Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Sesuatu Di Balik Sikap Dingin
Deru mesin mobil Alphard hitam itu perlahan meredup saat memasuki area parkir VIP di gedung penthouse mewah kawasan SCBD. Keheningan yang menyelimuti kabin mobil sepanjang perjalanan dari studio siaran televisi kini berganti dengan riak kecanggungan tak kasat mata yang memenuhi udara.
Aura melepas sabuk pengamannya perlahan, lalu menoleh pada Reno yang masih terdiam memegang kemudi mobil. "Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk menjemput saya malam ini, Reno."
Reno tak langsung menjawab ucapan itu. Pria itu mematikan mesin mobil, memalingkan pandangannya menatap wajah Aura sejenak, lalu melirik tas laptop berat yang tadi ia letakkan di jok belakang. "Ayo langsung naik ke atas. Udara malam di area basement tidak bagus untuk kesehatanmu."
Aura mengangguk pelan. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju pintu lift pribadi beraksen emas. Langkah kaki mereka yang beriringan di atas lantai marmer yang dingin menimbulkan alunan irama teratur yang menenangkan.
Di dalam lift kaca yang meluncur naik menuju lantai paling atas penthouse, Aura tak sengaja mendengar suara halus yang berasal dari perutnya sendiri sebuah dentingan kecil yang menandakan ia belum menyentuh makanan apa pun sejak sore hari karena sibuk mempersiapkan naskah berita siaran langsung.
Aura seketika meremas bagian depan blazernya, menahan rasa malu yang mendadak menyerang wajahnya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, berharap suara tersebut tidak terdengar oleh pria jangkung yang berdiri tepat di sampingnya.
Namun, pendengaran Reno terlalu tajam untuk melewatkannya. Pria berhati es itu melirik sudut mata Aura yang merona merah menahan malu, meski ekspresi di wajah Reno tetap dibuat sedatar dan setenang mungkin tanpa emosi berlebih.
Denting!
Pintu lift terbuka lebar di lantai penthouse. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang luas dan hangat itu, Reno tidak langsung berjalan menuju ruang kerja pribadinya seperti biasa. Pria itu merengkuh ponsel mewahnya dari saku jas hitamnya, menekan beberapa tombol, dan melakukan panggilan singkat.
"Pak Aslan, minta koki dari restoran langganan untuk segera mengantarkan sup iga hangat dan satu porsi makan malam lengkap ke penthouse sekarang. Pastikan makanan sampai dalam waktu lima belas menit," perintah Reno singkat, tegas, lalu mematikan sambungan telepon sebelum sempat mendengar jawaban penuh dari asistennya.
Aura yang sedang melepas sepatu tumit tingginya di dekat meja konsol tertegun mendengar perintah bernada terburu-buru itu. Ia menatap Reno dengan dahi berkerut heran. "Kamu memesan makanan jam segini? Bukannya tadi sore kamu bilang sudah makan malam di kantor?"
Reno meletakkan kunci mobilnya di atas meja, lalu melonggarkan ikatan dasinya dengan satu gerakan tangan yang santai namun memancarkan pesona berkelas. "Saya memang sudah makan. Sup iga hangat itu dipesan khusus untukmu."
Aura terpaku di tempatnya berdiri, matanya membelalak pelan. "Untuk... saya?"
Reno berdehem pelan seraya mengalihkan pandangannya ke arah dinding kaca tinggi yang menampilkan kerlip lampu metropolitan Jakarta di bawah naungan malam. "Saya tidak mau istri saya pingsan di studio TV besok pagi hanya karena lupa makan malam. Itu bisa merusak reputasi dan nama baik keluarga Adhyastha."
Aura menahan senyum manisnya yang hampir meledak saat itu juga. Alasan formalitas dan reputasi nama baik keluarga itu terdengar begitu kaku, klise, sekaligus menggemaskan dari bibir seorang pria yang sebenarnya bersikap sangat perhatian.
"Terima kasih banyak," ujar Aura lembut seraya melangkah mendekat. "Perhatian dan kebaikanmu selalu dibungkus dengan alasan yang sangat kaku, Reno."
Reno menyipitkan matanya tajam, menatap Aura yang kini berdiri hanya berjarak beberapa langkah di hadapannya. "Saya hanya menyampaikan kenyataan yang ada."
Dua puluh menit kemudian, semangkuk sup iga hangat dengan aroma rempah-rempah yang menggiurkan sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan utama. Aura menikmati makan malamnya dengan lahap namun tetap anggun, sementara Reno duduk di kursi seberangnya, berpura-pura sibuk membolak-balik lembaran dokumen proyek terbaru seraya sesekali melirik raut wajah wanita di depannya di balik berkas tersebut.
Aura menyesap kuah supnya yang gurih dan hangat, lalu menegakkan posisi duduknya. Matanya yang jernih menatap lurus tepat ke arah manik mata Reno.
"Oya, Reno..." panggil Aura pelan, memecah keheningan yang menyelimuti meja makan.
Reno tidak mendongak dari berkas di tangannya. "Ya? Ada apa?"
"Tadi... waktu saya baru selesai siaran langsung, saya sempat membaca berita singkat di media sosial," kata Aura pura-pura santai, meski nada suaranya menyimpan sedikit rasa penasaran yang dalam. "Katanya ada seorang wanita bergaun merah yang datang berkunjung ke ruang kerjamu di kantor sore tadi. Namanya... Clara Hermawan?"
Gerakan jemari Reno di atas lembaran kertas dokumen seketika membeku. Pria berhati es itu mendongak lambat-lambat, menatap wajah Aura dengan raut terkejut yang berusaha ia tahan sekuat tenaga.
"Kamu membaca berita gosip seperti itu?" tanya Reno, sebelah alis tebalnya terangkat.
"Bukan membaca gosip, tapi sebagai seorang presenter berita, saya dituntut untuk selalu peka terhadap isu-isu yang beredar di publik,"dalih Aura cerdas seraya menyunggingkan senyum tipis yang memikat. "Lagipula, saya hanya ingin memastikan. Jika memang ada wanita lain yang sedang dekat denganmu, kita harus menyesuaikan kembali beberapa pasal di dalam kesepakatan kontrak agar tidak menimbulkan salah paham di kemudian hari."
Mendengar ucapan dan nada suara Aura, sudut bibir Reno perlahan terangkat tipis membentuk sebuah ukiran senyum tipis yang sangat langka, tampan, dan menawan. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya di sofa kursi makan, menatap Aura dengan pendar mata yang mendalam.
"Kamu sedang berusaha membalas pertanyaan saya di dalam mobil tadi?" goda Reno, nada suaranya berubah menjadi lebih rendah dan sarat akan keterpukauan.
Wajah Aura seketika terasa hangat membakar. Pipi mulusnya merona pink tipis secara alami. "Saya hanya bertanya demi kejelasan dan profesionalitas hubungan kita, Reno."
Reno menghembuskan napas panjang secara perlahan, lalu merapikan tumpukan dokumennya di atas meja. "Clara Hermawan bukan siapa-siapa bagi saya. Dia hanya putri dari salah satu pemegang saham yang tidak paham arti batasan dan sopan santun. Saya sudah memerintahkan Pak Aslan untuk mengantarnya keluar dari ruangan saya sore tadi."
Aura menatap dalam-dalam ke dalam mata Reno, mencari pendar kebohongan di sana. Namun, kejujuran dan ketegasan yang memancar dari pendar mata kelam pria itu membuat sekuntum rasa lega yang luar biasa manis mekar di dalam dada Aura.
"Saya mengerti," balas Aura pelan dengan senyuman tulus yang begitu manis.
Reno terpaku kaku menatap senyuman anggun itu dari jarak yang amat dekat. Kebekuan dan benteng pertahanan dingin yang selama ini ia bangun rapat-rapat di dalam hatinya terasa makin terkikis oleh kehangatan, kelembutan, dan kehadiran sosok Aura di kehidupannya.
"Habiskan makan malammu sekarang," tutur Reno pelan, nada suaranya berubah menjadi sangat lembut dan penuh kehangatan. "Setelah itu langsunglah beristirahat di kamar. Besok sudah memasuki akhir pekan... dan kita harus berangkat ke kediaman Nenek di Menteng sesuai janji kita."
Dada Aura kembali berdesir hebat. Menginap di rumah besar Menteng berarti mereka harus berakting menjadi pasangan suami istri yang sangat mesra dan harmonis di depan Nenek Ratna selama dua hari penuh. Dan disadarinya atau tidak, garis batas antara sandiwara pernikahan dan perasaan yang sebenarnya kini benar-benar mulai kabur di antara mereka berdua.