NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 Selir Melati

"Selir Melati?" Anindya mengulang pelan.

Nama itu tertinggal di ruang dalam Puri Timur seperti serpihan kaca kecil. Tidak tajam pada pandangan pertama, tetapi cukup untuk melukai siapa pun yang menginjaknya tanpa melihat.

Arjuna menatap Garuda. "Jelaskan."

"Dayang pembawa bubuk diarahkan ke halaman belakang tempat pelayan Selir Melati biasa menerima kiriman kain dan obat murah," kata Garuda. "Di sana sudah ada kantong kosong dengan sisa bubuk yang sama. Terlalu rapi."

"Rapi untuk ditemukan," kata Anindya.

Garuda menunduk. "Benar, Gusti Putri."

Arjuna memandang Anindya. Wajah istrinya masih pucat, tetapi matanya bekerja cepat. Ia tidak lagi hanya menerima kabar. Ia menghubungkan titik-titik yang ditinggalkan orang lain.

"Mereka ingin membuat Selir Melati terlihat seperti iri pada Putri Mahkota," kata Anindya. "Seorang selir rendah, tidak diperhatikan Baginda, lalu merasa keberatan melihat istri Pangeran Mahkota disayang."

"Motif yang mudah dipercaya," kata Arjuna.

Terlalu mudah.

Di keraton, perempuan rendah bisa dijadikan alasan untuk banyak dosa. Jika ia bicara, orang menyebutnya cemburu. Jika ia menangis, orang menyebutnya licik. Jika ia mati, orang menyebutnya tidak kuat menanggung malu.

Anindya menurunkan mangkuk buburnya. "Aku ingin melihatnya."

Arjuna langsung mengerutkan dahi.

"Bukan untuk berjalan jauh," tambah Anindya sebelum ia melarang. "Cukup di pendopo samping. Jika Kakanda mengirim orang laki-laki, Selir Melati akan semakin takut. Jika aku datang sebagai perempuan yang hampir dijadikan korban, ia mungkin berani bicara."

Arjuna tidak langsung menjawab. Perlindungan paling mudah adalah mengunci pintu. Namun Anindya bukan barang pusaka yang bisa disimpan di kotak kayu.

"Wulan ikut. Suradi menunggu di luar. Garuda menjaga jarak."

Anindya mengangguk. "Dan Kakanda?"

"Aku akan berada cukup dekat untuk membuat orang berpikir dua kali."

Kali ini, Anindya tersenyum sangat tipis. "Itu bukan jawaban, tapi hamba terima."

Arjuna hampir membalas senyum itu. Hampir.

***

Selir Melati tinggal di paviliun kecil di sisi belakang keraton, tempat bayangan pohon sawo jatuh terlalu panjang pada sore hari.

Bangunannya bersih, tetapi dingin. Tidak ada kain mahal, tidak ada bunyi gamelan, tidak ada dayang yang keluar masuk membawa buah segar. Hanya ada satu tikar rapi, meja rendah, dan poci teh yang retak di bagian mulut.

Ketika Anindya masuk, Selir Melati langsung berlutut.

"Gusti Putri, hamba tidak tahu apa pun. Hamba tidak pernah menyentuh jamu itu."

Suaranya parau, seolah ia sudah menangis sejak pagi tetapi tidak berani bersuara.

Anindya berhenti dua langkah darinya. "Bangunlah. Aku tidak datang untuk memaksamu mengaku."

Selir Melati mengangkat wajah ragu-ragu. Perempuan itu masih muda, tetapi matanya terlihat lebih tua daripada usianya. Di pergelangan tangannya ada bekas merah tipis, seperti pernah dipegang terlalu keras.

Wulan melihatnya dan menahan napas.

"Siapa yang datang ke halaman belakangmu pagi ini?" tanya Anindya.

Selir Melati menggenggam ujung kainnya. "Hamba tidak melihat. Pelayan hamba disuruh mengambil kiriman obat. Setelah itu, seseorang meninggalkan kantong di dekat kendi air. Ketika hamba melihat bubuk di dalamnya, hamba takut. Hamba belum sempat melapor."

"Karena kau tahu jika melapor kepada Puri Ratih, kau tetap akan disalahkan."

Air mata Selir Melati jatuh tanpa suara.

Jawaban itu sudah cukup.

Anindya duduk di kursi rendah. Tubuhnya masih lelah, tetapi ia sengaja tidak meminta Wulan memapah. Di depan perempuan seperti Melati, ia harus tampak bukan hanya sebagai orang sakit, melainkan sebagai tempat berlindung yang mungkin.

"Dengarkan aku," kata Anindya. "Mulai hari ini, jangan makan atau minum apa pun yang tidak datang dari tangan pelayanmu sendiri. Jika ada orang memaksamu menandatangani pengakuan, robek tanganmu sendiri sebelum membubuhkan cap."

Selir Melati gemetar. "Gusti Putri..."

"Aku tidak menyuruhmu melawan sendirian. Aku menyuruhmu bertahan sampai kami menemukan jalan."

Kata kami membuat wajah Selir Melati berubah. Di istana, ia sudah terlalu lama hanya punya kata aku.

Dari luar paviliun, terdengar suara langkah. Garuda muncul di ambang pintu, tidak masuk.

"Gusti Putri, ada orang Puri Ratih menuju kemari."

Anindya berdiri. "Berapa orang?"

"Tiga dayang dan satu pengurus."

Selir Melati langsung pucat. "Mereka akan membawa hamba."

"Tidak," kata Anindya.

Ia menoleh pada Wulan. "Ambil kotak obat Suradi."

Wulan segera keluar. Tidak lama kemudian ia kembali membawa kotak kecil dan selembar catatan medis. Anindya membuka kotak itu, mengambil botol jamu pemulih yang memang diberikan Suradi untuk dirinya, lalu meletakkannya di meja Selir Melati.

"Jika mereka bertanya, katakan aku datang memeriksa apakah ada ramuan yang sama di sini. Katakan Tabib Kerajaan akan mencatat semua obat di paviliun ini karena namamu disebut dalam perkara jamu Putri Mahkota."

Selir Melati memandang botol itu seperti melihat tali di atas jurang.

"Mereka tidak bisa membawamu diam-diam jika namamu sudah tercatat dalam pemeriksaan resmi," lanjut Anindya. "Setidaknya tidak hari ini."

Langkah di luar semakin dekat.

Anindya keluar dari paviliun tepat saat pengurus Puri Ratih tiba. Perempuan itu terkejut melihatnya.

"Gusti Putri?"

Anindya tersenyum sopan. "Permaisuri tentu ingin pemeriksaan berjalan bersih. Aku sudah meminta Tabib Suradi mencatat semua obat Selir Melati. Jangan sampai ada yang hilang sebelum dicatat."

Pengurus itu membeku.

Garuda berdiri di belakang pohon sawo, diam seperti bayangan.

Pesan Anindya jelas. Ambil Selir Melati sekarang, dan semua orang akan tahu Puri Ratih menghilangkan saksi.

Pengurus itu akhirnya menunduk. "Hamba mengerti."

***

Di Puri Ratih, Selir Ningrum menjatuhkan seutas benang hitam ke mangkuk bunga kenanga.

Gerakannya sangat kecil. Tidak ada yang memperhatikan selain dayang tua yang sedang mengganti air bunga. Dayang itu mengambil benang tersebut bersama kelopak layu, lalu keluar seperti biasa.

Ratih duduk di kursi utama, mendengar laporan pengurus dengan wajah tanpa riak.

"Putri Mahkota sudah mendahului kita," kata pengurus itu.

"Bukan mendahului," kata Ratih. "Pangeran Mahkota yang mengajarinya berjalan."

Selir Ningrum yang duduk di sisi belakang menundukkan mata. "Gusti Putri tampak lemah tadi pagi. Mungkin beliau hanya takut namanya ikut terseret."

Ratih meliriknya. "Kau kasihan padanya?"

"Hamba hanya berpikir perempuan sakit biasanya mencari pegangan, Permaisuri."

Ratih tersenyum lagi. "Kalau begitu, biarkan ia menggenggam Selir Melati. Pegangan yang lemah akan patah lebih dulu."

Selir Ningrum menunduk lebih dalam. Tidak seorang pun melihat ujung jarinya yang sedikit memucat.

***

Malam itu, Arjuna menerima benang hitam kedua.

Kali ini, benang itu diikat pada kelopak kenanga kering. Adi meletakkannya di atas meja, lalu membuka kertas kecil yang diselipkan di dalamnya.

"Ratih akan membiarkan Selir Melati hidup untuk sementara," kata Arjuna setelah membaca pesan. "Ia ingin melihat apakah kita benar-benar melindunginya."

Anindya duduk di seberang meja dengan selimut tipis di bahu. "Berarti Selir Melati menjadi umpan."

"Jika kita menariknya terlalu cepat, Ratih tahu jalurnya terbaca. Jika kita membiarkannya tanpa penjagaan, ia mati."

"Maka jangan tarik," kata Anindya. "Pasang jaring di sekelilingnya."

Arjuna menatapnya.

Anindya melanjutkan, "Biarkan Ratih mengira kita hanya kasihan pada seorang selir rendah. Sementara itu, hitung siapa saja yang mendekati paviliunnya."

Untuk beberapa detik, Arjuna tidak berkata apa-apa. Lalu ia tertawa pelan, begitu pendek sampai hampir hilang di antara bunyi lampu minyak.

"Apa?"

"Aku sedang berpikir," katanya, "Puri Timur lebih menakutkan sejak kau ikut duduk di meja ini."

Panas halus naik ke telinga Anindya. Ia pura-pura merapikan selimut. "Itu pujian atau peringatan?"

"Pujian."

Sebelum Anindya sempat menjawab, Garuda masuk dengan wajah lebih tegang daripada biasanya.

"Yang Mulia, kabar dari Kadipaten Cendekia."

Arjuna langsung berdiri.

Garuda menyerahkan tabung bambu kecil yang segelnya tergores.

"Rombongan yang dikirim menjemput Eyang Maha diserang di jalan utara. Surat perintah kerajaan yang mereka bawa dinyatakan palsu oleh pos penjaga."

Wajah Arjuna berubah dingin.

Anindya menggenggam ujung selimutnya.

Garuda menambahkan, "Jika pesan ini benar, seseorang ingin memastikan Eyang Maha tidak pernah kembali ke Kota Raja."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!