NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.

Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?

Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : KORBAN PALING DIKAGUMI

...BAB 18...

...KORBAN PALING DIKAGUMI...

Sore itu halaman pos ronda dipenuhi warga, suaranya riuh rendah membicarakan satu‑satunya topik hangat sepekan terakhir: kasus pemalsuan dokumen dan penggelapan dana yang menyeret nama Alina. Belum lama berselang surat resmi dari Dewan Etik menyebut izin advokatnya hampir pasti dicabut seumur hidup, dan berkasnya makin lengkap di meja penyidik. Saat langkah tenang Arka terlihat melintas membawa kantong belanjaan, seketika suara obrolan itu mereda serentak, lalu berubah penuh simpati begitu ia dipanggil mendekat.

“Arka, Nak, sini sebentar!” panggil Pak RT mengangguk ramah. “Kami semua baru saja bicara soal kamu. Sungguh kami kasihan sekali melihat nasibmu.”

Arka berhenti, menunduk pelan sambil menghela napas panjang yang dibuat‑buat terasa berat sekali. Di balik sikap lesu itu, jantungnya berdebar campur aduk. Dialah yang merakit seluruh bukti palsu, dialah yang melapor, dialah yang mengatur saksi‑saksi, semuanya berawal dari perintah mendiang ayahnya Haris dulu untuk menghancurkan usaha Pak Aditya. Namun setelah lima tahun penuh mengawasi, menyadap dan mengintai Alina dari kejauhan, dendam warisan ayahnya sudah lama mati berganti rasa bersalah yang menyiksa dan cinta yang begitu dalam hingga merusak akal sehatnya. Di sakunya terselip rapat alat penerima sinyal usang, saksi bisu setiap detik hidup wanita yang ia hancurkan sekaligus paling ia cintai di dunia ini.

“Pak, Bu… sebenarnya saya enggan bicara soal ini. Saya tidak mau menambah aib siapa‑siapa,” jawab Arka pelan, suaranya bergetar pas sekali di nada yang tepat, matanya berkaca‑kaca menahan air mata kepalsuan.

“Jangan begitu, Ka! Semua orang tahu kamu sudah berbuat apa saja buat keluarga itu,” potong Bu Siti antusias. “Kamu yang setiap hari bawa dan antar Pak Aditya ke dokter, kamu yang bayar sebagian obatnya diam‑diam, kamu yang urus ini itu saat persiapan nikahnya Alina sampai lupa istirahat. Tapi apa balasan yang kamu dapat? Namamu hampir ikut terseret kasus itu juga kan? Katanya kamu sempat diperiksa juga hanya karena terlalu dekat sama dia?”

Arka mengangguk perlahan sambil mengusap pelan sudut matanya.

“Benar Pak, Bu. Dua hari lalu saya dipanggil juga sebagai saksi. Petugas bilang, karena saya terlalu sering ada di sana, terlalu sering pegang berkas‑berkas bantuannya, ada kemungkinan saya juga terlibat. Saya cuma diam saja. Saya ikhlas saja kalau harus repot, karena dari hati saya sudah anggap Bu Kirana itu ibu sendiri, Pak Aditya ayah sendiri, dan Alina… saya anggap saudara sendiri.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah seolah menahan sakit hati yang luar biasa.

“Yang membuat saya hancur bukan karena saya diseret masalah. Tapi kenyataan bahwa… semua kebaikan, semua kepercayaan yang saya berikan sepenuh hati tanpa pamrih itu… ternyata cuma dimanfaatkan saja. Dia pakai nama baik saya, pakai kehadiran saya buat menutupi segala perbuatannya dari awal. Sampai‑sampai uang tabungan sedikit yang saya sisihkan buat biaya pengobatan sendiri pun sempat saya pinjamkan buat urusan kantor katanya, sampai sekarang belum dikembalikan juga.”

“Astaga! Hei, dengar itu semua?” seru salah satu ibu‑ibu terkejut. “Kamu sampai keluar uang tabungan juga, Ka?”

“Iya Bu. Tapi sudahlah… biarlah. Anggap saja itu sedekah. Yang paling menyakitkan cuma satu, saya kira dia wanita baik, saleh, menjaga diri mati‑matian demi membanggakan ayahnya yang jatuh sakit. Ternyata semua itu cuma topeng rapi saja. Saya yang bodoh terlalu mudah percaya.”

Seketika suasana meledak penuh emosi.

“Dasar tidak tahu diuntung!” geram seorang bapak‑bapak mengepal. “Sudah dibantu sekuat tenaga, malah dikhianati begitu saja!”

“Memang benar kata orang, orang yang kelihatannya paling suci itulah yang paling licik di belakang,” sahut yang lain mengangguk‑angguk. “Lihat deh Arka ini, rendah hati, tidak pernah menonjol‑nonjolkan kebaikan, mau menelan kerugian besar saja masih mau bicara baik. Dialah korban yang paling malang di antara kita semua.”

“Bukan cuma malang, Pak. Arka ini malaikat betul‑betul turun dari langit!” puji Bu Siti berapi‑api. “Di saat semua orang sudah menjauh, masih saja dia bicara baik. Jarang sekali sekarang ada manusia sebaik hati dia. Kalau saja semua orang berakhlak seperti dia, pasti dunia damai sentosa.”

Pujian itu makin mengalir deras dari mulut ke mulut. Yang tadinya hanya simpati, kini berubah menjadi kekaguman yang luar biasa. Nama Arka yang tadinya hanya dikenal pemuda pendiam, kini disebut‑sebut sebagai teladan kebaikan, sosok yang terlalu mulia untuk hidup di tengah dunia yang penuh khianat. Semakin ia terlihat merendah dan menahan sakit, semakin tinggi orang mengangkat derajatnya di hati publik.

Belum lama Bu Kirana berjalan lewat dari arah pasar mendengar semua itu. Wajahnya memerah bercampur malu, sedih dan bingung bercampur jadi satu. Arka segera menyongsong dengan langkah cepat, sikapnya tetap hormat dan lembut persis seperti sediakala.

“Bu Kirana… jangan dipikirkan berat‑berat ya. Saya sama sekali tidak berniat menyebar aib atau menuntut apa‑apa. Saya ngomong begitu cuma menjawab pertanyaan warga saja. Saya mengerti, Ibu pasti juga sangat terkejut dan kecewa berat,” ucapnya lembut sekali.

Bu Kirana menghela napas panjang, tangannya gemetar memegang anyaman tas belanjaannya.

“Maafkan kami, Arka… maafkan semuanya. Ibu benar‑benar malu sekali mendengarnya. Ibu sendiri sampai sekarang masih tidak percaya, tapi bukti‑bukti di sana semuanya mengarah ke dia. Ibu bingung harus berbuat apa, apalagi suami Ibu, Pak Aditya, kondisinya makin hari makin lemah, belum tahu apa‑apa soal semua ini. Takutnya kalau tahu, nyawanya jadi taruhannya.” Air mata wanita itu mulai menggenang. “Kamu sudah berbuat terlalu banyak buat kami, Arka. Terlalu banyak. Malah kami yang membalasnya dengan luka yang dalam buat kamu. Ibu benar‑benar tidak tahu harus membalas kebaikanmu bagaimana lagi.”

“Jangan begitu Bu. Cukup doa saja dari Ibu itu sudah lebih dari segalanya buat saya. Bagaimanapun juga, saya tetap sayang sama keluarga ini. Walau… apa yang Alina lakukan itu benar‑benar menghancurkan kepercayaan saya sampai ke dasar hati.”

Tepat di saat itu, Alina berjalan pelan dari ujung gang didampingi erat Farhan. Wajahnya pucat pasi, langkahnya tertatih, jelas baru saja mendengar setiap kata yang diucapkan. Farhan langsung melangkah maju sedikit melindungi bahu kekasihnya, tatapannya tajam mengarah ke Arka.

“Cukup sampai di situ saja omongan kalian semua. Belum ada keputusan tetap dari pengadilan, tapi kalian sudah menghakimi mati‑matian. Dan kamu, Arka…” suaranya dingin menusuk. “Kamu bicara seolah kamu paling rugi, paling terluka. Padahal sejak awal kemunculan mu, hal‑hal aneh mulai terjadi satu per satu.”

Arka tidak marah. Ia malah tersenyum getir penuh kepahitan buatan, lalu menatap Alina lekat‑lekat. Di balik tatapan itu, batinnya berteriak hebat memohon maaf, berteriak betapa ia sangat mencintainya, betapa lima tahun mengawasi dari gelap membuatnya tahu setiap helai nafas wanita itu, betapa ia benci dirinya sendiri harus melakukan semua ini. Tapi yang keluar dari mulutnya cuma kalimat halus yang makin membuatnya terlihat suci.

“Farhan… saya mengerti kamu marah, kamu membela orang yang kamu sayang. Saya tidak akan membalas omonganmu dengan marah. Saya cuma bisa bilang… biarlah waktu yang menjawab semuanya. Saya cuma manusia biasa yang kebetulan terlalu percaya, lalu terluka karenanya.” Ia menoleh pelan ke arah Alina, suaranya jatuh begitu pelan hanya bisa didengar berdua saja. “Lin… saya tidak pernah menyesal sudah berbuat baik buat kamu dan Ayahmu. Saya cuma kecewa… kenapa kepercayaan yang saya berikan sepenuh hati, harus kamu balas dengan cara seperti ini.”

Alina menggigit bibirnya kuat‑kuat menahan tangis, dadanya sesak bukan main. Ia tidak paham, kenapa orang yang selama ini terlihat begitu baik, bisa bicara seolah ia benar‑benar penjahat tak berperikemanusiaan.

Sementara di dalam hati Arka, rasa sakit itu berlipat ganda, ia berhasil membuat seluruh dunia memujinya setinggi langit, berhasil memposisikan diri sebagai korban paling mulia, tapi ia juga baru saja menusuk lagi hati satu‑satunya wanita yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri.

Saat mereka berlalu pergi, sorakan warga makin keras memuji Arka, makin membencikan Alina.

“Lihat kan? Sampai dihina begitu saja dia tetap sabar dan bicara baik!”

“Benar‑benar teladan! Namanya makin harum saja di sini!”

Arka hanya tersenyum rendah hati sambil berpamitan pulang. Begitu berbelok di tikungan sepi dan tak ada lagi yang melihat, punggungnya langsung bersandar lemas ke tembok. Tangan kanannya merogoh saku dalam, memegang erat alat sadap usang yang selalu dibawa ke mana‑mana. Air mata aslinya akhirnya jatuh juga, diam‑diam, tanpa saksi.

Mereka memujiku, mereka mengagungkan ku, mereka menganggap ku malaikat… batinnya menangis pilu sendirian.

Tapi hanya Tuhan dan aku yang tahu sebenarnya. Bahwa aku ini penjahat sesungguhnya. Bahwa semua pujian ini aku curi dengan kebohongan. Bahwa satu‑satunya hal yang paling tulus, paling nyata, dan tidak pernah aku bohongi seumur hidupku… hanyalah rasa cintaku yang gila dan terlambat itu padamu, Alina.

Bersambung....

1
Kam1la
tega ya. .. menantu sudah sebaik Alina, masih saja kurang
Kam1la
akhirnya sama-sama minta maaf...😍
Kam1la
bercadar sepertinya agak sulit bagi Alina
Kam1la
mungkin gantian Alina yg cemburu sama Laila🤭
penulismisterius
baru baca beberapa bab, novel ini punya narasi alur yang jelas😀 semangat berkarya author😀😀
penulismisterius
eh ini sambungannya novel sebelumnya kah ,kak?
penulismisterius: siaap, kak🐬🐬
total 2 replies
penulismisterius
baru bab pertama saja, sudah sebagus ini🤗
penulismisterius: kembali kasih kak, 🐬🤗🤗
total 4 replies
Kam1la
semoga lekas punya momongan
Kam1la
tidak terasa sudah 2 bulan
Kam1la
so Sweet...😍
Kayla Rane: 😍😍😍🤭 MalPer
total 1 replies
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Kayla Rane: Maa Syaa Allah jazaakillah Khair KK, sudah mampir. tenang KA kalau ceritanya rada membosankan bisa di skip kalau ga suka, ini konflik beratnya cuma dari bab 1-29 saja. kesana nya hidup pernikahan Alina dengan bumbu2 cinta, ujian-ujian kecil di pernikahan mereka... selamat membaca 🙏😇
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Wiiih, tulisan-nya rapi gilak! Tspi, Kok Masih sepi pembaca ya? 😁😁😁 Aku tau Novel ini dari Grup NT di FB. 😁😁😁

Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad: Bagi aku, nggk baik rasanya, kalau membaca Karya penulis, itu langsung dari Bab 30 Kak, retensinya bisa turun nantinya Kak 😁😁😁 Itu sama saja aku lompat Bab Kak 🙏🙏🙏😁 Itu Nggk Baik untuk Novel Kakak Nanti 🙏🙏🙏😁

Waaah Bagus dong Kak 😁😁😁 Aku termasuk Pembaca yang Kritis loh Kak 😁😁😁 Biasanya, kalau ada Typo aku langsung Kasih Koreksi Ke Penulisnya Kak... 😁😁😁🙏
total 5 replies
Umi Zein
aku mampir kak, di awal cerita keren, semoga gak ada Konflik yg berat, soalnya aku kurang suka cerita dengan konflik yg berat😄 semangat kak Kayla ✊😍😍
Kayla Rane: pantengin KK sampai 29 episode konflik beratnya.. bab 30 nya pernikahan dan bumbu rumah tangga...
total 2 replies
Kam1la
senjata yang paling kuat adalah do'a
Kam1la
ye, jadi menikah. 😍
Kam1la: iya, aku ikut bahagia nih...
total 2 replies
Kam1la
kejujuran Raka sudah terlambat
Wulandari Ayuningtyas
suka deh sama ceritanya.....semangat terus y 💪🤗
Wulandari Ayuningtyas: sama2 kak 🤗
total 2 replies
Kam1la
Raka kena juga
Kam1la
aku bangga👍, bu Siti jujur
Kam1la
bu Siti ini juga, akhirnya terlibat kan...makanya hati-hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!