Kisah seorang puteri yang diasingkan namun tiba-tiba harus menikah dengan seorang raja yang tidak mencintainya.
Sehari setelah pernikahannya, Raja segera mengangkat kekasihnya menjadi selir yang lebih disayanginya.
****
Cerita ini tidak hanya seputar konflik cinta segitiga tapi juga terdapat persahabatan dan petualangan seru untuk disimak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Mulhayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Di Hutan
Di dalam kamarnya, Raja Satria duduk di kursi dekat jendela dengan perasaan gelisah. Berkali-kali diyakinkannya dirinya sendiri bahwa keputusannya sudah benar. Sebagai seorang Raja, dia harus lebih mementingkan rakyat dibandingkan keinginannya sendiri. Namun dalam hati kecilnya, dia merasa keputusannya itu salah. Sebagai seorang suami, dia telah gagal melindungi istrinya.
Karena itu Raja sama sekali tidak berani menemui Ratu Gita. Bahkan dia tidak punya nyali untuk mengantar kepergian istrinya itu ke pengasingan.
Di dalam rapat tertutup saat membahas kasus Ratu Gita, sebagian besar anggota Dewan Kerajaan mendesaknya untuk berlaku adil. Mereka terlihat sangat berharap agar Ratu Gita bisa dihukum. Raja sebenarnya bisa saja membela istrinya, karena wanita itu tidak terbukti melakukan kejahatan. Namun dia khawatir kalau Dewan Kerajaan maupun rakyat akan menganggapnya pilih kasih. Rasa keadilan sangat dijunjung tinggi oleh bangsa Elfian. Oleh karena itu Raja Satria menyetujui saran Ketua Dewan Kerajaan untuk mengasingkan istrinya.
Raja Satria tidak bisa membayangkan apa yang akan dialami istrinya itu di tengah hutan. Dia sendiri belum pernah datang ke tempat itu, namun setahunya tempat itu terisolasi dari peradaban. Raja khawatir bagaimana Ratu Gita bisa bertahan hidup di tempat itu selama enam bulan ke depan.
"Tok..tok.." Terdengar ketukan di pintu.
"Masuklah!"
"Ini aku, sayang!" Selir Mayang muncul dari balik pintu.
"Ada apa?" Tanya Raja dengan wajah datar. Bagaimanapun juga orang yang memaksanya untuk mengasingkan Ratu Gita adalah ayah dari selir itu. Hal itu membuat perasaan Raja menjadi kesal.
"Bolehkah aku menemanimu malam ini?" Selir Mayang tersenyum manis. Wanita itu mendekati Raja dan mengelus pundaknya.
"Sebaiknya kau kembali ke tempatmu! Aku sangat lelah." Raja menepis tangan selirnya itu, lalu berdiri memunggungi.
Wajah Selir Mayang terlihat kecewa, namun dia tidak akan menyerah secepat itu. Dipeluknya tubuh Raja dari belakang, dan kepalanya disandarkan pada punggung pria itu.
Raja Satria merasakan deru napas di punggungnya. Tiba-tiba dia mengenang masa-masa indah mereka bersama. Wanita cantik itu adalah satu-satunya wanita yang mengisi hari-harinya. Bahkan mimpi-mimpinya.
Raja Satria memejamkan mata untuk meyakinkan diri jika perasaannya masih sama untuk wanita itu. Akankah dia akan menepati janjinya untuk menjadikan Selir Mayang menjadi yang lebih utama dibandingkan Ratu Gita? Selir yang kekuasaannya melebihi Ratu kerajaan ini?
Raja berbalik dan menatap wajah kekasihnya itu. Perasaan cinta yang dulu menggebu-gebu di hatinya kini seolah tak bersisa. Raja menghela napas panjang. Bukan salah wanita ini jika dia sekarang menuntut janji yang telah diucapkannya.
Raja mengelus kepala Selir Mayang dan menatap matanya yang indah. Hatinya merasa iba.
"Maafkan aku karena sudah mengecewakanmu." Ucap Raja penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja sekarang." Selir Mayang tersenyum dengan perasaan terharu.
"Maaf aku tidak bisa menjadi kekasihmu lagi. Hatiku terlalu kecil untuk menampung cintamu, karena sudah ada orang lain yang mengisinya."
Wajah Selir Mayang seketika menjadi merah padam mendengar penuturan Raja Satria. Matanya berkaca-kaca menahan kepedihan di hatinya.
" Tapi jangan khawatir, aku akan memenuhi janjiku." Raja meneruskan kalimatnya.
"Kekuasaanmu akan lebih besar dari Ratu Gita selama dia dalam pengasingan. Tugas-tugas kenegaraan yang diemban Ratu Gita akan beralih padamu. Kaulah yang akan mendampingiku memerintah kerajaan ini sampai masa pengasingan Ratu Gita selesai."
Setetes air mata mengalir di pipi Selir Mayang. Dia baru tahu betapa sakitnya mengetahui kalau kekasihnya menyimpan perasaan cinta pada orang lain. Selama ini dia begitu percaya diri bahwa hati pria ini takkan pernah berpaling.
Kini pada saat kemenangannya tiba, ketika Ratu Gita akhirnya diusir dari istana ternyata pria di depannya ini malah tak mampu melupakan Sang Ratu. Rupanya bayangan wanita itu sudah menancap erat pada jantungnya.
Selir Mayang pergi meninggalkan Raja dengan kemarahan memenuhi rongga dadanya. Dia harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.
*****
Di hutan belantara yang jauh dari peradaban, Ratu Gita sedang berkonsentrasi untuk membidik buruannya. Binatang pengerat bertelinga panjang itu terlihat sedang mengunyah lobak liar.
Dengan sekali tarikan kuat, sebuah anak panah terbang melesat dan langsung mengenai sasarannya. Kelinci itu menggelepar sesaat dan langsung tak bergerak. Ratu kemudian mengambil binatang itu dan memasukkannya kedalam kantong yang sudah berisi dua ekor kelinci.
Ratu kemudian kembali ke pondoknya. Dengan cekatan wanita itu menguliti binatang buruannya dan memotong-motongnya. Sebagian dagingnya akan dia masak hari ini dan sebagian lagi akan dia keringkan untuk persediaan.
Dapurnya kini sudah dipenuhi aroma masakan yang lezat. Meskipun dia belum pernah memasak sebelumnya, namun wanita itu berusaha untuk mengolah bahan makanan dengan sebaik-baiknya agar tidak terbuang percuma.
Tak lama kemudian, wanita bangsawan itu sudah menikmati makanannya dengan lahap. Dia berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang membuatnya sedih.
Dia sedang berpikir untuk menanam sayuran di kebunnya. Besok dia akan mencari bibit sayuran di hutan, sepertinya ada tanaman sayur di tempat dia menangkap kelinci tadi.
Ketika Ratu Gita selesai makan, tiba-tiba hujan turun. Segera dia menumpuk kayu bakar dan menyalakan perapian. Kemudian dipandanginya tetesan hujan dari balik jendela. Beberapa ekor burung tampak bertengger di dahan pohon untuk berteduh.
Hujan tampaknya masih lama untuk berhenti. Ratu memutuskan untuk mengunci pintu dan jendelanya. Kemudian wanita itu naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Pikirannya melayang, membayangkan apa kira-kira yang sedang dilakukan oleh Raja Satria. Apakah pria itu memikirkannya?
Ratu Gita cepat-cepat menggelengkan kepalanya untuk menepis pikirannya itu. Entah mengapa meskipun dia tahu bahwa Raja Satria tidak mempedulikannya, namun hati kecilnya berharap pria itu masih mengingatnya.
Ratu Gita masih tenggelam dalam lamunan hingga tanpa dia sadari dari tadi ada yang mengetuk pintunya.
"Tok...tok..tok..."
Ratu Gita yang tersadar dari lamunannya, segera menajamkan pendengarannya. Benarkah ada orang yang mengetuk pintu pondoknya? Di tengah hutan begini?
Seketika perasaan takut menyelimutinya. Siapakah yang ada di luar? Apakah dia bermaksud jahat?
Dengan gugup Ratu Gita berjalan mendekati pintu. Dengan ragu-ragu dia meraih handle pintu dan membukanya.
"Maaf mengganggu, bolehkah aku menumpang berteduh hingga hujan reda?" Seorang pemuda dengan rambut hitam yang basah, berdiri di depan pintu.
"Kau siapa?" Tanya Ratu Gita, dia ragu untuk mengizinkannya masuk.
"Perkenalkan, namaku Arya. Aku dan adikku kehujanan saat hendak pulang sehabis mencari tanaman herbal."
"Adikmu?" Tanya Ratu Gita dengan heran.
"Ya, adikku Sekar." Tangan Arya menarik lengan seorang gadis kecil yang ternyata dari tadi bersembunyi di belakangnya.
Melihat gadis kecil yang basah kuyup itu, Ratu Gita segera menyuruh mereka masuk. Diberikannya handuk kering untuk menyeka tubuh mereka yang basah. Wanita itu juga segera menyuguhkan teh panas dan beberapa potong kue kering.
Dengan malu-malu Sekar mengambil kue itu dan memakannya. Gadis itu terlihat sangat menyukainya.
"Apakah rasanya enak?" Tanya Ratu Gita.
"Enak sekali!" Sahut gadis kecil itu dengan ekspresi yang menggemaskan.
"Ngomong-ngomong, kalian tinggal di mana?"
"Kami tinggal di dusun yang berada di sebelah timur gunung ini. Sebenarnya ini pertama kalinya kami masuk ke hutan sejauh ini. Biasanya kami hanya menyusuri pinggiran hutan." Kata Arya. Pemuda yang terlihat masih remaja itu meniup-niup tehnya, kemudian meminumnya.
Kelihatannya warga dusun memiliki kebiasaan untuk cepat akrab dan berteman dengan orang yang baru dikenalnya. Namun hal itu malah membuat Ratu Gita senang karena setelah berhari-hari hidup dalam kesepian, akhirnya ada makhluk di hutan ini yang bisa diajak berkomunikasi.
Tak terasa hujan sudah reda. Kedua kakak beradik itu berpamitan untuk pulang. Ratu Gita memberikan bungkusan berisi kue kering untuk Sekar. Gadis itu menerimanya dengan gembira. Sambil tersenyum Ratu Gita melambaikan tangannya sampai mereka menghilang di balik pepohonan.
Tanpa dia sadari, begitu kedua kakak beradik tadi menghilang dari pandangan, mereka perlahan menjelma menjadi makhluk mistis bersayap. Pendar-pendar cahaya mengiringi kepakan sayap tipis mereka yang semakin membumbung tinggi diantara kabut yang mengambang.