah menungguku."
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak usah Mas, aku biasa pulang sendiri."
" Kalau kamu tidak mau diantar pulang, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari sini," paksa Doni yang akhirnya dituruti oleh Arini.
Mereka pulang bersama, sepanjang perjalanan tidak banyak kalimat yang terucap dari mulut mereka. Doni terlihat sangat bahagia, sesekali dia cengengesan sendiri. Arini hanya tersipu malu dan masih canggung dengan keadaan itu.
Mobil sampai di halaman rumah Arini, Doni menahan tangan Arini sebelum Arini keluar dari mobilnya.
"Mulai sekarang berbagilah semuanya dengan ku." Ucap Doni menatap Arini dalam-dalam.
"Terima kasih Mas, aku keluar dulu. Mas hati-hati di jalan."
"Maafkan aku Mas Doni, mungkin aku belum bisa membalas semua perasaanmu sekarang. Aku akan belajar mencintaimu." Ucap Arini dalam hati ketika mobil Doni mulai menjauh.
"Aku tahu Arini, kamu belum bisa membalas perasaanku sepenuhnya. Aku akan sabar menunggumu, hingga hatimu sepenuhnya hanya untukku.Terimakasih Arini."
Esok harinya adalah hari libur, Doni sengaja menutup restonya hari ini hanya untuk mengajak Arini dan Cila pergi jalan-jalan.
Kali ini mereka pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di Jogja. Bukan untuk belanja melainkan mengajak Cila ke wahana permainan anak yang cukup terkenal.
Mereka bertiga terlihat sangat bahagia menikmati setiap permainan yang ada. Bercanda, tertawa persis sebuah keluarga kecil yang sangat harmonis. Beberapa momen itu Doni abadikan melalui kamera ponselnya.
Setelah puas bermain, mereka berjalan-jalan sebentar di dalam mall tersebut. Karena kelelahan Cila minta digendong, dengan siap Doni mengangkat tubuh bocah kecil itu.
Lalu mereka berjalan beriringan, satu tangan Doni menggendong Cila dan satu tangan lainnya menggandeng erat tangan Arini.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka, Roy melihat dengan tatapan aneh pemandangan itu. Pemandangan romantis Doni dengan Arini yang adalah pegawainya.
pacaran menjauh menderita
sampe lika liku laki2 SAH ttp aja gt, lgsg baca end aja deh
cila itu anak tiri tantemu loh
cila ke agam
utk cinta sejati akan tau balik ke t4 nya..
yo wes lah obati agam aja lha
penyelamat jika ada apa pun.