Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.
Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.
"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.
Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.
Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?
Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Miss You, Little One!
Saat turun dari jendela kamar Davina, Raka berjalan dengan santainya melewati halaman rumah Davina yang sangat luas. Sama sekali tidak punya rasa takut jika pun dia harus bertemu Papa Dave dan Mama Diana-nya.
"Mamaaaaaaaaa!"
Raka kaget saat mendengar sebuah suara cicitan kecil yang sangat dia rindukan. Suara Keysha.
Raka langsung bersembunyi di balik sebuah pohon rindang di halaman rumah itu.
Dia bisa saja tidak takut pada Dave dan Diana yang selalu punya pintu maaf yang besar untuknya, tapi berbeda halnya jika dia harus menghadapi Rara.
Kakaknya itu baik. Sangat baik. Super baik. Hatinya seperti malaikat. Rara tidak pernah memperlakukannya dengan buruk, meski mereka hanya saudara tiri yang berasal dari ayah yang sama, tapi berbeda ibu. Ya, Azel dan Nayla memang menikah setelah Azel menduda cukup lama. Dari pernikahan sebelumnya, Azel sudah dianugerahi Rara terlebih dahulu.
Dan tebak siapa yang mantan istri Azel sebelum Nayla?
Well, dialah Diana.
Lalu, Diana menikah lagi dengan laki-laki bernama Dave, dan lahirlah Davina.
Kedua keluarga jadi sering berpergian, bahkan hampir selalu merayakan hari-hari besar bersama. Seperti natal dan tahun baru. Karena mereka tidak ingin Rara harus memilih.
Hal ini membuat Davina dan Raka tumbuh bersama sejak kecil.
Merasa hubungan kekeluargaaan ini cukup rumit?
Tidak sampai disitu.
Raka dan Davina malah saling jatuh cinta satu sama lain —well, dulunya. Sekarang sih, Raka saja yang cinta. Davina tidak tahu tuh! Kan wanita itu sudah ingin menikah dengan pria lain!
Memang Raka dan Davina sebenarnya tidak mempunyai hubungan darah sama sekali. Tapi demi langit dan bumi, mereka mempunyai kakak yang sama! Yaitu, Rara!
Jadi, inilah sebabnya kenapa Raka dan Davina saling memanggil Papa dan Mama kepada orangtua satu sama lain. Karena sejak dulu, mereka mengikuti cara Rara memanggil orangtuanya.
Raka ingat sekali reaksi seluruh keluarga ketika mereka mengaku pacaran pertama kali. Gonjang-ganjing dunia akhirat!
Orangtua mereka terbelah menjadi tiga kubu.
Kubu yang menentang keras, tentu saja Azel dan Diana. Bagaimana mungkin mereka jadi sepasang besan saat dulunya mereka adalah sepasang suami istri?
Kubu yang mendukung, tentu saja Nayla. Dia menyayangi Davina, seperti anaknya sendiri sejak dulu. Hati Nayla memang seluas samudera, ntah apa rahasia hati wanita itu bisa begitu mencintai dengan sangat tulus.
Sementara kubu yang biasa-biasa saja adalah Dave.
"Ah, paling bentar lagi juga kalian putus," seloroh Dave saat itu.
Disambut dengan tawa membahana dari Rara.
Davina dan Raka cemberut. Tidak menduga sama sekali bahwa lelucon Dave menjadi kenyataan dalam sekejap mata.
Kembali ke masalah Rara.
Sejak masih kecil, Rara sangat menyayangi Raka, lebih dari apapun. Raka menaruh respect yang besar untuk kakaknya itu, karena Rara tidak pernah mengeluh sekali pun, meski Raka sudah menyedot seluruh perhatian Papa dan Mamanya sejak lahir. Anak yang sudah tengil dari sejak hari kelahirannya itu memang selalu membutuhkan perhatian khusus!
Makanya, Raka selalu memuja Rara. Kakaknya itu sudah ibarat dewa untuknya. Harus dituruti tanpa bantahan sama sekali.
Raka diam-diam memperhatikan Keysha yang sedang berlarian kesana kemari di halaman rumah itu. Kalau saja, Rara tidak sedang berada disana, dia mungkin sudah berlari menghampiri keponakannya itu. Dia rindu sekali, menguyel-uyel pipi penuh lemak itu!!!
Bukannya dia cemen, dia hanya sayang nyawanya sendiri. Dia kan harus mendapatkan Davina dulu, membahagiakan wanita itu, baru dia rela nyawanya dicabut. Dia tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari rumah ini, kalau Rara sampai tahu dia ada disini!
Setelah beranjak dewasa, Rara memang jadi berubah tegas pada Raka. Karena Rara melihat kedua orangtuanya mulai kewalahan menghadapi ketengilan Raka. Jadi, disini harus ada yang memiliki ketegasan.
"Duh, makin gembul aja tuh pipi! Pengen gue gigit!" gumam Raka, sambil mengamati pipi Keysha yang bergoyang-goyah jatuh dan naik saat dia berlari.
Keysha sedang bermain lempar bola bersama Rara.
Raka berharap semoga bola itu terlempar ke arahnya, agar Keysha dapat mendekat ke tempatnya berada sekarang.
Dan tidak lama kemudian, Tuhan mengabulkan doanya.
Bola tersebut terlempat tepat ke sebelahnya.
"Mama, aku ambil bola ya," kata Keysha kemudian berlari.
"Jangan jauh-jauh sayang!" Rara mengingatkan. Tapi perhatiannya teralih karena sebuah telepon masuk ke ponselnya. Dari suami tersayangnya. Dia sempat menatap Keysha yang berjalan menjauh. Dia bisa melihat dengan jelas bola itu terjatuh dimana. Masih dalam jangkauan penglihatannya, jadi dia membiarkan Keysha berlari kesana sendirian.
Hati Raka sendiri sudah euphoria, apalagi saat jarak mereka semakin mengecil.
Keysha berlari dengan semangat. Tapi saat tangannya hampir menyentuh bola, dia melihat Raka.
Matanya yang bulat semakin membesar saat melihat om kesayangannya. Keysha hampir memanggil nama Raka, tapi laki-laki itu langsung menempelkan jari telunjuk di depan mulutnya sendiri.
"Sssst!" kata Raka.
Kening Keysha berkerut.
"Sssst?" kata Keysha yang juga ikut menempelkan jari telunjuknya di mulut sendiri. Tapi nadanya dibuat seperti bertanya. Ya ampun, Raka rasanya ingin sekali mencubiti Keysha sekarang.
"Mama gak boleh tahu Om disini!" bisik Raka.
"Why?" tanya Keysha.
(Kenapa?)
Kesyha langsung menutup mulut karena dia keceplosan menggunakan Bahasa Inggris.
"That's okay to use English with me."
(Gak apa-apa kalau Keysha mau ngomong Bahasa Inggris sama Om.)
Keysha tersenyum.
"I miss you, little one!"
(Om kangen kamu, anak kecil.)
"I miss you too, Om. Why can't I sleep in your house?"
(Aku kangen Om. Kenapa Keysha gak bisa tidur di rumah Om?)
"Because your Mama is angry with me."
(Karena Mama kamu marah sama Om.)
"Why is Mama angry with you?"
(Kenapa Mama marah sama Om?)
"Because I'm a naughty brother."
(Karena Om ini adik yang nakal.)
Kening Keysha kembali berkerut.
"Don't be a naughty kid, okay?" pesan Raka.
(Jangan jadi anak yang nakal, ya?)
Keysha mengangguk.
"Promise me, you will take care of your Mama?"
(Janji sama Om ya, Keysha bakal jagain Mama?)
"I will."
(Iya.)
"I have to go."
(Om harus pergi.)
"Why so soon?"
(Kenapa cepat banget?)
"I have to work. Like your Papa."
(Om harus kerja, kayak Papa Keysha.)
"Alright."
(Oke.)
"See you soon, little one!"
(Sampai jumpa, anak kecil!)
"Bye-bye, Om!"
Raka pun pergi. Berat sekali rasanya meninggalkan keponakannya itu, tapi lagi-lagi dia masih sayang nyawanya yang berharga.
Begitu Raka menghilang, Keysha kembali ke sisi Rara.
"Key, ngapain disana? Kok lama banget ngambil bolanya?" Rara mengelus kepala Keysha.
"Key ketemu Om Raka disana." Keysha menunjuk arah pohon.
"Om Raka???" Rara kaget.
"Yep! Mamaaaa, ayo main lagi!!!" Keysha menarik tangan Rara.
Sebenarnya betapa Rara ingin mengejar Raka saat ini dan memberikan pelajaran padanya. Tapi dia harus mengutamakan anaknya saat ini.
Mungkin besok dia bisa memberikan pelajaran pada adiknya yang tengil itu!
***
Readers lama sabar ya kalau author ngulang silsilah keluarga 'mantanku adalah besanku' hahaha. Jaga-jaga siapa tahu ada readers baru yang belum baca Semestaku Semestamu 🤗🤗
Anyway, maaf kalau up nya agak lama ya, kerjaan lagi buanyak bangetttt 🤍
aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu
jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)
kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain
ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah
author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,
novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina
aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini
jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil
lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh
pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita
*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu
pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
sekian