NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17.Musuh masa lalu datang.

Angin malam menderu semakin liar, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, bercampur dengan bau terbakar samar yang perlahan menyebar ke seluruh penjuru halaman rumah. Arya berdiri mematung sejenak, seluruh indra gaibnya menangkap setiap getaran energi yang menghantam benteng pelindung rumah itu berulang-ulang dengan kekuatan yang tak wajar. Bukan getaran keingintahuan, bukan pula amarah sesaat—melainkan kelaparan yang tak berujung, haus yang tak pernah terpuaskan, dan kehancuran yang direncanakan dengan sengaja dan terukur.

Ia merasakan aliran energi itu menyusup perlahan, menyentuh setiap garis sihir kuno yang ia bangun di sekitar perbatasan desa suka makmur, lalu mencoba melahapnya sedikit demi sedikit seolah api yang memakan kayu kering. Dan seketika itu juga, darahnya yang sudah dingin seolah mendidih kembali menahan amarah yang meledak.

"...Mustahil."

Suara itu keluar begitu pelan namun penuh ketidakpercayaan yang mendalam. Tubuhnya menegang kaku, matanya menatap tajam ke arah utara, jauh melampaui pepohonan rindang dan bukit-bukit yang menghalangi pandangan mata biasa.

Aura itu... ia hafal betul aura itu. Bau busuk energi yang merusak, kelaparan yang melahap segalanya tanpa sisa, dan kegelapan yang memakan segala cahaya. Itu bukan manusia, bukan pula roh penasaran biasa. Itu adalah Rakshaka, makhluk purba pemakan energi gaib yang pernah ia kurung jauh di dalam perut bumi bertahun-tahun silam. Makhluk yang hampir melenyapkan Desa Suka makmur dari permukaan bumi sebelum akhirnya ia turun tangan dengan mengorbankan separuh kekuatan hidupnya demi menjaga kedamaian.

Siapa yang berani membuka segel itu? Siapa yang begitu nekat membangunkan maut yang sudah lama tertidur pulas? Dan untuk tujuan apa mereka melakukannya?

Tanpa menoleh sedikit pun ke arah pintu rumah, Arya berbicara dengan suara tegas yang tak bisa dibantah, meski hanya terdengar oleh dirinya sendiri. "Masuklah ke dalam. Kunci pintu dan jendela rapat-rapat. Jangan keluar walau mendengar suara apa pun, walau melihat apa pun yang terjadi di luar sana."

Sebelum Raisa sempat membalas atau bertanya lebih lanjut, sosok itu lenyap seketika, seolah terserap ke dalam kegelapan malam. Hanya sisa hawa panas yang perlahan mereda, digantikan oleh kabut hitam pekat yang perlahan turun menutupi seluruh halaman hingga tak terlihat apa pun lagi dari luar.

Di dalam rumah, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Lampu-lampu gantung berkedip-kedip tak menentu, bayangan benda-benda di dinding tampak bergerak sendiri seolah memiliki nyawa dan kehidupan sendiri. Raisa mondar-mandir di ruang tengah dengan langkah gelisah, tangannya meremas ujung bajunya berkali-kali, matanya tak lepas menatap pintu depan yang tertutup rapat. Sesekali ia melangkah mendekat ke jendela, menyibakkan sedikit tirai untuk mengintip ke luar, namun yang terlihat hanyalah kegelapan pekat yang menyembunyikan segalanya. Tak ada bayangan Arya, tak ada suara langkah kaki—hanya keheningan yang menyesakkan dada.

"Kenapa dia pergi begitu saja?apa dia akan baik-baik saja?" gumamnya pelan, hatinya berdebar tak karuan, rasa takut bercampur rasa bersalah yang kembali menghantui.

Belum sempat ia menenangkan diri, terdengar suara langkah kaki yang tenang namun teratur mendekat. Jatmika muncul membawa secangkir teh hangat yang mengepulkan uap tipis, wajahnya yang biasanya tegar tampak serius namun tetap berusaha menenangkan gadis itu. Ia meletakkan cangkir itu perlahan di meja kecil di hadapan Raisa.

"Non Raisa... minumlah sedikit. Tenangkan hati Anda sebentar," ucapnya lembut namun tegas.

Raisa menoleh cepat, matanya berkaca-kaca karena cemas yang tak tertahankan. "Bagaimana aku bisa tenang, Jatmika? Arya pergi sendirian menghadapi bahaya yang entah seberapa besarnya. Dia terluka, tubuhnya masih retak, darahnya masih menetes setiap kali bergerak... dan sekarang dia harus menghadapi sesuatu yang begitu mengerikan sendirian tanpa ada yang menemaninya."

Jatmika tersenyum tipis, senyum yang penuh rasa hormat dan keyakinan yang tak tergoyahkan sedikit pun. "Anda tidak perlu khawatir berlebihan, Non. Jika yang dihadapi beliau hanyalah makhluk yang dulu pernah beliau kalahkan... Tuan tidak akan kalah. Tuan Arya bukanlah sosok yang mudah runtuh atau mundur, walau nyawanya sendiri terancam sekalipun."

Raisa menarik napas panjang, mencoba menahan isak tangannya yang nyaris keluar. "Tapi apa sebenarnya makhluk itu? Apa yang begitu menakutkan sampai Arya terlihat seolah melihat hantu masa lalunya sendiri? Ceritakan padaku, Jatmika."

Jatmika mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang tertutup rapat, seolah menatap jauh ke masa lalu yang kelam dan penuh darah. "Dulu... jauh sebelum saya bersumpah setia menjadi pelayan beliau, makhluk itu sudah menjadi mimpi buruk bagi seluruh penghuni hutan dan desa ini selama bertahun-tahun. Namanya Rakshaka. Setiap kali malam purnama tiba, ia akan bangkit dari persembunyiannya untuk mencari mangsa."

Ia berhenti sejenak, menelan ludah seolah masih bisa merasakan ketakutan yang dulu dirasakan semua orang.

"Dia tidak memakan daging atau darah seperti makhluk buas lainnya. Rakshaka memakan roh, menyerap energi gaib apa pun yang ada di hadapannya—baik itu makhluk halus, tanaman berjiwa, hingga kekuatan pelindung yang ada dalam diri manusia. Dan jika ia lapar sekali... ia akan membantai siapa saja yang berani melintas tanpa memandang usia, jabatan, atau siapa mereka. Warga desa dulu menyebutnya Sang Pemakan Malam."

Raisa menelan ludah dengan susah payah, rasa dingin yang tajam menjalar perlahan di sekujur tubuhnya. "Lalu... Arya yang menghentikannya? Arya sendirian yang mengalahkan makhluk sekejam itu?"

Jatmika mengangguk pelan dengan berat hati. "Tidak hanya mengalahkan, Non. Tuan Arya memilih jalan yang jauh lebih berat dan menyakitkan bagi dirinya sendiri. Beliau menyegel makhluk itu hidup-hidup jauh di dalam perut bumi, di bawah pegunungan terjal yang tak pernah tersentuh kaki manusia sekalipun."

"Tapi..." suara Jatmika merendah, penuh beban yang tak terucap. "Harga yang harus Tuan bayar saat itu sangatlah mahal, jauh lebih mahal daripada yang bisa dibayangkan siapa pun."

Bayangan masa lalu kembali melayang di udara, seolah dinding waktu ikut terbuka lebar memperlihatkan kengerian yang pernah terjadi. Jatmika bercerita dengan suara rendah namun jelas, menggambarkan pemandangan yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Pertarungan itu berlangsung selama tiga hari tiga malam tanpa henti sedikit pun. Langit yang tadinya biru bersih berubah menjadi merah pekat seolah diselimuti lautan darah. Api abadi milik Arya melahap segala yang ada di dekatnya, sungai-sungai mendidih hingga menguap menjadi awan tebal yang menutupi matahari, hutan belantara terbakar habis menyisakan tanah hitam gersang yang tak tumbuh rumput berpuluh tahun kemudian.

Arya bertarung sendirian melawan kelaparan yang tak berujung itu. Tubuhnya tertutup luka, retakan api menjalar di kulitnya, namun ia tak mundur sedikit pun. Hingga di detik terakhir, dengan sisa tenaga yang nyaris habis dan tubuh yang nyaris runtuh, ia melafalkan segel kuno yang diwariskan langsung oleh leluhur Margono—segel yang mengikat takdir dan kekuatan abadi, bukan sekadar rantai atau dinding biasa. Dan saat itu juga, tanah berguncang hebat seolah dunia mau berakhir, membuka mulutnya lebar-lebar menelan sosok Rakshaka yang meraung marah tak terima, lalu menutup kembali rapat-rapat seolah tak pernah terjadi apa-apa di sana.

Sejak hari itu, Desa Suka makmur kembali tenang dan damai. Namun tak ada satu pun yang tahu betapa besarnya kekuatan yang terkuras dari diri Arya demi menjaga kedamaian itu, betapa banyak bagian dari dirinya yang harus dikorbankan agar orang lain bisa terus hidup.

Raisa tersenyum lega mendengarnya, napasnya terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya. "Kalau begitu... kali ini pun pasti akan sama kan? Arya pasti bisa menyegelnya kembali. Dia sudah pernah melakukannya sekali dengan sukses, pasti bisa melakukannya lagi sekarang."

Namun Jatmika perlahan menggelengkan kepala pelan. Wajahnya tak lagi tersenyum, digantikan oleh keseriusan yang begitu mencekam dan penuh peringatan.

"Tidak, Non Raisa. Kali ini sangat berbeda."

"Mengapa berbeda? Apa yang berubah?" tanyanya bingung dan mulai cemas kembali.

"Dulu... saat Tuan melakukan itu, beliau masih memiliki sisa belas kasihan yang cukup besar di hatinya," ucap Jatmika perlahan, matanya menatap tajam ke arah kegelapan luar jendela. "Beliau masih menyisakan jalan bagi makhluk itu untuk hidup terkurung, berharap suatu saat kelaparan yang menguasainya itu mereda dan tak lagi membahayakan siapa pun."

Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan suara yang begitu berat.

"Tapi sekarang... jika benar ada pihak yang sengaja merusak segel itu, sengaja membangunkan Rakshaka kembali hanya untuk mengancam nyawa Anda serta kedamaian yang sudah beliau jaga ratusan tahun..."

Jatmika menatap Raisa lekat-lekat dengan tatapan yang penuh makna.

"Tuan tidak akan menyegelnya lagi. Beliau tidak akan memberi kesempatan kedua bagi sesuatu yang mengancam apa yang sudah beliau janjikan untuk lindungi dengan nyawanya sendiri. Kali ini... beliau akan memusnahkannya sampai tak tersisa satu pun jejak, sampai tak ada lagi yang bisa bangkit dan mengancam Anda."

Raisa pun menelan ludahnya, membayangkan situasi yang akan terjadi dan semengerikan apa pertarungan mereka di luar sana.

Di luar sana, jauh di perbatasan desa yang masih dikelilingi oleh hutan, langit malam tiba-tiba terbelah oleh cahaya yang menyilaukan.

DUAR!!!

Sebuah ledakan api raksasa berwarna merah menyala melesat tinggi ke angkasa, menerangi seluruh hutan dan bukit seolah matahari terbit tepat di tengah malam yang paling gelap. Diikuti raungan maut yang begitu dahsyat hingga tanah berguncang hebat, jendela-jendela rumah bergetar berisik, dan suara itu menggema hingga ke sudut desa yang paling jauh sekalipun.

Di tengah lautan api yang berkobar liar dan tak terkendali itu, sosok Arya berdiri tegak tak bergeming. Matanya tak lagi menyala lembut seperti saat berbicara dengan Raisa, melainkan memancarkan cahaya api murni yang dingin, tajam, dan tak kenal ampun. Di hadapannya, bayangan besar yang dipenuhi mulut dan cakar tajam mengerang ketakutan namun tetap berusaha meronta lepas dari cengkeraman api yang membelenggunya.

Suara Arya terdengar dingin, berat, dan tanpa sedikit pun emosi yang tersisa, menembus suara gemuruh api dan raungan makhluk itu dengan begitu jelas:

"Dahulu aku memberimu kesempatan untuk hidup dalam kegelapan."

"Malam ini... aku mengakhiri semuanya."​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!