NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002

Keluarga yang Dingin

Tidak ada yang langsung menjawab.

Yolanda berdiri dengan dagu terangkat, tetapi ujung jarinya mencengkeram ponsel terlalu kuat. Meilin masih menutup mulut, matanya basah. Hendrawan menatap Seraphina seolah baru pertama kali menyadari bahwa gadis yang ia panggil pulang dari Surabaya itu tidak akan mudah dilipat.

Di ujung tangga, Darren Lim akhirnya bergerak.

"Yolanda," katanya pelan.

Satu kata saja. Tidak keras. Tidak cukup untuk disebut pembelaan.

Namun bagi Yolanda, satu kata itu cukup untuk membuat wajahnya berubah. Ia menoleh kepada Darren dengan mata melebar, seperti anak kecil yang baru saja dikhianati.

"Ko Darren juga mau menyalahkan aku?"

Darren turun dua anak tangga, lalu berhenti. Jas kerjanya masih basah sedikit di bagian bahu. Ia melihat Seraphina, ada sesuatu yang rumit di matanya. Rasa bersalah, mungkin. Atau rasa ingin tahu. Atau ketidakberanian yang sudah terlalu lama menjadi kebiasaan.

"Aku hanya bilang, sudah malam."

Seraphina hampir tersenyum.

Sudah malam.

Itu cara keluarga Lim menghentikan luka, bukan dengan meminta maaf, melainkan dengan memindahkan jam.

Hendrawan berdiri. "Cukup. Semua orang kembali ke kamar masing-masing."

Yolanda membuka mulut, hendak protes, tetapi tatapan Hendrawan membuatnya menelan kata-kata. Ia berbalik dengan gerakan tajam. Saat melewati Seraphina, bahunya sengaja menyenggol lengan Seraphina.

Tidak keras, tetapi cukup untuk menunjukkan niat.

Seraphina tidak bergeser.

Yolanda berhenti setengah detik karena tubuh Seraphina tidak memberi ruang. Senyumnya kembali tipis, lalu ia melangkah ke tangga.

"Selamat malam, Kakak," ucapnya manis.

Kata itu terdengar lebih tajam daripada hinaan.

Seraphina menatap punggungnya. "Selamat malam, Yolanda."

Darren masih berdiri di tangga. Ketika mata mereka bertemu, ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak sedikit, tetapi akhirnya hanya mengangguk kaku.

"Sera," panggilnya.

Seraphina menunggu.

Darren menelan ludah. "Koper kamu sudah dibawa ke kamar. Kalau butuh sesuatu..."

"Saya akan minta ke staf."

Kalimat itu memotong ruang di antara mereka.

Darren terdiam. Lalu, pelan-pelan, ia mengangguk lagi.

Meilin berdiri dari sofa. "Mama antar ke kamar."

Seraphina menoleh. "Bu Meilin tidak perlu repot."

Kata `Bu Meilin` membuat napas Meilin tertahan. Seraphina melihat luka itu muncul di wajahnya, tetapi ia tidak bisa memaksa diri untuk melembut. Ada jarak yang tidak bisa ditutup hanya karena seseorang tiba-tiba ingin memakai kata Mama.

Hendrawan memberi isyarat kepada pelayan. "Antar Nona Seraphina."

Pelayan perempuan itu menunduk. "Baik, Tuan."

Kamar yang disiapkan untuk Seraphina berada di sayap timur lantai dua, setelah melewati lorong panjang yang lampunya menyala otomatis saat orang melangkah. Di satu sisi lorong ada jendela tinggi menghadap taman belakang. Di sisi lain, beberapa pintu kamar tertutup rapat. Tidak ada suara keluarga. Tidak ada tawa. Rumah sebesar itu ternyata bisa terasa lebih sepi daripada kamar kos mahasiswa.

Pelayan membuka pintu terakhir.

"Ini kamar Nona."

Seraphina masuk. Ruangan itu luas, bersih, dan dingin. Seprai putih tanpa lipatan, meja rias tanpa barang pribadi, lemari kosong yang sudah diberi pewangi, bunga segar di vas kaca. Semua tampak mahal, tetapi tidak ada satu pun yang terasa disiapkan untuk dirinya.

Lebih mirip kamar hotel.

Atau kamar tamu yang diberi nama baru.

"Kalau Nona butuh sesuatu, tekan bel di samping tempat tidur," kata pelayan.

"Terima kasih."

Pelayan itu ragu sebentar. Matanya bergerak ke wajah Seraphina, lalu cepat menunduk lagi. "Selamat beristirahat, Nona."

Pintu tertutup.

Seraphina berdiri di tengah kamar cukup lama. Setelah itu ia membuka koper, mengeluarkan beberapa pakaian, lalu berhenti ketika melihat sebuah pouch kecil warna biru tua di antara tumpukan baju. Mama Kartika yang memasukkannya diam-diam sebelum ia berangkat. Di dalamnya ada obat flu, minyak kayu putih, plester, dan selembar kertas kecil.

Kalau sakit, jangan sok kuat.

Tulisan Mama Kartika besar dan miring, sama persis seperti orangnya.

Seraphina menekan kertas itu dengan ibu jari. Dadanya yang sejak tadi keras perlahan terasa nyeri.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Mama Kartika.

Sudah sampai? Jangan lupa makan. Kalau rumah itu terlalu dingin, pakai jaket. Mama tahu kamu suka pura-pura kuat.

Seraphina membaca pesan itu dua kali.

Ia ingin membalas, rumah ini tidak hanya dingin. Rumah ini seperti tidak pernah menunggu siapa pun pulang.

Namun yang ia ketik hanya:

Sudah sampai, Ma. Aku baik-baik saja.

Kebohongan kecil terkirim, lalu layar menjadi gelap.

Malam semakin larut. Setelah mandi, Seraphina duduk di tepi tempat tidur, rambutnya masih lembap. Dari luar kamar terdengar langkah kaki pelan. Seseorang berhenti di depan pintunya.

Seraphina mengangkat kepala.

Tidak ada ketukan.

Hanya keheningan.

Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi porselen diletakkan di lantai. Langkah itu belum pergi. Orang di luar masih berdiri, terlalu lama untuk sekadar mengantar makanan.

Seraphina tidak bergerak.

Di balik pintu, suara Meilin terdengar sangat pelan.

"Sera... Mama taruh sup di depan pintu. Kamu belum makan dari sore."

Seraphina memejamkan mata.

Mama.

Kata itu datang terlambat, mengetuk pintu yang sudah ia kunci dari dalam.

Meilin menunggu lagi. Mungkin berharap pintu terbuka. Mungkin berharap Seraphina menjawab. Setelah hampir satu menit, langkahnya akhirnya menjauh.

Seraphina tetap duduk sampai suara itu benar-benar hilang.

Baru setelah itu ia berdiri dan membuka pintu.

Di lantai depan kamar ada nampan kecil. Semangkuk sup ayam kampung dengan irisan jahe dan angco, tutup porselennya masih berembun. Di sampingnya ada sendok perak dan segelas air hangat. Seraphina menyentuh sisi mangkuk. Masih hangat.

Bukan hangat karena baru selesai dimasak.

Hangat karena seseorang menunggu di depan pintu cukup lama sambil memastikan sup itu tidak keburu dingin.

Rasa sakit itu datang tanpa suara.

Kalau Meilin hanya dingin, Seraphina mungkin bisa membencinya lebih mudah. Namun perempuan itu tidak sepenuhnya dingin. Ia memberi sup, tetapi tidak berani membela. Ia memanggil Mama, tetapi tidak berani meraih. Ia berdiri di depan pintu, tetapi tidak mengetuk.

Seraphina mengangkat nampan itu, membawanya ke kamar mandi, lalu menuang sup ke wastafel.

Aroma jahe naik bersama uap tipis.

Ia melihat kuah bening itu menghilang ke lubang pembuangan sampai tidak tersisa apa pun selain beberapa potong angco yang tertahan di saringan.

"Aku tidak lapar," bisiknya.

Entah untuk siapa.

Pagi berikutnya, keluarga Lim sarapan di ruang makan panjang yang bisa menampung dua puluh orang, meski hanya lima kursi yang terisi. Hendrawan duduk di kepala meja. Meilin di sisi kanan. Yolanda di sampingnya, segar dengan riasan tipis, seperti semalam tidak pernah terjadi. Darren duduk di seberang, lebih banyak menatap kopinya daripada orang-orang di meja.

Seraphina datang tepat pukul tujuh.

Yolanda menatapnya dari balik cangkir teh. "Kau tidur nyenyak? Kamar tamu kami cukup nyaman, kan?"

Darren mengangkat wajah. "Yolanda."

Kali ini nadanya sedikit lebih tegas.

Yolanda mengerucutkan bibir. "Aku cuma bertanya."

Seraphina menarik kursi dan duduk. "Nyaman. Terlalu nyaman untuk orang yang tidak berniat tinggal lama."

Pisau di tangan Meilin berhenti.

Hendrawan menatapnya. "Apa maksudmu?"

"Saya ingin pindah."

Yolanda tertawa kecil. "Baru satu malam sudah tidak kuat?"

Seraphina tidak menoleh. "Saya punya pekerjaan. Akan lebih praktis kalau tinggal dekat pusat kota."

"Pekerjaan?" Yolanda menyandarkan punggung. "Bisnis kecil dari Surabaya itu?"

"Cukup kecil untuk tidak mengganggu siapa pun," jawab Seraphina. "Tapi cukup serius untuk membuat saya tidak punya waktu bermain drama keluarga setiap pagi."

Wajah Yolanda memerah.

Darren menutup mulutnya dengan punggung tangan, entah batuk atau menahan sesuatu.

Hendrawan meletakkan garpu. "Kau baru pulang. Orang akan bertanya kalau kau langsung keluar dari rumah ini."

"Orang juga akan bertanya kalau setiap malam ada yang memanggil saya anak haram di ruang keluarga."

Keheningan turun lagi.

Meilin menunduk. Darren menatap Seraphina lebih lama, kali ini tanpa menghindar. Ada penyesalan di sana, tetapi penyesalan tidak mengubah apa pun.

Hendrawan akhirnya berkata, "Papa punya unit apartemen di SCBD. Aman, dekat kantor, dan cukup pantas untuk nama Lim."

Seraphina mengangkat alis. Ia tidak menyangka persetujuan datang secepat itu.

Hendrawan menyeka bibir dengan serbet. "Kau boleh pindah sore ini. Sopir akan mengantar. Tapi ingat, Seraphina, tinggal di luar bukan berarti kau bebas dari keluarga ini."

Tentu saja.

Tidak ada pemberian gratis dari Hendrawan Lim.

"Apa syaratnya?"

Hendrawan menatapnya dengan senyum yang terlalu tipis untuk disebut hangat. "Kau pintar. Bagus."

Yolanda memandang ayahnya, mulai gelisah. "Papa..."

Hendrawan mengabaikannya. "Jakarta punya banyak teman yang ingin mengenalmu. Beberapa dari mereka penting untuk masa depan keluarga Lim. Kalau Papa memintamu hadir di sebuah acara, kau datang."

Seraphina menatap pria di ujung meja itu.

Baru semalam ia diperlakukan seperti tamu yang memalukan. Pagi ini, ia sudah dipindahkan seperti aset yang akan dipakai pada waktu yang tepat.

Di bawah meja, jari Seraphina mengepal di atas pangkuan.

"Jadi itu alasan Papa memanggil saya pulang?"

Hendrawan tidak menjawab langsung. Ia hanya mengambil cangkir tehnya, seolah pertanyaan itu tidak pantas mengganggu sarapan.

"Selesaikan sarapanmu," katanya tenang. "Sore ini kau pindah ke SCBD."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!