Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
suami?
Air mata terus mengalir di pipi Felisyah yang duduk seorang diri di kursi panjang lorong rumah sakit. Dadanya terasa sesak oleh rasa takut dan kebingungan yang terus menghantuinya.
Ia tidak tahu ke mana ayahnya pergi. Ingin bertanya kepada Garendra, tetapi pria itu pun menghilang entah ke mana.
"Jika ayah dipindahkan sejak kemarin, lalu siapa yang aku lihat pagi tadi? Siapa pria yang terbaring di ruangan itu?"
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalanya tanpa menemukan jawaban. Semakin ia mencoba memahaminya, semakin banyak teka-teki yang muncul.
"Aku harus kembali ke kamar. Mungkin Garendra sudah ada di sana dan bisa menjelaskan semuanya."
Dengan langkah pelan, Felisyah berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terasa begitu panjang. Setiap langkahnya dipenuhi kecemasan. Hatinya berdebar tak menentu, seolah ada sesuatu yang besar sedang menantinya di balik pintu ruangan itu.
Ia berhenti tepat di depan kamar tempat dirinya dirawat.
"Ruang VIP... Siapa sebenarnya pria itu? Mengapa dia melakukan semua ini untukku?" gumamnya dengan suara bergetar.
Perlahan ia membuka pintu kamar.
Ceklek...
Dalam sekejap, mata Felisyah membulat sempurna. Napasnya tercekat. Mulutnya terbuka lebar karena tidak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
"Ayah..."
Suara itu keluar begitu lirih, hampir tidak terdengar.
Di dalam ruangan itu, Pak Sanggara duduk di atas kursi roda. Wajahnya terlihat lebih segar dibandingkan saat terakhir kali Felisyah melihatnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Di sampingnya berdiri seorang pria yang menjadi sumber dari semua kebingungan Felisyah.
Tanpa berpikir panjang, Felisyah berlari menghampiri ayahnya.
"Ayah... ke mana saja? Felisyah takut. Felisyah pikir terjadi sesuatu pada ayah."
Ia berlutut di hadapan sang ayah, memeluk tubuh yang selama ini begitu ia khawatirkan. Tangisan yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Rasa takut, rindu, dan lega bercampur menjadi satu.
Pak Sanggara mengelus kepala putrinya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah membuatmu khawatir."
Mendengar suara ayahnya kembali, tangis Felisyah semakin pecah. Beberapa saat yang lalu ia merasa kehilangan dunia, tetapi kini orang yang paling berharga baginya kembali berada di hadapannya.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Sebuah kejanggalan tiba-tiba menusuk pikirannya.
Felisyah perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah sang ayah dengan mata yang masih basah oleh air mata.
"Ayah..."
Suaranya bergetar.
"Kok Ayah bisa ada di sini? Bukankah kondisi Ayah sangat lemah? Dan... bagaimana Ayah bisa sudah sadar dan duduk seperti ini?"
Tatapan Felisyah perlahan beralih kepada pria yang berdiri di samping kursi roda itu.
"Dan kamu... siapa sebenarnya?"
Ruangan yang tadi dipenuhi tangis haru mendadak berubah sunyi.
Sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan seakan siap terbongkar.
Senyum kecil terukir di bibir Garendra. Namun, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Dengan langkah tenang, ia berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan lalu duduk dengan sikap santai, seolah tidak ada kekacauan yang sedang terjadi di hati Felisyah.
Sikap pria itu justru membuat Felisyah semakin gelisah.
Tatapannya menembus mata Garendra, berusaha mencari jawaban dari ekspresi yang begitu sulit ia baca. Namun, yang ia temukan hanyalah ketenangan yang membuatnya semakin curiga.
Akhirnya, Felisyah mengalihkan pandangan kepada sang ayah. Mungkin Pak Sanggara adalah satu-satunya orang yang bisa menjelaskan semua keanehan yang terjadi.
"Ayah... sebenarnya apa yang terjadi? Tadi pagi Felisyah masih melihat Ayah terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat. Tapi sekarang Ayah sudah bisa duduk seperti ini, wajah Ayah pun terlihat jauh lebih baik."
Suara Felisyah mulai bergetar. Air matanya kembali menggenang ketika mengingat semua kejadian yang terasa tidak masuk akal.
"Para perawat juga mengatakan Ayah sudah dipindahkan sejak kemarin. Kalau begitu... siapa orang yang tadi pagi Felisyah lihat di ruangan itu? Siapa yang selama ini berada di tempat tidur Ayah?"
Ruangan mendadak menjadi hening.
Pak Sanggara dan Garendra saling bertukar pandang, seolah ada rahasia besar yang selama ini mereka sembunyikan.
"Ayah, biarkan aku yang menjelaskannya."
Suara Garendra tiba-tiba memecah keheningan.
Tubuh Felisyah langsung menegang. Ia menoleh perlahan ke arah pria itu. Entah mengapa, setiap kali Garendra berbicara, selalu ada hal baru yang membuat dunianya seakan terbalik.
Namun, ada satu kata yang membuat pikirannya berhenti bekerja.
Ayah.
Pria itu baru saja memanggil Pak Sanggara dengan sebutan ayah.
"Maksudmu apa?" tanya Felisyah dengan suara meninggi.
Ia melangkah mendekati Garendra dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa kamu memanggil ayahku dengan sebutan Ayah? Siapa sebenarnya kamu? Kenapa sejak awal aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
Bukannya menjawab, Garendra justru tersenyum tipis. Tatapannya tertuju pada wajah panik Felisyah, seolah ia menikmati setiap detik saat wanita itu berusaha menyusun kepingan-kepingan rahasia yang selama ini hilang.
"Tenanglah, Felisyah. Dengarkan dulu apa yang dikatakan oleh suamimu."
Kali ini bukan Garendra yang berbicara.
Pak Sanggara.
Seketika dunia Felisyah seakan berhenti berputar.
Jantungnya berdetak sangat kencang hingga dadanya terasa sesak. Matanya membesar, menatap bergantian antara ayahnya dan Garendra.
"Apa?"
Suara itu keluar nyaris seperti bisikan.
"Apalagi ini, Ayah? Suami? Suami yang Ayah maksud siapa?"
Ia tertawa kecil, tetapi bukan karena merasa lucu. Tawa itu adalah bentuk ketidakpercayaan atas kenyataan yang terus menghantamnya.
"Felisyah belum menikah, Ayah. Felisyah tidak pernah mengucapkan ijab kabul dengan siapa pun."
Air mata kembali jatuh tanpa bisa ia tahan.
"Lalu kenapa Ayah mengatakan dia suami Felisyah? Kenapa kalian terus membuat Felisyah kebingungan?"
Tatapan Felisyah kembali jatuh kepada Garendra.
"Jawab aku... siapa kamu sebenarnya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Namun kali ini, Garendra tidak lagi tersenyum.
Wajah pria itu berubah serius.
"Hmmm..." Garendra hanya menggumam pelan. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya.
Pria itu perlahan bangkit dari duduknya. Tatapannya sekilas mengarah pada Felisyah yang masih berdiri dengan wajah penuh kebingungan dan air mata yang belum sepenuhnya kering.
"Ayah, Ayah istirahat dulu. Untuk Felisyah... biar aku yang menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi."
Ucapannya terdengar tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat hati Felisyah semakin tidak nyaman.
Garendra kemudian mendorong kursi roda Pak Sanggara menuju pintu keluar.
"Garendra!"
Suara Felisyah menggema memenuhi ruangan.
Pria itu berhenti sejenak, tetapi tidak menoleh.
"Apa maksud semua ini? Kenapa kamu terus membuatku kebingungan? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" teriak Felisyah dengan suara bergetar.
Jantungnya berdetak semakin cepat. Rasanya seperti ada sebuah rahasia besar yang sedang dimainkan di depan matanya, sementara dirinya adalah satu-satunya orang yang tidak mengetahui kebenarannya.
Namun, Garendra tetap memilih diam.
Ia kembali melangkahkan kaki, meninggalkan Felisyah yang masih dipenuhi seribu tanda tanya.
Pintu kamar tertutup perlahan.
Ceklek.
Suara kecil itu terasa seperti palu yang menghantam hati Felisyah.
Sementara itu, di ruangan perawatan Pak Sanggara, suasana berubah menjadi hening. Garendra membantu pria paruh baya itu kembali ke tempat tidur dengan hati-hati.
"Nak Garendra, kenapa tidak kau beri tahu saja Felisyah tentang semua yang telah terjadi?" tanya Pak Sanggara dengan nada khawatir.
Garendra menundukkan kepala sesaat. lalu tersenyum kecil.
"Ayah, tenanglah. Biarkan aku yang mengurus semuanya. Ayah harus fokus untuk memulihkan kesehatan. Jangan mengkhawatirkan apa pun."
Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Felisyah akan aman bersamaku. Dan...aku akan memberitahunya jika dia sudah tenang."
Mata Pak Sanggara menatap Garendra dalam-dalam. Pria tampan dan berwibawa di hadapannya itu terlihat begitu yakin, tetapi ia juga bisa melihat beban berat yang tersembunyi di balik ketenangan tersebut.
"Baiklah, Nak. Ayah percaya padamu."
Pak Sanggara menghela napas panjang.
"Semoga Felisyah bisa menerima semua kenyataan yang akan kau ungkapkan."
Garendra tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap ke arah pintu ruangan, ke arah tempat di mana Felisyah sedang menunggunya dengan hati yang dipenuhi amarah dan kebingungan.
semangat✍️😉