Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.
Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.
Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Kesalahpahaman
Aroma kopi dan teh melati di pantri siang itu menguap, meninggalkan keheningan yang canggung namun membekas dalam di benak Maya.
Sepanjang sisa jam kerja, ia menenggelamkan diri dalam angka-angka digital pada laporan audit. Ia mencoba membentengi hatinya dari tatapan intens Pak Arga yang masih saja terngiang-ngiang.
Namun, Maya tidak menyadari bahwa dinding-dinding kaca Aruna Kreasi terkadang memiliki telinga yang jauh lebih tajam daripada yang ia duga.
Desas-desus tidak pernah lahir dari sebuah ledakan besar. Mereka merayap seperti kabut tipis di pagi hari—samar, dingin, dan perlahan-lahan menyelimuti seluruh ruangan.
Benih Rumor
Semuanya bermula keesokan harinya di koridor lantai tiga.
Tika dan Rian, dua staf dari divisi pemasaran, sedang berdiri di dekat mesin fotokopi ketika Maya berjalan melewati mereka. Dengan tumpukan map di dada, Maya hanya mengangguk sopan, memberikan senyum formal yang biasa ia pasang, lalu masuk ke ruang kerja tim keuangan.
Begitu pintu tertutup rapat, Tika langsung menyenggol lengan Rian dengan sikunya.
"Kamu lihat matanya Bu Maya? Agak sembap, ya? Tapi anehnya, tadi pagi aku lihat Pak Arga masuk ruangan lewat meja Bu Maya dan sengaja naruh botol air mineral premium di mejanya. Nggak ada omongan apa-apa, cuma ditaruh gitu aja. Romantis banget nggak, sih?" bisik Tika menggebu-gebu.
Rian mendengus, matanya masih tertuju pada kertas-kertas yang keluar dari mesin fotokopi. "Ah, masa? Pak Arga kan memang perhatian sama semua orang kalau proyek lagi krusial."
"Perhatian gimana? Sama kita aja kalau salah ketik satu huruf langsung disuruh revisi total sampai lembur!" Tika memajukan wajahnya, berbisik lebih lirih. "Kemarin siang, Siska lihat mereka berduaan di pantri. Suasananya intim banget, Rian! Pak Arga yang biasanya sedingin es batu, katanya ngomong dengan nada lembut banget ke Bu Maya. Bahkan ada yang bilang Bu Maya sampai nangis dan Pak Arga berusaha nenangin."
"Serius kamu?" Rian mulai tertarik, menoleh penuh minat.
"Dua rius! Lagipula, kamu ingat kan sejak Bu Maya masuk proyek audit ini, dia dapat perlakuan khusus? Boleh kerja dari rumah sesuka hati, sering dipanggil ke ruangan Pak Arga berjam-jam untuk 'sinkronisasi data'. Padahal kita semua tahu, posisi Bu Maya itu baru di sini. Senior yang lain aja nggak pernah dapat fasilitas sewangi itu."
Tanpa mereka sadari, Dina yang baru saja keluar dari toilet berjalan melewati koridor tersebut.
Langkah kaki kursi rodanya yang beralas karet memang tidak bersuara, namun telinganya menangkap dengan jelas setiap kata yang terlontar dari bibir Tika. Dina mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas sandaran tangan kursi roda. Wajahnya mengeras menahan amarah.
Namun, ia memilih untuk tidak langsung melabrak mereka. Dina tahu, berdebat di koridor terbuka hanya akan membuat rumor itu bergulir semakin liar.
Atmosfer yang Berubah
Memasuki waktu istahat makan siang, atmosfer di dalam kantor Aruna Kreasi terasa benar-benar berbeda bagi Maya.
Ia bukan wanita yang tidak peka. Sebagai seorang ibu tunggal yang telah bertahun-tahun menghadapi kerasnya pandangan masyarakat, ia memiliki radar yang cukup tajam terhadap perubahan sikap orang-orang di sekitarnya.
Saat ia berjalan menuju kantin, beberapa karyawan yang sedang berkumpul mendadak diam ketika ia lewat. Ada bisik-bisik tertahan yang terputus seketika, digantikan oleh senyuman ramah yang dipaksakan dan terkesan artifisial.
Bahkan saat di meja makan, beberapa rekan kerja dari divisi lain yang biasanya duduk bergabung dengannya, kini memilih untuk mengambil meja di sudut yang jauh sambil sesekali melirik ke arahnya.
Maya menghela napas panjang. Ia menatap mangkuk sotonya yang mendadak kehilangan selera. Rasa tidak nyaman mulai merayap di dadanya.
Apakah penampilanku yang kurang segar hari ini memicu gunjingan? Ataukah ada kesalahan dalam laporan pra-audit yang kususun? batinnya resah.
"May, jangan dipikirin mukanya orang-orang itu," suara Dina memecah lamunan Maya saat sahabatnya itu merapatkan kursi rodanya ke meja makan yang sama.
Maya mendongak, mencoba memaksakan senyum. "Kenapa, Din? Ada yang salah ya sama penampilanku hari ini? Atau kerjaku?"
Dina menatap Maya dengan pandangan penuh simpati sekaligus kecemasan. Ia mengaduk jus jeruknya perlahan sebelum berbicara dengan suara yang sangat rendah.
"Kerja kamu sempurna, May. Nggak ada yang salah. Yang salah itu mulut orang-orang di kantor ini yang nggak punya kerjaan selain ngurusin hidup orang lain."
Jantung Maya berdegup sedikit lebih kencang. "Maksud kamu apa, Din?"
Dina menghela napas panjang, memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka yang mendengarkan. "Rumor tentang kamu dan Pak Arga, May. Kedekatan kalian berdua mulai jadi bahan perbincangan yang nggak enak di kantor. Mereka bilang kamu dapat perlakuan khusus karena... yah, kamu tahu lah, ada 'hubungan personal' sama Pak Arga. Kejadian di pantri kemarin siang ternyata ada yang lihat, dan itu digoreng habis-habisan."
Bagai disengat listrik, wajah Maya seketika memucat. Sendok di tangannya berdenting pelan saat terjatuh ke atas meja.
Rasa hangat yang sempat menyelimuti hatinya setelah perhatian Pak Arga kemarin kini menguap tak berbekas, digantikan oleh rasa takut dan malu yang luar biasa.
"Hubungan personal? Din, demi Allah, aku dan Pak Arga nggak ada apa-apa," bisik Maya, suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Beliau cuma bos yang baik, yang tahu kalau aku lagi kesulitan bagi waktu dengan Dika. Kemarin di pantri... aku cuma lagi teringat Almarhum Andra, dan Pak Arga kebetulan lewat. Nggak lebih dari itu!"
"Aku tahu, May. Aku tahu banget kamu kayak gimana," sela Dina cepat, meraih tangan Maya yang terasa sedingin es. "Tapi kamu harus tahu gimana dunia kerja. Profesionalisme dan prestasi sering kali tertutup sama gosip murah. Orang-howang sirik karena karier kamu melesat cepat dan Pak Arga yang terkenal kaku itu kelihatan melunak kalau sama kamu."
Maya menunduk dalam-dalam. Air mata yang sejak semalam ia tahan kini kembali mendesak ingin keluar. Rasa bersalah kepada mendiang suaminya kembali bangkit.
Apakah ini hukuman karena aku mulai merasa bahagia di sini? pikirnya getir.
Statusnya sebagai janda muda selalu menjadikannya target empuk untuk fitnah semacam ini, dan ketakutan masa lalu yang sempat terkubur kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh.
Ketegangan di Ruang Rapat
Sore harinya, rapat koordinasi mingguan diadakan di ruang utama. Seluruh kepala divisi dan staf senior hadir, termasuk Maya dan Dina. Ruangan ber-AC itu terasa sangat dingin, namun suasana di dalamnya justru terasa membakar bagi Maya.
Pak Arga duduk di kepala meja. Penampilannya tetap sebersih dan seangkuh biasanya dengan kemeja abu-abu gelap yang lengannya digulung hingga siku. Di sampingnya, berkas-berkas audit eksternal tertata rapi.
"Saya sudah memeriksa laporan pra-audit dari tim keuangan," ujar Arga, suaranya bergema tegas di dalam ruangan. "Hasilnya sangat memuaskan. Struktur data yang dibuat oleh Bu Maya sangat detail dan meminimalkan risiko temuan dari auditor luar. Ini adalah standar kerja yang saya inginkan di Aruna Kreasi."
Arga menatap Maya, memberikan anggukan apresiasi yang tulus.
Namun, alih-alih merasa bangga, Maya justru merasa seolah-olah seluruh pasang mata di ruangan itu sedang menghujamkan belati ke arahnya. Ia melirik sekilas ke arah manajer pemasaran yang duduk di seberangnya, yang tampak menukar pandangan sinis dengan staf di sebelahnya sambil tersenyum kecut.
"Maaf, Pak Arga," sela Bu Ratna, salah satu senior dari divisi operasional yang sudah bekerja di sana selama sepuluh tahun.
"Tentu kami menghargai kerja keras Bu Maya. Namun, beberapa dari kami merasa ada ketidakadilan terkait fleksibilitas waktu kerja. Proyek ini krusial untuk kita semua, dan jika ada satu anggota tim yang diberikan kelonggaran berlebih untuk bekerja dari rumah, kami khawatir hal itu akan menciptakan kecemburuan sosial dan menurunkan produktivitas tim yang lain."
Kalimat itu diucapkan dengan nada profesional, namun maknanya sangat menohok.
Seluruh ruangan mendadak hening seketika. Dina menatap Bu Ratna dengan pandangan tajam, sementara Maya hanya bisa meremas pulpen di bawah meja hingga buku-buku jemarinya memutih.
Arga tidak langsung menjawab. Ia meletakkan pulpennya ke atas meja dengan ketukan yang lambat namun bertenaga, menciptakan tekanan psikologis yang membuat beberapa orang menahan napas. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan, sebelum akhirnya berhenti pada Bu Ratna.
"Fleksibilitas yang saya berikan kepada Bu Maya didasarkan pada efisiensi kerja, Bu Ratna," jawab Arga. Suaranya tenang, namun sarat akan otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Jika ada di antara Anda sekalian yang mampu menghasilkan laporan seakurat dan secepat Bu Maya tanpa perlu saya awasi setiap jam di kantor, pintu ruangan saya selalu terbuka untuk memberikan fasilitas yang sama. Di Aruna Kreasi, saya menilai hasil dan kapabilitas, bukan durasi kehadiran di kursi kerja."
Jawaban telak dari Arga menyumpat mulut semua orang di ruangan itu. Bu Ratna hanya bisa mengangguk kaku dengan wajah yang memerah menahan malu.
Dinding yang Kembali Kokoh
Meskipun Pak Arga telah membelanya habis-habisan, hati Maya justru semakin hancur.
Pembelaan dari Arga, bagi orang-orang di kantor ini, justru akan dianggap sebagai konfirmasi bahwa rumor tersebut benar adanya. Hubungan profesional yang coba ia bangun dengan susah payah kini tercemar oleh narasi-narasi miring yang tidak adil.
Begitu rapat dibubarkan, Maya adalah orang pertama yang merapikan barang-barangnya. Ia tidak menunggu Dina, melainkan langsung berjalan cepat menuju ruangannya, mengambil tas, dan memutuskan untuk pulang lebih awal menggunakan hak cuti setengah hari yang tersisa.
Ia harus pergi dari tempat itu sebelum seluruh pertahanan dirinya runtuh sepenuhnya di depan umum.
Saat ia melangkah melewati lobi kantor, ia tahu bahwa tantangan terbesarnya bukan lagi sekadar menyelesaikan audit eksternal. Melainkan bagaimana ia harus bersikap di depan Pak Arga mulai besok.
Demi melindungi nama baiknya, demi menghormati kenangan Andra yang masih suci di hatinya, dan demi masa depan Dika, Maya sadar ia harus menarik garis batas yang sangat tegas.
Kehangatan yang baru saja mulai mencair di hatinya harus segera dibekukan kembali, sebelum kesalahpahaman ini menghancurkan segala hal yang telah ia perjuangkan dengan air mata.