NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelayan Bar dan Sisi Gelap Bogota.

Dentum bas dari pengeras suara raksasa di sudut ruangan seolah memukul-mukul dinding dada Alice Gracellyn.

Lampu sorot neon berwarna ungu dan merah kebiruan berputar liar, memotong kabut tipis dari asap rokok elektrik dan aroma alkohol yang menguar pekat di udara.

Bagi sebagian orang, tempat ini The Obsidian Lounge adalah surga pelarian dari penatnya megapolitan Bogota.

Sebuah bar kelas menengah ke atas di kawasan Bogota, tempat uang mengalir semudah air dan tawa palsu dijual di setiap sudut meja.

Namun bagi Alice, tempat ini tidak lebih dari sebuah arena bertahan hidup yang menyiksa.

"Alice! Meja nomor dua belas, tambah satu botol Macallan dan es batu lagi! Cepat!" seru Johan, sang manajer bar, setengah berteriak di dekat meja bar utama untuk mengalahkan kebisingan lagu electronic dance music (EDM) yang sedang mencapai klimaks.

"Baik, Bos!" sahut Alice dengan suara yang sudah agak serak.

Alice merapikan rok hitam ketatnya yang sebatas paha, seragam wajib para pelayan wanita di The Obsidian Lounge.

Gadis berusia dua puluh dua tahun itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa energi yang nyaris habis.

Hari ini ia mengambil double shift. Berarti, ia sudah berdiri, berjalan, dan setengah berlari mengitari lantai bar ini selama hampir dua belas jam berturut-turut.

Saat ia melangkah menuju ruang penyimpanan es, rasa sakit yang menghunjam langsung menjalar dari tumit hingga ke betisnya.

Alice meringis, giginya bergelatuk menahan perih.

Di dalam sepatu hak tinggi lima sentimeter yang dipaksakan melekat di kakinya, ia tahu pasti kulit tumitnya sudah pecah dan melepuh.

Gesekan kain sepatu dengan luka yang basah oleh keringat itu terasa bagai disayat pisau kecil setiap kali ia menapakkan kaki.

Kulit putih mulusnya yang tanpa cela kini ternoda oleh warna kemerahan akibat kelelahan.

Namun, Alice tidak punya waktu untuk mengeluh, apalagi menangis.

Ditangkupkannya sebongkah es batu ke dalam wadah perak dengan cekatan, lalu diambilnya sebotol wiski mahal pesanan pelanggan dari rak kaca.

Dengan senyum profesional yang dipaksakan menghias wajah cantiknya, Alice berjalan anggun membelah kerumunan manusia yang sedang bergoyang mengikuti ritme musik.

Sepanjang jalan, mata-mata liar tak pernah lepas memandangnya.

Sulit bagi Alice untuk tidak menarik perhatian.

Di antara para wanita malam yang mengenakan riasan tebal dan pakaian minim, Alice menonjol dengan kecantikan alami yang terasa sangat berbeda.

Kulitnya seputih Porselen, bersih tanpa cela.

Rambut cokelat mudanya yang ikal bergelombang dibiarkan tergerai membingkai wajahnya yang oval.

Namun yang paling memikat adalah sepasang matanya. Mata berwarna cokelat hazel jernih yang memancarkan kepolosan yang kontras di tempat sekotor ini.

Sifatnya yang ramah, pekerja keras, dan tidak neko-neko membuatnya disukai rekan kerja, sekaligus menjadikannya target empuk para pria hidung belang.

"Ini pesanannya, Tuan. Satu botol Macallan dan es batu ekstra," ucap Alice lembut begitu tiba di meja nomor dua belas.

Ia membungkuk sedikit dengan sopan untuk menaruh botol di atas meja marmer.

Seorang pria bertubuh gempal dengan kemeja bermerek yang kancing atasnya sengaja dibuka lebar-lebar langsung menegakkan duduknya.

Matanya yang merah karena pengaruh alkohol menatap lekat-lekat ke arah dada Alice, lalu beralih ke wajah cantiknya.

"Wah, wah... pelayan baru? Kok saya baru lihat kecantikan sekelas malaikat begini di The Obsidian?" goda pria itu dengan suara serak, sengaja menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Alice.

"Siapa namamu, Manis?"

"Nama saya Alice, Tuan. Selamat menikmati malam Anda," jawab Alice seprofesional mungkin.

Ia sudah bersiap untuk mundur, namun sebuah tangan yang kasar dan hangat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.

"Tunggu dulu, Alice. Buru-buru sekali? Temani saya minum satu sloki saja. Saya kasih tips yang bisa buat kamu liburan seminggu tanpa perlu capek mengantar botol," bisik pria itu, wajahnya mendekat hingga Alice bisa mencium aroma pekat alkohol dan tembakau dari napasnya.

Teman-teman pria itu di meja yang sama mulai bersiul dan tertawa menggoda.

Hati Alice berdegup kencang karena ketakutan, namun otaknya yang cerdas segera bekerja.

Di tempat seperti ini, kelincahan verbal dan kepolosan yang tampak natural adalah senjata terbaiknya untuk menghindar tanpa membuat pelanggan tersinggung, yang bisa berujung pada pemecatannya.

Alice tidak menarik tangannya dengan kasar. Sebaliknya, ia melebarkan kedua mata hazelnya, memasang ekspresi wajah berkedip polos seolah ia benar-benar tidak mengerti maksud terselubung pria itu.

"Ah, Tuan baik sekali, terima kasih banyak atas tawarannya," kata Alice dengan nada suara yang terdengar sangat tulus dan polos, seolah ia adalah seorang gadis desa yang baru pertama kali menerima pujian.

"Tapi aduh, mohon maaf sekali, Tuan...Tuan Johan, manajer saya yang galak itu sedang mengawasi dari sana. Kalau saya ketahuan meminum alkohol setetes saja saat jam kerja, saya langsung dipecat malam ini juga. Nanti kalau saya dipecat, saya tidak bisa membiayai pengobatan kucing saya yang sedang sakit di rumah. Tuan tidak mau kan kucing saya yang lucu itu kelaparan?"

Pria gempal itu mengerutkan kening, agak tertegun dengan jawaban Alice yang membawa-bawa soal kucing peliharaan dengan wajah tanpa dosa.

Cengkeramannya pada pergelangan tangan Alice sedikit melonggar karena kebingungan.

Memanfaatkan momen sedetik itu, Alice dengan lincah menarik tangannya perlahan, memberikan bungkukan hormat yang manis, lalu melangkah mundur dengan cepat sebelum pria itu sempat mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Sialan, dilepeh mentah-mentah kamu, Bos!" terdengar gelak tawa teman-teman pria itu yang mengejek dari belakang.

Alice mengembuskan napas lega begitu berhasil bersembunyi di balik pilar besar dekat toilet.

Jantungnya masih berdegup riuh. Ia mengusap pergelangan tangannya yang agak memerah.

Menghadapi pria-pria hidung belang sudah menjadi makanan sehari-harinya, dan beruntung sejauh ini kepolosannya selalu bisa menjadi perisai yang ampuh.

Waktu merambat lambat hingga akhirnya jam dinding digital di ruang loker karyawan menunjukkan pukul dua dini hari.

Lampu utama bar mulai dinyalakan, menandakan operasional telah berakhir.

Setelah membersihkan beberapa meja terakhir dan berganti pakaian dengan kaos longgar serta celana jin usang, Alice melangkah keluar lewat pintu belakang bar.

Udara dingin malam Jakarta langsung menyergap kulitnya, kontras dengan hawa panas di dalam bar.

Jalanan aspal di depannya tampak basah sisa hujan sejenak tadi malam, memantulkan cahaya lampu jalan yang remang-remang.

Alice berjalan pincang menuju halte bus terdekat. Setiap langkahnya adalah siksaan.

Rasa perih di tumitnya semakin menjadi-jadi setelah ia melepas sepatu hak tingginya dan menggantinya dengan flat shoes tipis. Ia benar-benar lelah, lahir dan batin.

Yang ia inginkan saat ini hanyalah merebahkan tubuhnya di kasur tipis kamarnya.

Baru saja ia mendudukkan diri di bangku besi halte yang dingin, ponsel di dalam tas kainnya bergetar hebat.

Layarnya menyala, menampilkan nama kontak: Bibi Sarah.

Perasaan tidak enak langsung menghinggapi dada Alice. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena kedinginan, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Bibi—"

"Alice! Jam berapa ini?! Kenapa kamu belum pulang juga, hah?!" Suara lengkingan bernada tinggi langsung menyembur dari seberang telepon, memotong ucapan Alice tanpa ampun.

Tidak ada tanyaan apakah Alice lelah atau bagaimana ia akan pulang.

Yang ada hanyalah makian yang sudah sangat akrab di telinga Alice.

"Maaf, Bi. Alice baru saja selesai double shift di bar. Ini sedang menunggu kendaraan untuk pu—"

"Halah, tidak usah banyak alasan! Kamu itu sengaja kelayapan kan? Dengar ya, Alice! Besok pagi uang kuliah sepupumu, Doni, sudah harus dibayar! Sisa semesterannya menunggak. Belum lagi uang untuk membeli obat pamanmu! Pamanmu itu sedang sakit sakitan di rumah, tidak bisa bangun dari tempat tidur, tapi kamu malah santai-santai kerja lambat begitu!"

Alice memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata rasa lelah dan sesak tertahan di sudut matanya.

Sakit? Alice tahu persis "sakit" apa yang dimaksud bibinya.

Pamannya tidak sakit karena medis. Pamannya jatuh sakit stres karena lagi-lagi kalah judi dan dikejar-kejar utang oleh penagih uang.

Dan uang yang dituntut darinya malam ini pastilah bukan untuk biaya kuliah Doni atau obat paman, melainkan untuk membayar bunga utang judi pamannya yang menumpuk.

"Bi, uang gaji Alice bulan ini kan sudah Alice transfer semua minggu lalu untuk keperluan rumah," ucap Alice dengan nada memohon, mencoba memberi pengertian.

"Uang tips dari pelanggan malam ini juga tidak seberapa, hanya cukup untuk ongkos Alice makan minggu depan..."

"Oh, jadi kamu sudah berani perhitungan sekarang?!" suara Bibi Sarah semakin meninggi, penuh dengan nada intimidasi yang tajam.

"Kamu lupa siapa yang menampungmu saat orang tuamu mati kecelakaan belasan tahun lalu, hah?! Kalau bukan karena paman dan bibimu ini yang mau mengurus anak yatim piatu sepertimu, kamu sudah jadi gelandangan di jalanan Bogota! Kamu tinggal di rumah kami, makan nasi kami, dan sekarang saat keluarga kita sedang susah, kamu mau lepas tangan? Mana tahu balas budimu, Alice?!"

Kata-kata balas budi itu menghantam dada Alice bagai godam besar.

Itu adalah mantra magis yang selalu digunakan paman dan bibinya untuk merantai Alice, menjadikannya sapi perahan sejak ia lulus sekolah.

Setiap kali Alice merasa lelah dan ingin menyerah, bayangan bahwa ia telah berutang nyawa pada keluarga pamannya selalu berhasil memaksanya untuk kembali berdiri dan bekerja hingga titik darah penghabisan.

Alice menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang penuh akan kepasrahan dan beban hidup yang teramat berat.

Ia tidak tahu sampai kapan ia harus membayar "utang budi" yang seolah tidak pernah ada lunasnya ini.

"Iya, Bi... Maafkan Alice," jawab Alice akhirnya, suaranya terdengar begitu rapuh dan menyerah.

"Besok... besok setelah istirahat sebentar, Alice akan minta kasbon lagi ke manajer bar. Alice akan usahakan bawa uang lebih banyak besok malam."

"Nah, begitu dong! Jadi anak itu harus tahu diri. Cepat pulang, kunci pintu depan!" Klik.

Telepon ditutup sepihak tanpa sempat Alice membalas.

Alice menurunkan ponselnya perlahan. Ia menatap jalanan malam Bogota yang mulai sepi dari atas halte.

Di bawah temaram lampu jalanan, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga, membasahi pipi putih mulusnya.

Ia merasa sangat kesepian dan tak berdaya.

Namun, Alice tidak pernah tahu, bahwa di balik kegelapan malam Bogota yang sedang merundungnya, sebuah masalah yang jauh lebih besar akan menimpanya setelah ini.

1
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
Qil Qilla
ayoo semangatt untuk up cerita inii sayanggg😍😍
Mia Camelia
tuh kan baru yakin tuh klo itu anak nya🤔
Mia Camelia
ehhm jujur aja sih 🤣🤣🤣
Mia Camelia
hamil kah ??😂😂😂
Mia Camelia
elvano udh serius banget nih🥰
Mia Camelia
ayolah el jangan jdi balok es mulu🤣🤣🤣kaku banget deh😂
Mia Camelia
elvano goood👍👍👍
Mia Camelia
ih jahat banget si paman albert, klo sampe elvano tau, langsung di ceburiin ke laut inimah🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!