Terkadang Tuhan mematahkan hatimu untuk menjauhkanmu dari jodoh yang salah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quemeela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon mertua
Aku merasa mual melihat Arsan, dia tahu perasaanku, tapi memilih gadis lain, dan masih menginginkanku bersamanya, sulit bagiku untuk menjauh darinya walaupun dia memintaku pergi, apa lagi dia memintaku tetap tinggal akan sangat sulit bagiku, sedangkan dia telah bersama dengan gadis lain, dia membuatku jijik padanya dan mual ketika melihatnya, terlebih saat dia tersenyum, senyuman yang dulu mampu menghilangkan gravitasi bumi terhadapku
Tapi entah kenapa aku tidak bisa menghindari dan tidak ingin menghindarinya, terkadang dia datang menemuiku untuk menceritakan keluh kesahnya “kenapa kamu tidak menceritakan kegalauanmu padanya saja?” ujarku menatap sinis ke arah Arsan, dan dia lagi-lagi tersenyum, “dia masih anak kecil, hanya kamu yang bisa ngerti aku” jawab Arsan, mendengar kata-katanya itu aku benar-benar ingin muntah
Aku merasa kesulitan makan, aku merasa mual, apa lagi aku selalu teringat Arsan, maagku jadi kambuh karenanya
Hari ini aku ada tugas kelompok, aku merasa sangat sakit, aku menghubungi Arsan, Arsan datang dan mengajakku ke rumah sakit, aku menceritakan pada dokter kalau aku kesulitan makan dan sering mual, dokter menanyakan apa bulan ini aku sudah menstruasi, “apa dia menduga aku sedang hamil” pikirku, “sekarang sedang menstruasi dok” jawabku, memecahkan kecurigaannya, dokter itu berkata mungkin ini karena aku sedang menstruasi makanya aku sering mual, namun aku tau penyebab sebenarnya bukan menstruasi tapi Arsan, aku mual melihat Arsan, setelah menebus obat Arsan mengantarku pulang
Ibu Arsan datang ke kota ini, terkadang aku kasian dengan ibunya, ibu sebaik ibunya kenapa harus punya anak
seperti Arsan, pikirku, tapi aku lebih kasian lagi dengan diriku sendiri kenapa yang masih mengharapkan Arsan, padahal dia sudah memilih orang lain
“Ra main ke rumah ya, mama udah disini” ujar ibu Arsan, “iya ma, nanti sebelum kuliah Latira mampir” balasku, aku datang ke rumah Arsan untuk mengunjungi ibunya, ibunya menyambutku hangat, ternyata dia tidak datang sendiri, ada tante Arsan juga, ibu Arsan memanggil Arsan yang berada di kamar untuk menemuiku. Ibunya baru selesai memasak dan memintaku ikut makan bersama, “oh Tuhan, bagaimana ini, aku merasa mual ketika
melihat Arsan, bagaimana aku bisa makan di depannya” gumamku dalam hati.
Aku merasa tidak enak dengan ibu Arsan jika tidak makan, aku memaksakan diri untuk menyantap makanan yang ada di depanku, ibu Arsan dan tantenya banyak mengobrol denganku, menanyakan tentang kuliahku dan lain sebagainya, aku menatap ke arah Arsan dan dia tersenyum padaku, aku hampir saja memuntahkan makanan yang sedang ku makan, untung saja aku bisa menahannya.
Selesai makan tantenya masih lanjut mengobrol denganku, sekarang tantenya menceritakan tentang gadis itu, tantenya sudah sangat mengenal gadis itu, dia adalah gadis yang nakal, aku dan ibu Arsan hanya mendengarkan, kami tidak banyak berkomentar
Waktu berlalu, jam pun menunjukkan pukul sepuluh, aku ada kelas jam 10.30, aku pamit kepada ibu Arsan dan tantenya untuk pergi ke kampus, sebelum pergi ibunya memberikan oleh-oleh untukku, ya,, setiap datang ibunya selalu membawakanku oleh-oleh
“Ra aku boleh pinjam motor?” kata Nina, menghubungiku, ini hari minggu, aku juga tidak kemana-mana, jadi aku meminjamkannya, dia datang bersama Arsan, “nanti malam main yuk” ujar Arsan, aku hanya tersenyum mengiayakan.
Malamnya Nina menghubungiku, katanya dia akan datang ke tempatku, aku segara bersiap-siap karena tadi siang Arsan mengajakku pergi, aku masih bersiap-siap di kamar mandi, aku mendengar suara Nina, aku langsung merapikan pakaianku, aku langsung keluar menemui Nina, namun dia sudah hampir pergi, “terimakasih ya Ra” dia dan Arsan langsung pergi
Apa Arsan lupa tadi siang dia mengajakku pergi” pikirku, untung saja Nina lupa mengembalikan helm ku, jadi
aku punya alasan untuk menyusul ke rumahnya, aku pergi ke rumah Arsan, hanya Ada ibunya, karena tantenya sudah pulang duluan, ibunya terkejut melihatku, dia mempersilakanku masuk, aku mengatakan helm ku tertinggal, aku menanyakan dimana Arsan dan Nina, dia mengatakan mereka sedang pergi, “ gadis itu juga ma?” tanyaku lagi, “nggak kok Ra” jawab ibunya, aku senang mendengarnya, walaupun dia tidak jadi pergi denganku, setidaknya dia tidak pergi dengan gadis itu
Ibunya bercerita banyak tentang Arsan padaku, tentang masa kecil Arsan, ibunya juga minta maaf atas perlakuan
Arsan padaku, walaupun dia tau bagaimana Arsan telah menyakiti perasaanku, dia tetap mengatakan hal baik tentang anaknya dan berharap aku tidak meninggalkan anaknya, aku hanya tersenyum mendengar ceritanya, di akhir cerita dia mengatakan, “mama tau Ra, sekarang Arsan dengan gadis lain, tapi Latira jangan khawatir, jodoh nggak akan kemana, mama yakin dia nggak akan lama dengan gadis itu, jika memang nanti Latira memang bukan menantu mama, mama ingin Latira menjadi anak angkat mama” aku terharu mendengar perkataan ibu Arsan, andai saja dia punya anak laki-laki lain pasti aku sudah menikahinya, aku memeluk ibu Arsan dan pamit untuk pergi
Sekarang aku seperti pacaran dengan ibu Arsan, ibunya sangat perhatian denganku, setiap hari kami selalu memberi kabar masing-masing, ibunya juga mengatakan agar aku sering-sering bermain dengan Nina dan menjauhkan gadis itu dari Arsan. Aku mendapat dukungan penuh dari sang ratu