NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Keluarga / Selingkuh
Popularitas:86.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

"Selamat datang di lembaran baru yang akan mengaduk emosi kalian. Pernahkah kalian merasa berada di titik terendah, tepat saat kalian membawa harapan baru di dalam rahim? Kisah ini bukan sekadar tentang perpisahan, tapi tentang harga diri seorang wanita yang diinjak-injak oleh pria yang ia panggil 'Rumah'. Siapkan hati kalian, karena perjalanan Hana dimulai dari sini..."

.

.

Lampu gantung di ruang tengah apartemen itu tampak berpijar redup, seolah turut kehilangan gairah setelah badai talak yang baru saja dilepaskan Bima. Udara terasa tipis dan mencekam. Hana masih berdiri di posisi yang sama, memegang sepasang sepatu bayi yang kini terasa seperti beban seberat gunung di tangannya.

Bima tidak beranjak. Ia berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang buram karena rintik hujan. Ia menunggu. Egonya yang haus akan pengakuan masih berharap mendengar isak tangis yang pecah.

Ia ingin Hana menyerah, memohon belas kasihan, dan mengakui bahwa tanpanya, Hana bukanlah siapa-siapa.

Namun, Hana justru bergerak. Bukan menuju kaki Bima, melainkan menuju kamar utama.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Bima, suaranya parau, terkejut melihat Hana yang begitu tenang.

"Melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang asing di rumah orang lain, Mas. Berkemas," jawab Hana tanpa menoleh.

Bima mendengus sinis, menyembunyikan rasa tidak nyamannya. "Bagus kalau kau sadar diri. Apartemen ini atas namaku. Clarissa akan datang besok, dan aku tidak ingin dia melihat jejakmu di sini."

Kalimat itu bagai belati yang diputar di dalam luka yang masih basah. Hana menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu kamar. Dadanya sesak, namun ia menolak untuk ambruk. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki demi nyawa kecil di perutnya.

Di dalam kamar, Hana mengeluarkan sebuah koper tua dari bawah ranjang. Koper yang dulu ia bawa saat pertama kali pindah ke sini setelah akad nikah. Ironisnya, koper itu kini akan menjadi saksi kepulangannya yang tragis.

Hana mulai membuka lemari pakaian. Ia tidak mengambil semuanya. Ia hanya memilih pakaian-pakaian sederhana, beberapa daster hamil, dan baju-baju yang ia beli dengan uang hasil kerjanya sendiri sebelum ia dipaksa berhenti oleh Bima.

Gaun-gaun mewah, tas desainer, dan mantel bulu yang dibelikan Bima sebagai simbol status istrinya, ia biarkan tetap tergantung kaku.

Setiap helai kain yang ia masukkan ke dalam koper terasa seperti serpihan kenangan yang ia buang. Ia melihat sebuah syal biru yang dulu diberikan Bima saat mereka berbulan madu di pegunungan. Untuk sesaat, tangan Hana bergetar.

Kenangan tentang pelukan hangat di balik dinginnya salju menyerbu pikirannya. Namun, bayangan wajah Bima yang muak saat melihat sepatu bayi tadi segera menghapus semua kehangatan itu.

Hana melipat syal itu, lalu meletakkannya kembali ke rak lemari. Bukan milikku lagi, batinnya.

Setelah koper itu terisi, Hana berjalan menuju meja rias. Di sana terdapat sebuah kotak beludru merah berukuran besar. Di dalamnya tersimpan set perhiasan berlian - *kalung, anting, dan gelang* - yang Bima berikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang pertama setahun lalu. Saat itu, Bima berjanji akan menjaganya sampai rambut mereka memutih.

Hana mengeluarkan semua perhiasan itu. Bukan untuk dipakai, melainkan untuk diletakkan di atas meja makan di ruang tengah, tepat di bawah lampu yang bersinar pucat. Satu per satu. Kilau berlian itu kini tampak seperti air mata yang membeku.

Bima, yang masih berdiri di ruang tengah sambil menenggak segelas wiski, mengamati gerakan Hana dengan kening berkerut.

"Kenapa kau taruh di situ? Ambil saja. Anggap saja itu upah karena kau sudah melayaniku selama dua tahun," ucap Bima dengan nada merendahkan yang kental.

Hana menegakkan punggungnya. Ia berjalan mendekati meja makan, namun tidak untuk mengambil perhiasan itu. Ia melepaskan cincin kawin emas putih yang melingkar di jari manisnya, jari yang kini sedikit membengkak karena kehamilan. Dengan sekali gerakan tegas, ia meletakkan cincin itu di tengah-tengah berlian lainnya.

"Aku tidak butuh upah, Mas. Aku istrimu, bukan wanita sewaan," suara Hana terdengar sangat jernih dan berwibawa di tengah kesunyian malam. "Simpan semua ini. Berikan pada Clarissa. Mungkin dia lebih butuh benda-benda ini untuk menutupi kekosongan hatinya."

Bima meletakkan gelasnya dengan keras di atas meja. "Kau sombong sekali, Hana! Kau tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, dan kau sedang hamil tua. Tanpa perhiasan itu, kau mau makan apa? Rumput?"

Hana menatap Bima tepat di manik matanya. Sebuah tatapan yang membuat Bima tersentak karena tidak ada lagi sisa-sisa pemujaan di sana.

"Aku mungkin keluar dari sini dengan koper yang hampir kosong, Mas. Tapi aku keluar dengan harga diri yang penuh. Aku tidak butuh sisa-sisa darimu. Tidak perhiasanmu, tidak uangmu, dan mulai detik ini... tidak juga cintamu."

Hana menyeret kopernya menuju pintu depan. Suara roda koper yang bergesekan dengan lantai marmer terdengar seperti suara perpisahan yang menyayat. Saat ia sampai di ambang pintu, ia berhenti sejenak, namun tidak berbalik.

"Satu hal lagi, Mas Bima," ucap Hana pelan. "Tadi kamu bilang apartemen ini atas namamu. Kamu benar. Tapi anak yang ada di rahimku ini, dia adalah atas namaku. Dia tumbuh dari darahku, dan dia bernapas dari napasku. Jangan pernah bermimpi untuk mengklaimnya sebagai milikmu suatu saat nanti."

"Halah! Jangan bicara terlalu tinggi," Bima tertawa meremehkan, meski hatinya terasa seperti tertusuk duri. "Paling-paling sebulan lagi kau akan mengemis di depan kantorku agar aku membayar biaya persalinanmu."

Hana tidak membalas lagi. Ia membuka pintu. Angin dingin malam hari langsung menyergap masuk, menerbangkan ujung rambutnya. Ia melangkah keluar tanpa ragu.

***Brak***!

Suara pintu tertutup dengan keras. Bima berdiri sendirian di tengah ruangan yang mendadak terasa terlalu luas dan hampa. Ia melihat tumpukan perhiasan di atas meja makan yang berkilau di bawah lampu. Ia mengira akan merasa lega, seolah baru saja membuang sampah yang menghalangi jalannya menuju Clarissa.

Namun, kenyataannya berbeda. Kepergian Hana yang begitu tenang, tanpa air mata, dan tanpa sedikit pun keraguan, justru meninggalkan lubang besar di egonya. Ia meraih cincin kawin yang ditinggalkan Hana, meremasnya kuat-kuat di dalam genggamannya.

"Dia akan kembali. Semua wanita sama, mereka tidak bisa hidup tanpa uang," gumam Bima pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang mulai ragu.

Di luar, di koridor apartemen yang sepi, Hana menyandarkan tubuhnya pada dinding lift yang bergerak turun. Saat itulah, kedua kakinya terasa lemas. Ia mengelus perutnya yang terasa kencang.

Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir pelan, membasahi pipinya. Bukan karena ia menyesal kehilangan Bima, tapi karena ia merasa bersalah pada janinnya yang harus merasakan kerasnya dunia bahkan sebelum ia melihat cahaya.

"Maafkan Ibu, Nak," bisiknya lirih. "Tapi mulai malam ini, kita hanya punya satu sama lain."

Hana melangkah keluar dari lobi gedung. Hujan masih turun, namun ia terus berjalan menuju pinggir jalan untuk mencari taksi. Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi malam ini, tapi satu hal yang ia tahu pasti, ia tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.

Sementara itu, di lantai 22, Bima melemparkan cincin kawin Hana ke sudut ruangan dengan penuh emosi. Kemenangan yang ia impikan ternyata terasa sepahit empedu.

Akankah Hana menemukan tempat berteduh malam ini, ataukah penderitaannya baru saja dimulai saat ia melihat Bima dan Clarissa justru bermesraan keesokan harinya?

...----------------...

**To Be Continue** ...

1
Elina thea
bodoh...justru dgn tidak menerima dan mengembalikan perhiasan kamu seperti perempuan sewaan secara gratis hana/Facepalm/
Shiro Oni Weapon Master
👍
Ma Em
Semoga kehamilan Hana baik2 saja dan selamat sampai persalinannya , dan Clarissa segera tertangkap jgn kelayapan terus .
Mamah Dini11
kalau orang jahat mh suka mulus rencananya ,tpiii orang baik dn jujur aduh suka ada aja gangguan nya, di sini semoga bima berhasil mengatasi ke jahatan clarrisa , bosan ah si licik clarrisa baik2 saja mh ,ayo thor kapan karma untuk si licik dn si jahat clarisa masa menang terus , gk adil ah ,jgn sampai terganggu ke bahagian bima yg baru dimulai .
Mamah Dini11
iya thor udhlah jgn berbelit2 clarisa sudah sepantasnya dapat karmanya, kasih ke sempetsn untuk bima bahagia bersama nadin , dannn bisa bahagiain saka juga walaupun saka di tangan ibunya hana
Linda Muslimah
kasian km Bim, akibat ulahmu sendiri 🤭
༄⃞⃟⚡R⁹
clarissa licin bgt ky belut😒
Linda Muslimah
kuat Hana buat dedek bayi
Linda Muslimah
paling diselingkuhi sama clarissa
Linda Muslimah
laki bodoh jgn balik Hana aku jg gemes
Lena Sari
harga diri Hana nggak bisa d tukar dengan rupiah bimaaaaa
Shiro Oni Weapon Master
👍
Thewie
buat kedua pasangan itu bahagia dengan pasangan masing2 ya Thor. Clarisa hempaskan
Thewie
sekarang ceritanya hanya ke bima. Hana menghilang dr dunia perkopian😄
Mamah Dini11
t
Mamah Dini11
bima jgn ceroboh lgi , dengerin kata2 nadin itu lbh baik daripada menuruti kata hatimu jadikan salah orang bkn si ular clarisa kmu itu kena jebakan , jadikan itu pelajaran bima , kmu gk sendirian msh banyak orang yg peduli sm kmu , ingat itu .
Weni Averiani
🤣🤣🤣🤣
Ma Em
Nadin wanita yg langka harusnya Bima yg nembak Nadin menyatakan cintanya dan ini malah sebaliknya Nadin yg yg nembak Bima duluan , emang wanita yg gentle girl
Mamah Dini11: yeessss nadin ku setuju kmu sm bima , semoga hubungan kalian akan membawa ke bahagian dn ke baikan dapat mengatasi segala masalah yg akan di hadapi ku percaya kmu lampu untuk bima dn jgn biarkan bima sendirian lgi dlm segala ok .
total 3 replies
Mamah Dini11
di rumah dn cafe bima banyak yg jaga. semoga rencana jahat clarisa gagal total dn ke buru ketahuan, jgn smpai nadin dn bu sarah kenapa2 , dan kmu clarisa jadi burunan skrang polisi gk akan diam , camkan itu.
Mamah Dini11
moga aja bu sarah sudah memafkan anaknya bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!