Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Misi Baru
Keira mulai menunggu pintu seberang terbuka dengan cara yang sangat memalukan.
Tiga hari setelah Engkong pulang ke Jakarta, ia jadi lebih peka pada suara koridor. Bunyi lift berhenti di lantai 16, langkah sepatu, pintu smart lock berbunyi, bahkan suara plastik belanja bergesek. Setiap kali pintu Xavier terbuka, Keira pura-pura sibuk.
Pura-pura mengambil air.
Pura-pura mencari paket.
Pura-pura membuang sampah yang isinya cuma satu tisu.
Masalahnya, Xavier tidak selalu keluar saat ia pura-pura. Kadang yang muncul hanya petugas kebersihan. Kadang tidak ada siapa-siapa. Kadang Mochi mengeong dari balik pintu, seolah ikut mengejek.
Keira akhirnya menyerah dan kembali pada kehidupan normal: kampus, tugas DKV, obat, bubur hambar, dan Nokia tua yang selalu punya cara merusak stabilitas mentalnya.
Siang itu, di studio kampus, Keira baru saja menyelesaikan sketsa karakter webtoon ketika Nokia di dalam tasnya bergetar. Ia menoleh ke kanan kiri. Beberapa teman kelas sedang fokus pada layar laptop, tidak ada yang memperhatikan.
Ia membuka tas sedikit.
`Misi baru: Ikuti mata kuliah pilihan yang sama dengan target selama 5 pertemuan.`
Keira memejamkan mata.
"Lima pertemuan," gumamnya sangat pelan. "Sistem ini makin lama makin mirip admin akademik."
Pesan berikutnya muncul.
`Akses KRS target terbuka sebagian.`
Di layar kecil itu, muncul daftar pendek yang membuat Keira langsung menegakkan badan.
`Xavier Sia. Mata Kuliah Pilihan: Psikologi Hubungan. Kamis 13.00-15.00. Dosen: Bu Ratna.`
Keira menatap nama mata kuliah itu.
Psikologi Hubungan.
Ia ingin tertawa, tetapi takut teman-teman studio mengira ia benar-benar sudah rusak. Dari semua mata kuliah pilihan yang ada, sistem menyuruhnya ikut kelas hubungan bersama cowok yang selama dua minggu terakhir secara publik menjadi pasangan outfit, tetangga seberang, pacar palsu, dan cucu kesayangan keluarga yang hampir memberinya lima miliar rupiah.
"Ini bukan misi," bisiknya. "Ini sinetron dengan SKS."
Ia membuka portal akademik Unpar dari laptop. Jadwal pemilihan mata kuliah pilihan masih terbuka karena beberapa kelas belum penuh. Jarinya mengetik lebih cepat daripada otaknya berpikir.
Psikologi Hubungan.
Kamis.
Bu Ratna.
Sisa kuota: 3.
Keira belum sempat mengklik apa pun ketika chat dari Celine masuk.
`Kei, lo ambil matkul pilihan apa?`
Keira menatap layar.
`Belum tahu. Kenapa?`
`Gue butuh tambah SKS. Psikologi Hubungan masih ada kuota. Katanya tugasnya nggak terlalu neraka. Mau bareng?`
Keira hampir mencium laptopnya.
`IYA.`
Celine membalas:
`Capslock lo mencurigakan.`
`Aku sedang mencintai efisiensi akademik.`
`Bohong, tapi oke. Cepat klik sebelum habis.`
Keira mengklik daftar kelas dengan tangan dingin. Sistem akademik memutar ikon loading yang terasa lebih menegangkan daripada hasil lab. Tiga detik. Lima detik.
`Pendaftaran berhasil.`
Keira menahan napas lega.
Sore itu, ia mampir ke kos Celine dekat kampus. Kamar itu sudah seperti markas tidak resmi: ada laptop Celine dengan game masih terbuka, tote bag Bianca di kursi, dan Tania yang duduk bersila di lantai sambil mengerjakan tugas kelompok dengan wajah orang yang sudah lelah pada umat manusia.
"Akhirnya datang juga," kata Celine tanpa menoleh dari layar. "Gue sudah daftar Psikologi Hubungan. Lo?"
"Sudah."
Bianca yang sedang makan keripik tersenyum kecil. "Berarti kalian sekelas lagi."
"Aman," kata Keira. "Setidaknya ada saksi kalau dosennya aneh."
Tania mengangkat wajah. "Ngomong-ngomong soal aneh."
Keira langsung waspada. "Kenapa aku merasa itu mengarah ke aku?"
"Karena memang." Tania menunjuk pakaian Keira dengan pulpen. "Belakangan kamu sering banget pakai gaya mirip anak Hukum itu."
Celine perlahan menoleh, jelas menikmati.
Bianca juga berhenti mengunyah.
Keira melihat dirinya sendiri. Hari itu ia memakai kaus putih, overshirt navy, dan celana jeans gelap. Lagi-lagi aman. Lagi-lagi terlalu Xavier.
"Kebetulan aja, Kak. Selera fashion mirip."
Tania menatapnya tanpa berkedip.
Keira mempertahankan senyum.
"Kei," kata Tania akhirnya, "Kakak lebih percaya printer kampus tidak error daripada percaya itu kebetulan."
Celine tertawa sampai hampir menjatuhkan HP.
"Kak Tania, jangan fitnah. Ini evolusi style."
"Evolusi style kok arahnya ke Xavier Sia."
Nama itu membuat telinga Keira panas. Ia mengambil keripik dari mangkuk Bianca untuk menyibukkan tangan.
"Aku cuma suka warna netral."
"Dulu kamu suka pakai cardigan kuning."
"Manusia berubah."
"Karena cowok?"
Keira tersedak keripik.
Bianca buru-buru menyodorkan air. Celine memukul punggungnya sambil tertawa jahat.
Tania tidak ikut tertawa. Ia hanya memandang Keira dengan tatapan kakak yang terlalu tajam.
"Aku nggak akan maksa kamu cerita," katanya lebih pelan. "Tapi hati-hati ya. Jangan sampai baper."
Keira menggenggam botol air.
Baper.
Kata sederhana itu tiba-tiba terasa berbahaya. Karena kalau ia jujur, ia tidak tahu apakah yang ia rasakan sekarang masih bisa disebut pura-pura. Ia menunggu pintu seberang terbuka. Ia mengingat cara Xavier membelanya. Ia mengingat suara rendahnya saat berkata `tidak akan lama`.
Dan sekarang ia akan duduk di kelas Psikologi Hubungan bersamanya selama lima pertemuan.
"Aku tahu," jawab Keira akhirnya.
Celine, yang biasanya langsung menggoda, kali ini hanya meliriknya sebentar. Mungkin ia mendengar sesuatu di nada Keira yang tidak siap dijadikan bahan candaan.
Malamnya, di The Springs, Keira membuka portal akademik sekali lagi. Bukan karena perlu. Hanya karena ia ingin memastikan semuanya nyata.
Di layar laptop tertulis jelas:
`Bu Ratna. Psikologi Hubungan. Kamis 13.00-15.00.`
Keira menyandarkan dagu pada tangan.
Ia belum tahu bahwa Bu Ratna terkenal dengan satu kebiasaan paling ditakuti mahasiswa: membuat semua teori hubungan berubah menjadi latihan praktik di kelas.