Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021
Tadi Malam Kamu Panggil Aku Apa?
Ia tetap diam.
Rayhan berdiri di sisi ranjang, menatap jari Kiara yang masih menggenggam ujung kausnya. Genggaman itu lemah, nyaris tidak terasa. Kalau ia menarik sedikit saja, Kiara pasti tidak akan sadar.
Tetapi Rayhan tidak langsung menarik diri.
Wajah Kiara yang tertidur berbeda dari wajahnya ketika siang. Tidak ada upaya terlihat kuat. Tidak ada senyum sopan. Tidak ada kalimat aku bisa sendiri. Hanya kelelahan yang akhirnya menang.
Rayhan menunduk sedikit, menarik selimut sampai menutup bahu Kiara dengan benar.
Jari Kiara bergerak.
"Jangan pergi..." gumamnya, sangat pelan.
Rayhan berhenti.
Ia tahu orang tidur sering bicara tanpa sadar. Ia tahu kalimat itu mungkin bukan untuknya. Bisa untuk Kevin. Bisa untuk siapa pun yang pernah pergi dari hidup Kiara.
Tetap saja, dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang tidak terlihat.
"Aku di sini," jawabnya rendah, meski Kiara mungkin tidak mendengar.
Kiara menghela napas kecil. Genggamannya di kaus Rayhan mengendur, lalu menguat lagi sebentar.
"Mas..."
Satu kata.
Hampir tidak terdengar.
Namun bagi Rayhan, kata itu lebih keras daripada sirene patroli.
Ia membeku di tempat.
Mas.
Kiara belum pernah memanggilnya begitu. Selalu Kak Rayhan. Kadang Kak dengan suara kesal. Kadang hanya nama ketika panik. Mas adalah panggilan yang lebih dekat, lebih hangat, lebih... rumah.
Rayhan menutup mata sejenak.
"Tidur," bisiknya.
Butuh hampir satu menit sebelum ia pelan-pelan melepaskan jemari Kiara dari kausnya. Ia meletakkan tangannya di atas selimut, lalu keluar dari kamar tanpa menoleh lagi.
Di lorong, Rayhan berdiri beberapa detik dengan punggung menempel ke dinding. Rumah itu sunyi, tetapi kata yang baru saja keluar dari bibir Kiara seperti masih bergerak di udara.
Ia menunduk melihat ujung kausnya yang kusut karena digenggam Kiara. Bekasnya tidak ada. Hanya kain yang sedikit tertarik. Namun ia merasa seolah ada tanda yang tidak bisa dilihat orang lain.
Rayhan menarik napas, lalu turun ke lantai bawah. Charger Kiara masih ada di meja makan, kabelnya tergulung separuh. Ia mengambil benda itu, memasukkannya ke laci dekat dapur, kemudian berhenti karena merasa tindakannya sendiri terdengar konyol.
Komandan unit taktis, menyita charger perempuan yang tidur terlalu larut.
Ia hampir tertawa, tetapi sudut bibirnya tidak sampai naik.
Di sudut ruang keluarga, alas anti-slip untuk Kopi sudah menumpuk rapi bersama mangkuk baru dan kain perban cadangan. Ponselnya bergetar sekali. Pesan dari Dokter Yoga masuk singkat.
Dokter Yoga:
Kalau kondisi Kopi stabil, evaluasi rumah bisa dilanjut besok pagi. Saya kabari lagi.
Rayhan membaca pesan itu dua kali. Biasanya ia akan langsung membalas dengan daftar teknis. Malam ini, ia justru menatap tangga menuju kamar Kiara.
Besok ia harus memberi tahu Kiara.
Tapi bukan sekarang. Sekarang perempuan itu harus tidur.
Ia mengambil sticky note dari meja kerja kecil, menulis dengan huruf pendek dan tegas, lalu meletakkannya di atas laptop. Sesudah itu ia mematikan lampu ruang makan dan tetap berdiri beberapa saat di gelap.
Mas.
Kata itu terlalu sederhana untuk membuatnya kacau, tetapi tetap membuatnya tidak bisa langsung naik ke kamarnya.
Pagi datang dengan sangat tidak sopan.
Kiara terbangun pukul 06.42 dan langsung duduk seperti orang disiram air. Ia mencari laptop. Tidak ada. Charger. Tidak ada. Ponsel menunjukkan tiga alarm yang mati sendiri, entah karena ia yang mematikan tanpa sadar atau karena seseorang sudah mematikannya.
"Aduh, mati aku."
Ia turun dari ranjang, hampir tersandung selimut, lalu berlari kecil ke meja. Laptop ada di sana, tertutup rapi. Charger tidak ada.
Di atas laptop, ada sticky note.
Sarapan dulu.
Baru charger kembali.
Kiara menatap tulisan itu dengan perasaan ingin menggigit kertas.
Ia membuka pintu kamar dan mencium aroma roti bakar. Di bawah, Rayhan sudah duduk di meja makan dengan seragam kerja, membaca sesuatu di tablet. Di samping piring Kiara, charger laptop tergeletak seperti sandera yang dijaga ketat.
"Kak Rayhan!"
Rayhan tidak mengangkat kepala. "Pagi."
"Charger."
"Sarapan."
"Aku harus kirim catatan ke Galih sebelum jam delapan."
"Sekarang jam enam empat puluh tujuh."
"Aku butuh edit."
"Kamu butuh makan."
Kiara berdiri di samping kursi, menatap charger, lalu menatap roti bakar, lalu menatap Rayhan. Ia mempertimbangkan kemungkinan mencuri charger dan kabur ke kamar.
Rayhan berkata tanpa melihat, "Jangan."
"Aku belum melakukan apa-apa."
"Wajahmu sudah."
Kiara duduk dengan kesal. Ia menggigit roti bakar lebih keras dari perlu. Rayhan mendorong segelas susu hangat ke arahnya.
"Minum."
"Kak Rayhan sekarang polisi atau petugas kantin?"
"Keduanya kalau perlu."
Ia makan setengah roti, minum susu, lalu mengulurkan tangan dengan telapak terbuka. "Charger."
Rayhan akhirnya mengangkat kepala. "Obat mata."
"Apa?"
Ia meletakkan botol kecil tetes mata di meja. "Matamu merah."
"Kak Rayhan!"
"Setelah itu charger."
Kiara menatapnya tidak percaya. "Ini pemerasan."
"Ini negosiasi kesehatan."
"Tidak ada istilah itu."
"Sekarang ada."
Pada akhirnya, Kiara meneteskan obat mata dengan ekspresi kalah perang. Rayhan baru menyerahkan charger setelah memastikan ia benar-benar mengedip beberapa kali.
"Laptop di bawah saja," kata Rayhan ketika Kiara hendak naik lagi.
"Kenapa?"
"Kalau kamu kerja di kamar, kamu akan lupa makan lagi."
"Aku baru makan."
"Lima gigitan roti tidak dihitung sebagai bukti perilaku baik."
Kiara ingin protes, tetapi deadline lebih penting daripada harga diri. Ia membuka laptop di meja makan, menancapkan charger dengan gerakan cepat, lalu mulai membaca ulang catatan wawancara. Rayhan tidak duduk di sampingnya. Ia memberi jarak di kursi seberang, cukup jauh untuk tidak mengintimidasi, cukup dekat untuk membuat Kiara sadar ia sedang diawasi.
Setiap kali Kiara mengucek mata, Rayhan mengetuk meja satu kali.
"Aku tahu," gerutu Kiara.
"Aku belum bicara."
"Ketukan Kak Rayhan lebih cerewet daripada suara orang."
"Bagus kalau sampai."
Kiara menahan senyum dan kembali mengetik. Anehnya, kepalanya memang lebih ringan. Kalimat yang semalam terasa kusut mulai tersusun. Bagian Reza yang terlalu genit ia pisahkan dari bagian jawaban kampanye anti-narkoba. Bagian tatapan Brandon ia simpan sebagai catatan samping, bukan bahan utama.
Rayhan melirik layar sebentar, lalu menggeser sepiring potongan pepaya ke dekat siku Kiara.
"Aku tidak lapar."
"Aku tidak bertanya."
"Kak Rayhan suka sekali menang hari ini."
"Hari ini baru mulai."
Catatan untuk Galih terkirim pukul 07.36.
Balasan datang pukul 07.42.
Galih:
Ini bagus. Bagian jeda sebelum jawaban kampanye anti-narkoba penting. Bu Ratna harus lihat.
Kiara menatap pesan itu, semua rasa kesal menguap seperti air panas.
"Kak Rayhan." Ia mengangkat ponsel. "Galih bilang bagus."
Rayhan berdiri untuk mengambil tas kerja. "Aku bilang juga apa?"
"Kak Rayhan bilang tidur."
"Dan setelah tidur, catatanmu bagus."
Kiara ingin membantah, tetapi bukti ada di layar. Ia hanya mencibir kecil. "Kebetulan."
"Tentu."
Cici mengirim pesan tidak lama kemudian.
Cici:
Lo beneran tidur? Galih bilang catatan lo tajam. Jangan-jangan tetangga misterius editin?
Kiara:
Dia cuma menyita charger.
Cici:
ITU LEBIH INTIM DARIPADA EDITIN.
Kiara hampir tersedak susu.
Rayhan menatapnya. "Cici?"
"Bukan apa-apa."
"Kalau dia mendukung penyitaan charger, sampaikan terima kasih."
"Dia tidak boleh tahu Kak Rayhan makin percaya diri."
Rayhan mengambil kunci mobil. "Aku ke Polda. Kamu ke kantor jam berapa?"
"Jam sembilan. Aku bisa pesan Grab."
"Aku antar."
"Kak Rayhan ada kerja."
"Aku lewat."
"Kota Barat Post tidak searah Polda."
"Hari ini searah."
Kiara menatapnya. "Rute bisa berubah karena kemauan Kak Rayhan?"
"Bisa."
Jawaban itu begitu datar sampai Kiara tidak tahu harus tertawa atau menyerah.
Ia akhirnya berdiri untuk mengambil tas. Ketika melewati Rayhan, ingatan samar tentang malam tadi tiba-tiba muncul. Bukan gambar utuh. Hanya sensasi hangat, bau sabun, tangannya menggenggam sesuatu, dan satu kata yang seperti pernah melewati bibirnya.
Kiara berhenti.
Rayhan memperhatikannya. "Ingat sesuatu?"
Jantung Kiara langsung tidak enak. "Apa?"
Rayhan memasukkan kunci mobil ke saku, lalu menunduk sedikit, cukup dekat untuk membuat pagi yang tadinya biasa berubah panas.
"Tadi malam," katanya pelan, "kamu panggil aku apa?"