Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak seperti yang mereka pikirkan
Kalandra kembali ke kelas setelah Sean dan Kiano pergi.Namun, suasana kelas terasa berbeda.Beberapa siswa masih melirik ke arahnya namun kemudian pura-pura mengalihkan pandangannya.
Kalandra yang menyadarinya langsung mengerutkan kening."Apa?"
Tidak ada yang menjawab.Raka yang duduk di bangkunya hanya menghela napas."Udah biarin aja."
"Orang-orang pada kenapa sih."
Kalandra menatap sekeliling kelas."Kalau mau lihat, lihat aja."
Salah satu teman mereka,Calvin langsung tertawa."Lo sekarang jadi tontonan satu sekolah,Kal."
"Memangnya gue badut pake jadi tontonan segala?"
"Kalau badut, setidaknya lucu.Lah elo malah serem."
Kalandra mengambil penghapus lalu melemparkannya membuat Calvin langsung menghindar.
Raka menggeleng."Baru aja tadi bikin satu sekolah heboh, eh sekarang udah mulai lempar-lemparan lagi."
"Salahin aja terus,Ka.Gue emang selalu salah di mata lo."
Raka dan Jevan tertawa mendengarnya.
Saat jam istirahat ke dua, Kalandra dan Raka berjalan menuju kantin.Namun, baru beberapa langkah, suara bisik-bisik kembali terdengar.
"Itu dia."
"Yang di video."
"Galak banget."
Kalandra berhenti berjalan dan menoleh ke sumber suara.Raka langsung memegang lengannya. "Jangan."
"Gue belum ngapa-ngapain Ka."
"Tapi muka lu sudah seperti mau perang."
Kalandra menarik napas panjang."Ya udah sih."
Ia kembali berjalan.Namun, belum jauh,seorang siswi dari kelas lain tiba-tiba berdiri di hadapan mereka.
Kalandra langsung berhenti."Kenapa?"
Siswi itu menatapnya."Kamu Kalandra, kan?"
"Iya."
"Aku mau ngomong sesuatu."
Raka langsung berbisik, "Jangan-jangan ini part 2 nya."
Kalandra menoleh."Apa?"
Siswi itu terlihat gugup."Aku cuma mau bilang..."
Kalandra mulai merasa tidak nyaman."Kalau soal video itu, gue nggak mau bahas."
Siswi tersebut menggeleng."Bukan."
"Terus?"
"Aku cuma mau bilang..."
Ia menarik napas."Menurutku kamu nggak sepenuhnya salah."
Kalandra terdiam.Raka juga menoleh.
"Memang kamu salah karena membentaknya.Tapi... aku juga nggak suka kalau seseorang menyatakan perasaan di depan banyak orang tanpa memikirkan apakah orang yang ditembak nyaman atau tidak."
Kalandra menatapnya."Jadi?"
"Aku cuma mau bilang, jangan terlalu memikirkan omongan orang." Setelah mengatakan itu, siswi tersebut langsung pergi.
Kalandra masih terdiam.Raka menepuk bahunya."Tuh kan."
"Apa?"
"Masih ada yang bela lu."
"Gue nggak butuh dibela."
"Atur se plenger lo lah,Kal." Raka berjalan lebih dulu.
"Kalau gitu lo jangan senang dulu,Kal" lanjut Jevan
Kalandra mengikutinya."Gue nggak senang."
"Tapi senyum dikit." bisik Jevan
Kalandra langsung mengusap wajahnya."Gue nggak senyum bangke."
Raka dan Jevan tertawa mendengarnya.Keduanya tau jika setelah kejadian barusan Kalandra meras sedikit lebih tenang.
.
.
Sore harinya, Kalandra baru saja keluar dari sekolah ketika ia melihat seseorang berdiri di dekat gerbang.
Luna.
Kalandra berhenti.Raka dan Jevan yang berjalan di sampingnya ikut berhenti.
"Lo mau kita pergi duluan?"
Kalandra menggeleng."Enggak."
Gadis itu menatap Kalandra."Kala."
Kalandra mengangguk."Hm."
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Kemudian gadis itu berkata,"Aku mau minta maaf."
Kalandra langsung mengerutkan kening."Kenapa?"
"Karena aku membuat kamu tidak nyaman."
Kalandra terdiam.
Gadis itu menunduk. "Aku tahu sekarang.Harusnya aku nggak menyatakan perasaan di depan banyak orang dan memaksamu."
Kalandra menghela napas."Gue juga mau minta maaf."
Gadis itu menatapnya.
"Karena gue udah bentak lo." Kalandra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana."Gue memang nggak suka kalau jadi pusat perhatian."
"Aku tahu."
"Dan gue nggak bermaksud bikin lo nangis."
Gadis itu tersenyum tipis."Iya aku tahu."
Raka yang berdiri beberapa langkah dari mereka mulai merasa suasana terlalu canggung.Ia akhirnya berdeham.
"Kalau sudah damai, kita udah boleh pulang?"
Kalandra menoleh."Lo pada dari tadi ngapain?"
"Nungguin Lo."
"Siapa suruh?"
"Kan kita BF lo,Kal"
Kalandra hanya merotasi matanya apalagi melihat Raka dan Jevan yang tersenyum dengan tengilnya.
Kalandra menatapnya. "So..Video itu masih ada?"
Gadis itu langsung menggeleng. "Aku sudah minta orang yang merekam untuk menghapusnya,akun base sekolah juga udah aku minta takedown ."
Kalandra menghela napas lega."Syukurlah."
"Tapi..."
Kalandra langsung menatapnya."Apa?"
"Sudah banyak yang menyimpan vidionya."
Kalandra menutup wajahnya."Ya Tuhan."
Raka tertawa."Woah..Selamat Kalandra Sabiru mulai sekarang anda terkenal."
"Diem kampret.Lo berdua gak ngebantu banget sih." pekik Kalandra membuat ketiganya tertawa.
.
.
Malam hari di rumah Ages Sabiru ,Kalandra duduk di ruang keluarga bersama Sean.
Sean sedang memainkan ponselnya.Kalandra berbaring di sofa sambil menonton televisi.
"Dek."
"Hm?"
"Lain kali kalau ada orang yang suka sama lu, jangan langsung di marahi atau dibentak."
Kalandra langsung menoleh. "Gue udah minta maaf,masih aja lo bahas."
"Bagus deh kalo gitu."
Kalandra kembali berbaring.Sean menatapnya beberapa detik."Tapi gue masih penasaran sih."
"Apa?"
"Kenapa lo nggak pernah tertarik sama cewek mana pun?"
Kalandra mengangkat bahu."Enggak tahu."
"Enggak ada yang menarik?"
"Ya ada."
Sean langsung menoleh."Siapa?"
Kalandra berpikir."Guru matematika."
Sean menatapnya kesal."Kalandra kampret."
"Apa?"
"Jangan bercanda deh."
"Ya udah."
Sean menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Serius,dek."
Kalandra terdiam.Kemudian ia menjawab, "Gue cuma belum mau."
"Belum mau?"
"Iya."
"Kenapa?"
Kalandra menatap langit-langit."Kayaknya ribet."
Sean tertawa kecil."Semua hal menurut lu ribet."
"Memang."
"Kalau suatu hari nanti ada orang yang benar-benar lu suka?"
Kalandra terdiam.Ia tidak langsung menjawab. "Entahlah."
Sean memperhatikan wajah adiknya."Kala."
"Hm?"
"Kalau nanti ada orang yang lu suka,jangan takut."
Kalandra menoleh."Takut apa?"
"Takut berubah."
Kalandra mengerutkan kening.
Sean tersenyum tipis. "Orang yang kita suka memang bisa bikin hidup jadi berbeda."
"Lu ngomong kayak orang tua aja bang."
"Pengalaman."
Kalandra langsung tertawa. "Lu pernah pacaran sekali aja gak lama langsung putus."
Sean mengambil bantal dan melemparkannya."Kurang ajar lo."
Kalandra tertawa sambil menghindar.
"Jangan bahas gue!"
"Katanya pengalaman!"
"Diam!"
Tawa kembali memenuhi ruang keluarga.Namun, di tengah suasana itu, ponsel Kalandra tiba-tiba berbunyi.Sebuah notifikasi dari base sekolah.
Kalandra mengambil ponselnya.Wajahnya perlahan berubah.
Sean menyadarinya."Kenapa?"
Kalandra tidak menjawab.Sean mengambil ponsel itu dari tangannya.Di layar terdapat sebuah unggahan baru.
KALANDRA SABIRU PUNYA GEBETAN BARU?
Di bawah judul tersebut terdapat sebuah foto.Foto Kalandra dan gadis yang baru saja ia ajak berdamai di depan gerbang sekolah.
Kalandra langsung menatap layar dengan wajah tidak percaya.
"Ini orang-orang nggak punya kerjaan lain apa,selain gibahin hidup gue?"
Sean membaca komentar yang terus bertambah.Lalu perlahan tersenyum.
Kalandra menatapnya. "Jangan senyum,bang."
Sean menoleh."Gue belum bilang apa-apa."
"Jangan bilang ke papa."
Sean semakin tersenyum."Kenapa?"
"Bang."
"Padahal seru kalau bokap lo tau."
"Sean!"
Dari arah ruang makan, suara Ages tiba-tiba terdengar. "Kenapa teriak-teriak,dek?"
Kalandra dan Sean langsung saling menatap.Kalandra buru-buru merebut ponselnya. "Enggak ada apa-apa, Pap!""
Ages muncul di ruang keluarga sambil membawa segelas air.Ia menatap keduanya dengan curiga."Benar?"
"Benar."
Sean mengangguk sambil menahan senyum. "Benar sekali,om."
Kalandra langsung melirik Sean tajam membuat Ages semakin curiga.
"Kenapa kalian terlihat seperti menyembunyikan sesuatu?"
Kalandra tersenyum kaku."Enggak ada kok pap."
Ages menatap putranya.Kemudian menatap Sean."Abang Sean."
Sean langsung mengangkat kedua tangan. "Mohon maaf Tuan Ages,Saya tidak terlibat."
Kalandra membelalakkan mata."Sean!"
Ages mengerutkan kening."Memangnya ada apa?"
Beberapa kali Ages bertanya namun sayang sekali keduanya tetap memilih bungkam membuat Ages akhirnya menyerah tidak bertanya lagi.
.......
.......
.......
...♡ Sabiru ♡...