PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Lorong evakuasi dipenuhi debu.
Suara ledakan dari laboratorium masih terdengar menggema di belakang mereka.
Mahendra menggenggam erat tangan Eiri.
"Cepat!"
Ergan berada di barisan paling belakang bersama beberapa anak buahnya, memastikan tidak ada seorang pun dari The Eclipse yang menyusul.
Lorong itu semakin sempit.
Di beberapa bagian, air menetes dari langit-langit yang retak.
"Eiri, hati-hati."
Mahendra membantu Eiri melewati tumpukan beton yang runtuh.
Mereka terus berlari hingga akhirnya tiba di sebuah pintu baja tua.
Di tengah pintu terdapat lubang berbentuk simbol yang sangat familiar.
Mahendra mengeluarkan anak kunci dari liontin Eiri.
"Sepertinya ini tempatnya."
Ia memasukkan kunci itu.
Klik...
Terdengar suara roda-roda besi berputar.
Pintu perlahan terbuka.
Di baliknya terbentang sebuah terowongan yang mengarah keluar menuju hutan.
Udara malam langsung menyambut mereka.
Semua orang mengembuskan napas lega.
"Kita berhasil keluar."
Namun...
Mahendra justru menggeleng.
"Belum."
"Ini baru permulaan."
---
Sementara itu...
Di dalam laboratorium yang mulai terbakar.
Pria bertopeng berjalan perlahan menuju tubuh Bram.
Ia berjongkok.
Memeriksa denyut nadi pria tua itu.
"Laporan."
Seorang anggota The Eclipse mendekat.
"Sudah dipastikan meninggal."
Pria bertopeng mengangguk pelan.
"Sayang sekali."
"Dia menyimpan rahasia terlalu lama."
Ia berdiri.
"Lalu bagaimana dengan kartu memorinya?"
"Sesuai dugaan, dibawa oleh Subjek E."
Pria bertopeng tersenyum.
"Bagus."
"Kalau begitu mereka pasti akan pergi ke Pulau Arkan."
Ia menatap api yang mulai melalap laboratorium.
"Lanjutkan fase kedua."
---
Di sisi lain...
Mobil Rivan akhirnya tiba di lokasi.
Namun yang ia lihat hanyalah bangunan laboratorium yang telah dipenuhi kobaran api.
Rivan segera turun.
"Mahendra!"
"Eiri!"
Tak ada jawaban.
Beberapa petugas pemadam mulai berdatangan.
Rivan berlari mengitari bangunan.
Hingga matanya menangkap sebuah jejak.
Bekas pintu rahasia yang baru saja terbuka.
Ia berlutut.
Menyentuh tanah yang masih basah.
"Mereka berhasil keluar."
Ia menghela napas lega.
Namun beberapa langkah di depannya...
Seseorang telah menunggunya.
Victor Hanzel.
Victor berdiri dengan tenang di bawah cahaya bulan.
Kedua tangannya berada di dalam saku jas.
"Sudah kuduga kau akan datang."
Rivan menatapnya tajam.
"Kau sengaja membiarkan mereka pergi."
Victor tersenyum.
"Tentu."
"Karena semua jalan..."
"...akan membawa mereka ke tempat yang sama."
"Pulau Arkan."
Rivan mengepalkan tangannya.
"Apa sebenarnya yang ada di pulau itu?"
Victor tidak langsung menjawab.
Ia justru balik bertanya.
"Masih kau simpan surat terakhir ayah Eiri?"
Mata Rivan membelalak.
"Jadi kau tahu..."
Victor tertawa kecil.
"Aku tahu lebih banyak daripada yang kau bayangkan."
Seketika wajah Rivan berubah serius.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Eiri."
Victor menghela napas.
"Rivan."
"Kau masih berpikir aku adalah musuh utama."
"Padahal..."
"Musuh kita sebenarnya sudah bangun."
Kalimat itu membuat Rivan terdiam.
Victor menatap langit malam.
"Lima belas tahun mereka bersembunyi."
"Dan malam ini..."
"Mereka mulai bergerak."
---
Sementara itu...
Mahendra dan rombongannya berhasil mencapai jalan raya di pinggir hutan.
Beberapa mobil milik Ergan telah menunggu.
"Syukurlah."
"Semua kendaraan masih aman."
Mahendra membantu Eiri masuk ke dalam mobil.
Baru saja pintu ditutup...
Ponsel Eiri bergetar.
Nomor tak dikenal.
Eiri ragu sejenak.
Lalu mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
Tak ada jawaban.
Hanya suara ombak.
Kemudian...
Suara seorang wanita tua terdengar sangat pelan.
> "Eiri..."
> "Kalau kau ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya..."
> "Datanglah ke Pulau Arkan."
> "Dan jangan..."
> "Percaya pada siapa pun."
Sambungan telepon langsung terputus.
Eiri memandang layar ponselnya dengan napas memburu.
"Mahendra..."
"Aku rasa..."
"Bukan hanya Victor yang sedang menunggu kita."
Mahendra menyalakan mesin mobil.
Tatapannya lurus ke depan.
"Apa pun yang menunggu di Pulau Arkan..."
"Kita akan menghadapinya bersama."
Mobil perlahan melaju meninggalkan kota.
Tanpa mereka sadari...
Sebuah SUV hitam mengikuti dari kejauhan.
Lampunya sengaja dimatikan.
Seseorang di dalam mobil itu tersenyum sambil memandang foto Eiri.
"Lima belas tahun penantian..."
"...akhirnya akan berakhir."
Hujan rintik-rintik mulai turun.
Konvoi tiga mobil hitam milik Mahendra melaju meninggalkan kawasan laboratorium menuju rumah persembunyian di pinggiran kota.
Tak seorang pun berbicara.
Suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi.
Eiri masih memandangi layar ponselnya.
Ucapan wanita tua itu terus terngiang di kepalanya.
"Datanglah ke Pulau Arkan..."
"Dan jangan percaya pada siapa pun."
Ia menggenggam liontin peninggalan ayahnya.
Entah mengapa, liontin itu terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Mahendra yang duduk di sampingnya memperhatikan perubahan raut wajah Eiri.
"Kamu masih memikirkan telepon tadi?"
Eiri mengangguk pelan.
"Aku merasa..."
"...ada seseorang yang benar-benar mengenalku."
"Tapi aku sama sekali tidak mengenalnya."
Mahendra tersenyum tipis.
"Itu sebabnya kita akan mencari jawabannya."
"Besok pagi."
"Kita berangkat."
Eiri menoleh.
"Secepat itu?"
Mahendra mengangguk.
"Semakin lama kita menunggu..."
"...semakin besar kemungkinan kartu memori ini direbut."
Ia menepuk saku jasnya tempat kartu memori itu disimpan.
"Tuan."
Suara Ergan terdengar dari radio komunikasi.
"Kita sudah memasuki wilayah aman."
"Baik."
"Tetap waspada."
Mahendra belum sempat meletakkan radionya ketika...
Bruk!
Mobil paling belakang tiba-tiba oleng.
"Ada apa?"
Suara sopir terdengar panik melalui radio.
"Ban pecah!"
"Tidak..."
"Bannya ditembak!"
Mahendra langsung menoleh ke kaca belakang.
Sebuah SUV hitam muncul dari balik tikungan.
Lampunya masih mati.
Namun kecepatannya terus bertambah.
"Mereka mengikuti kita."
Ergan yang berada di mobil depan segera memutar kendaraannya.
"Aku akan menahan mereka."
"Jangan!"
kata Mahendra tegas.
"Jangan terpisah."
"Tetap dalam formasi."
SUV hitam itu semakin mendekat.
Kaca jendelanya perlahan terbuka.
Seorang pria mengenakan topeng putih mengangkat senapan.
Dor!
Peluru menghantam kaca belakang mobil Mahendra.
Untungnya kaca antipeluru hanya retak.
"Sial."
Mahendra menghela napas.
"Mereka tidak akan berhenti."
Sopir menginjak pedal gas lebih dalam.
Konvoi melesat melewati jalanan yang licin karena hujan.
Di belakang mereka...
SUV hitam tetap mengejar.
Tiba-tiba...
Dari arah berlawanan muncul tiga mobil lain.
Mahendra mengernyit.
"Itu..."
"Bukan mobil kita."
Ketiga mobil itu langsung memotong jalur SUV hitam.
Brak!
Tabrakan keras tak terhindarkan.
SUV hitam kehilangan kendali.
Berputar beberapa kali sebelum menghantam pembatas jalan.
Mahendra terkejut.
"Siapa mereka?"
Pintu mobil pertama terbuka.
Seorang pria tinggi keluar sambil mengenakan mantel abu-abu.
Wajahnya tampak tenang.
Tatapannya langsung tertuju kepada mobil Mahendra.
Ia mengangkat tangan memberi isyarat agar konvoi berhenti.
Ergan langsung turun sambil mengarahkan pistol.
"Jangan bergerak!"
Pria itu sama sekali tidak panik.
"Aku bukan musuh."
Mahendra ikut turun.
"Kalau begitu sebutkan identitasmu."
Pria itu mengeluarkan sebuah kartu identitas berwarna hitam.
Di sudutnya terdapat lambang burung elang berwarna emas.
"Aku anggota Divisi Khusus Arganta."
"Kami telah mengawasi Proyek EDEN selama bertahun-tahun."
Mahendra tidak langsung percaya.
"Buktinya?"
Pria itu menghela napas.
Lalu memandang Eiri yang baru turun dari mobil.
"Nona Eiri."
"Nama ayah Anda..."
"...Ardian Prasetyo."
Mata Eiri langsung membelalak.
"Itu..."
"Itu benar."
Pria itu melanjutkan.
"Dan ibumu bernama Siska Larasati."
Tubuh Eiri membeku.
Nama itu...
Belum pernah disebutkan siapa pun sejak ingatannya hilang.
Mahendra mempersempit tatapannya.
"Siapa sebenarnya kau?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Namaku..."
"Kael Arganta."
"Aku adalah orang yang pernah diselamatkan oleh ayah Eiri."
Ia mengeluarkan sebuah foto lama dari saku mantelnya.
Foto itu memperlihatkan ayah Eiri berdiri bersama seorang pria muda yang wajahnya sangat mirip dengan Kael.
"Sudah waktunya..."
"...aku menepati janjiku kepada beliau."
Eiri menerima foto itu dengan tangan gemetar.
Di balik foto terdapat tulisan tangan ayahnya.
> "Jika suatu hari aku gagal melindungi keluargaku, carilah Kael. Dia akan membawamu ke Pulau Arkan."
Air mata Eiri kembali jatuh.
Mahendra menatap Kael dalam-dalam.
"Kami ingin percaya."
"Tapi kami tidak bisa sembarangan."
Kael mengangguk.
"Itu keputusan yang tepat."
"Karena mulai malam ini..."
"Bukan hanya Victor dan The Eclipse yang memburu kalian."
"Masih ada satu kelompok lagi."
Mahendra mengernyit.
"Kelompok apa?"
Kael menatap langit yang mulai gelap.
Dengan suara pelan ia berkata,
"Penjaga Pulau Arkan."
"Dan mereka tidak akan membiarkan siapa pun menginjakkan kaki di pulau itu... hidup-hidup."