By She_Vent
Seperti orang yang hilang akal Kalycha senyum-senyum sendiri sambil menggigit kuku jari telunjuknya. Ia sangat terpesona dengan ketampanan pria yang berdiri di depannya itu.
"Hello... Are you okey?" Pria itu menjentikkan jarinya di depan Kalycha membuat Kalycha tersadar dari lamunannya.
"I'm fine. Sorry I did not mean it. (Saya baik, maaf saya tidak sengaja)"
"Oke ga masalah" menjawab dengan cool, lalu berjalan meninggalkan Kalycha. Namun baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti mendengar teriakan Kalycha.
"Kak... boleh minta nomor HPmu?"
🎀 Penasaran kelanjutan Ceritanya???
Kepoin yuk 😂
Semoga kamu semua terhibur 🤗
👉 Bebas Komentar apa saja yang penting tetep Sopan ya 👍
👉 Bebas Promo, Iklan dan Lain-lain
Disini mah kita BEBAS yang penting HAPPY 😃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon She_Vent, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersembunyi
Teriknya sinar matahari menyilaukan mata yang memandangnya. Akibatnya massa udara kering serta kondisi panas, pertumbuhan awan pun mengalami kesulitan dan sinar Matahari semakin leluasa menyapa Bumi tanpa terhalang awan.
Pemandangannya yang indah membuat kehadirannya kerap ditunggu banyak orang. Bahkan, tak sedikit orang yang rela pergi mencari spot terbaik dan terindah untuk menikmati sunrise.
Saat ini seorang gadis sedang duduk sendirian ditepi danau. Sudah sejam lebih Kalycha duduk menangis sendirian. Banyak mata yang memandang kearahnya. Tapi Kalycha tidak peduli.
POV Kalycha
Betapa kerasnya desiran angin menghujam tubuhku, terlalu sadis air keluar dari pelupuk mata menemani keheningan serta terlalu pedih mengingat kenangan yang mulai membuatku semakin merasa terpuruk.
Kau tahu Dad, sampai detik ini aku masih bersyukur karena memiliki Daddy sepertimu. Meski faktanya kau menggantungkan kecewa pada kedua kantung mataku dengan sikapmu. Kau sering mendapati diriku yang menghindarimu ketika kau berbicara padaku, maaf mungkin kau juga kecewa dengan sikapku. Tapi, ini adalah caraku untuk meredam marahku. Bukan aku tak setuju dengan pernikahan mu Dad.
Aku berusaha mengendalikan diri agar aku tak menjadi anak yang tak tahu diri, yang membenci Daddynya sendiri. Karena aku mencintaimu, sangat.
Kau tak perlu menyesal atas sikapmu dan juga tak perlu khawatir tentangku, aku akan belajar menjaga diriku sendiri.
Itulah apa yang ingin aku utarakan, berharap Daddy akan mengerti tentang keinginan ku. Aku tidak membenci Ibu Nayla aku hanya butuh waktu untuk bisa menerimanya.
Maafkanlah aku putrimu ini Dad, yang belum bisa jujur padamu dan juga diriku.
Aku tak peduli tanggapan orang terhadapku. Saat ini aku hanya ingin menenangkan hati dan pikiran ku.
Aku kembali teringat pada sosok yang begitu menghargai ku. Ku scroll benda pipih yang ada ditanganku mencari sebuah nama Father Angle's.
"Pak, bisa tolong jemput Icha di taman tempat terakhir bapak membawaku ya. Icha tunggu disini sampai bapak datang. Icha ga akan pergi kemanapun sebelum bapak datang. HP Icha akan Icha matiin setelah ini pak. Tolong Icha pak..." dengan suara yang sesunggukan Kalycha menutup telponnya tanpa mendengar jawaban dari pak Tono.
Author POV
Jack mengarahkan semua anak buahnya untuk melacak keberadaan Kalycha.
"Pak Jack, Nona Kalycha sekarang berada ditaman kota pak. Sepertinya ia baru saja mengaktifkan ponselnya beberapa saat yang lalu tapi..." Haidar tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apa?" tanya Jack yang seharusnya sudah pensiun hari ini, namun karena peristiwa hilangnya Kalycha membuatnya harus turun tangan untuk mencari putrinya atasannya itu.
"Tapi sepertinya Dia sudah menonaktifkan Handphonenya kembali Pak."
"Ya sudah tunggu apa lagi, cepat susul kesana sebelum kita kehilangan jejeknya."
Haidar mengerahkan beberapa anak buahnya yang lain untuk lebih dulu mencari keberadaan Kalycha disana. Karena jarak mereka lebih dekat dan akan lebih dulu sampai dari padanya.
"Sial macet lagi." Gerutu Haidar.
...🍃🍃🍃...
Sementara Oma Milah sudah sangat khawatir pada Cucunya itu. Oma Milah merasa menyesal telah meninggalkan Kalycha sendirian karena dirinya asyik dengan putrinya yang datang dari Jogja bersama suami dan cucunya yang lain untuk menghadiri pernikahan saudaranya itu.
"Ma sudahlah jangan menyalahkan diri sendiri. Mama harus jaga kesehatan Mama." Pram mengingat Ibunya yang memiliki riwayat penyakit hipertensi itu.
"Bagaimana Mama bisa tenang, Mama tidak tahu dimana Icha sekarang." airmata Oma Milah terus saja mengalir. "Ini semua salahmu Pram. Kalau saja kamu menuruti keinginan Kalycha ini semua tak kan mungkin terjadi. Icha ga akan kabur begini." Oma Milah teringat kembali persyaratan dari cucunya itu.
"Maafkan aku Ma..." Pram tampak menyesali perbuatannya.
Sementara Nayla hanya diam karena tak ada yang bisa ia lakukan saat itu. Ia juga merasa sangat bersalah pada Kalycha.
"Seandainya saja kau beritahu Icha seminggu sebelumnya atau sehari sebelumnya mungkin Mama masih bisa membujuknya." Oma Milah tak berhenti menyalahkan putranya itu. Karena dirinya sendiri juga baru tahu tentang perubahan tempat dan pesta yang diadakan Putranya.
*
*
*
Keluarga Nayla pun tak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya dapat menenangkan Nayla yang terus saja menangis di kamarnya. Berulang kali Nayla mencoba menelpon Kalycha namun hasilnya tetap NIHIL.
"Teh, sudah jangan menangis terus, nanti mata kamu bengkak lagi. Ingat beberapa jam lagi acara resepsi pernikahan kamu. Mama tahu kamu mencemaskan Icha, namun Mama juga ga mau orang-orang beranggapan yang aneh-aneh melihat seorang pengantin dengan matanya yang bengkak. Berdoa saja semoga Icha cepat ketemu."
"Yang dikatakan Mama benar sayang. Icha pasti baik-baik saja." Pram tiba-tiba datang untuk menenangkan istrinya.
"Mas..." Pram memeluk Nayla memberi kekuatan padanya.
"Aku tahu kamu sangat khawatir sama Icha tapi aku juga ga mau orang-orang beranggapan kalau aku udah jahatin kamu. Jack baru menelpon kalau Icha sedang berada ditaman kota."
Pram ingin menenangkan hati istrinya, ia sengaja memberi informasi yang ambigu kepada istrinya untuk mengurangi sedikit ke khawatiran istrinya itu.
"Icha udah ketemu Mas?" seutas senyum tersirat diwajahnya.
"Hemm..."
...🍁🍁🍁...
Yang ditunggu Kalycha pun datang, dengan wajah yang sangat cemas.
"Neng kenapa lagi, ada masalah apa lagi neng?" Tanya Tono.
"Pak tolong bawa Icha kerumah bapak ya. Icha mau main kerumah bapak."
Pak Tono pun mengikuti keinginan Kalycha. Ia tahu kalau anak itu sedang menghindar dari keluarganya.
Sementara Haidar yang baru sampai ditaman tidak menemukan sosok yang dicarinya. Ia sudah berkeliling bahkan menanyakan beberapa orang yang melintas disana tapi tidak ada yang melihat keberadaan Kalycha disana.
"Pak Jack, maaf saya tidak bisa menemukan Nona Kalycha." dengan nafas yang terengah-engah Haidar menelpon Jack.
"Cari di semua tempat baik di toilet, rumah makan atau tempat nongkrong disana." Jack tampak emosi mendengar ucapan Haidar.
"Sudah pak, bahkan saya sudah menanyakan pada setiap pengunjung yang datang."
"Periksa CCTV." perintahnya.
"Hadeehhh Pak... Pak... mana ada CCTV di tengah taman Kota. Yang ada tuh noh dijalan raya." Gerutu Haidar.
"Baik Pak." ucapnya lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Nih Bocah, ngapain sih pake acara kabur-kaburan segala. Nyusahin orang aja." Batin Haidar.
SEMINGGU KEMUDIAN
Haidar masih disibukkan dengan pencarian putri atasannya, begitu pula dengan Jack ia belum bisa pensiun dari pekerjaannya. Pihak dari kepolisian pun sudah dikerahkan tapi belum juga membuahkan hasil.
Sementara Kalycha menikmati hari-harinya dirumah Pak Tono, sepintas ia melupakan masalah yang telah membuatnya terluka.
"Neng, ini sudah seminggu loh. Apa neng tidak khawatir sama orangtuanya neng?" tanya Tono.
"Bapak ngusir Icha?"
"Bukan ngusir neng, Bapak ga mau aja disalahkan sama keluarga neng Icha. Ntar bapak dituduh lagi nyulik neng Icha."
"Kalau bapak sampai dituduh nyulik Icha ntar yang nuduh bapak Icha masukkin ke botol terus Icha buang kelaut." Kalycha malah seloroh menanggapi ucapan pak Tono.
"Bu, Ibu mau ngusir Icha juga?" Kalycha bertanya pada Ibu Sri istri pak Tono yang sedang duduk disampingnya menyisir lembut rambutnya dengan jari-jari tangannya.
"Ibu sih senang neng Icha disini. Rumah ibu jadi rame, Ibu jadi ada temennya. Tapi neng..." Ibu Sri menjeda ucapannya sambil menyisihkan anak rambut yang menutupi wajah Kalycha. "Ibu akan lebih senang kalau neng Icha datang kerumah Ibu dan tinggal dengan Ibu tidak dengan cara seperti ini. Ibu akan bahagia kalau neng Icha ijin dulu sama orang tua neng, kalau neng Icha mau main disini dan Ibu juga tidak khawatir tetangga berpikiran macem-macem kalau saja mereka tahu siapa neng yang sebenarnya."
Kalycha sangat tahu apa yang dimaksud oleh Ibu Sri.
"Marah sama orangtua itu boleh, kamu kecewa juga wajar. Tapi bagaimana pun beliau itu tetap orangtua neng Icha. Ibu yakin mereka saat ini pasti sangat khawatir sama neng Icha. Bapak sering datang melihat keadaan rumah neng Icha dari jauh. Bahkan sekarang Daddynya neng Icha sudah mengerahkan Polisi untuk mencari keberadaan neng. Bapak dan Ibu takut nanti orangtua neng salah paham mengira kami sudah menculik dan sengaja menyembunyikan neng Icha disini."
Kalycha sangat beruntung bisa mengenal Pak Tono dan Bu Sri, mereka sangat baik dan menerima Kalycha seperti anaknya sendiri. Selama tinggal dirumah Pak Tono, Kalycha memang tidak pernah keluar dari rumah mereka sehingga para tetangganya tidak ada yang tahu bahwa Kalycha tinggal bersama mereka.
Liburan sekolah tinggal tiga hari lagi dan sebenarnya Kalycha masih ingin tinggal dirumah Pak Tono sampai akhir liburan sekolah. Tapi ia juga sadar kekhawatiran Pak Tono yang akan mendapatkan masalah bila Daddynya tahu kalau Kalycha masih bersembunyi dirumahnya.
"Jemput aku di Grand Mall sekarang." Sebuah pesan masuk ke ponsel Haidar.
Happy Monday Selamat menikmati awal bulan.
Gajian gajian jangan lupa bersedekah Like Coment dan Vote ya 🤭
tpi mksh thor dh up