Siapa yang menyangka akan berjodoh dengan seseorang dari masa kecil.
Rendra Adipramana seorang Presiden Direktur dari Perusahaan Adipramana Group. Perusahaan yang dikenal besar dan ternama mampu membuat orang iri dengan yang berhasil bekerja disana.
Berusaha memperbaiki masa depan dan memiliki pendamping hidup yang tepat itulah yang menjadi tujuan hidupnya. Melewati rintangan hidup tidak membuatnya menyerah walaupun di satu waktu Rendra berhenti berjalan karena sahabat yang selalu bersamanya meninggal dengan cara tragis.
Sampai Rendra akhirnya bertemu dengan seorang wanita dari masa kecilnya. Amelia Hanindayana yang ternyata adalah seorang bawahannya sendiri.
Bagaimanakah perjalanan kisah cinta Rendra dan Amelia?
Ikutin aku di Instagram ya, follow @amandyapasha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Pasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengenalan Amelia di Perusahaan Ayah
Walaupun Rendra memiliki segala hal yang bisa membuat dirinya sendiri bahagia. Tidak dengan keluarganya yang hanya dapat bahagia disaat hanya melihat anak-anaknya bahagia dan bisa melihat anak-anaknya dengan orang yang baik juga. "Gue bukan ikut campur urusan keluarga lo, tapi gue tidak mau saja lihat lo harus menikah yang bahkan lo tidak mengenal orang itu sama sekali nanti."
"Untuk itu gue biarlah waktu yang berjalan dan memberikan hasil." Rendra memang tidak ingin membicarakan apapun tentang masalah hati dan juga percintaannya karena sudah lelah dengan apa yang sudah ia dapat akhir-akhir ini yang disebabkan oleh cinta.
"Lo yakin?"
"Gue selalu yakin pada diri gue. Terima kasih sudah bertanya hal itu."
"Hah? Kenapa berterima kasih?"
"Tidak apa, cuma gue baru saja lupa akan hal itu dan teringat lagi setelah lo menanyakannya tadi."
"Oh, sorry kalau gitu."
"Iya."
Sesampainya di rumah, Rendra langsung masuk rumah. Sedangkan, Rio dengan mobilnya langsung melesat keluar dari pekarangan rumah Rendra untuk pulang ke kediamannya sendiri.
Rendra langsung menaruh tas kerjanya di sofa. Lalu, bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia langsung memanjakan tubuhnya di tempat tidur dengan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya perlahan ia masuk ke dalam dunia mimpinya.
Dua minggu berlalu
Setelah hari itu Rendra dan Amelia belum pernah bertemu lagi. Mereka sudah menjalankan kehidupannya seperti biasa.
Di sisi lain, salah satu keluarga yang sedang menikmati kebersamaannya, yaitu Amelia Hanindayana itu nama anak dari Bapak Tio dan Ibu Mega. Ayah Amelia adalah seorang pimpinan perusahaan dari salah satu perusahaan besar yang ada di negeri ini. Ayahnya sangat menjaga anak dan juga keluarga kecil yang sangat disayanginya.
Hari ini mereka semua sedang berada di ruang makan untuk sarapan bersama. Karena Amel sudah menyelesaikan ujian sekolahnya dua minggu yang lalu. Jadi, Amel sedang libur sekolah sampai menunggu dirinya dinyatakan lulus dari sekolahnya.
Sarapan pagi keluarga kecil ada Ayah Tio, Ibu Mega, Amel dan juga Adiknya yang bernama Raka.
Mereka sarapan sambil berbincang-bincang mengenai apa saja. Karena rasa kebersamaan ini muncul disaat mereka sedang bersama.
"Amel, setelah sarapan kamu siap-siap ya. Ayah mau membawa kamu ke kantor." Ucap ayahnya kepada Amel di sela-sela makan.
"Untuk apa, yah?" tanya Amelia yang sedikit bingung.
"Ayah mau memperkenalkan kamu kepada seluruh karyawan dan juga staf kantor ayah. Karena, sebentar lagi kamu akan menggantikan posisi ayah." Penjelasan ayahnya yang membuat Amelia kaget dan tersedak oleh makanan yang sedang ia makan.
Ibunya pun kaget dan langsung memberikan segelas air kepada Amelia untuk diminumnya. Adiknya yang melihat dan mendengarkan tidak menghiraukan karena ia belum terlalu mengerti mengenai apa-apa dengan usianya yang masih bisa dibilang bocah. Walaupun sudah duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama dan juga sudah punya pacar.
"Amel, kamu tahu kan kalau ayah sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi ? Karena umur ayah yang sudah berkepala lima dan sering sakit. Kamu mau ayah tinggal lebih dulu sebelum melihat kamu sukses?" ucap ayahnya lagi dengan suara lirih kepada Amelia.
Amelia yang mendengarnya merasa tersentuh dan hatinya luluh. Ia tidak tega kalau sampai melihat Ayahnya yang sudah tua ini harus masih berjuang bekerja untuk keluarganya dan menyisakan umurnya hanya untuk bekerja.
"Ayah, kalau untuk itu aku pasti mau membantu ayah. Tapi, ayah kan tahu kalau aku masih ingin berkuliah bahkan kuliah di luar negeri. Jadi, aku tidak mungkin kalau harus menggantikan posisi Ayah saat ini." Amelia yang mulai merasa kasihan dan juga tidak tega melihat ayahnya tapi ia juga sangat ingin berkuliah di luar negeri.
"Amel, dengarkan ibu ya. Kamu bisa kok nak kuliah sambil bekerja. Tapi, kuliahnya didalam negeri bukan diluar." ucap ibunya yang mulai membantu untuk menenangkan situasi yang mulai menegang dengan perkataan yang muncul dari ayahnya tadi.
"Bagaimana dengan keinginan aku bu ? aku sangat ingin kuliah di luar negeri."Amelia.
"Iya ibu paham sayang. Tapi, kamu harus ingat. Kamu masih memiliki keluarga dan kamu masih memiliki semuanya dengan lengkap. Jangan karena keinginan kamu yang hanya menguntungkan diri sendiri akhirnya bisa berdampak kerugian bagi orang lain. kamu harus mengerti itu sayang." Ucap ibunya yang mencoba meyakinkan anaknya akan keputusan terbaik yang harus Amelia ambil untuk dirinya dan juga untuk orang disekitarnya.
"Kalau begitu, boleh aku memikirkan dan menenangkan diri aku sejenak?" Amelia.
"Boleh sayang. Tapi, sekarang habiskan sarapanmu dulu ya. Setelah itu siap-siap berangkat sama ayah." ibu Mega.
"Baik bu, terima kasih." Amelia.
Mereka semua melanjutkan makanannya sedangkan adiknya yang sudah selesai sarapan langsung berangkat untuk ke sekolahnya diantar sopir keluarga. Sedangkan Amelia dan juga ayahnya yang sudah siap dan sebentar lagi akan berangkat menuju kantor ayahnya bersama Sopir pribadi ayahnya.
Di dalam mobil Amelia dan ayahnya duduk berdampingan di kursi belakang. Amelia sedikit banyak bertanya karena ini kali pertama ia ke kantor ayahnya lagi setelah beberapa tahun lamanya tidak pernah ikut berkunjung lagi.
"Ayah, nanti aku harus apa? Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika sampai disana."
"Kamu tetap disamping ayah saja ya."
"Baiklah."
Jalan hari ini yang tidak terlalu ramai. Sehingga tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di kantor. Amelia bersama ayahnya langsung masuk kantor ditemani sekretaris ayahnya yang selalu mendampinginya menuntunnya ke arah lift dan memasuki ruangan ayahnya.
Di dalam ruangan Amelia langsung duduk di sofa dan ayahnya duduk di kursi pimpinan.
"Heng, jam berapa meetingnya?" tanya Ayah Tio kepada sekretarisnya.
"Jam sepuluh, tuan."
"Baiklah, tolong persiapkan semuanya ya. Hari ini saya ingin memperkenalkan penerus perusahaan ini." Terusnya lagi.
"Baik, tuan." Sekretaris Heng yang terlihat masih muda dari tampangnya yang tampan dan juga terlihat seperti laki-laki dingin pikir Amelia. Sekretaris itu langsung keluar dari ruangan untuk mempersiapkan meeting nanti.
"Ayah."
"Iya kenapa mel?"
"Ayah, apakah aku akan diizinkan jika aku bekerja di perusahaan orang lain terlebih dahulu supaya aku bisa merasakan bagaimana rasanya jadi karyawan dan disaat aku sudah siap menjadi pemimpin perusahaan barulah aku akan bekerja dari apa yang sudah aku rasakan." ucap Amelia kepada ayahnya dengan sedikit permohonan.
"Wah! Anak ayah ternyata punya pemikiran layaknya seorang pemimpin yang Sukses. Tentu saja boleh mel. Ayah tunggu kamu siap."
"Tapi, hari ini kan ayah ingin memperkenalkan aku kepada karyawan dan juga staf ayah."
"Tidak apa nak, ayah akan memperkenalkanmu di lingkungan perusahaan kita saja. Ayah akan menutupnya rapat supaya tidak ada info beredar mengenaimu."
"Baik ayah."
Waktu sudah menunjukkan Jam sepuluh tepat waktunya bagi Amelia dan juga ayahnya memasuki ruangan meeting.
Di dalam ruangan sudah banyak para peserta meeting yang hanya dihadiri oleh beberapa karyawan dan juga para staf kantor. Amelia sangat merasa gugup dan canggung dengan apa yang dilihatnya sekarang. Tetapi, karena disebelah dirinya ada ayahnya yang bersamanya ia mencoba lebih santai dan percaya diri.
"Selamat pagi semuanya, meeting hari ini bukan untuk membicarakan perihal apapun. Tetapi, saya ingin memperkenalkan penerus dari perusahaan ini yang akan menggantikan saya kelak." Ucap ayahnya berdiri di depan semuanya yang ada di ruangan tersebut dengan Amelia yang ada di sebelahnya sambil tersenyum walaupun jantungnya berdetak kencang.
Duh, jantungku tolong berhenti. Eh, bukan maksudku jangan berdetak kencang nanti copot. Gumam Amelia dalam hatinya.
Meeting berlangsung selama dua jam dan perkenalan penerus baru berjalan lancar. Sampai sore Amelia menemani ayahnya sekaligus membantu sekalian belajar mengenai perusahaan hingga akhirnya mereka sudah tiba dirumah dengan tubuh yang rasanya remuk.
Karena, ia belum terbiasa ia pun langsung menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sampai terlelap dengan bajunya yang belum terganti dengan piyama tidurnya.
Bersambung.
ah ...sudahlah nikmati aja baca ceritax ...hihihi